IBM Segera Mengakuisisi Red Hat

Sebuah kabar besar dari dunia teknologi informasi, IBM akan mengakuisisi Red Hat senilai US$ 34 Miliar. Ini disebut-sebut sebagai akuisisi perusahaan perangkat lunak terbesar, mengalahkan akuisisi LinkedIn oleh Microsoft senilai US$ 26 Miliar. Dalam rilis pers resminya disebutkan bahwa IBM lebih menekankan pada bisnis cloud, tepatnya hybrid/multi cloud dari Red Hat. Meskipun demikian, reputasi Red Hat sebagai perusahaan berbasis open source (Linux) tetaplah tidak terbantahkan. Sementara di sisi lain, IBM juga banyak berperan dalam pengembangan open source dan juga Linux. Tentu saja, berita ini ditanggapi secara hati-hati di kalangan pegiat open source, terutama setelah pengalaman akuisisi SUSE oleh Novell dan Sun oleh Oracle. Belum lagi anekdot yang menyebutkan tentang tidak cocoknya identitas korporat IBM yang dikenal sebagai “The Big Blue” (biru) dengan Red Hat yang tentunya identik dengan warna merah!

(sumber: thurrott.com)

Java 11 Dirilis, Benarkah Tidak Gratis Lagi?

Oracle baru-baru ini merilis Java versi 11, sebagai kelanjutan versi 9 dan 10. Rilis kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya karena versi 11 ini dinyatakan sebagai LTS (Long Term Support). Sebagaimana diketahui, mulai versi 9, Java versi baru akan dirilis setiap enam bulan sekali, alih-alih tiga tahun seperti versi-versi sebelumnya (1 – 8). Perubahan juga terjadi pada dukungan. Jika Java (JDK/JRE) versi 1 – 8 didukung oleh Oracle (dan sebelumnya Sun) untuk semua penggunaan (pribadi/komersial) gratis dan jangka panjang (LTS). Mulai versi 11, Java yang diunduh dari situs Oracle (java.sun.com) hanya didukung (gratis) untuk penggunaan pribadi (development). Untuk penggunaan komersial (production) Oracle akan mengenakan biaya, mirip dengan skema lisensi untuk produk Oracle lainnya seperti database, middleware, dan analytics (business intelligence).

(sumber: proglib.io)

Kabar baiknya, bagi yang belum mengetahui, bahwa Java (JDK) mulai versi 7 sebenarnya sudah dirilis secara open source dengan lisensi GPL dengan nama OpenJDK. Artinya, kode sumber Java bisa diakses oleh publik dan siapapun bisa merilis JDK dari kode tersebut. Oracle menggunakan kode OpenJDK untuk membuat Oracle JDK yang menjadi standar implementasi Java. Bagi pengguna Linux pun selama ini sudah bisa memanfaatkan OpenJDK yang dipaketkan oleh distro-distro seperti RedHat, Ubuntu, Debian, atau SUSE. Dukungan untuk OpenJDK di Linux pun langsung diterima dari vendor distro masing-masing. Selama ini pun, sudah ada beberapa vendor yang merilis JDK versinya sendiri, seperti IBM, Red Hat (membutuhkan akun Red Hat), dan Azul yang bersumber dari kode OpenJDK. Nah, mulai versi 11 Oracle juga merilis versi OpenJDK-nya sendiri. Versi ini bisa digunakan untuk semua penggunaan (pribadi/komersial) tanpa membayar lisensi. Jangan lupa, AdoptOpenJDK juga menyediakan unduhan OpenJDK dengan dua versi, menggunakan JVM Oracle Hotspot atau Eclipse OpenJ9.

Kesimpulannya, Oracle JDK versi 11 tidak sepenuhnya gratis seperti versi-versi sebelumnya. Oracle sendiri merilis versi “sepenuhnya gratis” JDK yang dinamakan Oracle OpenJDK 11 (nama resminya OpenJDK Builds from Oracle). Sebagai alternatifnya (Java 11) ada AdoptOpenJDK dan Zulu dari Azul. Red Hat dan IBM sejauh ini belum merilis JDK versi 11.

Linus Torvalds Mengundurkan Diri dari Linux?

Dalam sebuah e-mail yang dikirimkan ke milis projek kernel Linux, Linus Torvalds yang merupakan pencipta Linux mengumumkan keputusannya untuk rehat sejenak dari kesibukannya mengembangkan kernel Linux. Pada saat hampir bersamaan, ia mencetuskan Linux Code of Conduct yang baru yang diadopsi dari Contributor Covenant menggantikan Linux Code of Conflict yangs selama ini dipakai.  Perubahan ini dilakukan karena Code of Conflict dirasa tidak mencapai sasarannya untuk mejadikan lingkungan pengembang Linux lebih “beradab”. Selama ini, Linus Torvalds dikenal sangat blak-blakan dalam mengomentari kontribusi para pengembang Linux, dengan menggunakan bahasa yang “kasar” (dan pecah-pecah). Hal ini dikhawatirkan akan membuat kontributor, terutama perempuan, menjadi kurang nyaman dan akhirnya menghentikan kontribusi lebih lanjut. Linus selanjutnya akan menggunakan waktu rehatnya untuk “mendapatkan bantuan tentang cara memahami emosi orang dan merespons dengan tepat”. Ia akan digantikan sementara oleh Gregory Kroah-Hartman dan akan kembali lagi pada saatnya nanti.

(sumber: Wikipedia)

Ubuntu Kini Tersedia di Microsoft Hyper-V Gallery

Microsoft nampaknya memang serius dalam usahanya PDKT ke Linux. Setelah meluncurkan Windows Subsystem for Linux (WSL), Microsoft bekerja sama dengan para vendor distro Linux untuk menyediakan installer distro Linux di Microsoft Store. Ini memungkinkan untuk menjalankan distro Linux berdampingan dengan Windows 10. Baru-baru ini, Microsoft bekerja sama dengan Canonical untuk menghadirkan image distro Ubuntu 18.0.4.1 LTS di Hyper-V Gallery. Bagi yang belum tahu, Hyper-V adalah produk Microsoft untuk manajemen Virtual Machine, seperti halnya VMware Workstation atau Oracle VM VirtualBox, yang tersedia untuk versi Pro dari Windows 8, 8.1, dan 10 menggantikan Virtual PC. Pengguna Hyper-V tidak perlu mengunduh ISO image Ubuntu terlebih dahulu, cukup menggunakan Hyper-V Quick Create (tersedia  mulai Windows 10 versi 1709) lalu memilih opsi yang tersedia, lalu image Ubuntu akan diunduh langsung dari Microsoft.

Hyper-V Gallery (sumber: blogs.windows.com)

 

Mengunduh Ubuntu 18.0.4.1 LTS Hyper-V image