Ubuntu Kini Tersedia di Microsoft Hyper-V Gallery

Microsoft nampaknya memang serius dalam usahanya PDKT ke Linux. Setelah meluncurkan Windows Subsystem for Linux (WSL), Microsoft bekerja sama dengan para vendor distro Linux untuk menyediakan installer distro Linux di Microsoft Store. Ini memungkinkan untuk menjalankan distro Linux berdampingan dengan Windows 10. Baru-baru ini, Microsoft bekerja sama dengan Canonical untuk menghadirkan image distro Ubuntu 18.0.4.1 LTS di Hyper-V Gallery. Bagi yang belum tahu, Hyper-V adalah produk Microsoft untuk manajemen Virtual Machine, seperti halnya VMware Workstation atau Oracle VM VirtualBox, yang tersedia untuk versi Pro dari Windows 8, 8.1, dan 10 menggantikan Virtual PC. Pengguna Hyper-V tidak perlu mengunduh ISO image Ubuntu terlebih dahulu, cukup menggunakan Hyper-V Quick Create (tersedia  mulai Windows 10 versi 1709) lalu memilih opsi yang tersedia, lalu image Ubuntu akan diunduh langsung dari Microsoft.

Hyper-V Gallery (sumber: blogs.windows.com)

 

Mengunduh Ubuntu 18.0.4.1 LTS Hyper-V image

Iklan

Ubuntu for Windows 10

Dulu mungkin tak terbayangkan bahwa Microsoft akan “bergandeng tangan” dengan Linux. Bahkan kerja sama Microsoft dan Suse ditanggapi dengan penuh kecurigaan oleh komunitas open source. Namun semuanya berubah setelah pergantian pucuk pimpinan Microsoft dari Steve Ballmer ke Satya Nadella. Microsoft tidak malu-malu lagi untuk merangkul komunitas Linux dengan gerakan Microsoft ♥ Linux. Microsoft juga mulai merilis aplikasi untuk Linux, seperti Visual Studio Code, SQL Server, juga platform .NET Core untuk Linux. Bisnis cloud Microsoft, Azure, menuntut dukungan untuk semua platform termasuk Linux. Untuk itu Microsoft merilis Azure Cloud Switch yang berbasis Linux.

(sumber: blogs.msdn.microdoft.com)

Terakhir, Microsoft merilis Windows Subsystem for Linux yang hakikatnya menjalankan tools Linux seperti bash di Windows 10. Dan akhirnya, distro Linux Ubuntu kini bisa diinstal dari Microsoft Store. Sejatinya, Ubuntu for Windows 10 ini akan menginstalasi distro Ubuntu 16.04 LTS berbasis command-line, tanpa GUI. Di masa depan distro lain seperti Suse dan Fedora juga akan tersedia di Microsoft Store. Saat ini pun, Ubuntu baru dapat diinstal pada rilis terakhir Windows 10  (Fall Creators Update) yang belum dirilis untuk umum, terbatas pada peserta Windows 10 Insider (tester).

Bash dan Ubuntu akan Jalan di Windows?

Dalam even developer Microsoft baru-baru ini, Build 2016, banyak perkembangan menarik yang terjadi di dalam Microsoft, terutama untuk para pengembang aplikasi. Masih melanjutkan tema besar “Microsoft ♥ Linux” atau “Microsoft Goes Open Source”, beberapa kabar menarik dari Build 2016 antara lain:

(source: Ubuntu Insights)

Meski demikian, isu paling menarik adalah bahwa Microsoft dan Canonical bekerja sama untuk menjalankan Ubuntu di atas Microsoft Windows 10. Dalam Build 2016, salah satu bahasannya adalah tentang menjalankan bash (Bourne Again Shell) di atas Ubuntu di atas Windows. Selama ini, untuk menjalankan bash di Windows biasanya digunakan Cygwin atau menjalankan Linux dalam Virtual Machine seperti VirtualBox atau VMware. Namun solusi terbaru ini dijanjikan seperti menjalankan bash secara native di atas Windows, mirip dengan wine menjalankan aplikasi Windows di Linux. Solusi Microsoft dinamakan Windows Subsystems for Linux (WSL).

(

(source: MSDN)

(UPDATE)
Sekadar tambahan informasi, Wim Coekaerts, eksekutif Oracle, bergabung dengan Microsoft sebagai VP Open Source. Coekaerts di Oracle menjabat sebagai senior vice president of Linux and virtualization engineering dan dikenal sebagai orang yang memimpin inisiatif open source di Oracle, termasuk Oracle Database for Linux dan distro Oracle Enterprise Linux.

Chromixium: Ubuntu Rasa ChromeOS

Chromebook adalah satu produk Google yang cukup membuat penasaran. Produk ini berupa notebook dengan sistem operasi yang disebut ChromeOS yang berbasis browser Google Chrome di atas userland Gentoo Linux. Aplikasi-aplikasi yang dijalankan berbasis web di atas browser Chrome. Google mengklaim Chromebook ini bebas maintenance karena ChromeOS diperbarui secara otomatis dan data-data pengguna akan otomatis dicadangkan lewat layanan cloud Google. Saat pertama diluncurkan, banyak yang pesimis dengan Chromebook karena menuntut koneksi internet agar bisa berfungsi dengan optimal, sehingga mengurangi mobilitasnya. Saat ini, banyak aplikasi Chrome bisa berfungsi tanpa harus terkoneksi internet (offline), dan rilis terakhir ChromeOS bahkan bisa menjalankan sejumlah aplikasi Android.

Chromixium_desktop

Tampilan Desktop Chromixium 1.0

Sayangnya, Chromebook tidak tersedia di Indonesia sampai saat ini. Sistem operasi ChromeOS pun tidak bisa diunduh secara bebas. Basis dari ChromeOS  yang disebut ChromiumOS memang berlisensi open source, namun tidak ada rilis resmi ChromiumOS dalam format yang siap digunakan. Selain itu, banyak bagian ChromeOS yang tidak ada di ChromiumOS karena masalah lisensi. Untunglah di dunia open source banyak inovasi yang terjadi dan akhirnya baru-baru ini telah dirilis versi 1.0 dari distro yang disebut Chromixium.  Distro ini berbasis Ubuntu LTS (14.0.4) dengan tampilan OpenBox yang dipermak agar mirip tampilan ChromeOS.

Tampilan Login

Tampilan Login

Chromixium bisa digunakan sebagai live CD/DVD/USB Flashdrive ataupun diinstalasi ke HDD/SSD. Untuk itu Anda tinggal mengunduh ISO hybrid image Chromixium (ukuran 800+ MB) dan menggunakan Unetbootin untuk membuat live USB Flashdrive. Anda juga bisa mencobanya terlebih dulu menggunakan aplikasi virtual machine seperti VirtualBox atau VMware. Kebutuhan sistem untuk Chromixium tidaklah tinggi, RAM 512 MB dan ruang disk 4 GB sudah cukup untuk menjalankannya.

Chromixium_menu_cropped

Tampilan Chromium App Launcher

Setelah terpasang, kita bisa menggunakannya sebagai ChromeOS/ChromiumOS dengan menggunakan shortcut aplikasi Google di taskbar atau menggunakan launcher. Menariknya, aplikasi non-Google bisa diakses dengan klik kanan pada desktop. DIstro ini menggunakan mekanisme yang sama dengan Ubuntu dalam segala hal. Perbedaannya jelas pada mekanisme login di ChromeOS yang menggunakan akun Google, sedangkan Chromixium masih seperti distro Linux pada umumnya.

Chromixium_openbox_menu_cropped

Tampilan Menu Utama Chromixium

UPDATE (10-03-2016):
Terhitung tanggal 17 Januari 2016 Chromixium resmi berubah nama menjadi Cub Linux setelah “diprotes” oleh Google.

Ubuntu 13.10 Dirilis, Menjanjikan Konvergensi antara PC dan Mobile

Pada tanggal 17 Oktober 2013, sehari sebelum peluncuran Windows 8.1, Canonical mengumumkan rilis terbaru sistem operasi Ubuntu, “Saucy Salamander” atau Ubuntu 13.10. Berbeda dengan rilis-rilis sebelumnya, kali ini Canonical menjanjikan konvergensi antara platform PC (x86) dan mobile (ARM). Ubuntu Touch akhirnya dirilis secara resmi untuk pertama kalinya, dan ditujukan untuk perangkat Nexus dari Google. Rilis penuhnya direncanakan pada bulan April 2014 bersamaan dengan rilis Ubuntu 14.04 “Trusty Tahr”.

Tampilan Desktop Ubuntu 13.10 (Saucy Salamander)

MIR, graphic stack yang dikembangkan Canonical untuk menggantikan Xorg, kali ini hadir d versi mobile, namun belum hadir di versi desktop sampai rilis LTS mendatang. Ubuntu 13.10 akan didukung selama 9 bulan (hingga Juli 2014), bagi yang menginginkan dukungan lebih bisa bertahan dengan versi 12.04 LTS sampai rilis berikutnya (14.04 LTS) yang akan didukung hingga 5 tahun.

SteamOS, Sistem Operasi Berbasis Linux untuk Ruang Keluarga Anda

Valve, yang selama ini dikenal dengan layanan gaming Steam, baru-baru ini mengumumkan peluncuran SteamOS. Sistem operasi berbasis Linux ini dipromosikan sebagai “sistem operasi untuk ruang keluarga” yang tersedia bebas (free). SteamOS akan memungkinkan tersedianya perangkat (console) untuk bermain game, mendengarkan musik, menonton film dari layanan Steam yang terhubung dengan TV. Pengguna SteamOS juga bisa melakukan streaming game dari PC berbasis Windows dan MacOS, sharing game dari layanan Steam, dan kontrol berbasis keluarga. Valve memang mengantisipasi tren pengembangan sistem SmartTV seperti Apple TV, Google TV, Microsoft XBOX One, dan Sony PS4. Inisiatif lainnya seperti Ouya, konsol berbasis Android, juga mengincar segmen ini. Namun, berbeda dengan pesaingnya, Valve memilih untuk mengembangkan sisi perangkat lunak/platformnya terlebih dahulu, mirip dengan pendekatan Google untuk Android/Google TV dan Canonical untuk Ubuntu TV. steamosValve akhir-akhir ini memang banyak melakukan inisiatif “mendekati” Linux, setelahmempertimbangkan kecenderungan platform Apple dan Microsoft yang semakin tertutup. Tahun lalu, Valve meluncurkan Steam for Linux berbasis Ubuntu untuk pertama kalinya. Dengan inisiatif ini, Valve hendak meninggalkan ketergantungan terhadap platform Microsoft (dan Apple) untuk layanan Steam.

UPDATE:
Valve melanjutkan gebrakannya dengan meluncurkan Steam Machines dan Steam Controller, sebagai bagian dari strategi untuk “membuka” platform konsol game. Bisa dikatakan mirip dengan strategi Google dengan Androidnya di platform mobile (smartphone, tablet), dengan menawarkan sistem operasi terbuka dan perangkat keras standar yang terhubung ke layanan Steam.

Instalasi Oracle JDK di Ubuntu

Instalasi Java, baik JRE maupun JDK di Linux selalu menjadi masalah sejak dulu. Lisensi Java (sebelum tahun 2006) tidak mengizinkannya didistribusikan dalam repositori perangkat lunak linux. Canonical sebagai sponsor distro linux Ubuntu pernah bekerja sama dengan Sun Microsystems untuk mendistribusikan Sun JRE dan JDK dalam repositori Ubuntu. Namun, sejak Sun merilis Java 7 dengan lisensi GNU GPL, kerja sama ini dihentikan. Sejak itu, Java bisa didapatkan langsung dari repositori dengan nama OpenJDK, yang dikompilasi dari kode sumber yang dirilis Sun (kini Oracle). Oracle masih merilis JRE dan JDK untuk Linux yang harus diinstal secara manual.

Hadirnya OpenJDK memang memudahkan bagi pengguna Linux untuk menggunakan Java. Di sisi lain, Oracle JRE/JDK masih dibutuhkan oleh kalangan pengembang aplikasi, terutama aplikasi untuk perkantoran/enterprise. Instalasi Oracle JDK/JRE secara manual tidak sulit dilakukan, namun untuk mengintegrasikan dengan sistem secara keseluruhan membutuhkan sedikit usaha. Untungnya, sekarang sudah ada cara untuk mengintegrasikan Oracle JDK dengan distro Ubuntu menggunakan script instalasi dari Web Upd8. PPA dari Web Upd8 ini memungkinkan kita menginstalasi Oracle JDK 6, 7, dan 8 sekaligus mengintegrasikannya dalam sistem Ubuntu.

Cara menggunakan PPA ini sangat mudah, kita cukup mengetikkan dua baris perintah: sudo add-apt-repository ppa:webupd8team/java
sudo apt-get update

Kemudian kita bisa menginstalasi Oracle JDK sesuai versinya, misalnya untuk menginstalasi Oracle JDK 7 kita tinggal mengetikkan:
sudo apt-get install oracle-java7-installer
Untuk versi 6 dan 8 kita tinggal mengganti angka 7 dengan 6 atau 8. Perintah di atas akan menginstalasi script yang otomatis akan berjalan dan mengunduh Oracle JDK dari situs Oracle, sekaligus menginstalasi dan mengonfigurasikannya. Untuk mengeset Java Environment Variable secara otomatis, kita bisa menginstalasikan oracle-java-set-default sesuai versi Java (6, 7, atau 8) dengan perintah:
sudo apt-get install oracle-java7-set-default
Script instalasi ini diperbarui setiap Oracle merilis versi terbaru Java.

Smartfren Bergabung dengan Ubuntu Carrier Advisory Group

Operator telekomunikasi seluler Indonesia, Smartfren, baru-baru ini mengumumkan kerja sama dengan distro Linux populer, Ubuntu, dengan bergabung dalam Ubuntu Carrier Advisory Group (CAG). Ubuntu CAG adalah forum untuk membantu pengembangan sistem operasi Ubuntu for Smartphone. Deputi CEO Smartfren, Richard Tan, mengatakan, “Ubuntu adalah opsi penting bagi Indonesia karena menawarkan solusi yang atraktif, fleksibel, dan berbeda untuk smartphone.”  Beberapa operator telekomunikasi yang telah bergabung dengan Ubuntu CAG antara lain: Deutsche Telekom, SK Telecom, Telecom Italia, Korea Telecom, dan Portugal Telecom.

Ubuntu Menjadi Sistem Operasi Resmi di Cina

Pada tanggal 21 Maret 2013, Canonical, perusahaan yang ada di balik distro Ubuntu, mengumumkan kerja sama dengan pemerintah RRC dalam pengembangan sistem operasi terbuka (open source). Lebih rincinya, Kementerian Industri dan Teknologi Informasi RRC lewat badan yang disebut The China Software and Integrated Chip Promotions Centre (CSIP) memilih Ubuntu sebagai basis bagi pengembangan sistem operasi nasional berbasis open source. Canonical, CSIP dan  the National University of Defense Technology (NUDT) juga membentuk CCN Open Source Innovation Joint Lab di Beijing untuk mengembangkan sistem operasi ini.

Logo Ubuntu Kylin (sumber: Slashgear)

Sebagai langkah pertama, sebuah distro khusus yang disebut Ubuntu Kylin akan dirilis bersamaan dengan rilis Ubuntu 13.04 “Raring Ringtail”. Versi ini mengintegrasikan metode input untuk huruf Cina, kalender Cina, pencarian musik online, aplikasi cuaca, dan aplikasi perkantoran WPS. Versi selanjutnya akan menambahkan peta online Baidu dan belanja online Taobo. Kylin sebelumnya sudah dikembangkan oleh NUDT sejak tahun 2010 dengan basis FreeBSD. Nama Kylin diambil dari nama mahluk dalam legenda Cina, Qilin.

10 Sistem Operasi Mobile berbasis Linux

Perkembangan perangkat mobile yang semakin canggih dan terjangkau serta mudah dan menarik dalam penggunaannya telah menjadi tren di seluruh dunia. Jika dulu telepon seluler (ponsel) hanya sekadar untuk menelepon dan mengirim SMS, hari ini ponsel sudah umum digunakan untuk memainkan media, bermain game, menjelajah internet, dan menjalankan berbagai aplikasi. Perangkat mobile, seperti ponsel, bisa dilihat sebagai komputer genggam yang menjalankan sistem operasi layaknya PC/laptop. Jika di platform PC kita mengenal sistem operasi seperti MS Windows, Apple MacOS, Linux, atau BSD, di platform mobile kita juga mengenal sistem operasi seperti Windows Phone/Mobile, Apple iOS, Google Android, Nokia Symbian, BlackBerry OS, atau Nokia OS (S40, S60). Linux, sebagai sistem operasi dan platform terbuka banyak digunakan sebagai basis sistem operasi mobile. Seperti halnya di platform PC, dimana kita mengenal berbagai distro seperti Ubuntu, RedHat, SUSE, Debian, Slackware, atau Fedora, di platform mobile terdapat beberapa sistem operasi berbasis Linux. Berikut ini sepuluh sistem operasi mobile berbasis Linux.

  1. Android
    Saat ini, siapa yang tidak mengenal Android. Sistem operasi yang dikembangkan awalnya oleh perusahaan bernama Android Inc. yang kemudian dibeli oleh Google di tahun 2005 ini saat ini adalah platform terpopuler di dunia. Adroid berbasis Linux, dengan modifikasi khusus untuk mengoptimasi kinerjanya di perangkat mobile, Android dirilis dengan lisensi Apache versi 2.0 yang dikenal business-friendly. Perangkat Android yang populer antara lain: Samsung Galaxy, Sony Experia, Google Nexus, LG Optimus, dan HTC Sense.
  2. bada
    Bada adalah sistem operasi mobile yang dikembangkan oleh Samsung, dan digunakan dalam lini produk Samsung Wave. Arsitektur Bada memungkinkannya menggunakan berbagai jenis kernel: RTOS, Lainux, atau BSD. Bahkan, dalam implementasinya saat ini bada belum menggunakan kernel Linux. Bada menggunakan lisensi tertutup (proprietary)
  3. Ubuntu for phones
    Sistem operasi ini diperkenalkan awal tahun 2013 oleh Canonical, yang juga mengembangkan Ubuntu untuk PC/Server. Ubuntu for phones dikembangkan dari kernel Linux dan modifikasi/driver Android, sehingga diharapkan akan mudah diadopsi oleh vendor hardware berbasis Android. Keistimewaan Ubuntu for phones adalah konvergensi dengan desktop. Saat perangkat mobile berbasis Ubuntu dipasang pada dock yang terhubung ke perangkat I/O PC seperti monitor, keyboard, dan mouse, perangkat mobile akan berfungsi layaknya CPU pada sebuah PC, dan tampilan di monitor adalah desktop Ubuntu (Unity) yang berfungsi penuh. Ubuntu for phones, seperti versi Ubuntu lainnya dirilis dengan lisensi GNU GPL.
  4. Firefox OS
    Awalnya dikenal dengan nama Boot to Gecko (B2G), sistem operasi ini dikembangkan oleh Mozilla Foundation yang juga mengembangkan browser Mozilla Firefox dan client e-mail Mozilla Thunderbird. Firefox OS mengintegrasikan aplikasi web berbasis HTML5 ke dalam hardware menggunakan JavaScript. Firefox OS dapat dijalankan pada perangkat berbasis Android.
  5. MeeGo
    MeeGo adalah gabungan dari dua projek: Maemo (Nokia) dan Moblin (Intel). MeeGo digunakan untuk produk smartphone Nokia N950 dan N9, dan dalam beberapa produk netbook seperti Asus Eee PC X101 dan Fujitsu Lifebook MH330. Setelah Nokia menandatangani kerja sama dengan Microsoft di tahun 2011, projek MeeGo dihentikan. Sebagian karyawan Nokia yang terlibat dalam pengembangan MeeGo kemudian keluar dan mendirikan Jolla yang mengembangkan sistem operasi Sailfish OS sebagai penerus MeeGo. Sementara, Linux Foundation yang sebelumnya menjadi pusat pengembangan MeeGo menggantikannya dengan Tizen, dengan dukungan Intel dan Samsung.
  6. Sailfish OS
    Projek ini dikembangkan oleh Jolla, yang dibentuk oleh para pengembang MeeGo yang keluar dari Nokia setelah penghentian pengembangan sistem operasi terebut. Sailfish OS dikembangkan berbasis Mer, yang merupakan cabang (fork) dari MeeGo, ditambahkan Jolla UI, dan Qt/QML serta HTML5 sebagai perangkat pengembangannya.
  7. Tizen
    Setelah dihentikannya pengembangan MeeGo oleh Nokia, Intel bersama Samsung menginisiasi Tizen sebagai pengganti MeeGo, bersama Linux Foundation. Samsung berencana merilis perangkat berbasis Tizen di awal tahun 2013. Tizen bisa dikatakan sebagai penerus MeeGo, namun banyak dilakukan perubahan dalam arsitektur pengembangan, yang menggunakan EFL (Enlightenment Foundation Libraries) dan Webkit Runtime. Tizen dirilis dengan sejumlah lisensi open source antara lain Apache versi 2.0, BSD, dan LGPL.
  8. WebOS
    Pada awalnya, WebOS dikembangkan oleh Palm untuk perangkat Palm Pre. HP membeli Palm, dan menggunakan WebOS dalam produk tablet TouchPad. Setelah kegagalan HP TouchPad, WebOS dirilis dalam lisensi Apache versi 2.0.
  9. Access Linux Platform
    Access Linux Platform (ALP) dan pada awalnya dikembangkan sebagai kelanjutan dari Palm OS. Rilis terakhirnya terlihat lebih modern dan tidak lagi mirip dengan Palm OS. Komponen ALP dirilis dalam beberapa lisensi open source, antara lain GPL, LGPL, dan MPL.
  10. SHR
    Stable Hybrid Release, yang selanjutnya dikenal sebagai SHR adalah sistem operasi mobile yang dikembangkan berbasis OpenEmbedded dan Openmoko Linux. SHR dirilis dengan lisensi GNU GPL.