Microsoft Teams Kini Tersedia untuk Linux

Microsoft Teams adalah aplikasi/platform untuk melakukan kolaborasi dan komunikasi dalam sebuah pekerjaan. Fitur yang tersedia antara lain: chat, video conference, penyimpanan file, dan integrasi aplikasi. Produk ini merupakan pengganti atau kelanjutan dari Skype for Business. Sebelumnya, Microsoft juga mempunyai produk-produk sejenis seperti: NetMeeting, Office Live Meeting, dan Meeting Space. Sebelum merilis produk ini, Microsoft berencana mengakuisisi Slack, yang menyediakan layanan sejenis. Selain bisa diakses via web browser, Microsoft Teams juga bisa diakses via client app yang tersedia utuk Windows, Android, iOS, dan Windows Mobile/Phone. Namun sekarang Microsoft Teams client telah tersedia untuk Linux. Aplikasi ini (versi preview) bisa diunduh dalam format rpm/deb untuk distro-distro seperti Red Hat, Fedora, Debian, dan Ubuntu.

Microsoft Teams berjalan di atas Ubuntu Linux (Sumber: Microsoft Teams Blog)

Dirilisnya versi ini membuatnya menjadi aplikasi Microsoft Office pertama yang tersedia untuk Linux. Apakah ini menjadi awal dari tersedianya aplikasi Microsoft Office yang lain untuk Linux?

Ubuntu Kini Tersedia di Microsoft Hyper-V Gallery

Microsoft nampaknya memang serius dalam usahanya PDKT ke Linux. Setelah meluncurkan Windows Subsystem for Linux (WSL), Microsoft bekerja sama dengan para vendor distro Linux untuk menyediakan installer distro Linux di Microsoft Store. Ini memungkinkan untuk menjalankan distro Linux berdampingan dengan Windows 10. Baru-baru ini, Microsoft bekerja sama dengan Canonical untuk menghadirkan image distro Ubuntu 18.0.4.1 LTS di Hyper-V Gallery. Bagi yang belum tahu, Hyper-V adalah produk Microsoft untuk manajemen Virtual Machine, seperti halnya VMware Workstation atau Oracle VM VirtualBox, yang tersedia untuk versi Pro dari Windows 8, 8.1, dan 10 menggantikan Virtual PC. Pengguna Hyper-V tidak perlu mengunduh ISO image Ubuntu terlebih dahulu, cukup menggunakan Hyper-V Quick Create (tersedia  mulai Windows 10 versi 1709) lalu memilih opsi yang tersedia, lalu image Ubuntu akan diunduh langsung dari Microsoft.

Hyper-V Gallery (sumber: blogs.windows.com)

 

Mengunduh Ubuntu 18.0.4.1 LTS Hyper-V image

Ubuntu for Windows 10

Dulu mungkin tak terbayangkan bahwa Microsoft akan “bergandeng tangan” dengan Linux. Bahkan kerja sama Microsoft dan Suse ditanggapi dengan penuh kecurigaan oleh komunitas open source. Namun semuanya berubah setelah pergantian pucuk pimpinan Microsoft dari Steve Ballmer ke Satya Nadella. Microsoft tidak malu-malu lagi untuk merangkul komunitas Linux dengan gerakan Microsoft ♥ Linux. Microsoft juga mulai merilis aplikasi untuk Linux, seperti Visual Studio Code, SQL Server, juga platform .NET Core untuk Linux. Bisnis cloud Microsoft, Azure, menuntut dukungan untuk semua platform termasuk Linux. Untuk itu Microsoft merilis Azure Cloud Switch yang berbasis Linux.

(sumber: blogs.msdn.microdoft.com)

Terakhir, Microsoft merilis Windows Subsystem for Linux yang hakikatnya menjalankan tools Linux seperti bash di Windows 10. Dan akhirnya, distro Linux Ubuntu kini bisa diinstal dari Microsoft Store. Sejatinya, Ubuntu for Windows 10 ini akan menginstalasi distro Ubuntu 16.04 LTS berbasis command-line, tanpa GUI. Di masa depan distro lain seperti Suse dan Fedora juga akan tersedia di Microsoft Store. Saat ini pun, Ubuntu baru dapat diinstal pada rilis terakhir Windows 10  (Fall Creators Update) yang belum dirilis untuk umum, terbatas pada peserta Windows 10 Insider (tester).

Bash dan Ubuntu akan Jalan di Windows?

Dalam even developer Microsoft baru-baru ini, Build 2016, banyak perkembangan menarik yang terjadi di dalam Microsoft, terutama untuk para pengembang aplikasi. Masih melanjutkan tema besar “Microsoft ♥ Linux” atau “Microsoft Goes Open Source”, beberapa kabar menarik dari Build 2016 antara lain:

(source: Ubuntu Insights)

Meski demikian, isu paling menarik adalah bahwa Microsoft dan Canonical bekerja sama untuk menjalankan Ubuntu di atas Microsoft Windows 10. Dalam Build 2016, salah satu bahasannya adalah tentang menjalankan bash (Bourne Again Shell) di atas Ubuntu di atas Windows. Selama ini, untuk menjalankan bash di Windows biasanya digunakan Cygwin atau menjalankan Linux dalam Virtual Machine seperti VirtualBox atau VMware. Namun solusi terbaru ini dijanjikan seperti menjalankan bash secara native di atas Windows, mirip dengan wine menjalankan aplikasi Windows di Linux. Solusi Microsoft dinamakan Windows Subsystems for Linux (WSL).

(

(source: MSDN)

(UPDATE)
Sekadar tambahan informasi, Wim Coekaerts, eksekutif Oracle, bergabung dengan Microsoft sebagai VP Open Source. Coekaerts di Oracle menjabat sebagai senior vice president of Linux and virtualization engineering dan dikenal sebagai orang yang memimpin inisiatif open source di Oracle, termasuk Oracle Database for Linux dan distro Oracle Enterprise Linux.

Chromixium: Ubuntu Rasa ChromeOS

Chromebook adalah satu produk Google yang cukup membuat penasaran. Produk ini berupa notebook dengan sistem operasi yang disebut ChromeOS yang berbasis browser Google Chrome di atas userland Gentoo Linux. Aplikasi-aplikasi yang dijalankan berbasis web di atas browser Chrome. Google mengklaim Chromebook ini bebas maintenance karena ChromeOS diperbarui secara otomatis dan data-data pengguna akan otomatis dicadangkan lewat layanan cloud Google. Saat pertama diluncurkan, banyak yang pesimis dengan Chromebook karena menuntut koneksi internet agar bisa berfungsi dengan optimal, sehingga mengurangi mobilitasnya. Saat ini, banyak aplikasi Chrome bisa berfungsi tanpa harus terkoneksi internet (offline), dan rilis terakhir ChromeOS bahkan bisa menjalankan sejumlah aplikasi Android.

Chromixium_desktop

Tampilan Desktop Chromixium 1.0

Sayangnya, Chromebook tidak tersedia di Indonesia sampai saat ini. Sistem operasi ChromeOS pun tidak bisa diunduh secara bebas. Basis dari ChromeOS  yang disebut ChromiumOS memang berlisensi open source, namun tidak ada rilis resmi ChromiumOS dalam format yang siap digunakan. Selain itu, banyak bagian ChromeOS yang tidak ada di ChromiumOS karena masalah lisensi. Untunglah di dunia open source banyak inovasi yang terjadi dan akhirnya baru-baru ini telah dirilis versi 1.0 dari distro yang disebut Chromixium.  Distro ini berbasis Ubuntu LTS (14.0.4) dengan tampilan OpenBox yang dipermak agar mirip tampilan ChromeOS.

Tampilan Login

Tampilan Login

Chromixium bisa digunakan sebagai live CD/DVD/USB Flashdrive ataupun diinstalasi ke HDD/SSD. Untuk itu Anda tinggal mengunduh ISO hybrid image Chromixium (ukuran 800+ MB) dan menggunakan Unetbootin untuk membuat live USB Flashdrive. Anda juga bisa mencobanya terlebih dulu menggunakan aplikasi virtual machine seperti VirtualBox atau VMware. Kebutuhan sistem untuk Chromixium tidaklah tinggi, RAM 512 MB dan ruang disk 4 GB sudah cukup untuk menjalankannya.

Chromixium_menu_cropped

Tampilan Chromium App Launcher

Setelah terpasang, kita bisa menggunakannya sebagai ChromeOS/ChromiumOS dengan menggunakan shortcut aplikasi Google di taskbar atau menggunakan launcher. Menariknya, aplikasi non-Google bisa diakses dengan klik kanan pada desktop. DIstro ini menggunakan mekanisme yang sama dengan Ubuntu dalam segala hal. Perbedaannya jelas pada mekanisme login di ChromeOS yang menggunakan akun Google, sedangkan Chromixium masih seperti distro Linux pada umumnya.

Chromixium_openbox_menu_cropped

Tampilan Menu Utama Chromixium

UPDATE (10-03-2016):
Terhitung tanggal 17 Januari 2016 Chromixium resmi berubah nama menjadi Cub Linux setelah “diprotes” oleh Google.

Ubuntu 13.10 Dirilis, Menjanjikan Konvergensi antara PC dan Mobile

Pada tanggal 17 Oktober 2013, sehari sebelum peluncuran Windows 8.1, Canonical mengumumkan rilis terbaru sistem operasi Ubuntu, “Saucy Salamander” atau Ubuntu 13.10. Berbeda dengan rilis-rilis sebelumnya, kali ini Canonical menjanjikan konvergensi antara platform PC (x86) dan mobile (ARM). Ubuntu Touch akhirnya dirilis secara resmi untuk pertama kalinya, dan ditujukan untuk perangkat Nexus dari Google. Rilis penuhnya direncanakan pada bulan April 2014 bersamaan dengan rilis Ubuntu 14.04 “Trusty Tahr”.

Tampilan Desktop Ubuntu 13.10 (Saucy Salamander)

MIR, graphic stack yang dikembangkan Canonical untuk menggantikan Xorg, kali ini hadir d versi mobile, namun belum hadir di versi desktop sampai rilis LTS mendatang. Ubuntu 13.10 akan didukung selama 9 bulan (hingga Juli 2014), bagi yang menginginkan dukungan lebih bisa bertahan dengan versi 12.04 LTS sampai rilis berikutnya (14.04 LTS) yang akan didukung hingga 5 tahun.

SteamOS, Sistem Operasi Berbasis Linux untuk Ruang Keluarga Anda

Valve, yang selama ini dikenal dengan layanan gaming Steam, baru-baru ini mengumumkan peluncuran SteamOS. Sistem operasi berbasis Linux ini dipromosikan sebagai “sistem operasi untuk ruang keluarga” yang tersedia bebas (free). SteamOS akan memungkinkan tersedianya perangkat (console) untuk bermain game, mendengarkan musik, menonton film dari layanan Steam yang terhubung dengan TV. Pengguna SteamOS juga bisa melakukan streaming game dari PC berbasis Windows dan MacOS, sharing game dari layanan Steam, dan kontrol berbasis keluarga. Valve memang mengantisipasi tren pengembangan sistem SmartTV seperti Apple TV, Google TV, Microsoft XBOX One, dan Sony PS4. Inisiatif lainnya seperti Ouya, konsol berbasis Android, juga mengincar segmen ini. Namun, berbeda dengan pesaingnya, Valve memilih untuk mengembangkan sisi perangkat lunak/platformnya terlebih dahulu, mirip dengan pendekatan Google untuk Android/Google TV dan Canonical untuk Ubuntu TV. steamosValve akhir-akhir ini memang banyak melakukan inisiatif “mendekati” Linux, setelahmempertimbangkan kecenderungan platform Apple dan Microsoft yang semakin tertutup. Tahun lalu, Valve meluncurkan Steam for Linux berbasis Ubuntu untuk pertama kalinya. Dengan inisiatif ini, Valve hendak meninggalkan ketergantungan terhadap platform Microsoft (dan Apple) untuk layanan Steam.

UPDATE:
Valve melanjutkan gebrakannya dengan meluncurkan Steam Machines dan Steam Controller, sebagai bagian dari strategi untuk “membuka” platform konsol game. Bisa dikatakan mirip dengan strategi Google dengan Androidnya di platform mobile (smartphone, tablet), dengan menawarkan sistem operasi terbuka dan perangkat keras standar yang terhubung ke layanan Steam.

Instalasi Oracle JDK di Ubuntu

Instalasi Java, baik JRE maupun JDK di Linux selalu menjadi masalah sejak dulu. Lisensi Java (sebelum tahun 2006) tidak mengizinkannya didistribusikan dalam repositori perangkat lunak linux. Canonical sebagai sponsor distro linux Ubuntu pernah bekerja sama dengan Sun Microsystems untuk mendistribusikan Sun JRE dan JDK dalam repositori Ubuntu. Namun, sejak Sun merilis Java 7 dengan lisensi GNU GPL, kerja sama ini dihentikan. Sejak itu, Java bisa didapatkan langsung dari repositori dengan nama OpenJDK, yang dikompilasi dari kode sumber yang dirilis Sun (kini Oracle). Oracle masih merilis JRE dan JDK untuk Linux yang harus diinstal secara manual.

Hadirnya OpenJDK memang memudahkan bagi pengguna Linux untuk menggunakan Java. Di sisi lain, Oracle JRE/JDK masih dibutuhkan oleh kalangan pengembang aplikasi, terutama aplikasi untuk perkantoran/enterprise. Instalasi Oracle JDK/JRE secara manual tidak sulit dilakukan, namun untuk mengintegrasikan dengan sistem secara keseluruhan membutuhkan sedikit usaha. Untungnya, sekarang sudah ada cara untuk mengintegrasikan Oracle JDK dengan distro Ubuntu menggunakan script instalasi dari Web Upd8. PPA dari Web Upd8 ini memungkinkan kita menginstalasi Oracle JDK 6, 7, dan 8 sekaligus mengintegrasikannya dalam sistem Ubuntu.

Cara menggunakan PPA ini sangat mudah, kita cukup mengetikkan dua baris perintah: sudo add-apt-repository ppa:webupd8team/java
sudo apt-get update

Kemudian kita bisa menginstalasi Oracle JDK sesuai versinya, misalnya untuk menginstalasi Oracle JDK 7 kita tinggal mengetikkan:
sudo apt-get install oracle-java7-installer
Untuk versi 6 dan 8 kita tinggal mengganti angka 7 dengan 6 atau 8. Perintah di atas akan menginstalasi script yang otomatis akan berjalan dan mengunduh Oracle JDK dari situs Oracle, sekaligus menginstalasi dan mengonfigurasikannya. Untuk mengeset Java Environment Variable secara otomatis, kita bisa menginstalasikan oracle-java-set-default sesuai versi Java (6, 7, atau 8) dengan perintah:
sudo apt-get install oracle-java7-set-default
Script instalasi ini diperbarui setiap Oracle merilis versi terbaru Java.

Smartfren Bergabung dengan Ubuntu Carrier Advisory Group

Operator telekomunikasi seluler Indonesia, Smartfren, baru-baru ini mengumumkan kerja sama dengan distro Linux populer, Ubuntu, dengan bergabung dalam Ubuntu Carrier Advisory Group (CAG). Ubuntu CAG adalah forum untuk membantu pengembangan sistem operasi Ubuntu for Smartphone. Deputi CEO Smartfren, Richard Tan, mengatakan, “Ubuntu adalah opsi penting bagi Indonesia karena menawarkan solusi yang atraktif, fleksibel, dan berbeda untuk smartphone.”  Beberapa operator telekomunikasi yang telah bergabung dengan Ubuntu CAG antara lain: Deutsche Telekom, SK Telecom, Telecom Italia, Korea Telecom, dan Portugal Telecom.

Ubuntu Menjadi Sistem Operasi Resmi di Cina

Pada tanggal 21 Maret 2013, Canonical, perusahaan yang ada di balik distro Ubuntu, mengumumkan kerja sama dengan pemerintah RRC dalam pengembangan sistem operasi terbuka (open source). Lebih rincinya, Kementerian Industri dan Teknologi Informasi RRC lewat badan yang disebut The China Software and Integrated Chip Promotions Centre (CSIP) memilih Ubuntu sebagai basis bagi pengembangan sistem operasi nasional berbasis open source. Canonical, CSIP dan  the National University of Defense Technology (NUDT) juga membentuk CCN Open Source Innovation Joint Lab di Beijing untuk mengembangkan sistem operasi ini.

Logo Ubuntu Kylin (sumber: Slashgear)

Sebagai langkah pertama, sebuah distro khusus yang disebut Ubuntu Kylin akan dirilis bersamaan dengan rilis Ubuntu 13.04 “Raring Ringtail”. Versi ini mengintegrasikan metode input untuk huruf Cina, kalender Cina, pencarian musik online, aplikasi cuaca, dan aplikasi perkantoran WPS. Versi selanjutnya akan menambahkan peta online Baidu dan belanja online Taobo. Kylin sebelumnya sudah dikembangkan oleh NUDT sejak tahun 2010 dengan basis FreeBSD. Nama Kylin diambil dari nama mahluk dalam legenda Cina, Qilin.