Azure Sphere, Solusi IoT Microsoft Berbasis Linux

Yup, Anda tidak salah baca judul di atas. Microsoft baru-baru ini meluncurkan Azure Sphere, sebuah solusi untuk perangkat IoT (Internet of Things) yang terdiri atas tiga subbagian: MCU (microcontroller unit) yang secure, sistem operasi yang secure, dan cloud yang secure. MCU yang ditawarkan adalah produk dari MediaTek, cloud yang dipakai tentu saja Microsoft Azure, sistem operasinya, sedikit mengejutkan bahwa kernel yang akan digunakan adalah linux, dengan modifikasi ala Microsoft tentunya. Ini berarti, Microsoft akan merilis sebuah distro linux! Sepuluh atau dua puluh tahun lalu hal ini akan dianggap mimpi di siang bolong. Linux bukan hanya dianggap sebagai kompetitor Windows (baru terbukti akhir-akhir ini dengan kehadiran Android), tapi juga sejenis kanker! Sejak naiknya Satya Nadella sebagai CEO Microsoft menggantikan Steve Ballmer memang banyak tanda yang menunjukkan Microsoft mulai “PDKT” dengan linux dan dunia open source pada umumnya. Mulai dari rilis aplikasi Microsoft untuk Android (termasuk Office), SQL Server di-port ke Linux, bergabungnya Microsoft dengan Linux Foundation, Windows Subsystem for Linux, hingga distro linux yang bisa diinstal via Microsoft Store (Ubuntu, Suse, Fedora).  Bahkan, Steve Ballmer yang pernah mengata-ngatai Linux sebagai pengaruh komunis dan menyebabkan kanker akhirnya berbalik mencintai linux.

Azure Sphere Secured OS (sumber: microsoft.com)

Iklan

Acer Chromebook Tab, Tablet Berbasis ChromeOS Pertama

Selama ini kita mengenal sistem operasi ChromeOS dari Google hanya diperuntukkan perangkat laptop dengan label Chromebook saja, meskipun telah juga muncul perangkat berbasis ChromeOS seperti Chromebox dan Chromebit. Sementara sistem operasi lain dari Google, Android, diperuntukkan perangkat mobile seperti smartphone, tablet, dan perangkat lain seperti smartTV , smartwatch, dan masih banyak lagi. Kedua sistem operasi ini sama-sama berbasis (kernel) Linux dan open source ( dengan nama ChromiumOS dan AOSP). Akhir-akhir ini terlihat ada usaha untuk mengintegrasikan kedua sistem operasi ini, dengan dirilisnya App Runtime for Chrome, yang memungkinkan aplikasi Android dijalankan di ChromeOS.

Tablet berbasis ChromeOS dari Acer

Chromebook selama ini cukup sukses digunakan di dunia pendidikan karena kemudahan penggunaan, perawatan, dan pengaturannya. Karena itu, Apple (diisukan) berusaha menyaingi dengan meluncurkan produk baru untuk dunia pendidikan, berupa iPad dengan Apple Pencil dengan harga yang bersaing dengan Chromebook. Namun, sebelum Apple mengumumkan, Acer mengumumkan produk baru yang kemungkinan menjadi jawaban dari Apple iPad baru, yaitu tablet berbasis ChromeOS yang disebut Acer Chromebook Tab. Tablet ini berlayar 9,7 inci, dilengkapi stylus (Wacom EMR), dan mendukung Google Play(Store), yang berarti bisa menjalankan aplikasi Android. Mengingat selama ini Android-lah yang biasanya digunakan untuk tablet, maka produk baru ini sangat unik. Patut ditunggu apakah ke depannya akan diikuti oleh vendor lain.

Surface Studio,=iMac+iPad Pro

Baru-baru ini Microsoft mengumumkan peluncuran produk terbarunya dalam jajaran lini produk Surface, yaitu Surface Studio. Kalau Surface/Surface Pro dikenal sebagai produk Tablet, kemudian ada juga Surface Book yang merupakan hybrid tablet/laptop, maka Surface Studio bisa disebut desktop, meskipun lebih tepat disebut sebagai digital canvas. Banyak yang membandingkan Surface Studio dengan produk Apple yaitu iPad Pro, namun dengan ukuran display 28 inci produk ini lebih tepat  bersaing dengan Wacom Cintiq, yang disebut sebagai Pen Display. Di sisi lain, penggunaan touch screen dan digital pen, membuat ketiga produk itu bisa dikatakan sejenis, meskipun iPad Pro saat ini hanya menawarkan display 9.7 dan 12,9 inci.

(Sumber: microsoft.com)

(Sumber: microsoft.com)

Produk ini lebih menyasar kaum profesional, terutama desainer grafis yang mengutamakan ergonomi dalam bekerja. Agak berbeda dengan pesaingnya, Surface Studio dirancang sebagai perangkat hybrid tablet/desktop yang tampilan fisiknya mengingatkan pada Apple iMac. Bisa dikatakan Surface Studio ini hybrid iMac/iPad Pro.  Surface Studio yang akan mulai dijual awal 2017 ini menawarkan sejumlah asesoris tambahan seperti mouse, ergonomic keyboard, dan peranti masukan yang unik, yaitu surface dial, yag berbentuk tabung, dan digunakan untuk navigasi radial layaknya tombol volume pada radio.

(Sumber: PC World)

(Sumber: PC World)

Dari WinTel ke ArmDroid, Era Baru Komputasi?

Bagi kita yang mengalami dekade 90-an hingga 2000-an , terutama yang akrab dengan dunia komputer tentu mengenal istilah “WinTel” yang merupakan akronim dari “Windows on Intel” ini. Ya, begitulah kita mendefinisikan komputer (pribadi) saat itu, sebuah perangkat dengan prosesor (CPU) Intel dan bersistem operasi Microsoft Windows. Begitu dominannya kedua nama itu seakan menutupi keberadaan kompetitor atau alternatif bagi keduanya, seperti AMD, Apple (Mac), Linux, Be(OS), VIA (Cyrix), bahkan IBM. Bukan kebetulan pula jika baik Intel maupun Microsoft pernah mengalami masalah dengan dominasi mereka yang menjurus ke monopoli dan membuat mereka diselidiki oleh badan-badan pengawas perdagangan dan persaingan usaha di dunia. Microsoft harus memberi ruang bagi kompetitor mereka dalam Windows dan Intel harus menjamin kompatibilitas prosesor buatan AMD dan VIA sebagai akibatnya. Saat itu, tidak ada yang membayangkan dominasi keduanya akan pernah berakhir, tidak dalam waktu dekat paling tidak. (sumber: technophilicmag.com)

Hari ini, susah untuk melihat lagi ke periode itu tanpa merasa takjub. Betapa dunia teknologi informasi dan komputasi telah banyak berubah. Komputer pribadi, seperti yang kita kenal selama ini, masih tetap dikuasai platform WinTel, namun di sisi lain perangkat seperti ponsel pintar (smartphone) dan tablet telah mengambil alih peranan yang dulu dimainkan komputer pribadi di era 90-an dan 2000-an. Internet telah menjadi platform infrastruktur masa kini, yang dimanfaatkan oleh masyarakat luas, yang awam dengan teknologi informasi dan komputasi. Menariknya, perangkat ponsel pintar dan tablet hari ini tidak dibangun di atas Wintel, melainkan menggunakan prosesor berbasis ARM dan bersistem operasi Android dan iOS. Intel sudah merilis prosesor mobilenya, Atom, Microsoft juga merilis Windows Phone (sebelumnya Windows Mobile), namun keduanya tidak dominan di sektor ini. Windows Phone hanya punya pangsa pasar sekitar 3%, dibandingkan Android sebesar 84% dan iOS 11%. Intel (Atom) hanya punya pangsa pasar sekitar 1% di perangkat mobile.  (sumber: litabi.com)

Seakan terulang kembali, sulit untuk melihat dominasi ARM dan Android (ArmDroid?) ini tergeser di waktu yang akan datang. Tentu saja perlu digarisbawahi bahwa perbandingan WinTel dan ArmDroid tidaklah seratus persen sama. Jika WinTel jelas-jelas mengacu pada dua perusahaan, Intel dan Microsoft, tidaklah demikian dengan ArmDroid. ARM, sebagai perusahaan, tidaklah memproduksi prosesornya sendiri, melainkan hanya mendesain dan menjual lisensi untuk memproduksinya kepada perusahaan seperti Motorola, Qualcomm, Samsung, Nvidia, bahkan kepada Intel! Sementara Android merupakan sistem operasi berbasis Linux dari Google dan dikembangkan bersama konsorsium Open Handset Alliance yang terdiri atas perusahaan teknologi (hardware, software) dan operator telekomunikasi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, platform Apple (iOS) nampaknya tidak akan beranjak dari posisinya saat ini karena sifatnya yang eksklusif (tertutup) dan harganya yang (sangat) mahal.

Dulu, IBM sangat dominan di dunia komputasi, kemudian di era komputer pribadi muncullah WinTel, dan sekarang di era perangkat mobile muncullah ArmDroid, yang sifatnya lebih terbuka dan komunal, tidak lagi identik dengan satu entitas, terlepas dari peran ARM Holdings dan Google di balik prosesor ARM dan sistem operasi Android. Menariknya, ARM dan Android tidak bergantung satu sama lain mengingat ARM juga bisa menjalankan sistem operasi selain Android seperti iOS, BlackBerry, maupun Windows (Phone/RT), sebaliknya Android juga bisa dijalankan di prosesor selain ARM seperti Intel x86 (Atom) dan MIPS. Yang menarik ditunggu, apakah ArmDroid ini bisa menyeberang ke platform lain seperti komputer pribadi dan server? Atau sebaliknya, bisakah WinTel berbalik menguasai platform mobile?

Rilis Terbaru Ubuntu dan Chromebook

Dua tulisan dalam satu, tanpa ada hubungan pasti. (Mungkin karena Penulisnya agak males) Dalam dua hari berturutan, 18 dan 19 Oktober 2012 diluncurkan dua produk baru,atau tepatnya kelanjutan dari lini produk sebelumnya. Canonical meluncurkan Ubuntu 12.10 “Quantal Quetzal” pada tanggal 18 Oktober 2012. Hal pertama yang terlihat adalah penyederhanaan jenis image instalasi menjadi hanya dua: desktop dan server. Kemudian, ukuran image standar yang kini melebihi ukuran CD (700 MB), namun sekarang ini nampaknya penggunaan CD untuk media instalasi sudah mulai digantikan oleh USB Flashdisk. Kontroversi sempat membayangi rilis versi terbaru Ubuntu ini dengan diintegrasikannya pencarian dari situs Amazon, yang mengesankan masuknya “pesan sponsor” di ubuntu versi terbaru ini. Ubuntu versi terbaru ini juga menambahkan OpenStack dan Juju, yang memudahkan konfigurasi service dalam Ubuntu Server. Fitur baru lainnya dalam versi 12.10 ini adalah WebApps, yang memungkinkan untuk menambahkan situs web favorit Anda ke Launcher Unity, misalnya Facebook, Twitter, Gmail, atau YouTube. Fitur lain yang ditambahkan adalah Online Search, yang akan mencari bukan hanya dalam hard drive Anda, namun juga di layanan online seperti Flickr atau Google Drive.

Ubuntu 12.10 "Quantal Quetzal"

Ubuntu 12.10 “Quantal Quetzal”

Sementara itu, Google meluncurkan generasi terbaru Chromebook pada tanggal 19 Oktober 2012. Generasi Chromebook terbaru ini diproduksi oleh Samsung dan mulai ditawarkan pada harga US$249. Versi ini mempunyai layar 11,6 inci dan hanya mendukung Wi-Fi, dengan model yang mendukung 3G ditawarkan dengan harga US$330. Chromebook generasi terbaru ini dipersenjatai dengan prosesor ARM A15 (dibandingkan Intel Atom pada generasi sebelumnya), 2 GB RAM, 16 GB SSD, dan 100 GB penyimpanan di layanan Google Drive (selama 2 tahun). Chromebook juga dilengkapi satu port USB 3.0, satu port USB 2.0, dan satu port HDMI.

Google Chromebook Terbaru

Google Chromebook Terbaru

Komputer dan Aplikasi 64 Bit, Perlukah?

Pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya (dan para pemerhati dunia IT) adalah mengenai perbedaan antara 32-bit dan 64-bit, terutama saat memilih instalasi sistem operasi (MS Windows): mana yang harus dipilih,apa keunggulan versi 64-bit dibandingkan 32-bit, dan apakah hardware dan software yang biasa digunakan kompatibel dengan 64-bit? Untuk memuaskan keingintahuan itu, ada baiknya kita sedikit mengulas mengenai komputasi 64-bit. Sebenarnya komputasi 64-bit sudah dirancang dan ada sejak tahun 1970-an, meskipun hanya digunakan pada superkomputer seperti Cray dan pada sistem berbasis RISC. Pada komputer pribadi (PC), komputasi 64-bit baru mulai dikenal secara luas pada tahun 2000-an. Intel mengenalkan prosesor 64-bit yang disebut Itanium pada tahun 2001. Pada tahun 2003, AMD memperkenalkan Athlon64 yang merupakan prosesor 64-bit berbasis teknologi x86. Prosesor AMD ini lebih kompatibel dengan teknologi PC yang sudah ada, sehingga Itanium tidak laku, dan pada akhirnya Intel pun mengadopsi teknologi AMD64 untuk prosesor Xeon dan Pentium 4 dan seterusnya.

Mengapa harus menggunakan 64-bit? Dalam pemrograman, register 32-bit hanya dapat mengakses maksimum 2 pangkat 32 bytes memori (setara dengan 4 GB). Dulu, angka 4 GB ini dirasa cukup, ingat bahwa standar 32-bit ditetapkan pada tahun 1980, memori terbesar di pasaran adalah 4 MB, sehingga nilai 4 GB adalah 1000 kalinya, dan nampaknya akan bertahan dalam waktu yang cukup lama. Ternyata memasuki tahun 2000-an, batas ini mulai tercapai, dan dipastikan akan terlampaui. Mau tidak mau, seluruh teknologi PC harus segera beralih ke 64-bit untuk mengantisipasinya. Batas akses memori untuk 64-bit secara teoritis adalah 2 pangkat 64 bytes yang setara dengan 16 Exabytes (16 juta GB).

Sistem komputer 64-bit harus mencakup keseluruhan hardware dan software, secara sederhana adalah prosesor, sistem operasi, dan aplikasi. Prosesor Intel dan AMD yang dirilis dalam sepuluh tahun terakhir sudah bisa dipastikan mendukung 64-bit. Sistem operasi MS Windows mulai mendukung 64-bit sejak tahun 2005 (Windows XP), Apple MacOS X mendukung 64-bit sejak tahun 2003 (versi 10.3 “Panther”), sedangkan sistem operasi open source seperti Linux dan BSD sudah mendukung 64-bit sejak tahun 2001, karena tinggal mengompilasi ulang kode kernel yang sudah ada. Nah, untuk aplikasi, khususnya pada sistem operasi MS Windows, masih banyak yang belum mendukung 64-bit, namun demikian aplikasi 32-bit masih dapat dijalankan di sistem 64-bit tanpa masalah. Adapun aplikasi open source di sistem operasi open source umumnya sudah mendukung 64-bit murni karena langsung dapat dikompilasi ulang untuk mendukung 64-bit.

Lalu, apa keunggulan sistem 64-bit dibandingkan 32-bit? Yang paling pertama nampak adalah dukungan untuk memori sistem di atas 4 GB. Pada komputer dengan RAM 4 GB atau lebih, jika dipasangi sistem operasi (MS Windows) versi 32-bit, memori sistem hanya akan terbaca 3 GB. Sebenarnya, pada prosesor Pentium II dan seterusnya ada teknologi PAE (Physical Address Extension) yang memungkinkan akses memori di atas 4 GB, namun banyak driver dan aplikasi yang mengakses kernel yang tidak mendukung teknologi ini. Yang harus diperhatikan saat memilih menggunakan sistem operasi 64-bit adalah driver (harus versi 64-bit) dan aplikasi sistem, seperti antivirus dan utilitas sebaiknya juga menggunakan versi 64-bit. Aplikasi lainnya masih bisa menggunakan versi 32-bit. Aplikasi 64-bit tidak semuanya bekerja lebih baik/cepat dibandingkan 32-bit. Aplikasi encoder, decoder, dan enkripsi bekerja lebih baik di 64-bit, sementara aplikasi grafis 3 dimensi tidak menunjukkan perbedaan kinerja antara versi 32-bit dan 64-bit. Bahkan, aplikasi 64-bit mempunyai sedikit kekurangan dalam hal penggunaan memori yang lebih banyak dibandingkan versi 32-bit.

Jadi, apakah Anda harus menggunakan sistem (operasi) 64-bit? Jawaban sederhananya adalah: apakah sistem Anda memiliki atau akan memiliki memori (RAM) 4 GB atau lebih? Jika ya, maka sistem operasi 64-bit adalah keharusan dan jika tidak, maka menggunakan versi 32-bit akan lebih bijaksana. Untuk aplikasi, secara umum tidak ada masalah kecuali untuk driver dan aplikasi sistem/utilitas. Hanya, patut diingat bahwa aplikasi 64-bit murni akan lebih baik karena tidak menggunakan emulasi saat dijalankan pada prosesor dan sistem operasi 64-bit. Apalagi, harga yang harus dibayar juga relatif sama. Namun, tentu saja, pilihan akhir tetap di tangan Pengguna.

Fujitsu Rilis Netbook MeeGo, Acer dan Samsung Siapkan Chromebook

Produsen notebook/netbook Fujitsu merilis netbook baru, Lifebook MH330, yang mempunyai opsi  sistem operasi MeeGo, di samping MS Windows 7 Starter. MeeGo adalah sistem operasi berbasis Linux, yang dikembangkan untuk perangkat bergerak, mulai handphone, tablet, hingga netbook. MeeGo dikembangkan oleh Linux Foundation dan disponsori oleh Intel dan Nokia. Pada dasarnya, MeeGo merupakan gabungan dua proyek embedded Linux yaitu Nokia Maemo dan Intel Moblin. Dalam prosesnya, sejumlah perusahaan bergabung, di antaranya Novell dan AMD. Namun, setelah Nokia dan Microsoft mengumumkan kerja sama untuk mengembangkan Handset berbasis Windows Phone 7, masa depan MeeGo mulai diragukan. Agaknya, rilis Fujitsu ini bisa menjadi awal dari pengembangan MeeGo selanjutnya. Versi MeeGo yang terinstalasi dalam netbook Fujitsu dikembangkan oleh Linpus. Dalam pameran NIX 2011 yang berakhir kemarin, MH330 versi MeeGo dijual seharga Rp 2,55 juta.

Tampilan MeeGo untuk Netbook

Tampilan MeeGo untuk Netbook (Wikipedia)

Di sisi lain, Acer dan Samsung disebut akan segera merilis Chromebook pada pertengahan bulan Juni 2011, sebuah netbook berbasis Google ChromeOS, yang prototipenya dikenal sebagai Cr-48. ChromeOS berbeda dengan Android, OS lain yang dikembangkan Google, karena tampilan utamanya adalah serupa browser Google Chrome. Jadi, seluruh aktivitas netbook dilakukan dari dalam browser. Semua aplikasi yang digunakan berbasis web, sebagian besar menggunakan layanan Google seperti Gmail, Docs, Calendar, YouTube, dan tentu saja Google Search Engine. Kabarnya, Google akan menawarkan layanan tambahan seperti NetFlix dan Hulu dan Chromebook akan ditawarkan dengan harga sekitar US$349 atau dengan berlangganan tiap bulan sebesar US$28 untuk bisnis dan US$20 untuk perorangan selama tiga tahun, sudah termasuk layanan internet 100 MB (dari Verizon). Selama masa kontrak, pemilik Chromebook akan menerima upgrade dan service gratis.

Tampilan Google Chrome OS 0.12.433.35 pada Google Cr-48 Notebook

Tampilan Google Chrome OS 0.12.433.35 pada Google Cr-48 Notebook (Wikipedia)

Modem Mobi Pantech PX-500

Sudah lama sebenarnya Penulis mengincar modem broadband yang murah meriah. Namun, mengingat kondisi, selama 2 tahun belakangan ini Penulis harus puas menggunakan hape modem Haier C700 dari Smart dengan teknologi CDMA 2000 1x kecepatan maksimum 153,6 kbps dengan tarif 45 ribu/bulan (unlimited). Saking intensnya pemakaian, baterai aslinya sudah menderita “obesitas” dan harus pensiun dini. Saat berjalan-jalan di pameran komputer pekan kemarin, Penulis menemukan tawaran menarik, modem Mobi Pantech PX-500 dengan teknologi CDMA EVDO Rev. A kecepatan 3,1 mbps ditawarkan dengan harga hanya 99 ribu saja. Modem yang ditawarkan menggunakan koneksi PCMCIA/PC Card (bukan USB), yang hanya terdapat di laptop keluaran lama, koneksi ini sudah digantikan Express Card di laptop keluaran baru. Untungnya, laptop Penulis memang sudah cukup “uzur” (3 tahun) sehingga bisa menggunakan modem ini. Setelah sempat memburu dari Yogya ke Semarang, modem ini pun terbeli, hanya dengan syarat membeli juga voucher Fren senilai 100 ribu, sehingga total harganya 199 ribu.

Modem Mobi Pantech PX-500 PCMCIA (PC Card)

Modem Mobi Pantech PX-500 PCMCIA (PC Card)

Paket penjualan modem ini terdiri atas: modem ybs, CD driver, buku manual, dan selembar pemberitahuan untuk mengaktifkan modem via SMS. Sebelum memulai, Penulis menyarankan untuk mengakses laman mengenai modem ini di situs Mobi dan mengunduh sejumlah pelengkap seperti driver untuk Windows 7, software pengubah paket regular ke unlimited, soft copy manual, panduan aktivasi, dan panduan mengubah paket regular ke unlimited. Langkah berikutnya adalah menginstalasi Access Manager modem ini sesuai sistem operasi yang digunakan (Windows XP/Vista/7). Access Manager untuk Windows XP/Vista ada dalam CD, untuk Windows 7 dapat diunduh pada laman di atas. Pada saat menginstalasi Access Manager, modem JANGAN dipasang terlebih dahulu. Setelah selesai instalasi, bukalah aplikasi Access Manager, akan muncul wizard setting. Saat diminta untuk memasang modem, barulah modem dimasukkan ke dalam slot PCMCIA. Apabila modem terdeteksi, maka driver akan terpasang secara otomatis dan tampilan aplikasi Access Manager akan menampilkan jendela (tab) koneksi internet.

Langkah berikutnya adalah melakukan aktivasi. Modem dikoneksikan ke Fren menggunakan aplikasi Hyper Terminal (Start, Accessories, Communication pada Windows XP). Tanpa membuat new connection, pilih Pantech PC Card (UDP) pada Properties. Kemudian, pada tab Settings, klik ASCII Settings, lalu cek pada pilihan “Echo typed characters locally” dan klik OK. Lalu, tes koneksi dengan mengetik perintah at , yang seharusnya direspon “OK”. Koneksi ke 888 dengan mengetikkan perintah “at+cdv=888”, tunggu sampai respon “OK” diterima. Kemudian, pada Access Manager klik tombol/icon TXT pada toolbar. Pada bagian “Compose” masukkan nomor “4444” pada field “To:”. Pada bagian isi SMS ketikkan “DAFTARNama#Nomer KTP/SIM/Paspor#Alamat, Kota, Kode Pos#Tanggal lahir (format: 01-01-1980), Contoh: DAFTAR Joko Ndo#1.23.456.789#Jl. Pelan Pelan, Banyakorang, 12345#12-12-1912, lalu klik tombol Send. Tunggu sampai menerima balasan yang kira-kira seperti ini: Pendaftaran nomor Anda telah selesai. Bersama ini Anda menyatakan bahwa Anda telah memberikan data sesuai identitas. Terima kasih. Jika pesan yang diterima seperti ini: Maaf, aktifasi tidak berhasil. Aktifkan melalui SMS ke 4444, format: DAFTAR Nama#No KTP/SIM/PASPOR#Alamat,Kota,Kodepos#Tgl lahir (dd-mm-yyyy). Info hub 888, maka terdapat kesalahan dalam format SMS, silakan coba lagi. Jika tidak ada respon, coba diskonek dan konek kembali di Hyper Terminal.

Selanjutnya, Anda bisa membuat koneksi baru di Access Manager dengan memilih menu Tools, Dialup Accounts, Add Wireless. Lalu masukkan nama koneksi (Mobi), nomor dial (#777) username dan password (dapat ditemukan di tutup box kemasan modem, tertutup stiker). Cobalah koneksi ke Mobi, dan mulai berinternet. Pada paket perdana ini ada bonus 1 GB data, untuk mengecek sisanya kirim SMS “cek” ke 999.

Penulis juga mencoba mengonfigurasi modem ini di Linux. Ternyata, pada distro Ubuntu 10.04 LTS dan 10.10 modem ini otomatis dikenali dan kita tinggal membuat koneksi baru dan mengisikan username dan password. Untuk penggunaan lanjut, seperti mengubah paket Reguler ke Unlimited akan dibahas pada kesempatan lain.

UPDATE:

Mengubah Reguler ke Unlimited (mengubah username dan password pada modem):

  1. Siapkan voucher Fren, pasang dan koneksikan modem
  2. Isi pulsa sesuai paket yang diinginkan (Rp 50/100/150/250 ribu) dengan mengirimkan SMS ke 999 dengan format ISI
  3. Daftarkan paket unlimited sesuai keinginan dengan mengirimkan SMS ke 777 dengan format REG UNL50/UNL100/UNL150/UNL250
  4. Anda akan mendapat balasan sebagai berikut:
    Selamat menikmati M8 unlimited-mobi-100 s/d 11/05/2011 23:59:59.User :0889xxxxxxx@unlimited, passwd: xxxxxx. Harap setting pada modem anda.info 888/08881856868
  5. Download aplikasi USB_SIP dari situs Mobi (link di atas) berupa file USB_SIP2.zip.
  6. Diskonek jaringan dan tutup aplikasi Access Manager
  7. Matikan/nonaktifkan sementara aplikasi antivirus (Real Time Protection)
  8. Ekstrak file USB_SIP2.zip yang baru diunduh. Eksekusi file hasil ekstrasi. Akan muncul tampilan Mobi Superbank lengkap dengan username dan password Anda saat ini.
  9. Ganti username dan password di tampilan dengan yang Anda dapatkan dari SMS pada poin 4. Pastikan opsi 1xEVDO terpilih
  10. Klik tombol Write to Modem
  11. Jika berjalan lancar, akan muncul tulisan Complete Without Errors
  12. Klik tombol Write to Modem sekali lagi. Untuk mengecek, klik tombol Read from Modem
  13. Tutup aplikasi Mobi Superbank
  14. Buka aplikasi Access Manager, ganti username dan password pada koneksi MOBI dengan yang didapat dari SMS pada pon 4
  15. Anda bisa mulai menikmati Mobi internet unlimited!

UPDATE LAGI:

Terhitung tanggal 1 Mei 2011, layanan internet Mobi dari Fren bergabung dengan Smart menjadi layanan data SmartFren ConneX. Semua ketentuan dan setting terdahulu sudah berubah total. Untuk bisa menggunakan layanan SmartFren Connex, maka nomor Mobi harus didaftarkan dulu di situs Smart Customer Data Service. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Akses situs http://data.smartfren.com
  2. Langsung klik pada link Request Password
  3. AKan muncul form isian, masukkan nomor Mobi pada field SmartFren Number tanpa awalan angka 0 (misalkan nomor Mobi Anda 0889xxxxxxx, masukkan 889xxxxxxx pada field).
  4. Isi security code, lalu pilih opsi Password Send Mode pada via SMS dan klik tombol Send Password.
  5. Tunggu sampai Anda menerima SMS dari SmartFren berisi password
  6. Kembalilah ke tampilan awal situs http://data.smartfren.com
  7. Isikan nomor Mobi (tanpa awalan angka 0) dan password yang diterima via SMS dalam form lalu klik tombol Login.
  8. Akan ada permintaan mengubah password, klik pada link Change Password
  9. Isikan password lama, lalu password baru (harus terdiri atas huruf besar, kecil, dan angka) dua kali dan klik tombol change password
  10. Anda siap menggunakan layanan SmartFren ConneX.

Selanjutnya Anda bisa mendaftarkan layanan SmartFren ConneX via Web atau SMS. Jika menggunakan SMS, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Kirim SMS ke nomor 123 menggunakan aplikasi Access Manager dengan format seperti di bawah ini:
    • Untuk koneksi True Unlimited Reguler (153 Kbps): Data<spasi>r30
    • Untuk koneksi True Unlimited Premium (384 Kbps) Harian: Data<spasi>unl1
    • Untuk koneksi True Unlimited Premium (384 Kbps) Mingguan: Data<spasi>unl7
    • Untuk koneksi True Unlimited Premium (384 Kbps) Bulanan: Data<spasi>unl30
    • Untuk Volume Based dan yang lainnya, bisa dilihat di situs SmartFren
  2. Tunggu sampai Anda menerima SMS balasan dari SmartFren dengan format sebagai berikut:
    Anda telah berlangganan SF Connex xxxxxxx (up to xxx Kbps). Berlaku s/d xx/xx/xxxx xx:xx:xx
  3. Jika Anda sebelumnya pernah mengubah username dan password pada modem (untuk koneksi Mobi Unlimited), maka Anda harus mengubahnya kembali ke setting defaultnya (username dan password=m8) menggunakan aplikasi USB SIP, langkah-langkahnya bisa dilihat di atas.
  4. Ubah username dan password pada Connection Profile yang Anda gunakan untuk koneksi ke Mobi masing-masing menjadi m8.
  5. Koneksikan modem ke internet dan Anda bisa mulai menikmati layanan SmartFren ConneX.

Sedangkan jika menggunakan web, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Akses situs http://data.smartfren.com, lalu login dengan username dan password Anda
  2. Klik menu Buy
  3. Pilih layanan Unlimited atau Volume Based dan klik tombol Buy pada layanan yang diinginkan

Tentu saja, sebelum membeli/mendaftar layanan data SmartFren ConneX, pastikan pulsa Anda mencukupi.

Laptop Open Source

Tahukah Anda, laptop apa yang digunakan oleh Richard M. Stallman, evangelis utama free software? Ternyata bukan Dell, HP, Lenovo, atau Apple, namun YeeLoong 8089, sebuah laptop buatan Cina. Apa istimewanya laptop ini? sederhana saja. Stallman sebagai provokator terdepan free software juga mengampanyekan free/open hardware/BIOS, dan laptop ini telah dinyatakan sebagai laptop yang sepenuhnya bebas (free), mulai BIOS, kernel, drivers tanpa firmware tertutup sama sekali.

YeeLoong Notebook

YeeLoong dipersenjatai prosesor Loongson yang dirancang dan diproduksi sepenuhnya di Cina. Desainnya mengikuti prosesor Mips yang berbeda arsitekturnya dari keluarga x86 (Intel, AMD, VIA) yang biasa kita gunakan. Sebagai konsekuensinya, sistem operasi MS Windows tidak bisa dijalankan secara native. Sistem operasi utama untuk prosesor ini adalah Linux, tentunya yang dikompilasi untuk platform Mips (di antaranya Debian, Mandriva, RedFlag). Selain LInux, sistem operasi NetBSD dan OpenBSD juga bisa dijalankan. Namun demikian, sistem operasi Windows CE bisa juga dijalankan dengan sedikit modifikasi.Tertarik?

Sumber: OSNews

Ubuntu vs Vista vs Vaio

Dua minggu lalu, adik Penulis membeli laptop Sony Vaio VGN-NR285E yang sudah terinstal Windows Vista Home Premium. Penampilannya memang meyakinkan, sayang kelengkapannya sangat minimalis, tanpa user guide dan installer. Yang tersedia hanya recovery tool yang ditempatkan dalam partisi tersembunyi sebesar kira-kira 20 GB. Yah, lumayan untuk harga 8 jutaan.

Semuanya berjalan lancar sampai ketika Penulis mengusulkan untuk memasang Ubuntu (lebih tepatnya UbuntuME, Muslim Edition) di laptop tersebut. Dengan kapasitas hard drive 200 GB, tentu resource tidak menjadi masalah. Masalahnya, Penulis belum pernah menginstal Linux dual-boot dengan Vista sebelumnya, maklum agak ketinggalan kereta soal generasi terakhir Windows ini.

Akhirnya, dengan semangat opreker, misi pun dijalankan. Pertama, boot menggunakan DVD Live-Install UbuntuME 8.04.1 LTS, lancar sampai tampilan desktop Gnome. Lalu, menjalankan Gparted untuk memartisi ulang hard drive, mengambil 20 GB untuk partisi Linux. Setelah memakan waktu hampir 6 jam (mulai membaca, memindahkan partisi, sampai membuat partisi baru), akhirnya instalasi Ubuntu ME bisa dijalankan. Semuanya lancar sampai boot ulang.

Setelah boot, GRUB pun tampil, saat memilih Ubuntu, semuanya lancar dan bisa login. Boot ulang dan memilih Windows, masalah pun muncul. Dengan semangat, Recovery Tool dari Sony pun muncul sebelum Vista sempat loading. Ada empat opsi: Windows System Restore, Hardware Tools, Recovery Disc Tool, dan Data Rescue Tool.  Seingat Penulis, di Windows XP, hanya utility Chkdsk muncul karena harus memvalidasi ukuran drive yang berubah setelah partisi ulang. Opsi yang dicoba pertama, Hardware Tools memberi opsi untuk mengecek CPU dan hard drive. OK, semua dijalankan tanpa masalah. Langsung keluar dari Recovery Tool, komputer pun boot ulang. Masalah kedua muncul, GRUB error! menu pilihan OS tidak muncul. Senjata pun dihunus: Super GRUB Disk untuk memulihkan GRUB ke kondisi semula. OK, boot ulang, menu GRUB keluar, pilih WIndows lagi, dan… Recovery Tool kembali keluar.

Tiga opsi selain Hardware Diagnostic tidak dicoba karena pertimbangan: ketiga-tiganya cuma menyelamatkan data yang sebenarnya tidak rusak/hilang. Masalah hanya pada recovery tool yang menganggap perubahan partisi adalah kerusakan sistem. Setelah berunding dengan adik Penulis, diputuskan untuk kembali ke selera awal…Windows, karena keburu ingin dipakai ngenet. OK, gunakan lagi Super GRUB Disk untuk menimpa MBR (kira-kira sebanding dengan perintah: fdisk /MBR). Selesai, boot ulang, dan muncullah pesan error bahwa file WindowsSystem32WinLoad.exe tidak bisa ditemukan sehingga Windows tidak bisa loading. Weleh…

Opsi yang ditawarkan dalam pesan error adalah menggunakan DVD installer Windows Vista untuk me-repair instalasi. Mengingat laptop ini minimalis sejati, jangankan DVD Vista, CD/DVD driver pun tidak tersedia.

Di Windows XP dan sebelumnya, perintah fdisk /MBR cukup untuk memulihkan boot Windows. Percobaan dengan Super GRUB Disk untuk langsung boot ke Windows berakhir dengan tampilan Recovery Tool Sony untuk kesekian kalinya. Akhirnya, dengan berat hati Penulis pun memusnahkan partisi LInux seisinya dengan menggunakan Gparted dari SystemRescueCD (senjata kedua). Lalu, untuk menyelesaikan masalah bootloader Windows pun dilakukan dengan browsing di internet.

Alhasil, ada solusi untuk menjawab masalah dual-boot menggunakan aplikasi VistaBootPro dan EasyBCD. Tapi keduanya harus dijalankan dari Windows Vista, lha ini masuk Windows saja nggak bisa… Kemudian di situs Microsoft ditemukan soal utiliti baris perintah bcdedit untuk memodifikasi bootloader Windows Vista. Ini nampaknya yang jadi jawaban. Namun, masalah kembali muncul, bagaimana memunculkan command prompt?

Senjata ketiga pun dikeluarkan, Vista BootCD yang dulu iseng-iseng dibuat dari kreasi majalah CHIP. Vista BootCD adalah Vista LiveCD untuk keperluan administrasi sistem. Dengan menggunakan ini, kita bisa masuk ke lingkungan Vista dan menjalankan command prompt untuk menggunakan bcdedit. Ternyata ada dua parameter yang kosong (unknown) pada bootloader, yaitu device dan osdevice yang seharusnya menunjukkan partisi untuk boot dan mencari file WinLoad.exe. Setelah mengisi kedua parameter itu dengan nilai partition=C: dan boot ulang, Windows Vista pun kembali hadir dengan manisnya. Tentu saja sebelumnya melalui proses cek ulang hard drive dengan chkdsk.

Jelaslah bahwa problemnya terletak pada Sony Recovery Tool yang sangat peka, dengan menganggap perubahan partisi adalah kerusakan sistem. Pertanyaannya, apakah ini berarti laptop semacam ini tidak bisa dipasangi Linux, atau sekadar dipartisi ulang untuk memisahkan data? Ada ide?