Jerman yang Bukan Jejer Kauman (10)

Mungkin ini tulisan terakhir mengenai Jerman mengingat Penulis akan kembali ke tanah air tanggal 27 Agustus 2009. Akhir pekan ini telah memasuki bulan Ramadan 1430 H, maka Penulis pun berketetapan untuk tidak melakukan kegiatan ke luar kota Karlsruhe dan lebih berkonsentrasi untuk menjalani ibadah puasa dan mempersiapkan kepulangan ke tanah air. Kegiatan ke luar rumah pun dibatasi, apalagi mengingat musim panas di Jerman konon tengah memasuki puncaknya, banyak orang berlibur dan suhu udara pun memuncak ke tingkat yang bisa menyaingi kondisi di Indonesia.

Untuk menjalani ibadah puasa, tentunya harus menentukan dulu awal 1 Ramadan (awal puasa). Jika di Indonesia sudah disepakati awal puasa pada hari Sabtu tanggal 22 Agustus 2009, maka di Jerman ternyata dimulai sehari lebih awal, yaitu hari Jumat tanggal 21 Agustus 2009, setidaknya itu yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Sebagian rekan Penulis ada yang memulai puasa mulai tanggal 21, ada juga yang mulai tanggal 22. Yang jelas, kapanpun mulai, ibadah puasa di Jerman saat ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi yang menjalankannya. Pertama, musim panas membuat periode waktu puasa menjadi lebih panjang, jika di Indonesia sekitar 14 jam, di sini menjadi 16 jam karena matahari terbenam (Maghrib) baru pada pukul 20.30. Tahun depan akan lebih menantang karena periode puasa akan menjadi sekitar 18 jam (matahari terbenam pukul 21.30). Selain itu, berpuasa sebagai minoritas berarti tidak ada pengingat waktu buka dan sahur, tidak ada ucapan selamat berpuasa di mana-mana, tidak ada ruang untuk acara puasa di media massa, mayoritas yang tidak berpuasa pun menjalankan kegiatannya seperti biasa, baik soal makan, minum, dan terutama gaya berpakaian musim panas yang cenderung ‘terbuka’.

Buka Puasa Bersama

Buka Puasa Bersama

Tentu saja masih ada keping-keping Ramadan yang tersisa. Acara buka puasa bersama yang diselenggarakan IKMIK hari Sabtu sore kemarin adalah salah satunya. Acaranya jauh lebih sederhana daripada acara serupa di Indonesia. Selain pesertanya yang sedikit, menu makanan yang sederhana (walau tetap berlimpah), waktu yang sempit (mengingat waktu Maghrib yang lebih larut) sehingga kami harus buru-buru pulang jika tidak ingin ketinggalan tram/bus. Bagi Penulis, ini merupakan saat terakhir berkumpul dengan komunitas Indonesia di Karlsruhe, sehingga kami sekalian berpamitan dengan rekan-rekan yang lain. Pernik lainnya adalah saat menyiapkan hidangan berbuka dan sahur di rumah. Untuk mengantisipasi waktu tidur dan sahur, kami menyiapkan makanan sahur sebelum berangkat tidur. Langkah ini cukup menyelamatkan kami saat bangun agak mepet dengan waktu Imsak. Setidaknya kami lebih cepat makan daripada memasak.

Acara buka bersama juga diadakan di masjid-masjid, yang jumlahnya tidak banyak di kota Karlsruhe. Karena pertimbangan waktu dan jarak masjid, kami hanya menghadiri buka bersama di masjid Hagia Sofia di Hirch Strasse. Tidak ada perbedaan dengan acara buka puasa di tempat lain, diawali dengan membatalkan puasa (masing-masing kami dibagikan kurma), salat maghrib berjamaah, dan dilanjutkan berbuka dengan hidangan khas Turki. Saat itu, hidangan berupa roti, nasi, salad, dan lauk berupa kari. Hidangan disajikan dalam kantin di bawah masjid.

Bye, Bye My Friend!

Bye, Bye My Friend!

Persiapan pulang sendiri merupakan ritual yang cukup menguras konsentrasi dan energi. Mengemasi semua barang ke dalam tas/koper adalah satu hal, disusul dengan menimbangnya agar tetap di bawah ambang batas maksimum bagasi pesawat terbang. Selanjutnya, barang-barang yang tersisa dan tidak ikut dibawa harus dipilah antara yang dibuang, dihibahkan kepada orang lain, dan yang tetap (dan boleh) ditinggalkan. Selanjutnya adalah pembersihan total kamar tidur dan fasilitas pendukungnya (kamar mandi, dapur), diakhiri dengan serah terima kunci kamar dan pengembalian uang jaminan kamar. Semoga saja semuanya berjalan lancar sampai bisa tiba kembali di tanah air dalam keadaan selamat.

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (9): a.k.a. Prancis yang Bukan Prapatan Ciamis

Kali ini, jalan-jalan terakhir sebelum bulan puasa dilakukan ke Strasbourg, sebuah kota di dekat perbatasan Jerman-Prancis. Karena Strasbourg termasuk dalam wilayah negara Prancis, maka judul tulisan ini menjadi agak spesial (panjang dan maksa). Untuk mencapai Strasbourg dari Karlsruhe dibutuhkan waktu sekitar 64 menit (sekali ganti kereta di Appenweir) dan tiket khusus €2/orang sekali jalan, untuk bolak-balik berarti tambahan €4, di samping tiket Baden-Wutemberg yang bisa dipakai maksimum 5 orang. Karena tiket khusus ini harus dibeli di loket KVV, maka kita akan dikenai pajak 10%. Karena tiket Baden-Wutemberg baru berlaku mulai pukul 09.00, maka perjalanan baru bisa diiawali pukul 09.04. Saat melihat time table pada tiket, barulah disadari bahwa perjalanan memang hanya memakan waktu 64 menit, namun waktu tunggu antarkereta ternyata memakan waktu hampir satu jam (56 menit) karena kereta ke Strasbourg yang dinaiki dari Appenweir pukul 10.10 hanya beroperasi hari Sabtu-Minggu, sehingga harus naik kereta reguler pukul 10.44.

Inilah Appenweir

Inilah Appenweir

Perjalanan awal cukup lancar, meskipun kereta IRE yang digunakan kali ini begitu penuhnya sehingga terasa naik kereta bisnis (saat penuh-penuhnya) atau kereta ekonomi di Indonesia. Pada saat akan turun di Appenweir kami sempat mengalami sedikit insiden dengan seorang ibu-ibu yang berdiri di lorong sehingga menghalangi jalan keluar. Appenweir ternyata begitu kecil dan sepinya sehingga cukup membuat bete selama 1 jam menunggu kereta. Kami sempat teringat saat menunggu kereta di Sangerhausen, yang paling tidak masih ada gedung stasiunnya. Saat kereta ke Strasbourg tiba, kami sedikit kaget karena rangkaiannya hanya dua gerbong, mirip dengan tram. Dan tentu saja, penuh luar biasa. Untunglah perjalanan cukup singkat (24 menit) sampai di stasiun KA Strasbourg. Dari luar, stasiun Strasbourg ini sangat besar, dan bentuk uniknya mengingatkan pada stadion Allianz-Arena di Munchen.

Stasiun Kereta Api Strasbourg

Stasiun Kereta Api Strasbourg

Sesuai petunjuk dari Bapak Presiden, maksudnya rekan-rekan yang sebelumnya pernah ke Strasbourg, kami berjalan lurus searah pintu keluar stasiun menuju sungai. Kemudian, lurus lagi menuju katedral. Perjalanan lumayan panjang, cuaca lumayan panas, kami menghibur diri dengan nyelonong keluar masuk pertokoan di kiri kanan jalan. Tentu saja, kami disapa dalam bahasa Prancis, yang sempat membuat keder, kemudian saat melihat topi bertuliskan Deutschland yang Penulis pakai, mereka akan melanjutkan dalam bahasa Jerman! Untunglah, hampir setiap penjaga toko yang ditanyai bisa berbahsa Inggris walau hanya, “little-little” (yah, samalah dengan Penulis!).

Jualan Buku Murah (Sayangnya Berbahasa Prancis Semua!)

Jualan Buku Murah (Sayangnya Berbahasa Prancis Semua!)

Sampai di gedung katedral, kesan pertama yang didapat adalah,” Wah gede banget ya?”. Mungkin karena cuaca panas dan jauhnya jarak yang sudah ditempuh dari stasiun kereta membuat kami tidak bersemangat untuk sekadar menjelajah masuk bangunan katedral. Setelah makan siang ala kadarnya, kami pun menguatkan langkah untuk… kembali menjelajahi toko-toko souvenir di sekitar bangunan katedral. Benar-benar khas wisatawan asal Indonesia. Setelah memuaskan diri dengan wisata belanja, terutama rekan Penulis yang menemukan kalung hati dibelah dua lengkap dengan gravir namanya dan nama seseorang yang lain, kami pun berjalan kembali ke stasiun. Sempat mampir ke dua toko CD/DVD sebelum kembali ke jalan yang benar, kami tiba di stasiun pukul 16.10.

Gedung Katedral Strasbourg dari Jauh (Maklum gede banget)

Gedung Katedral Strasbourg dari Jauh (Maklum gede banget)

Menyadari ada kereta ke Appenweir pukul 16.22, kami memutuskan pulang lebih cepat dari rencana semula, pukul 17.22. Perjalanan pulang kali ini lebih cepat, karena waktu tunggu kereta ke Karlsruhe di Appenweir hanya sekitar 25 menit. Namun demikian, kejutan terakhir menunggu di atas kereta, saat Penulis dengan setengah sadar memutuskan duduk di sebelah seorang bapak-bapak yang sedang mengelus-elus seekor singa…mainan yang dipangkunya, gara-gara kereta IRE ke Karlsruhe yang lumayan penuh. Setelah beberapa saat diajak ngobrol ngalor-ngidul (dalam bahasa Jerman tentunya), Penulis baru menyadari dua hal: satu, bapak tersebut mabuk, tercium dari nafasnya yang membikin kepala Penulis pening, dan dua, bahasa Jerman Penulis memang payah, sehingga percakapan kami sama sekali nggak nyambung. Untungnya, perjalanan ke Karlsruhe dari Appenweir hanya 40 menit, dan Penulis dengan senang hati mengakhiri percakapan dengan bapak tersebut. Kami tiba di Karlsuhe Hbf pukul 17.54 dengan kaki pegal, kepala pusing, dan kantong menyusut.

Ada Orang Motret Orang Sedang Nyuting Orang Naik Kapal

Ada Orang Motret Orang Sedang Nyuting Orang Naik Kapal

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (8)

Akhir pekan kali ini mungkin yang paling datar daripada sebelumnya. Hari Sabtu kembali dihabiskan di Flohmarkt Berufsakademie. Bedanya, kalau minggu lalu berakhir tanpa hasil, kali ini kami harus berjuang menahan diri untuk tidak menghabiskan seluruh uang di kantong. Hari Minggu akhirnya dihabiskan untuk beristirahat di rumah sekaligus menunda rencana menunjungi Strasbourg. Hari Senin sore kami membantu instalasi mesin cuci di tempat tinggal kami sekaligus menikmati uji coba perdananya.

Pekerjaan di sekitar Kronnenplatz

Pekerjaan di sekitar Kronnenplatz

Hari Selasa, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kota Stuttgart. Tujuan utamanya, tentu saja adalah Museum Mercedes-Benz, dan bila masih ada waktu kami akan mampir di stadion sepak bola homebase klub Vfb Stuttgart. Sempat was-was saat berangkat karena perubahan jalur tram akibat ada pekerjaan berat di Kronenplatz mulai tanggal 10-28 Agustus, ternyata masih sempat mengejar kereta jam 09.19 ke Stuttgart. Sesampai di Stuttgart, sempat kebingungan karena belum tahu mesti ke arah mana dan naik kereta nomor berapa. Setelah melakukan penyelidikan seperlunya, kami menemukan bahwa untuk ke Museum Mercedes-Benz kami harus naik kereta S1 ke arah Plochingen dan turun di halte Neckarpark. Dari halte, kami harus berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai museum. Di tengah jalan, kami bisa menyaksikan kompleks Mercedes yang mencakup pabrik, perkantoran, museum, dan kompleks olahraga. Kami cukup beruntung karena pada saat itu klub Vfb Stuttgart tengah berlatih di lapangan dan bisa disaksikan oleh siapapun. Beberapa pemain bahkan sempat terlihat berjalan menuju lapangan. Sayangnya, kami tidak tahu banyak tentang nama-nama pemain klub ini, kecuali penjaga gawang Jens Lehmann dan winger ‘baru’ mereka Aliaksandr Hleb.

Jens Lehmann lagi Latihan

Jens Lehmann lagi Latihan

Sampai di museum, kami sempat mengambil gambar patung mobil balap Mercedes era 50-an lengkap dengan pengemudinya, juara dunia lima kali Formula 1, Juan Manuel Fangio. Masuk ke bangunan museum, kami harus membeli tiket masuk seharga €8 per orang. Namun dengan mengandalkan bibliothek card (atau student card bagi yang punya) kami bisa mendapatkan diskon 50 persen menjadi hanya €4. Setiap pengunjung akan mendapatkan audio guide berupa sebuah modul yang mirip PDA lengkap dengan earphone dan kalung untuk menggantungkan modul. Asyiknya, kalung ini bisa dibwa pulang sebagai souvenir. Pengunjung bisa memilih modul berbahasa Jerman atau Inggris. Pada obyek tertentu, modul akan otomatis memutarkan rekaman suara yang berhubungan dengan obyek yang sedang kita lihat. Pada obyek-obyek tertentu juga terdapat rekaman suara yang bisa diakses menggunakan tombol-tombol yang tersedia pada modul sambil mengarahkannya ke posisi icon tertentu pada keterangan obyek. Petualangan menjelajahi museum pun dimulai dari tingkat 5.

The Mercedes-Benz Museum

The Mercedes-Benz Museum

Pertama kali, pengunjung akan disajikan mengenai riwayat pengembangan mobil dan kendaraan bermotor oleh dua pionir, Gottlieb Daimler dan Carl Benz, yang mengembangkan secara terpisah. Selanjutnya dikisahkan juga tentang perkembangan perusahaan yang diberi nama dari anak perempuan distributor utamanya, Mercedes Jellinek. Tahun 1926, Daimler dan Benz bergabung menjadi Daimler-Benz AG. Kemudian, pengunjung akan diajak menelusuri sejarah dunia dan Mercedes-Benz sambil menuruni lantai demi lantai museum. Di setiap tingkat, disajikan mobil-mobil produksi Mercedes-Benz dari setiap era. Mulai kendaraan penumpang, truk, bus, sampai mobil balap. Di tingkat terakhir kita akan disajikan deretan mobil balap Mercedes dari setiap era, sampai mobil Formula 1 McLaren Mercedes yang mengantarkan Lewis Hamiton menjadi juara dunia 2008.  Sayangnya, baterai di kamera Penulis tidak bisa diajak kompromi sehingga kehilangan momen di bagian ini. Sebelum keluar dari museum kita bisa mengunjungi toko suvenir dan laboratorium penelitian Mercedes-Benz di lantai dasar.

Inside the Museum

Inside the Museum

Tidak jauh dari kompleks museum adalah stadion Mercedes-Arena yang menjadi markas klub Vfb Stuttgart. Lagi-lagi karena masalah kamera, tidak satupun foto yang bisa diambil dari sini. Alhasil, kami hanya menghabiskan waktu di fan center sambil menatap barang-barang menarik dengan harga yang lumayan menguras kantong. Kami mengakhiri petualangan di Stuttgart pukul 15.00. Rencana semula untuk mengunjungi Heidelberg gagal, karena ketinggalan kereta langsung jam 14.19, dan jalur ke Heidelberg selanjutnya adalah melalui Karlsruhe, yang berarti sama saja dengan pulang. Kami memutuskan untuk pulang namun kali ini dengan menggunakan bus linie 31 dari Durlach Banhof sampai di Waldstadt Zentrum.

The First Car

The Museum Highlight

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (7)

Kali ini tidak ada acara jalan-jalan ke luar kota. Sedikit antiklimaks, karena minggu ini bertepatan dengan akhir bulan, kami disibukkan dengan kegiatan mutasi antar-wohnung. Tanggal 30 dan 31 Juli kemarin, berturut-turut 2 dan 5 orang rekan “bedol deso” pulang kampung ke Indonesia. Mau tak mau, kami bertiga terlibat dalam dalam proyek “pengepulan” barang-barang dan transportasi barang antar-wohnung dan ke stasiun kereta api. Yang mengharukan, mungkin, adalah kenyataan bahwa kontrak hunian mereka (kecuali 1 orang) habis di tanggal 28, sementara mereka baru pulang tanggal 30/31, jadi selama 1 hari 1 malam mereka harus ‘mengungsi’ ke beberapa tempat. Hikmahnya, persiapan pulang menjadi lebih matang, dan berarti juga lebih banyak hasil sampingan yang bisa diwariskan. Sampai-sampai Penulis dan satu rekan nyaris tak kuasa memindahkan barang-barang warisan tersebut ke rumah, saking banyaknya, dan juga karena jarak dari halte tram ke tempat Penulis harus ditempuh dengan jalan kaki paling cepat 10 menit.

Yang Pulang...Yang Pulang

Yang Pulang...Yang Pulang

Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar, dan ketujuh teman kami sekarang sudah berada di tanah air, selamat tak kurang suatu apa, dan telah berkumpul dengan keluarga masing-masing. Bagi yang sudah meninggalkan keluarga selama 10 bulan nonstop, tentunya inilah saat yang paling dinanti-nantikan. Bagi kami bertiga yang ‘tertinggal’ di Karlsruhe, berarti suasana menjadi lebih sepi, di samping tambahan barang warisan mulai alat masak, alat makan, makanan (bahan dan jadi), bumbu masak, alat tulis, buku, dan banyak lagi. Belum lagi musim liburan telah tiba di Jerman, rekan-rekan lain dari Indonesia juga bersiap-siap pulang untuk menghabiskan masa liburan di kampung halaman masing-masing.

Pasukan Mudik + Guest Star - 1 orang = ???

Pasukan Mudik + Guest Star - 1 orang = ???

Akhirnya, kami bertiga pun disibukkan dengan perpindahan antar-wohnung di antara kami sendiri. Kecuali Penulis yang masih setia dengan kamar yang masih dalam proses renovasi, kedua rekan yang lain saling bertukar tempat, yang melibatkan urusan pindah-memindah koper. Hari Sabtu dihabiskan dengan kembali mengunjungi Flohmarkt, meskipun kali ini tak satupun barang yang dibeli. Hari Minggu, kami bertiga menghadiri acara yang diselenggarakan IKMIK berupa silaturrahmi, bakar-bakar, dan makan-makan. Saat pulang, hujan deras sudah menanti sejak turun di halte tram. Saat berjalan pulang di tengah hujan, kami baru menyadari bahwa di sepanjang jalan berserakan barang-barang bekas yang sengaja dibuang pemiliknya dan bebas diambil oleh siapapun yang menginginkannya. Ini dinamakan sperrmuell, dan kami cukup beruntung mendapatkan rak, tempat jemuran, dan tempat sampah. Sayangnya, cuaca hujan tidak memungkinkan kami mengeksplorasi lebih lanjut, bahkan tidak berani untuk sekadar mengambil gambar. Terakhir, kalau di Indonesia gembong teroris lagi dicari-cari, di Karlsruhe, khususnya di daerah Knielingen dua orang merampok supir bus night liner. Pengumuman pencarian keduanya ditempel di tram 4 yang biasa kami tumpangi, lengkap dengan imbalan 500 euro bagi informasi mengenai keduanya. Mau?

Bakar-bakar...Makan-makan

Bakar-bakar...Makan-makan

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (6)

Rencananya, akhir pekan ini akan dihabiskan di Stuttgart, sekalian menghadiri acara pengajian warga (?) Indonesia se-Jerman. Namun, karena satu alasan, dibatalkan. Backup plan pun segera disusun, dan akhirnya jalan-jalan kali ini dibelokkan ke Metzingen, sebuah kota kecil 30 km di selatan Stuttgart. Apa yang menarik dari kota kecil berpenduduk hanya 22.000 jiwa ini? Well, jika di Indonesia kita mengenal Bandung sebagai kota Factory Outlet (FO), maka di Jerman, Metzingenlah tempatnya. Dipelopori oleh fashion house terkemuka Hugo Boss, yang didirikan dan bermarkas besar di Metzingen, kota ini banyak dikunjungi oleh wisatawan dari seantro Jerman, bahkan Eropa.

Rombongan Besar ke Metzingen

Rombongan Besar ke Metzingen

Kali ini Penulis tidak lagi ditemani rekan-rekan lain karena berbagai alasan. DUa rekan lebih memilih mengunjungi Wina (Vienna) di Austria menggunakan jasa biro perjalanan. Satu rekan yang lain, yang sudah sangat bersemangat pergi ke Metzingen dan dengan sama bersemangatnya mengajak Penulis, dengan sangat spektakulernya ketinggalan kereta yang berangkat pukul 10.05. Konon karena trem satu-satunya yang melewati tempat tinggalnya pagi itu sangat terlambat, tidak seperti biasanya. Penulis, yang tiba di Stasiun pukul 09.30 (janjian jam 09.50) sempat celingak-celinguk sendirian karena dua rekan yang lain belum juga datang (satu rekan lagi juga hampir ketinggalan kereta ke Berlin minggu kemarin). Sambil mengamat-amati orang yang lewat, Penulis mengamati serombongan orang Indonesia, satu keluarga bapak, ibu, dan anak, yang nampaknya juga tengah menunggu seseorang dan sedang berbicara di telepon. Pukul 09.50 rombongan itu tak terlihat lagi. Penulis mulai gelisah sambil mengamati jadwal kereta, lalu mencoba mencetak jadwal tercepat ke Metzingen, yang ternyata harus naik kereta ke Stuttgart dulu pukul 10.05 di jalur 10. Pukul 10.00, Penulis betul-betul gelisah karena dua rekan belum kelihatan batang hidungya. Harapan terakhir, Penulis naik ke jalur 10 dan melihat kereta ke Stuttgart sudah siap berangkat. Tiba-tiba seseorang menghampiri Penulis dan menanyakan apakah Penulis kenal dengan rekan yang belum datang. Ternyata, rombongan tadi juga akan ke Metzingen dan kami bertiga seharusnya ikut dalam rombongan itu (10 orang, memanfaatkan tiket Baden-Wurttemberg seharga €28 untuk 5 orang). Penulis diajak masuk kereta yang sudah siap berangkat, dan anggota rombongan lain masih mencoba menghubungi rekan Penulis yang lain. Akhirnya, pukul 10.05 kami melihat rekan itu berlari-lari mengejar kereta dan akhirnya bisa ikut berangkat. Satu rekan lain, seperti sudah diceritakan di atas, baru tiba di stasiun pukul 10.15 dan naik ke jalur yang salah (8).

Stasiun Kota Metzingen

Stasiun Kota Metzingen

Perjalanan ke Metzingen memakan waktu 2 jam, 1 jam ke Stuttgart, dan 1 jam ke Metzingen. Rombongan kami total ada 13 orang dewasa, ditambah 3 orang keluarga Indonesia lain, ditambah 4 anak-anak. Bak sebuah tour tanpa biro. Baru menginjakkan kaki di stasiun Metzingen yang kecil itu, ternyata bus ke pusat perbelanjaan sudah berangkat, dan kami terpaksa jalan kaki sekitar 10 menit. Sepanjang jalan tidak ada yang istimewa dari Metzingen, hanya pemukiman dan pertokoan kecil. Baru setelah sampai di pusat perbelanjaannya, suasana berubah total. Banyaknya orang berlalu lalang, mobil-mobil mewah, dan bangunan yang menjulang dengan merek-merek fashion terkenal tertempel di atasnya, mulai Versace, Armani, Dolce-Gabbana, Hugo Boss, Escada, Tommy Hilfiger, Polo Ralph Lauren, Levi’s, Oakley, Lacoste, Swatch, sampai Adidas, Nike, Reebok, dan Puma. Ada juga merek sepatu terkenal seperti Bally dan Timberland. Dan tanpa dikomando, rombongan pun menyebar ke segala penjuru, memburu barang-barang yang umumnya sudah ditempel label Sale itu.

Penulis dan rekan pun mulai menjelajah satu persatu toko FO di kompleks itu, mengurutkan satu demi satu merek yang terkenal itu. Tentu saja, untuk soal membeli kami harus banyak berhitung. Meski harga di sana umumnya memang sudah didiskon, kalau memang aslinya sangat mahal tetap saja akan menjadi mahal atau cukup mahal, bukan lumayan murah. Apalagi kalau melihat harga tiga digit, kepala langsung pusing jadinya. Toh, Penulis masih berani membeli beberapa item yang harganya lumayan masuk akal (dan kantong): sebuah jaket, kaos bola berlogo PSSI-nya Tunisia, dan topi berlogo Arsenal. Lumayan banyak untuk seorang yang nggak terlalu tertarik soal fashion. Di tengah-tengah kompleks, di depan toko Escada sejumlah aktivis antibulu binatang memprotes Escada yang menjual mantel bulu (asli). Pukul 17.15 kami sudah harus menuju stasiun kereta, karena kereta ke Stuttgart akan lewat pukul 17.55.

Pusat Factory Outlet di Metzingen

Pusat Factory Outlet di Metzingen

Tidak banyak yang bisa diceritakan saat perjalanan, karena Alhamdulillah semuanya lancar-lancar saja. Tidak terasa membosankan, karena kehadiran anak-anak dalam rombongan yang lucu-lucu, terutama karena mereka sudah cukup lancar (dan berani) berbahasa Jerman, termasuk saat bertengkar satu sama lain. Rombongan tiba di Stasiun Karlsruhe pukul 20.00 dan bagi Penulis, satu lagi weekend yang menyenangkan.

Demo Anti Bulu Binatang

Demo Anti Bulu Binatang

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (5)

Okay, mencoba mengulang ‘kesuksesan’ petualangan minggu lalu, kali ini dengan modal yang sama (wochendende ticket), kali ini Penulis dan kawan-kawan kembali bertualang ke Berlin sepanjang akhir pekan ini. Tantangan kali ini lebih berat. Pertama, perjalanan yang memakan waktu 11-12 jam membuat total sehari semalam dihabisakan di atas kereta api. Selanjutnya, salah seorang rekan sudah mendahului pulang ke tanah air, sehingga tersisa empat orang anggota tim. Saat mengajak salah satu anggota 5 besar, ternyata yang bersangkutan telah punya rencana ke Roma. Namun akhirnya menjelang berangkat, kami berhasil mendapatkan satu orang lagi untuk melengkapi tim (dan menghemat €4 sekali jalan).

Jadwal Perjalanan Karlsruhe-Berlin PP

Jadwal Perjalanan Karlsruhe-Berlin PP

Toh, perjalanan memang tak semulus minggu lalu. Saat menjelang berangkat, kami dicemaskan dengan kedatangan anggota kelima yang baru tiba di detik-detik terakhir menjelang kereta pertama berangkat pukul 04.25. Keberangkatan kali ini berganti kereta api di Heidelberg, Frankfurt, Kassel, Sangerhausen, dan Magdeburg sebelum sampai di Berlin. Hambatan muncul di Kassel Hbf saat kereta yang menuju ke Sangerhausen terlambat sampai 15 menit, padahal jarak pergantian ke kereta berikutnya (ke Magdeburg) dari Sangerhausen hanya 8 menit. Akhirnya, mudah ditebak kami (dan sebgaian besar penumpang lain) ketinggalan kereta tersebut. Celakanya, kereta berikutnya ke Magdeburg baru tiba hampir dua jam kemudian. Alhasil, kami pun terdampar di stasiun Sangerhausen selama dua jam. Debat panjang antara  seorang penumpang dengan petugas stasiun tidak membantu sedkitpun. Menunggu adalah pekerjaan paling membosankan di dunia, apalagi stasiun Sangerhausen hanya stasiun kecil dengan fasilitas terbatas. Letaknya pun tidak di tengah kota sehingga tidak ada alternatif lain untuk berjalan-jalan sambil menunggu. Akhirnya kami pun hanya nongkrong di depan loket stasiun yang tertutup rapat (padahal petugasnya masih ada sampai pukul 14.00) sambil makan siang, karena udara di luar sangat dingin. Akhirnya, kami pun tiba di Berlin pukul 17.50, terlambat dua jam dari rencana semula.

Welcome to Berlin

Welcome to Berlin

Sempat menunggu agak lama sebelum dijemput oleh rekan yang selama ini standby di Berlin (terganggu oleh delay 2 jam kami, beliau akhirnya harus bolak-balik ke stasiun), kami pun menuju masjid yang dikelola IWKZ (indonesische Weisheits und Kulturzentrum) kota Berlin untuk konfirmasi soal tempat untuk bermalam. Kami disambut dengan ramah oleh para pengurus masjid yang merupakan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Berlin. Setelah berisitirahat sejenak, kami pun keluar untuk mengukur jalan di Berlin, tepatnya di Kurfürstendamm, yang terkenal sebagai lokasi dari Kaiser Wilhelm Memorial Church, atau yang lebih terkenal dengan julukan “Gereja Buntung”, karena gereja tersebut rusak terkena bom saat Perang Dunia II sehingga rusak parah dan puncak bangunannya runtuh. Sebagai memorial, kondisinya dibiarkan seperti adanya dan di sebelahnya didirikan banugna gereja (kapel) yang baru dan bangunan aslinya dipakai sebagai museum. Sayangnya, karena kami tiba di sana terlalu malam (pukul 20.30), museumnya sudah tutup. Akhirnya, kami hanya berfoto dan menjelajahi pertokoan di kawasan itu. Kemudian dilanjutkan dengan menonoton festival yang berlangsung di pelataran Europa Center. Di antaranya ada pertunjukan akrobat, komedi, dan di sekitarnya banyak stand souvenir dan makanan. Pukul 22.00 kami beranjak ke Alexanderplatz. Suasana sangat sepi mengingat sudah malam dan tidak ada acara (festival) yang berlangsung di sana. Kami menghabiskan waktu dengan mengambil foto Jam Dunia (Weltzeituhr) dan Menara TV (Fernsehtum). Jam Dunia ini berupa sebuah menara yang terdiri atas dua bagian yang melingkar, satu bertuliskan angka 1 sampai 24 yang menunjukkan waktu, dan yang satunya bertuliskan nama-nama daerah waktu di seluruh dunia. Dengan demikian, kita bisa mengetahui jam berapakah di suatu daerah waktu di seluruh dunia. Jam 23.00 kami memutuskan kembali ke masjid untuk tidur.

Weltzeituhr dan Fernsehtum di Alexanderplatz

Weltzeituhr dan Fernsehtum di Alexanderplatz

Keesokan harinya, kami meninggalkan mesjid pukul 07.00 dan bersiap menjelajahi Flohmarkt di pelataran Museum Bode dan Altes. Dari stasiun KA, kami berjalan kaki sambil menikmati pemandangan Berlin yang penuh dengan bangunan bersejarah itu. Sampai di lokasi, ternyata Flohmarkt baru dibuka pada pukul 11.00, sehingga kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di Unter den Linden dan Brandenburger Tor, menikmati pemandangan dan lebih banyak bangunan bersejarah. Sayangnya (lagi), waktu di Reichstag (gedung parlemen), kami tidak sempat masuk ke dalam, karena antrian pengunjung yang sangat panjang, di lain pihak kami tidak punya banyak waktu lagi. Kami pun memutuskan berjalan kembali ke Hauptbanhof untuk kembali ke Flohmarkt yang sudah mulai ramai. Flohmarkt di Berlin ini sangat mengasyikkan dengan banyak item yang dijual mulai barang antik, souvenir, kerajinan, karya seni, juga buku dan rekaman musik. Penulis menghabiskan cukup banyak waktu untuk memilih dari sekian banyak CD musik seharga €4 per judul. Sekitar satu jam setengah kami habiskan untuk berbelanja di Flohmarkt sebelum kembali ke Karlsruhe pukul 12.11.

Branderburger Tor

Branderburger Tor

Perjalanan pulang kali ini mengambil jalur yang agak berbeda dari keberangkatan. Setelah Magdeburg, kami tidak mengambil jalur Sangerhausen-Kassel-Frankfurt-Heidelberg-Karlsruhe, melainkan Erfurt-Wurzburg-Bietigheim-Bissingen-Karlsruhe. Perjalanan pulang berjalan lebih lancar daripada saat berangkat, hanya terjadi delay (kembali) sekitar sepuluh menit di Wurzburg. Beruntung saat di Bietigheim-Bissingen, kami masih ‘ditunggu’ oleh kereta ke Karlsruhe, tidak seperti saat kami ditinggal kereta di Sangerhausen, dan akhirnya kami bisa tiba kembali di Karlsruhe Hbf pukul 23.40. Dan perjalanan panjang Karlsruhe-Berlin pun berakhir.

Bersiap Meninggalkan Berlin

Bersiap Meninggalkan Berlin

Dalam perjalanan kali ini, kami menjumpai beberapa hal unik di kereta-kereta yang kami naiki. Saat naik kereta ke Magdeburg, ada seorang pemuda yang berjualan makanan kecil dan minuman menggunakan sebuah kereta khusus yang mengingatkan pada penjual minuman di kereta api ekonomi/bisnis di Indonesia. Semula kami mengira ia adalah pedagang asongan ala Jerman, sampai saat kami pulang dari Magdeburg ke Erfurt, seorang wanita juga melakukan hal yang sama, dan kami pun menyadari bahwa mereka mungkin merupakan layanan resmi dari dinas kereta api setempat, semacam restorasi di PT KAI. Mereka berdua mengenakan seragam yang sama dengan tulisan “Catering ….(nggak ingat lagi)”. Kemudian di kereta dari Wurzburg, saat mencari tempat duduk, kondektur kereta yang sudah berumur sedang lewat di gerbong yang sama, menemukan koran yang ditinggal oleh pembacanya, mengambilnya, kemudian menatap ke arah kami dan berkata dengan gaya yang kocak, “Meine…” (milik saya), kemudian berlalu. Sesaat kemudian, ia kembali dan dengan gaya yang masih kocak menyodorkan koran itu kepada kami dan berkata,” Das ist alt…” (?) (ini [koran] lama), dan berlalu. Koran itu (Bild) memang edisi lama (8 Juli) dan penuh berisi gosip dan gambar-gambar ‘aduhai’. Dalam perjalanan, beliau memeriksa karcis dan kami sempat bercakap-cakap, diwakili rekan kami yang sudah cukup lancar berbahsa Jerman, mengenai tujuan kami dan keterlambatan kereta. Dengan gaya meyakinkan (dan tetap kocak), beliau meyakinkan kami bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan kami tidak akan ketinggalan kereta ke Karlsruhe, mengingat sebenarnya kami hanya punya waktu Umsteigen (ganti kereta) 5 menit, sedangkan kereta terlambat 10 menit. Dan nyatanya, memang kami masih ditunggu kereta ke Karlsruhe tersebut! Entah apakah beliau punya andil dalam hal ini, kami tetap berterima kasih banyak. Juga kepada para pengurus masjid IWKZ di Berlin, yang kami tidak sempat berpamitan secara langsung, melalui tulisan ini kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas sambutan dan bantuan yang diberikan selamam kami di Berlin. Semoga Allah yang akan membalasnya.

Masjid IWKZ Berlin

Masjid IWKZ Berlin

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (4)

Weekend kali ini Penulis dan 4 rekan memutuskan untuk traveling ke Munchen (Munich), salah satu kota terbesar di Jerman. Kenapa harus berlima? karena ada fasilitas Sonnen-Wochendende Ticket, yaitu tiket kereta api khusus hari Sabtu-Minggu (berlaku selama 27 jam dalam dua hari) seharga €37 untuk naik kereta api di seluruh Jerman, maksimum untuk 5 orang. Jadi setiap orang hanya mengeluarkan €7,40 untuk naik kereta api apapun di manapun di Jerman selama 27 jam pada hari Sabtu-Minggu! Kendalanya tentu soal waktu, agar selama 27 jam itu bisa mencakup pulang-pergi dan jalan-jalan, karena tiket itu tidak berlaku untuk kereta ICE (Inter City Express) yang cepat dan langsung menghibingkan antarkota besar, sehingga pemakai tiket ini akan mengalami beberapa kali ganti kereta untuk mencapai tujuan, bergantung pada jadwal waktu keberangkatan dan kepulangannya.

Untuk weekend ini kami memilih Munchen dengan pertimbangan:

  1. Munchen adalah kota besar, terkenal terutama sebagai basis klub Bayern Munchen.
  2. Munchen tidak terlalu jauh dari Karlsruhe dibandingkan Berlin, misalnya, sehingga bisa ditempuh dalam rentang waktu 27 jam.

Setelah tujuan diseleksi, langkah berikutnya adalah menyusun jadwal, agar bisa diketahui di mana, kapan, dan kereta apa yang harus digunakan agar sampai di Munchen, pada akhirnya akan diketahui waktu total perjalanan yang diperlukan, yang berpengaruh pada waktu jalan-jalan yang akan dialokasikan. Untuk itu, kami pergi ke Karlsruhe Hauptbanhof (Stasiun KA Utama), dan menggunakan mesin otomat tiket yang tersedia. Mesin ini bisa mengecek jadwal perjalanan dan sekaligus memesan tiket untuk semua jenis perjalanan dengan kereta api. Kita tinggal memasukkan stasiun keberangkatan, tujuan, tanggal dan jam keberangkatan/kedatangan, jenis kereta api yang digunakan (ICE, RE, S), danmesin akan memberikan beberapa alternatif jadwal. Kita bisa memilih salah satu dan membuat printoutnya untuk pegangan saat melakukan perjalanan sebenarnya.

Time Table

Time Table

Karena kami merencanakan untuk berangkat hari Sabtu jam 04.00 dan pulang sorenya pukul 17.00, kami mendapatkan jadwal keberangkatan yang dimulai pukul 04.25 yang sampai di Munchen pukul 10.24 selama 5:59 jam dan berganti kereta 5 kali. Jadwal pulang kami diawali pukul 17.06 dan sampai di Karlsruhe pukul 23.38 selama 6:32 jam dengan berganti kereta dua kali. Sebagai antisipasi, kami juga mencetak jadwal pulang yang dimulai pukul 16.32 sampai pukul 21:53 selama 5:21 jam dengan berganti kereta 3 kali.

Awal petualangan diawali malam harinya saat kami semua sepakat untuk menginap di rumah salah satu rekan untuk menyiapkan segalanya, termasuk perbekalan makanan untuk makan siang. Kami nyaris tidak tidur semalaman. Sebelum berangkat pukul 3.00 kami menyempatkan untuk ‘sarapan’ terlebih dahulu. Diawali naik tram S5 ke Stasiun, kami menyempatkan slat Subuh di peron dengan diawasi sekelompok anak muda yang keheranan melihat kami menggelar sajadah dan salat berjamaah. Pukul 04.25 kereta pertama ke Durlach tiba.

Salat Subuh di Karlsruhe Hbf

Salat Subuh di Karlsruhe Hbf

Di Durlach kami menunggu selama 30 menit sebelum naik kereta (tram) ke Bietigheim-Bissingen. Sebelas menit tersedia untuk pindah ke kereta ke Stuttgart. Dari Stuttgart, perjalanan dilanjutkan ke Ulm, Augsburg, sebelum akhirnya tiba di Munchen pukul 10.24. Sempat kebingungan di Munchen Hbf yang sangat besar dan ramai, untungnya kami sempat browsing tentang jalur transportasi ke tujuan wisata (Allianz Arena dan Olympiapark). Kami kemudian naik kereta S27(?) (underground) ke Marianplatz dan pindah ke kereta U6 menuju Allianz Arena. Dari halte ke stadion jaraknya lumayan jauh (sekitar 10 menitan jalan kaki), namun antusiasme melihat bentuk Allianz Arena yang bak donat dari jarak jauh membuatnya tidak terasa melelahkan. Sayangnya, untuk bisa masuk ke tribun penonton dan menatap lapangan hijau dari dekat harus megikuti stadium tour seharga €10, sehinggakami pun memutuskan untuk melakukan wisata belanja di toko-toko cinderamata di kawasan stadion. Ada beberapa toko, di antaranya milik stadion sendiri, Audi, T-Mobile, klub TSV 1860 Munchen, dan tentunya yang paling diminati adalah milik FC Bayern Munchen. Sedikit rasa kaget muncul menyaksikan barang-barang dalam toko, lebih kaget lagi menyaksikan harganya yang puluhan hingga ratusan euro. Akhirnya kami cukup memuaskan diri dengan membeli beberapa barang sale yang harganya tak lebih dari €10/item. Sebelum pergi, kami menyempatkan diri makan siang lesehan di salah satu sudut stadion. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00.

Penulis di Depan Allianz Arena

Penulis di Depan Allianz Arena

Karena waktu yang mepet, kami bergegas menuju halte dan menuju Olympiapark naik kereta U3. Sampai di sana kami memusatkan kunjungan di BMW Welt, sebuah showroom raksasa yang memamerkan teknologi terbaru BMW, di antaranya sebuah mobil hybrid concept dan satu ruang khusus untuk BMW Z4 yang merupakan penerus generasi Z3 yang pernah digunakan dalam film James Bond. Karena waktu yang kurang memungkinkan, kami terpaksa mengakhiri kunjungan di Olympiapark tanpa mengunjungi obyek lain seperti BMW Museum dan Olympia stadium.

Museum BMW

Museum BMW

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Marianplatz, salah satu pusat keramaian di Munchen. Kami kembali naik kereta U3 kembali ke pusat kota, naik tangga ke atas, dan…voila, bertemu dengan keramaian di Marianplatz. ternyata, tengah berlangsung konser musik dalam rangka Christopher Street Day, yang merupakan festival untuk melawan diskriminasi terhadap kaum gay. Suasana yang riuh rendah dan banyaknya orang yang berlalu lalang membuat nyali kami cukup ciut dan bergegas kembali ke bawah tanah untuk kembali ke Munchen Hbf.

Christopher Street Day di Munchen

Christopher Street Day di Munchen

Dari rencana pulang pukul 17.00, keramaian di Marianplatz membuat kami malah mempercepat jadwal kepulangan menjadi pukul 16.32. Kali ini perjalanan lebih singkat dan lancar, mulai dari Munchen ke Aurgburg, dilanjutkan ke Ulm dan Stuttgart, dengan jeda masing-masing 15 dan 13 menit. Di Stuttgart, sebelum naik kereta api ke Karlsruhe ada jeda waktu 1 jam. Kami menghabiskannya untuk berjalan-jalan di sekitar Stasiun Kereta dan makan malam. Akhirnya, pukul 21.53 kami tiba di Karlsruhe Hbf, dan berpisah untuk menuju kediaman masing-masing dengan mata berat dan kaki pegal, namun hati yang puas.

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (3)

Seminggu sudah Penulis hidup di Jerman (Karlsruhe), banyak sudah suka duka pengalaman yang dialami Penulis dan rekan-rekan. Banyak adaptasi yang harus dilakukan, mulai soal cuaca, bahasa, cara hidup, dan lingkungan sekitar yang sangat berbeda dengan Indonesia. Banyak dari hal itu bisa dipelajari terlebih dahulu, namun tentu saja kenyataan yang dihadapi akan berbeda dari apa yang dipelajari sebelumnya, kadang sangat berbeda.

Wohnung

Wohnung

Pertama, soal pemukiman. Kami di Karlsruhe tinggal di semacam rumah susun, yang tiap bangunannya terbagi atas beberapa bagian (jadi, rumah nomor 1 akan terbagi menjadi nomor 1A, 1B, dst). Tiap bagian terbagi lagi atas beberapa lantai (empat di tempat Penulis), dan tiap lantai terbagi menjadi dua bagian (suite). Tiap suite dapat diibaratkan sebuah rumah kontrakan, yang terdiri atas beberapa kamar tidur, kamar mandi, dan dapur (merangkap kamar cuci). Jika kita menyewa satu kamar, maka kita akan berbagi kamar mandi dan dapur dengan para penghuni lainnya. Fasilitas hunian biasanya lengkap, semua perabotan disediakan: tempat tidur, lemari, meja tulis, rak, kemudian di dapur pun sudah lengkap dengan kompor gas, oven, microwave, lemari es, alat makan, dan biasanya juga mesin cuci. Kamar tidur dilengkapi pemanas dan dibangun dengan konstruksi yang memungkinkan isolasi panas (wallpaper, pelapis dinding dan lantai, lantai kayu). Sistem kunci hanya digunakan untuk membuka pintu dari luar (pintu akan mengunci otomatis saat menutup), sedangkan siapapun bisa keluar rumah tanpa menggunakan kunci. Pada beberapa flat, penghuni hanya membutuhkan satu kunci untuk membuka pintu flat, suite, dan kamar tidurnya. Saat bertamu, kita mengebel nomor suite yang tepat, dan penghuni tinggal menekan tombol kunci pada interkom untuk membukakan pintu. Kebutuhan bersama akan diatur oleh sesama penghuni, termasuk tanggung jawab kebersihan. Rekening listrik (unlimited) dan internet (high speed!) biasanya termasuk dalam biaya sewa.

Kedua, masalah cuaca. Kebetulan saat ini musim panas, sehingga tidak memerlukan banyak penyesuaian karena suhu rata-rata mirip dengan kota pegunungan di Indonesia. Hujan yang turun pun tidak sederas di Indonesia, yang kadang-kadang menyebabkan banjir. Mungkin perbedaan waktu yang lebih menantang. Karlsruhe (dan Jerman umumnya) berselisih waktu 6 jam dengan Indonesia. Untuk musim panas diberlakukan Daylight Saving Time dengan memajukan waktu satu jam, sehingga selisihnya tinggal 5 jam. Itu saja cukup menimbulkan masalah jetlag, belum lagi kenyataan bahwa di musim panas, matahari baru terbenam pukul 10 malam!

Cuaca di Karlsruhe

Cuaca di Karlsruhe

Konsekuensinya, waktu salat pun menjadi agak aneh bagi yang terbiasa di Indonesia. Waktu duhur adalah jam 01.30, Asar 05.30, Magrib 09.30, Isya 11.45, dan Subuh 03.00. Belum lagi kenyataan bahwa susah menemukan tempat salat di tempat-tempat umum. Sampai saat ini Penulis belum berhasil menemukan masjid. Salat Jumat pun dilaksanakan di kampus Universität Karlsruhe. Bisa dibayangkan saat bulan Ramadan tiba nanti.

Ketiga, soal makanan. Sebenarnya tidak terlalu susah menemukan makanan dengan selera Indonesia. Dengan catatan, pertama Anda punya dana tak terbatas, tersedia banyak rumah makan Asia atau Turki, juga Fast Food. Kedua, bagi yang suka memasak sendiri, tersedia toko yang menjual bahan-bahan masakan khas Asia: beras, bumbu, mi instan, tempe, sambal botol, cabe kering semuanya tersedia. Bagi Anda yang mempunyai dana terbatas disarankan mengombinasikan menu nasi dengan menu lain yang lebih mudah didapat, seperti roti, sereal, pasta, atau kentang. Selain itu bahan makanan yang ‘umum’ seperti telur, susu, sayur, dan buah juga cukup terjangkau. Yang agak susah mungkin daging dan menu yang mengandung daging, karena didominasi oleh menu daging babi, terutama produk kebanggaan Jerman: sosis (wurz). Solusinya, Anda bisa membeli makanan berdaging di kedai Turki yang menjual kebap, ayam, pizza, atau hot dog yang halal.

Makan Ayam di Kedai Turki

Makan Ayam di Kedai Turki

Keempat, masalah bahasa. Ada baiknya mempelajari bahasa Jerman sebelum pergi ke Jerman. Kalaupun dianggap sulit, gunakan jalan pintas dengan menggunakan buku-buku yang berisi ungkapan, pertanyaan, dan jawaban dalam bahasa Jerman, atau minimal kuasai beberapa kata penting dalam bahasa Jerman seperti selamat pagi, terima kasih, kata-kata tanya, angka, dan ekspresi seperti menanyakan kemampuan bahasa Inggris.

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (2)

Weekend ini dihabiskan dengan berkunjung ke Flohmarkt (semacam pasar kaget+garage sale) di Mercado. Flohmarkt ini dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 07.00 – 15.00. Di sini bisa ditemui barang-barang bekas dan barang-barang baru dengan harga miring mulai dari souvenir, mainan, buku, CD/PH, alat pertukangan, elektronik, pakaian, sampai bahan makanan dan sepeda. Sementara teman-teman Penulis asyik memborong baju, tas, dan mainan anak, Penulis cukup ‘mengutip’ beberapa mainan bekas seharga € 0,50 sampai € 1.

Flohmarkt

Flohmarkt

Sabtu sore dihabiskan di Museum, yang bernama lengkap Staatliches Museum fur Naturkunde Karlsruhe. Di dalamnya dipamerkan berbagai macam binatang yag dikeringkan dalam habitatnya. Untuk ikan, dipamerkan hidup-hidup dalam akuarium, mirip seaworld, namun museum ini tidak memamerkan ikan-ikan raksasa macam hiu atau paus. Di samping itu, juga dipamerkan bermacam-macam mineral, fosil hewan purba, dan pameran khusus Magadaskar. Tiket masuk museum sebesar € 3/orang. Sayangnya, saking serunya menggeber kamera, baterai habis di tengah jalan, dan setengah isi museum belum sempat diabadikan.

Museum

Museum

Hari Minggu, yang direncanakan ke Heidelberg/Matzingen terpaksa batal gara-gara dua rekan mendadak sakit. Akhirnya diputuskan untuk berkeliling Karlsruhe dan sekitarnya. Pertama, kami mengunjungi daerah Durlacher, tepatnya di Tumberg, yaitu bukit yang bisa dinaiki dengan kereta, dengan tiket seharga € 1,50 sekali jalan atau € 2,30 bolak-balik. Tiba di puncak, dilanjutkan dengan mendaki sebuah tower kuno yang dari atasnya kita bisa melihat panorama kota Karlsruhe.

Karlsruhe from Above

Karlsruhe from Above

Selanjutnya, kami mengunjungi Baden Baden, sebuah kota kecil di bagian utara selatan Karslruhe. Sayangnya, karena kurang persiapan, kami sempat menghabiskan banyak waktu hanya untuk menuju kota ini. Dimulai dengan pemilihan jenis kendaraan, yaitu bus dilanjutkan dengan tram yang salah jurusan, praktis kami hanya menghabiskan waktu sejam di Baden-Baden. Akibatnya, banyak obyek yang tidak sempat dikunjungi. Ditambah lagi sandal salah seorang rekan putus di tengah jalan, membuat yang bersangkutan malas melanjutkan petualangan. Nama Baden dalam bahasa Jerman berarti mandi, dan Baden-Baden terkenal dengan spa di samping kasino, hotel mewah, dan pacuan kudanya. Nama Baden-Baden diberikan pada tahun 1931 yang berarti: Baden in Baden (Mandi di kota Baden).

Trinkhalle

Trinkhalle

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (1)

Yep, we’re in Germany now… setelah melalui berbagai trik dan intrik seputar keberangkatan ke Jerman, akhirnya mulai awal bulan Juli ini Penulis berhasil menapakkan kaki di tanah Bavaria, tepatnya di kota Karlsruhe. Penantian panjang selama 8 bulan berakhir saat invitation letter tiba pada pertengahan Juni lalu. Gerak cepat pun dilakukan untuk mengurus visa dan tiket, sampai keberangkatan dini hari tanggal 1 Juli 2009 ke Frankfurt via Dubai.

Dubai Airport

Dubai Airport

Penerbangan selama kurang lebih 18 jam (dengan konversi zona waktu), termasuk transit 3 jam di Dubai, ternyata tidak terasa terlalu melelahkan. Mungkin karena Penulis terbang bersama dua rekan lain, kondisi mental yang sedang naik, dan fasilitas selama penerbangan terbilang memuaskan. Sampai di Frankfurt jam 13.15 waktu setempat, masih harus ditambah 1 jam perjalanan berkereta api ke Karlsruhe. Sampai di sana, sempat terbengong-bengong di Karlsruhe Hauptbanhof (Stasiun KA Karlsruhe) sebelum rekan-rekan penjemput datang. Langsung saja kami bertiga membeli tiket trem yang kebetulan sedang promosi musim panas, 15 € untuk 10 hari penuh, 24 jam, gratis naik trem ke seluruh Karlsruhe!

ICE ke Karlsruhe

ICE ke Karlsruhe

Kesan pertama keliling Karlsruhe, tentu saja banzak orang Jerman (ya iyalah…), kota yang relatif bersih, trem yang nyaman (mirip busway, tapi dijamin bebas macet), mobil-mobil yang keren di sepanjang jalan, dan… udara musim panas Jerman yang nggak jauh di beda dengan di Indonesia (suhu sekitar 25-28 derajat, setara di Bandung). Matahari baru terbenam sekitar pukul 10.00 waktu setempat dan sudah terbit lagi sekitar pukul 04.00 (kebayang kalau puasa nanti).

Hujan di Karlsruhe

Hujan di Karlsruhe

Hari Jumat kemarin, ikut salat Jumat di Universität Karlsruhe. Acara yang biasanya diselenggarakan di dalam ruangan dipindah ke lapangan luar. Pesertanya cukup beragam, dari berbagai negara dan bangsa, termasuk Jerman sendiri. Khotbahnya pun dalam bahasa Jerman, cukup membuat bengong (teringat saat mendengarkan khotbah berbahasa Sunda di Bandung dulu). Selesai Jumatan, hujan pun turun, lumayan deras dan lama, dari pukul 02.30 sampai pukul 06.30. Sore harinya, gara-gara terlalu pede, Penulis dan tiga rekan mengubah acara makan sore menjadi pesta Pizza gara-gara memesan 4 porsi pizza yang ternyata per porsinya itu seukuran medium di Pizza Hut!. Sampai akhirnya dengan sedikit perjuangan, empat porsi itu bersisa satu setengah porsi untuk dibawa pulang.

Pizza Party!

Pizza Party!