Azure Sphere, Solusi IoT Microsoft Berbasis Linux

Yup, Anda tidak salah baca judul di atas. Microsoft baru-baru ini meluncurkan Azure Sphere, sebuah solusi untuk perangkat IoT (Internet of Things) yang terdiri atas tiga subbagian: MCU (microcontroller unit) yang secure, sistem operasi yang secure, dan cloud yang secure. MCU yang ditawarkan adalah produk dari MediaTek, cloud yang dipakai tentu saja Microsoft Azure, sistem operasinya, sedikit mengejutkan bahwa kernel yang akan digunakan adalah linux, dengan modifikasi ala Microsoft tentunya. Ini berarti, Microsoft akan merilis sebuah distro linux! Sepuluh atau dua puluh tahun lalu hal ini akan dianggap mimpi di siang bolong. Linux bukan hanya dianggap sebagai kompetitor Windows (baru terbukti akhir-akhir ini dengan kehadiran Android), tapi juga sejenis kanker! Sejak naiknya Satya Nadella sebagai CEO Microsoft menggantikan Steve Ballmer memang banyak tanda yang menunjukkan Microsoft mulai “PDKT” dengan linux dan dunia open source pada umumnya. Mulai dari rilis aplikasi Microsoft untuk Android (termasuk Office), SQL Server di-port ke Linux, bergabungnya Microsoft dengan Linux Foundation, Windows Subsystem for Linux, hingga distro linux yang bisa diinstal via Microsoft Store (Ubuntu, Suse, Fedora).  Bahkan, Steve Ballmer yang pernah mengata-ngatai Linux sebagai pengaruh komunis dan menyebabkan kanker akhirnya berbalik mencintai linux.

Azure Sphere Secured OS (sumber: microsoft.com)

Iklan

Acer Chromebook Tab, Tablet Berbasis ChromeOS Pertama

Selama ini kita mengenal sistem operasi ChromeOS dari Google hanya diperuntukkan perangkat laptop dengan label Chromebook saja, meskipun telah juga muncul perangkat berbasis ChromeOS seperti Chromebox dan Chromebit. Sementara sistem operasi lain dari Google, Android, diperuntukkan perangkat mobile seperti smartphone, tablet, dan perangkat lain seperti smartTV , smartwatch, dan masih banyak lagi. Kedua sistem operasi ini sama-sama berbasis (kernel) Linux dan open source ( dengan nama ChromiumOS dan AOSP). Akhir-akhir ini terlihat ada usaha untuk mengintegrasikan kedua sistem operasi ini, dengan dirilisnya App Runtime for Chrome, yang memungkinkan aplikasi Android dijalankan di ChromeOS.

Tablet berbasis ChromeOS dari Acer

Chromebook selama ini cukup sukses digunakan di dunia pendidikan karena kemudahan penggunaan, perawatan, dan pengaturannya. Karena itu, Apple (diisukan) berusaha menyaingi dengan meluncurkan produk baru untuk dunia pendidikan, berupa iPad dengan Apple Pencil dengan harga yang bersaing dengan Chromebook. Namun, sebelum Apple mengumumkan, Acer mengumumkan produk baru yang kemungkinan menjadi jawaban dari Apple iPad baru, yaitu tablet berbasis ChromeOS yang disebut Acer Chromebook Tab. Tablet ini berlayar 9,7 inci, dilengkapi stylus (Wacom EMR), dan mendukung Google Play(Store), yang berarti bisa menjalankan aplikasi Android. Mengingat selama ini Android-lah yang biasanya digunakan untuk tablet, maka produk baru ini sangat unik. Patut ditunggu apakah ke depannya akan diikuti oleh vendor lain.

Distrotest.net, Mencoba Distro Linux Langsung dari Browser Anda

Seperti kita ketahui, Linux mempunyai banyak varian yang disebut distro. Saat ini ada ratusan distro yang dikenal (Anda bisa melihat daftarnya di situs DistroWatch). Bagi mereka yang ingin mencoba Linux namun ragu menentukan pilihan distro, atau yang menyukai gonta-ganti distro (distro hopping), seringkali menemui kendala akibat keterbatasan sumber daya. Dulu, Anda harus mengunduh distro Linux yang ingin Anda coba, kemudian membuat installer berupa CD/DVD dan mencoba menginstalnya pada komputer Anda, yang biasanya harus dipartisi  ulang (hard disknya) terlebih dahulu. Kemudian dalam perkembangannya distro Linux juga tersedia dalam format Live Image, yang tidak harus diinstalasikan dulu, ditambah media penyimpanan USB Flash Drive yang bisa dihapus/tulis ulang memungkinkan kita mencoba berbagai distro tanpa mengorbankan media CD/DVD dan partisi hard disk. Perangkat lunak virtual machine juga memudahkan kita untuk bereksperimen dengan distro Linux baru.

Tampilan Situs DistroTest.net

Bahkan baru-baru ini muncul opsi baru untuk mencoba-coba distro Linux baru. Sebuah situs, DistroTest.net, dengan slogannya “Test it before you hate it…” memungkinkan kita mencoba distro Linux tertentu cukup dengan menekan tombol Start. Anda juga membutuhkan aplikasi VNC client sebagai alternatif viewer tampilan distro yang sedang dijalankan. Saat ini tersedia lebih dari 100 distro Linux dan BSD, beberapa di antaranya tersedia dalam beberapa varian dan versi. Bergantung pada kecepatan koneksi Anda, situs ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mencoba distro Linux tertentu atau bereksperimen dengan distro baru yang belum pernah Anda coba sebelumnya, misalnya distro asal Hungaria BlackPantherOS seperti tampilan di bawah ini.

Tampilan Distro Linux BlackPantherOS via DistroTest.net

Bill Gates Beralih ke Android, Microsoft Bergabung dengan OSI

Siapa yang tidak mengenal nama Bill Gates. Publik mengenalnya sebagai pendiri Microsoft dan salah satu, kalau bukan orang terkaya di dunia. Meskipun sejak tahun 2008 ia tidak lagi terlibat secara aktif di Microsoft, orang cenderung akan mengasumsikan Bill Gates sebagai pengguna produk Microsoft “fanatik nomor satu” yang hanya menggunakan produk-produk Microsoft, jika tersedia. Misalnya, untuk perangkat laptop/tablet, Bill Gates akan memilih Surface, lengkap dengan sistem operasi Microsoft Windows dan semua perangkat lunak produksi Microsoft seperti Office, Visio, Project. menggunakan peramban web Microsoft Edge dan layanan seperti MSN, Bing, Outlook.com, OneDrive, Skype, dan Maps. Untuk smartphone, tentu saja Lumia dengan sistem operasi Windows Phone/Windows Mobile. Namun, dalam wawancara baru-baru ini dengan FoxNews, Bill Gates mengaku saat ini menggunakan smartphone berbasis Android dengan “banyak aplikasi Microsoft”. Tidak dijelaskan tipe/merek smarphone Android yang digunakan, namun gosipnya adalah edisi khusus Samsung Galaxy S8 yang dijual di Microsoft Store (hanya di Amerika Serikat).

(sumber: tec.com.pe)

Sementara itu, kelanjutan “PDKT” antara Microsoft dan Linux, atau open source secara keseluruhan terus berlanjut setelah bergabungnya Microsoft dengan Open Source Initiative (OSI) sebagai sponsor premium. OSI sendiri adalah organisasi nonprofit yang mempromosikan dan melindingi perangkat lunak terbuka lewat pendidikan, kolaborasi, dan infrastruktur. Sejak beralihnya kepemimpinan Microsoft dari Steve Ballmer ke Satya Nadella, pandangan terhadap open source di Microsoft banyak berubah. Mulai dari dirilisnya sejumlah aplikasi sebagai perangkat lunak terbuka (lengkap dengan migrasi dari TFS ke Github), migrasi sejumlah aplikasi ke Linux, hingga meningkatkan interoperabilitas antara Windows dan Linux. Patut ditunggu bagaimana kelanjutannya.

(sumber: cydiadev.com)

Ubuntu for Windows 10

Dulu mungkin tak terbayangkan bahwa Microsoft akan “bergandeng tangan” dengan Linux. Bahkan kerja sama Microsoft dan Suse ditanggapi dengan penuh kecurigaan oleh komunitas open source. Namun semuanya berubah setelah pergantian pucuk pimpinan Microsoft dari Steve Ballmer ke Satya Nadella. Microsoft tidak malu-malu lagi untuk merangkul komunitas Linux dengan gerakan Microsoft ♥ Linux. Microsoft juga mulai merilis aplikasi untuk Linux, seperti Visual Studio Code, SQL Server, juga platform .NET Core untuk Linux. Bisnis cloud Microsoft, Azure, menuntut dukungan untuk semua platform termasuk Linux. Untuk itu Microsoft merilis Azure Cloud Switch yang berbasis Linux.

(sumber: blogs.msdn.microdoft.com)

Terakhir, Microsoft merilis Windows Subsystem for Linux yang hakikatnya menjalankan tools Linux seperti bash di Windows 10. Dan akhirnya, distro Linux Ubuntu kini bisa diinstal dari Microsoft Store. Sejatinya, Ubuntu for Windows 10 ini akan menginstalasi distro Ubuntu 16.04 LTS berbasis command-line, tanpa GUI. Di masa depan distro lain seperti Suse dan Fedora juga akan tersedia di Microsoft Store. Saat ini pun, Ubuntu baru dapat diinstal pada rilis terakhir Windows 10  (Fall Creators Update) yang belum dirilis untuk umum, terbatas pada peserta Windows 10 Insider (tester).

Q4OS, Linux Rasa Windows (XP)

Dominasi sistem operasi Microsoft Windows di platform PC (desktop) memang belum tertandingi.  Seperti halnya dominasi Android di smartphone dan Linux di server, pengguna (awam) tahunya komputer itu kalau dinyalakan akan menampilkan desktop Windows, bukan Mac apalagi tampilan desktop Linux yang beragam itu, mulai KDE, Gnome, Xfce, Unity, atau LXDE. Tak heran, jika tampilan desktop Windows menjadi acuan untuk merancang tampilan desktop Linux agar dapat menarik pengguna baru. Dulu kita mengenal distro bernama Lindows, yang kemudian diubah menjadi Linspire yang bukan hanya menyesuaikan tampilan, tapi juga memelesetkan namanya. Lalu juga ada distro yang sengaja dibuat tampilannya semirip mungkin dengan Windows, seperti ZorinOS.

(sumber: q4os.org)

Kali ini Penulis ingin membahas salah satu distro yang tidak tanggung-tanggung usahanya dalam meniru Windows, yaitu Q4OS. Pada pandangan pertama, kita bisa mengenali nuansa Windows XP pada desktop Q4OS. Kalau bukan karena tampilan iconnya, bisa dikatakan distro ini cukup sempurna menduplikasi tampilan Windows XP. Tentu saja bukan sekadar tampilan saja yang mirip, namun juga kemasannya. Jika distro-distro Linux mainstream memaket file unduhannya dalam ukuran gigabyte, distro Q4OS menawarkan unduhan file berkisar hanya 300 – 500 MB, yang muat dalam satu keping CD. Tentu saja itu berarti distro ini tidak banyak membundel aplikasi di luar sistem operasi inti. Satu lagi kemiripannya dengan Windows (XP).

(Sumber: distrowatch.com)

Distro ini berbasis Debian GNU/Linux dan desktop environment Trinity, yang merupakan fork dari kode sumber KDE 3. Distro ini juga menyertakan berbagai fitur menarik, seperti Desktop Profiler, yang memberikan pilihan konfigurasi aplikasi yang bisa diinstalasikan pada sistem. Aplikasi pilihan ini antara lain: Google Chrome, LibreOffice, Mozilla Firefox, Synaptic Package Manager, VLC Media Player, dan Wine (compatibillity layer untuk menjalankan aplikasi Windows di Linux). Kekuatan distro ini terletak pada automation script yang beragam untuk menjalankan berbagai tugas, seperti mengganti tampilan desktop menjadi KDE4 Plasma, LXDE, Xfce4, atau Lxqt. Tentunya kita harus terhubung ke internet untuk bisa menyelesaikan proses instalasi paket aplikasi.

CloudReady, ChromiumOS for Everyone

Google Chromebook adalah produk yang bikin penasaran Penulis (selain Microsoft Surface), karena memang tidak dirilis resmi di Indonesia. Terlebih lagi sistem operasinya, ChromeOS, yang tidak dirilis secara bebas, meskipu berbasis distro Gentoo Linux. Memang kode sumbernya yang dinamakan ChromiumOS dapat diunduh bebas dari repositorinya, namun tentu saja masih dibutuhkan kemampuan untuk menjadikannya sistem operasi yang siap pakai. Selama ini ada beberapa “distro” ChromiumOS yang ada: Hexxeh, ArnoldTheBats, dan Dell. Dari ketiganya, hanya ArnoldTheBats yang masih aktif. Bahkan CubLinux (d.h. Chromixium) yang menawarkan tampilan ChromeOS di atas Ubuntu juga telah lama tidak diperbarui. Namun demikian, belakangan muncul dua proyek baru yang mengoprek ChromiumOS, yaitu: CloudReady dan NayuOS. Jika NayuOS ditujukan sebagai sistem operasi alternatif bagi Chromebook, maka CloudReady bisa mengubah hardware Anda menjadi Chromebook hanya dengan menggunakan satu USB flashdrive. Anda bisa memulai dengan mengunduh versi terbarunya kemudian menggunakan Chrome Recovery Utility untuk menulis image hasil unduhan ke USB flashdrive. Setelah selesai, boot ulang menggunakan USB flashdrive itu. Anda langsung bisa menggunakan CloudReady alias ChromiumOS.

(Sumber: chrome.google.com)

Jika hardware Anda mendukung, CloudReady juga bisa dikonfigurasikan dual-boot bersama Windows. Anda bisa terus menggunakan CloudReady dari flashdrive atau menginstalasikannya ke dalam hard drive. CloudReady dapat digunakan gratis, namun untuk mendapatkan dukungan Anda bisa menghubungi Neverware untuk paket dukungan berbayar.

(Sumber: arstechnica.com)

CyanogenMod Berakhir, LineageOS Dimulai

CyanogenMod selama ini dikenal sebagai sistem operasi mobile alternatif yang populer. Berbasis source code Android, CyanogenMod tersedia untuk berbagai tipe dan merek handphone, bahkan setelah dukungan resmi untuk tipe/merek tersebut berakhir. Popularitasnya membuat sistem operasi ini mendapatkan banyak dukungan dari pengguna dan pengambang. Di tahun 2013, Cyanogen Inc. didirikan untuk mendukung komersialisasi CyanogenMod. Versi komersial yang disebut CyanogenOS digunakan sebagai sistem operasi bawaan untuk beberapa tipe ponsel, seperti OnePlus One, YU, Andromax Q, Lenovo ZUK, BQ, dan Wileyfox. Di tahun 2015, Microsoft mengumumkan investasi dan kerja sama dengan Cyanogen Inc. Namun, di tahun 2016, Cyanogen menemui banyak kesulitan, mulai pemberhentian karyawan, keluarnya sang pendiri Steve Kondik, hingga akhirnya penutupan Cyanogen Inc. dan proyek CyanogenMod.  Berita baiknya, sejumlah pengembang CyanogenMod mengumumkan proyek baru berbasis kode sumber CyanogenMod yang dinamakan Lineage OS.

Bye bye CyanogenMod... (Sumber: trustedreviews.com)

Bye bye CyanogenMod… (Sumber: trustedreviews.com)

Andromeda: Sistem Operasi Baru Pengganti ChromeOS?

Belum lagi mencerna tentang sistem operasi terbaru dari Google, yaitu Fuchsia,  sudah muncul lagi kabar (burung) terbaru mengenai sistem operasi baru dari Google, yang dinamakan Andromeda. Jika Fuchsia adalah sistem operasi yang benar-benar baru, menggunakan microkernel Magenta yang merupakan turunan dari Little Kernel serta dirancang untuk sistem embedded, khususnya IoT (Internet of Things), Andromeda disebut-sebut sebagai pengembangan sistem operasi Android untuk platform PC. Seperti kita ketahui, Google saat ini mempunyai dua sistem operasi: Android untuk smartphone dan tablet, serta ChromeOS untuk PC (chromebook). Sejak setahun terakhir, kabar mengenai integrasi antara kedua sistem operasi ini terus bergulir, mulai dari konsolidasi divisi Android dan ChromeOS sampai ditambahkannya kemampuan menjalankan aplikasi Android pada ChromeOS (chromebook).

(sumber: thehackernews.com)

(sumber: thehackernews.com)

Sistem operasi baru ini kabarnya akan diluncurkan pada even Google pada tanggal 4 Oktober 2016. Pada even tersebut, Google akan memperkenalkan laptop baru dengan codename “Bison” dan secara resmi disebut “Pixel 3”, yang akan menggunakan sistem operasi baru ini. Selain itu, Huawei Nexus yang akan diluncurkan tahun 2017 nanti juga disebut-sebut akan menggunakan Andromeda.

Microsoft Akuisisi Xamarin, Umumkan SQL Server for Linux

Dalam waktu relatif berdekatan, Microsoft melakukan dua  pengumuman strategis, yaitu akuisisi atas Xamarin (penyedia solusi pengembangan aplikasi mobile lintas platform) dan pengembangan aplikasi basis data SQL Server untuk platform Linux.  Ya, Microsoft benar-benar ♥ Linux (insert sarcasm here). Setelah membuka kode sumber .NET core, merilis Visual Studio Code for Linux, dan menyediakan dukungan resmi untuk Red Hat (dan Ubuntu) di Azure, Microsoft menunjukkan perilaku yang berbeda di bawah pimpinan CEO barunya, Satya Nadella.

(sumber: blogs.microsoft.com)

Akuisisi Xamarin sebenarnya sudah lama diperkirakan, seperti halnya akuisisi Visio di tahun 2000. Keduanya adalah produk yang terlihat dan terasa seperti produk Microsoft, bekerja dan terintegrasi dengan baik dalam lingkungan (stack) Microsoft. Pengembang aplikasi mobile mengenal Xamarin sebagai tool untuk mengembangkan aplikasi mobile lintas platform berbasis C#. Selain itu, raksasa IT seperti IBM dan Oracle juga mulai bergerak ke arah pengembangan aplikasi mobile lintas platform dengan IBM MobileFirst dan Oracle Mobile Application Framework. Akuisisi Xamarin tampaknya dimaksudkan untuk melanjutkan integrasi dengan Microsoft Visual Studio untuk menghasilkan aplikasi mobile lintas platform (iOS, Android, Windows).

(sumber: blog.xamarin.com)

Sementara SQL Server adalah produk database kelas enterprise dari Microsoft yang dikembangkan sejak tahun 1993 dari hasil melisensi kode SyBase. Kita juga mengenal produk database Microsoft Access di kelas personal. Selama ini SQL Server harus bersaing dengan Oracle Database dan IBM DB2 di kelasnya. Kedua produk kompetitornya itu sudah lama mempunyai versi yang berjalan di atas platform selain Microsoft Windows, seperti Linux. Akhirnya, sesuai dengan strategi ke depan Microsoft yang mulai membuka diri dengan kehadiran platform lain, satu demi satu stack development Microsoft mulai dibuka (open source) atau dimigrasi ke platform lain, seperti SQL Server.