Sugar, Bukan Gula-gula Biasa

Masih ingat dengan proyek One Laptop Per Child (OLPC)? Proyek yang digagas oleh Nicholas Negroponte pada tahun 2005 ini berambisi untuk membuat dan mendistribusikan laptop ke anak-anak di negara berkembang. Laptop tersebut dirancang khusus dan diberi nama XO. Laptop unik ini dilengkapi komponen hemat energi, casing tahan banting dan air, layar yang bisa diputar 360 derajat, dan perangkat lunak sumber terbuka (open source software) untuk sistem operasi dan aplikasinya. Perangkat lunak untuk OLPC disebut Sugar, berbasis distro Linux Fedora dan bahasa pemrograman Python 2.5. Pada tahun 2008, sistem operasi Microsoft Windows XP dipertimbangkan untuk menjadi sistem operasi alternatif bagi OLPC XO. Akibatnya, Walter Bender, kepala pengembangan perangkat lunak dan konten mengundurkan diri dari OLPC dan mendirikan Sugar Labs untuk melanjutkan pengembangan Sugar, yang kini tidak lagi terikat pada distro linux Fedora.

screenshot1
Tampilan Sugar (sumber: sugarlabs.org)

Sugar kini tersedia sebagai paket yang bisa diinstalasikan pada sejumlah distro linux seperti Ubuntu, openSUSE, Debian, dan Trisquel Toast. Sugar juga tersedia untuk platform Raspberry Pi. Secara tidak resmi, Sugar telah dimodifikasi untuk berjalan di sistem operasi lain seperti Android, FirefoxOS, iOS, macOS, dan Windows di bawah proyek Sugarizer, yang juga bisa dijalankan via browser web. Untuk mencoba Sugar di komputer, Anda bisa mengunduh Sugar on a Stick (SoaS) dan menyalinnya ke USB Flash Drive berkapasitas 2 GB atau lebih menggunakan aplikasi seperti Fedora Live USB Creator atau Rufus(di sistem operasi Windows).

sugarizer
Tampilan Sugarizer, diakses via Google Chrome

Sugar berbeda dengan konsep sistem operasi pada umumnya, karena fokus pada aktivitas yang langsung bisa dikerjakan oleh pengguna, yang umumnya anak-anak usia sekolah. Ada aplikasi untuk menggambar, mewarnai, belajar tentang huruf/angka, pemrograman sederhana, dan permainan edukatif. Anda berminat mencoba?

Microsoft Teams Kini Tersedia untuk Linux

Microsoft Teams adalah aplikasi/platform untuk melakukan kolaborasi dan komunikasi dalam sebuah pekerjaan. Fitur yang tersedia antara lain: chat, video conference, penyimpanan file, dan integrasi aplikasi. Produk ini merupakan pengganti atau kelanjutan dari Skype for Business. Sebelumnya, Microsoft juga mempunyai produk-produk sejenis seperti: NetMeeting, Office Live Meeting, dan Meeting Space. Sebelum merilis produk ini, Microsoft berencana mengakuisisi Slack, yang menyediakan layanan sejenis. Selain bisa diakses via web browser, Microsoft Teams juga bisa diakses via client app yang tersedia utuk Windows, Android, iOS, dan Windows Mobile/Phone. Namun sekarang Microsoft Teams client telah tersedia untuk Linux. Aplikasi ini (versi preview) bisa diunduh dalam format rpm/deb untuk distro-distro seperti Red Hat, Fedora, Debian, dan Ubuntu.

Microsoft Teams berjalan di atas Ubuntu Linux (Sumber: Microsoft Teams Blog)

Dirilisnya versi ini membuatnya menjadi aplikasi Microsoft Office pertama yang tersedia untuk Linux. Apakah ini menjadi awal dari tersedianya aplikasi Microsoft Office yang lain untuk Linux?

IBM Segera Mengakuisisi Red Hat

Sebuah kabar besar dari dunia teknologi informasi, IBM akan mengakuisisi Red Hat senilai US$ 34 Miliar. Ini disebut-sebut sebagai akuisisi perusahaan perangkat lunak terbesar, mengalahkan akuisisi LinkedIn oleh Microsoft senilai US$ 26 Miliar. Dalam rilis pers resminya disebutkan bahwa IBM lebih menekankan pada bisnis cloud, tepatnya hybrid/multi cloud dari Red Hat. Meskipun demikian, reputasi Red Hat sebagai perusahaan berbasis open source (Linux) tetaplah tidak terbantahkan. Sementara di sisi lain, IBM juga banyak berperan dalam pengembangan open source dan juga Linux. Tentu saja, berita ini ditanggapi secara hati-hati di kalangan pegiat open source, terutama setelah pengalaman akuisisi SUSE oleh Novell dan Sun oleh Oracle. Belum lagi anekdot yang menyebutkan tentang tidak cocoknya identitas korporat IBM yang dikenal sebagai “The Big Blue” (biru) dengan Red Hat yang tentunya identik dengan warna merah!

(sumber: thurrott.com)

Linus Torvalds Mengundurkan Diri dari Linux?

Dalam sebuah e-mail yang dikirimkan ke milis projek kernel Linux, Linus Torvalds yang merupakan pencipta Linux mengumumkan keputusannya untuk rehat sejenak dari kesibukannya mengembangkan kernel Linux. Pada saat hampir bersamaan, ia mencetuskan Linux Code of Conduct yang baru yang diadopsi dari Contributor Covenant menggantikan Linux Code of Conflict yangs selama ini dipakai.  Perubahan ini dilakukan karena Code of Conflict dirasa tidak mencapai sasarannya untuk mejadikan lingkungan pengembang Linux lebih “beradab”. Selama ini, Linus Torvalds dikenal sangat blak-blakan dalam mengomentari kontribusi para pengembang Linux, dengan menggunakan bahasa yang “kasar” (dan pecah-pecah). Hal ini dikhawatirkan akan membuat kontributor, terutama perempuan, menjadi kurang nyaman dan akhirnya menghentikan kontribusi lebih lanjut. Linus selanjutnya akan menggunakan waktu rehatnya untuk “mendapatkan bantuan tentang cara memahami emosi orang dan merespons dengan tepat”. Ia akan digantikan sementara oleh Gregory Kroah-Hartman dan akan kembali lagi pada saatnya nanti.

(sumber: Wikipedia)

Ubuntu Kini Tersedia di Microsoft Hyper-V Gallery

Microsoft nampaknya memang serius dalam usahanya PDKT ke Linux. Setelah meluncurkan Windows Subsystem for Linux (WSL), Microsoft bekerja sama dengan para vendor distro Linux untuk menyediakan installer distro Linux di Microsoft Store. Ini memungkinkan untuk menjalankan distro Linux berdampingan dengan Windows 10. Baru-baru ini, Microsoft bekerja sama dengan Canonical untuk menghadirkan image distro Ubuntu 18.0.4.1 LTS di Hyper-V Gallery. Bagi yang belum tahu, Hyper-V adalah produk Microsoft untuk manajemen Virtual Machine, seperti halnya VMware Workstation atau Oracle VM VirtualBox, yang tersedia untuk versi Pro dari Windows 8, 8.1, dan 10 menggantikan Virtual PC. Pengguna Hyper-V tidak perlu mengunduh ISO image Ubuntu terlebih dahulu, cukup menggunakan Hyper-V Quick Create (tersedia  mulai Windows 10 versi 1709) lalu memilih opsi yang tersedia, lalu image Ubuntu akan diunduh langsung dari Microsoft.

Hyper-V Gallery (sumber: blogs.windows.com)

 

Mengunduh Ubuntu 18.0.4.1 LTS Hyper-V image

Azure Sphere, Solusi IoT Microsoft Berbasis Linux

Yup, Anda tidak salah baca judul di atas. Microsoft baru-baru ini meluncurkan Azure Sphere, sebuah solusi untuk perangkat IoT (Internet of Things) yang terdiri atas tiga subbagian: MCU (microcontroller unit) yang secure, sistem operasi yang secure, dan cloud yang secure. MCU yang ditawarkan adalah produk dari MediaTek, cloud yang dipakai tentu saja Microsoft Azure, sistem operasinya, sedikit mengejutkan bahwa kernel yang akan digunakan adalah linux, dengan modifikasi ala Microsoft tentunya. Ini berarti, Microsoft akan merilis sebuah distro linux! Sepuluh atau dua puluh tahun lalu hal ini akan dianggap mimpi di siang bolong. Linux bukan hanya dianggap sebagai kompetitor Windows (baru terbukti akhir-akhir ini dengan kehadiran Android), tapi juga sejenis kanker! Sejak naiknya Satya Nadella sebagai CEO Microsoft menggantikan Steve Ballmer memang banyak tanda yang menunjukkan Microsoft mulai “PDKT” dengan linux dan dunia open source pada umumnya. Mulai dari rilis aplikasi Microsoft untuk Android (termasuk Office), SQL Server di-port ke Linux, bergabungnya Microsoft dengan Linux Foundation, Windows Subsystem for Linux, hingga distro linux yang bisa diinstal via Microsoft Store (Ubuntu, Suse, Fedora).  Bahkan, Steve Ballmer yang pernah mengata-ngatai Linux sebagai pengaruh komunis dan menyebabkan kanker akhirnya berbalik mencintai linux.

Azure Sphere Secured OS (sumber: microsoft.com)

Acer Chromebook Tab, Tablet Berbasis ChromeOS Pertama

Selama ini kita mengenal sistem operasi ChromeOS dari Google hanya diperuntukkan perangkat laptop dengan label Chromebook saja, meskipun telah juga muncul perangkat berbasis ChromeOS seperti Chromebox dan Chromebit. Sementara sistem operasi lain dari Google, Android, diperuntukkan perangkat mobile seperti smartphone, tablet, dan perangkat lain seperti smartTV , smartwatch, dan masih banyak lagi. Kedua sistem operasi ini sama-sama berbasis (kernel) Linux dan open source ( dengan nama ChromiumOS dan AOSP). Akhir-akhir ini terlihat ada usaha untuk mengintegrasikan kedua sistem operasi ini, dengan dirilisnya App Runtime for Chrome, yang memungkinkan aplikasi Android dijalankan di ChromeOS.

Tablet berbasis ChromeOS dari Acer

Chromebook selama ini cukup sukses digunakan di dunia pendidikan karena kemudahan penggunaan, perawatan, dan pengaturannya. Karena itu, Apple (diisukan) berusaha menyaingi dengan meluncurkan produk baru untuk dunia pendidikan, berupa iPad dengan Apple Pencil dengan harga yang bersaing dengan Chromebook. Namun, sebelum Apple mengumumkan, Acer mengumumkan produk baru yang kemungkinan menjadi jawaban dari Apple iPad baru, yaitu tablet berbasis ChromeOS yang disebut Acer Chromebook Tab. Tablet ini berlayar 9,7 inci, dilengkapi stylus (Wacom EMR), dan mendukung Google Play(Store), yang berarti bisa menjalankan aplikasi Android. Mengingat selama ini Android-lah yang biasanya digunakan untuk tablet, maka produk baru ini sangat unik. Patut ditunggu apakah ke depannya akan diikuti oleh vendor lain.

Distrotest.net, Mencoba Distro Linux Langsung dari Browser Anda

Seperti kita ketahui, Linux mempunyai banyak varian yang disebut distro. Saat ini ada ratusan distro yang dikenal (Anda bisa melihat daftarnya di situs DistroWatch). Bagi mereka yang ingin mencoba Linux namun ragu menentukan pilihan distro, atau yang menyukai gonta-ganti distro (distro hopping), seringkali menemui kendala akibat keterbatasan sumber daya. Dulu, Anda harus mengunduh distro Linux yang ingin Anda coba, kemudian membuat installer berupa CD/DVD dan mencoba menginstalnya pada komputer Anda, yang biasanya harus dipartisi  ulang (hard disknya) terlebih dahulu. Kemudian dalam perkembangannya distro Linux juga tersedia dalam format Live Image, yang tidak harus diinstalasikan dulu, ditambah media penyimpanan USB Flash Drive yang bisa dihapus/tulis ulang memungkinkan kita mencoba berbagai distro tanpa mengorbankan media CD/DVD dan partisi hard disk. Perangkat lunak virtual machine juga memudahkan kita untuk bereksperimen dengan distro Linux baru.

Tampilan Situs DistroTest.net

Bahkan baru-baru ini muncul opsi baru untuk mencoba-coba distro Linux baru. Sebuah situs, DistroTest.net, dengan slogannya “Test it before you hate it…” memungkinkan kita mencoba distro Linux tertentu cukup dengan menekan tombol Start. Anda juga membutuhkan aplikasi VNC client sebagai alternatif viewer tampilan distro yang sedang dijalankan. Saat ini tersedia lebih dari 100 distro Linux dan BSD, beberapa di antaranya tersedia dalam beberapa varian dan versi. Bergantung pada kecepatan koneksi Anda, situs ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mencoba distro Linux tertentu atau bereksperimen dengan distro baru yang belum pernah Anda coba sebelumnya, misalnya distro asal Hungaria BlackPantherOS seperti tampilan di bawah ini.

Tampilan Distro Linux BlackPantherOS via DistroTest.net

Bill Gates Beralih ke Android, Microsoft Bergabung dengan OSI

Siapa yang tidak mengenal nama Bill Gates. Publik mengenalnya sebagai pendiri Microsoft dan salah satu, kalau bukan orang terkaya di dunia. Meskipun sejak tahun 2008 ia tidak lagi terlibat secara aktif di Microsoft, orang cenderung akan mengasumsikan Bill Gates sebagai pengguna produk Microsoft “fanatik nomor satu” yang hanya menggunakan produk-produk Microsoft, jika tersedia. Misalnya, untuk perangkat laptop/tablet, Bill Gates akan memilih Surface, lengkap dengan sistem operasi Microsoft Windows dan semua perangkat lunak produksi Microsoft seperti Office, Visio, Project. menggunakan peramban web Microsoft Edge dan layanan seperti MSN, Bing, Outlook.com, OneDrive, Skype, dan Maps. Untuk smartphone, tentu saja Lumia dengan sistem operasi Windows Phone/Windows Mobile. Namun, dalam wawancara baru-baru ini dengan FoxNews, Bill Gates mengaku saat ini menggunakan smartphone berbasis Android dengan “banyak aplikasi Microsoft”. Tidak dijelaskan tipe/merek smarphone Android yang digunakan, namun gosipnya adalah edisi khusus Samsung Galaxy S8 yang dijual di Microsoft Store (hanya di Amerika Serikat).

(sumber: tec.com.pe)

Sementara itu, kelanjutan “PDKT” antara Microsoft dan Linux, atau open source secara keseluruhan terus berlanjut setelah bergabungnya Microsoft dengan Open Source Initiative (OSI) sebagai sponsor premium. OSI sendiri adalah organisasi nonprofit yang mempromosikan dan melindingi perangkat lunak terbuka lewat pendidikan, kolaborasi, dan infrastruktur. Sejak beralihnya kepemimpinan Microsoft dari Steve Ballmer ke Satya Nadella, pandangan terhadap open source di Microsoft banyak berubah. Mulai dari dirilisnya sejumlah aplikasi sebagai perangkat lunak terbuka (lengkap dengan migrasi dari TFS ke Github), migrasi sejumlah aplikasi ke Linux, hingga meningkatkan interoperabilitas antara Windows dan Linux. Patut ditunggu bagaimana kelanjutannya.

(sumber: cydiadev.com)

Ubuntu for Windows 10

Dulu mungkin tak terbayangkan bahwa Microsoft akan “bergandeng tangan” dengan Linux. Bahkan kerja sama Microsoft dan Suse ditanggapi dengan penuh kecurigaan oleh komunitas open source. Namun semuanya berubah setelah pergantian pucuk pimpinan Microsoft dari Steve Ballmer ke Satya Nadella. Microsoft tidak malu-malu lagi untuk merangkul komunitas Linux dengan gerakan Microsoft ♥ Linux. Microsoft juga mulai merilis aplikasi untuk Linux, seperti Visual Studio Code, SQL Server, juga platform .NET Core untuk Linux. Bisnis cloud Microsoft, Azure, menuntut dukungan untuk semua platform termasuk Linux. Untuk itu Microsoft merilis Azure Cloud Switch yang berbasis Linux.

(sumber: blogs.msdn.microdoft.com)

Terakhir, Microsoft merilis Windows Subsystem for Linux yang hakikatnya menjalankan tools Linux seperti bash di Windows 10. Dan akhirnya, distro Linux Ubuntu kini bisa diinstal dari Microsoft Store. Sejatinya, Ubuntu for Windows 10 ini akan menginstalasi distro Ubuntu 16.04 LTS berbasis command-line, tanpa GUI. Di masa depan distro lain seperti Suse dan Fedora juga akan tersedia di Microsoft Store. Saat ini pun, Ubuntu baru dapat diinstal pada rilis terakhir Windows 10  (Fall Creators Update) yang belum dirilis untuk umum, terbatas pada peserta Windows 10 Insider (tester).