Bill Gates Beralih ke Android, Microsoft Bergabung dengan OSI

Siapa yang tidak mengenal nama Bill Gates. Publik mengenalnya sebagai pendiri Microsoft dan salah satu, kalau bukan orang terkaya di dunia. Meskipun sejak tahun 2008 ia tidak lagi terlibat secara aktif di Microsoft, orang cenderung akan mengasumsikan Bill Gates sebagai pengguna produk Microsoft “fanatik nomor satu” yang hanya menggunakan produk-produk Microsoft, jika tersedia. Misalnya, untuk perangkat laptop/tablet, Bill Gates akan memilih Surface, lengkap dengan sistem operasi Microsoft Windows dan semua perangkat lunak produksi Microsoft seperti Office, Visio, Project. menggunakan peramban web Microsoft Edge dan layanan seperti MSN, Bing, Outlook.com, OneDrive, Skype, dan Maps. Untuk smartphone, tentu saja Lumia dengan sistem operasi Windows Phone/Windows Mobile. Namun, dalam wawancara baru-baru ini dengan FoxNews, Bill Gates mengaku saat ini menggunakan smartphone berbasis Android dengan “banyak aplikasi Microsoft”. Tidak dijelaskan tipe/merek smarphone Android yang digunakan, namun gosipnya adalah edisi khusus Samsung Galaxy S8 yang dijual di Microsoft Store (hanya di Amerika Serikat).

(sumber: tec.com.pe)

Sementara itu, kelanjutan “PDKT” antara Microsoft dan Linux, atau open source secara keseluruhan terus berlanjut setelah bergabungnya Microsoft dengan Open Source Initiative (OSI) sebagai sponsor premium. OSI sendiri adalah organisasi nonprofit yang mempromosikan dan melindingi perangkat lunak terbuka lewat pendidikan, kolaborasi, dan infrastruktur. Sejak beralihnya kepemimpinan Microsoft dari Steve Ballmer ke Satya Nadella, pandangan terhadap open source di Microsoft banyak berubah. Mulai dari dirilisnya sejumlah aplikasi sebagai perangkat lunak terbuka (lengkap dengan migrasi dari TFS ke Github), migrasi sejumlah aplikasi ke Linux, hingga meningkatkan interoperabilitas antara Windows dan Linux. Patut ditunggu bagaimana kelanjutannya.

(sumber: cydiadev.com)

Iklan

Ubuntu for Windows 10

Dulu mungkin tak terbayangkan bahwa Microsoft akan “bergandeng tangan” dengan Linux. Bahkan kerja sama Microsoft dan Suse ditanggapi dengan penuh kecurigaan oleh komunitas open source. Namun semuanya berubah setelah pergantian pucuk pimpinan Microsoft dari Steve Ballmer ke Satya Nadella. Microsoft tidak malu-malu lagi untuk merangkul komunitas Linux dengan gerakan Microsoft ♥ Linux. Microsoft juga mulai merilis aplikasi untuk Linux, seperti Visual Studio Code, SQL Server, juga platform .NET Core untuk Linux. Bisnis cloud Microsoft, Azure, menuntut dukungan untuk semua platform termasuk Linux. Untuk itu Microsoft merilis Azure Cloud Switch yang berbasis Linux.

(sumber: blogs.msdn.microdoft.com)

Terakhir, Microsoft merilis Windows Subsystem for Linux yang hakikatnya menjalankan tools Linux seperti bash di Windows 10. Dan akhirnya, distro Linux Ubuntu kini bisa diinstal dari Microsoft Store. Sejatinya, Ubuntu for Windows 10 ini akan menginstalasi distro Ubuntu 16.04 LTS berbasis command-line, tanpa GUI. Di masa depan distro lain seperti Suse dan Fedora juga akan tersedia di Microsoft Store. Saat ini pun, Ubuntu baru dapat diinstal pada rilis terakhir Windows 10  (Fall Creators Update) yang belum dirilis untuk umum, terbatas pada peserta Windows 10 Insider (tester).

Q4OS, Linux Rasa Windows (XP)

Dominasi sistem operasi Microsoft Windows di platform PC (desktop) memang belum tertandingi.  Seperti halnya dominasi Android di smartphone dan Linux di server, pengguna (awam) tahunya komputer itu kalau dinyalakan akan menampilkan desktop Windows, bukan Mac apalagi tampilan desktop Linux yang beragam itu, mulai KDE, Gnome, Xfce, Unity, atau LXDE. Tak heran, jika tampilan desktop Windows menjadi acuan untuk merancang tampilan desktop Linux agar dapat menarik pengguna baru. Dulu kita mengenal distro bernama Lindows, yang kemudian diubah menjadi Linspire yang bukan hanya menyesuaikan tampilan, tapi juga memelesetkan namanya. Lalu juga ada distro yang sengaja dibuat tampilannya semirip mungkin dengan Windows, seperti ZorinOS.

(sumber: q4os.org)

Kali ini Penulis ingin membahas salah satu distro yang tidak tanggung-tanggung usahanya dalam meniru Windows, yaitu Q4OS. Pada pandangan pertama, kita bisa mengenali nuansa Windows XP pada desktop Q4OS. Kalau bukan karena tampilan iconnya, bisa dikatakan distro ini cukup sempurna menduplikasi tampilan Windows XP. Tentu saja bukan sekadar tampilan saja yang mirip, namun juga kemasannya. Jika distro-distro Linux mainstream memaket file unduhannya dalam ukuran gigabyte, distro Q4OS menawarkan unduhan file berkisar hanya 300 – 500 MB, yang muat dalam satu keping CD. Tentu saja itu berarti distro ini tidak banyak membundel aplikasi di luar sistem operasi inti. Satu lagi kemiripannya dengan Windows (XP).

(Sumber: distrowatch.com)

Distro ini berbasis Debian GNU/Linux dan desktop environment Trinity, yang merupakan fork dari kode sumber KDE 3. Distro ini juga menyertakan berbagai fitur menarik, seperti Desktop Profiler, yang memberikan pilihan konfigurasi aplikasi yang bisa diinstalasikan pada sistem. Aplikasi pilihan ini antara lain: Google Chrome, LibreOffice, Mozilla Firefox, Synaptic Package Manager, VLC Media Player, dan Wine (compatibillity layer untuk menjalankan aplikasi Windows di Linux). Kekuatan distro ini terletak pada automation script yang beragam untuk menjalankan berbagai tugas, seperti mengganti tampilan desktop menjadi KDE4 Plasma, LXDE, Xfce4, atau Lxqt. Tentunya kita harus terhubung ke internet untuk bisa menyelesaikan proses instalasi paket aplikasi.

CloudReady, ChromiumOS for Everyone

Google Chromebook adalah produk yang bikin penasaran Penulis (selain Microsoft Surface), karena memang tidak dirilis resmi di Indonesia. Terlebih lagi sistem operasinya, ChromeOS, yang tidak dirilis secara bebas, meskipu berbasis distro Gentoo Linux. Memang kode sumbernya yang dinamakan ChromiumOS dapat diunduh bebas dari repositorinya, namun tentu saja masih dibutuhkan kemampuan untuk menjadikannya sistem operasi yang siap pakai. Selama ini ada beberapa “distro” ChromiumOS yang ada: Hexxeh, ArnoldTheBats, dan Dell. Dari ketiganya, hanya ArnoldTheBats yang masih aktif. Bahkan CubLinux (d.h. Chromixium) yang menawarkan tampilan ChromeOS di atas Ubuntu juga telah lama tidak diperbarui. Namun demikian, belakangan muncul dua proyek baru yang mengoprek ChromiumOS, yaitu: CloudReady dan NayuOS. Jika NayuOS ditujukan sebagai sistem operasi alternatif bagi Chromebook, maka CloudReady bisa mengubah hardware Anda menjadi Chromebook hanya dengan menggunakan satu USB flashdrive. Anda bisa memulai dengan mengunduh versi terbarunya kemudian menggunakan Chrome Recovery Utility untuk menulis image hasil unduhan ke USB flashdrive. Setelah selesai, boot ulang menggunakan USB flashdrive itu. Anda langsung bisa menggunakan CloudReady alias ChromiumOS.

(Sumber: chrome.google.com)

Jika hardware Anda mendukung, CloudReady juga bisa dikonfigurasikan dual-boot bersama Windows. Anda bisa terus menggunakan CloudReady dari flashdrive atau menginstalasikannya ke dalam hard drive. CloudReady dapat digunakan gratis, namun untuk mendapatkan dukungan Anda bisa menghubungi Neverware untuk paket dukungan berbayar.

(Sumber: arstechnica.com)

CyanogenMod Berakhir, LineageOS Dimulai

CyanogenMod selama ini dikenal sebagai sistem operasi mobile alternatif yang populer. Berbasis source code Android, CyanogenMod tersedia untuk berbagai tipe dan merek handphone, bahkan setelah dukungan resmi untuk tipe/merek tersebut berakhir. Popularitasnya membuat sistem operasi ini mendapatkan banyak dukungan dari pengguna dan pengambang. Di tahun 2013, Cyanogen Inc. didirikan untuk mendukung komersialisasi CyanogenMod. Versi komersial yang disebut CyanogenOS digunakan sebagai sistem operasi bawaan untuk beberapa tipe ponsel, seperti OnePlus One, YU, Andromax Q, Lenovo ZUK, BQ, dan Wileyfox. Di tahun 2015, Microsoft mengumumkan investasi dan kerja sama dengan Cyanogen Inc. Namun, di tahun 2016, Cyanogen menemui banyak kesulitan, mulai pemberhentian karyawan, keluarnya sang pendiri Steve Kondik, hingga akhirnya penutupan Cyanogen Inc. dan proyek CyanogenMod.  Berita baiknya, sejumlah pengembang CyanogenMod mengumumkan proyek baru berbasis kode sumber CyanogenMod yang dinamakan Lineage OS.

Bye bye CyanogenMod... (Sumber: trustedreviews.com)

Bye bye CyanogenMod… (Sumber: trustedreviews.com)

Andromeda: Sistem Operasi Baru Pengganti ChromeOS?

Belum lagi mencerna tentang sistem operasi terbaru dari Google, yaitu Fuchsia,  sudah muncul lagi kabar (burung) terbaru mengenai sistem operasi baru dari Google, yang dinamakan Andromeda. Jika Fuchsia adalah sistem operasi yang benar-benar baru, menggunakan microkernel Magenta yang merupakan turunan dari Little Kernel serta dirancang untuk sistem embedded, khususnya IoT (Internet of Things), Andromeda disebut-sebut sebagai pengembangan sistem operasi Android untuk platform PC. Seperti kita ketahui, Google saat ini mempunyai dua sistem operasi: Android untuk smartphone dan tablet, serta ChromeOS untuk PC (chromebook). Sejak setahun terakhir, kabar mengenai integrasi antara kedua sistem operasi ini terus bergulir, mulai dari konsolidasi divisi Android dan ChromeOS sampai ditambahkannya kemampuan menjalankan aplikasi Android pada ChromeOS (chromebook).

(sumber: thehackernews.com)

(sumber: thehackernews.com)

Sistem operasi baru ini kabarnya akan diluncurkan pada even Google pada tanggal 4 Oktober 2016. Pada even tersebut, Google akan memperkenalkan laptop baru dengan codename “Bison” dan secara resmi disebut “Pixel 3”, yang akan menggunakan sistem operasi baru ini. Selain itu, Huawei Nexus yang akan diluncurkan tahun 2017 nanti juga disebut-sebut akan menggunakan Andromeda.

Microsoft Akuisisi Xamarin, Umumkan SQL Server for Linux

Dalam waktu relatif berdekatan, Microsoft melakukan dua  pengumuman strategis, yaitu akuisisi atas Xamarin (penyedia solusi pengembangan aplikasi mobile lintas platform) dan pengembangan aplikasi basis data SQL Server untuk platform Linux.  Ya, Microsoft benar-benar ♥ Linux (insert sarcasm here). Setelah membuka kode sumber .NET core, merilis Visual Studio Code for Linux, dan menyediakan dukungan resmi untuk Red Hat (dan Ubuntu) di Azure, Microsoft menunjukkan perilaku yang berbeda di bawah pimpinan CEO barunya, Satya Nadella.

(sumber: blogs.microsoft.com)

Akuisisi Xamarin sebenarnya sudah lama diperkirakan, seperti halnya akuisisi Visio di tahun 2000. Keduanya adalah produk yang terlihat dan terasa seperti produk Microsoft, bekerja dan terintegrasi dengan baik dalam lingkungan (stack) Microsoft. Pengembang aplikasi mobile mengenal Xamarin sebagai tool untuk mengembangkan aplikasi mobile lintas platform berbasis C#. Selain itu, raksasa IT seperti IBM dan Oracle juga mulai bergerak ke arah pengembangan aplikasi mobile lintas platform dengan IBM MobileFirst dan Oracle Mobile Application Framework. Akuisisi Xamarin tampaknya dimaksudkan untuk melanjutkan integrasi dengan Microsoft Visual Studio untuk menghasilkan aplikasi mobile lintas platform (iOS, Android, Windows).

(sumber: blog.xamarin.com)

Sementara SQL Server adalah produk database kelas enterprise dari Microsoft yang dikembangkan sejak tahun 1993 dari hasil melisensi kode SyBase. Kita juga mengenal produk database Microsoft Access di kelas personal. Selama ini SQL Server harus bersaing dengan Oracle Database dan IBM DB2 di kelasnya. Kedua produk kompetitornya itu sudah lama mempunyai versi yang berjalan di atas platform selain Microsoft Windows, seperti Linux. Akhirnya, sesuai dengan strategi ke depan Microsoft yang mulai membuka diri dengan kehadiran platform lain, satu demi satu stack development Microsoft mulai dibuka (open source) atau dimigrasi ke platform lain, seperti SQL Server.

Google Akan Melebur Chrome OS ke Android?

Dirilisnya Pixel C (berbasis Android) oleh Google baru-baru ini menimbulkan spekulasi bahwa Chrome OS, yang selama ini hanya didapatkan preinstalled dalam Chromebook akan segera dihentikan, dan digabungkan dengan Android (tautan berbayar). Spekulasi ini sudah lama beredar, saat Sundar Pichai menggantikan Andy Rubin untuk mengepalai divisi Android di tahun 2013 , Pichai bahkan sekarang menjabat CEO Google setelah reorganisasi yang ditandai pembentukan holding company Alphabet. Aplikasi Android pun sebagian di antaranya sudah bisa dijalankan di Chrome OS menggunakan teknologi Native Client (NaCl).

(sumber: TechGadgetCentral.com)

Integrasi ini ditengarai karena popularitas Android di platform mobile, embedded, dan wearables. Beberapa vendor telah mencoba menawarkan Android di platform desktop dalam bentuk hybrid device seperti Asus Transformer Pad. Selain itu, adopsi Chromebook (dan Chrome OS) dinilai terlalu lambat. Kabar ini pun langsung dibantah oleh Google. Selain terus mengembangkan Chromebook, Google akan menggunakan Chrome OS dalam perangkat seperti Chromecast dan Chromebit.

 Pixel C (Sumber: pixel.google.com)

Terlepas dari kabar (burung) tersebut, strategi Google dengan kedua sistem operasi ini memang patut ditunggu, apakah tetap seperti sekarang, seperti Apple dengan OS X dan iOS (dan WatchOS), atau mencoba strategi Microsoft dengan Universal Windows Platform (UWP) a.k.a Universal Apps. Android yang berjalan di semua platform otomatis membuat aplikasinya tersedia di semua platform (secara teori). Tentu saja dalam praktiknya tidak sesederhana itu. Tiap platform mempunyai batasan-batasan tersendiri, bukan hanya ukuran display.

Microsoft Berpartner dengan Red Hat

Melanjutkan “pendekatan” dengan Linux, Microsoft baru-baru ini mengumumkan kerja sama dengan Red Hat untuk menghadirkan solusi bagi perusahaan yang ingin menggunakan solusi Red Hat di cloud. Bentuk kerja sama Microsoft dan Red Hat ini antara lain:

  • Solusi Red Hat tersedia secara native bagi pengguna Microsoft Azure
  • Dukungan resmi bagi produk Red Hat di Microsoft Azure
  • Akses ke teknologi .NET bagi produk-produk Red Hat
  • Manajemen workload terpadu untuk hybrid cloud deployment

(sumber: NetworkWorld)

Sebelumnya, secara resmi Microsoft Azure hanya mendukung distro Ubuntu dan SUSE. Kita tahu bahwa SUSE dulu dimiliki oleh Novell, yang menandatangani kesepakatan kontroversial soal paten dengan Microsoft, Red Hat dan Canonical (yang mengembangkan Ubuntu) terang-terangan menolak.

Sementara itu, layanan OneDrive dari Microsoft mengumumkan perubahan besar-besaran seputar kapasitas penyimpanannya, berlaku mulai awal 2016:

  • Penyimpanan gratis unlimited untuk pengguna Office 365 dihapuskan, diturunkan ke 1 TB. Bagi pengguna saat ini yang telah menggunakan di atas 1 TB , file-file masih bisa diakses selama 12 bulan.
  • Paket 100 GB dan 200 GB (berbayar) dihapuskan, digantikan paket 50 GB seharga US$ 1,99 /bulan. Penggunan paket 100 GB dan 200 GB saat ini masih bisa menggunakan layanan ini untuk seterusnya.
  • Kapasitas penyimpanan gratis bagi semua pengguna diturunkan dari 15 GB ke 5 GB, bonus camera rolling 15 GB dihapuskan. Pengguna saat ini yang telah menggunakan kapasitas di atas 5 GB masih akan bisa mengakses file-filenya selama 12 bulan.

Konon, perubahan ini dilakukan karena para pengguna Office 365 menyalahgunakan kapasitas unlimited yang didapatkan dengan menyimpan file-file berukuran besar, bahkan salah satu pengguna menggunakan kapasitas penyimpanan total mencapai 75 TB! Keputusan Microsoft ini pun menuai banyak protes dari para penggunanya.

Microsoft PDKT ke Linux(?)

Para penggiat Linux dan open source veteran seusia Penulis tentunya tahu bahwa musuh nomor satu adalah Microsoft. Steve Ballmer, saat masih menjabat CEO di Microsoft, pernah mengatakan bahwa “Linux adalah kanker“. Salah satu impian terbesar saat itu adalah berakhirnya dominasi platform Microsoft dan berjayanya platform open source (Linux). Banyak hal berubah sejak saat itu. Hari ini kita melihat platform komputasi telah bergeser dari desktop ke mobile, yang didominasi oleh platform Android (yang berbasis Linux), dan Microsoft bisa dikatakan jauh tertinggal di sektor ini.

(Sumber: Windows Server Blog)

Steve Ballmer tidak lagi menjabat CEO Microsoft, dia bahkan tidak lagi bekerja di Microsoft. Open source (dan Linux) pun bukan lagi hal yang asing di Microsoft. CEO Microsoft yang baru, Satya Nadella, menyatakan “Microsoft ♥ Linux“, diikuti dengan platform pemrograman Microsoft, .NET Core, dirilis dengan lisensi open source, rilis aplikasi pemrograman Visual Studio Code for Linux/MacOSX, dan akhirnya, Microsoft mengembangkan Azure Cloud Switch, sebuah sistem operasi cross-platform untuk data center networking berbasis Linux. Di tengah ambisi Microsoft untuk kembali menguasai platform komputasi (personal) dengan meluncurkan Windows 10, pendekatan ke open source dan Linux mungkin menjadi bahan pertanyaan. Apalagi Microsoft juga terkenal dengan aksi melawan Linux/Android dengan mengandalkan portfolio patennya.

(Sumber: .NET Blog)

Tampaknya, Microsoft mulai menyadari bahwa di masa depan, dunia komputasi berbasis awan (cloud) menuntut keterbukaan, alias platform agnostic. Layanan Microsoft seperti Azure, akan lebih kompetitif jika mendukung standar terbuka, termasuk segala sesuatu yang berbau open source, termasuk di dalamnya adalah Linux. Meskipun ini belum berarti Microsoft akan meninggalkan Windows untuk merilis sistem operasi berbasis Linux, atau merilis semua sofware aplikasinya untuk Linux, langkah-langkah “PDKT” Microsoft sejauh ini patut diapresiasi.

(Sumber: Microsoft Azure Blog)