Windows 10 LTSB, Windows Minimalis

Microsoft Windows sampai saat ini tetap menjadi sistem operasi yang dominan dalam penggunaannya di platform komputer pribadi (PC). Dengan pangsa pasar sekitar 90%, Windows telah mempertahankan posisi dominannya selama sekitar 20 tahun. Namun demikian, posisi dominannya belakangan mulai terusik. Pertama, semakin populernya platform mobile (smartphone dan tablet) di kalangan pengguna, yang kebanyakan menggunakan sistem operasi Google Android dan Apple iOS, membuat dominasi Microsoft secara keseluruhan menjadi terdistorsi. Apalagi, tawaran Microsoft di platfrom mobile, Windows Phone dan RT tidak mendapat sambutan yang menggembirakan. Kedua, versi terbaru dari Microsoft Windows, mulai versi 8 banyak mendapatkan kritikan karena upaya Microsoft untuk “menyatukan” platform mobile dan desktop di dalamnya. Masuknya aplikasi “Metro”, Windows Store, Cortana, dan meningkatnya aktivitas “spying” di dalamnya membuat sebagian pengguna menjadi ragu-ragu untuk memperbarui sistem mereka. Apalagi, Windows 10 pada awalnya ditawarkan, bahkan dipaksakan untuk otomatis memperbarui sistem operasi versi lama (Windows 7/8.x) di perangkat penggunanya. Sistem update di Windows 10 juga jauh lebih disederhanakan, yang berarti pengguna tidak lagi mengetahui detail tiap file update dan tidak bisa mengganti setelan update otomatis yang standar.

Namun sebenarnya Microsoft juga sadar bahwa segmen pengguna mereka juga meliputi kalangan korporat yang menginginkan keleluasaan dalam mengatur pembaruan sistem Windows. Oleh karena itu, Microsoft juga merilis versi Windows 10 Enterprise, selain versi Konsumer (Home/Pro) dan Pendidikan (Education). Ada tiga cabang menurut kecepatan pembaruannya: Current Branch (CB), Current Branch for Business (CBB), dan Long Term Servicing Branch (LTSB). Pembaruan akan langsung tersedia untuk CB, baru kemudian untuk CBB dan LTSB. Pengguna yang mengaktifkan opsi Defer Updates and Upgrades dianggap masuk ke jalur CBB. Sementara jalur LTSB hanya diperbarui dalam jangka waktu yang panjang, setahun atau lebih.

(Sumber: urtech.ca)

Menariknya, versi LTSB dari Windows 10 Enterprise ini bisa dibilang versi minimalis, dengan menghilangkan sejumlah fitur seperti Microsoft Edge, Windows Store client, Cortana (kemampuan search terbatas masih tersedia), Microsoft Mail, Calendar, OneNote, Weather, News, Sports, Money, Photos, Camera, Music, dan Clock. Anda harus menggunakan aplikasi “klasik” seperti Internet Explorer, Photo Viewer , dan Media Player untuk menggantikan fungsi aplikasi yang tidak disertakan. Bahkan Calculator yang disediakan adalah versi yang sama dengan Windows 7. Coba perhatikan tampilan desktop Microsoft Windows 10 Enterprise LTSB di bawah ini.

(sumber: HowToGeek)

Microsoft menyatakan bahwa Windows 10 Enterprise LTSB ini hanya digunakan untuk sistem khusus seperti peralatan medik, ATM, dan Point of Sales, bukan untuk pengguna umum. Namun bagi Anda yang ingin mencobanya silakan mengunjungi TechNet Evaluation Center. Anda harus memiliki akun Microsoft untuk bisa mengunduh. Ada pilihan Enterprise (CBB) dan LTSB, 32 dan 64-bit.

Iklan

CloudReady, ChromiumOS for Everyone

Google Chromebook adalah produk yang bikin penasaran Penulis (selain Microsoft Surface), karena memang tidak dirilis resmi di Indonesia. Terlebih lagi sistem operasinya, ChromeOS, yang tidak dirilis secara bebas, meskipu berbasis distro Gentoo Linux. Memang kode sumbernya yang dinamakan ChromiumOS dapat diunduh bebas dari repositorinya, namun tentu saja masih dibutuhkan kemampuan untuk menjadikannya sistem operasi yang siap pakai. Selama ini ada beberapa “distro” ChromiumOS yang ada: Hexxeh, ArnoldTheBats, dan Dell. Dari ketiganya, hanya ArnoldTheBats yang masih aktif. Bahkan CubLinux (d.h. Chromixium) yang menawarkan tampilan ChromeOS di atas Ubuntu juga telah lama tidak diperbarui. Namun demikian, belakangan muncul dua proyek baru yang mengoprek ChromiumOS, yaitu: CloudReady dan NayuOS. Jika NayuOS ditujukan sebagai sistem operasi alternatif bagi Chromebook, maka CloudReady bisa mengubah hardware Anda menjadi Chromebook hanya dengan menggunakan satu USB flashdrive. Anda bisa memulai dengan mengunduh versi terbarunya kemudian menggunakan Chrome Recovery Utility untuk menulis image hasil unduhan ke USB flashdrive. Setelah selesai, boot ulang menggunakan USB flashdrive itu. Anda langsung bisa menggunakan CloudReady alias ChromiumOS.

(Sumber: chrome.google.com)

Jika hardware Anda mendukung, CloudReady juga bisa dikonfigurasikan dual-boot bersama Windows. Anda bisa terus menggunakan CloudReady dari flashdrive atau menginstalasikannya ke dalam hard drive. CloudReady dapat digunakan gratis, namun untuk mendapatkan dukungan Anda bisa menghubungi Neverware untuk paket dukungan berbayar.

(Sumber: arstechnica.com)

Memperbaiki Windows 7 Update yang “Stuck”

Pernahkah Anda mengalami instalasi Windows 7 Anda tidak bisa di-update akhir-akhir ini? Tampilan Windows Update Anda terus-menerus melakukan check update selama berjam-jam tanpa henti tentu mengesalkan. Ternyata hal ini ada hubungannya dengan dirilisnya sistem operasi terbaru Microsoft yaitu Windows 10 yang menyebabkan server Windows Update mengalami perubahan konfigurasi yang memrioritaskan pengguna Windows 10 dibandingkan Windows 7. Untuk memperbaikinya, ada beberapa patch yang harus dipasang pada instalasi Windows 7, tepatnya tiga file update (KB3020369, KB3172605, KB3102810), Windows Update Agent/Client, dan tool Microsoft Fix it 50202 . Windows 7 Service Pack 1 harus sudah terinstalasi sebelumnya, sesuaikan juga versi Windows 7 Anda, 32 atau 64 bit. Kelimanya harus diinstalasikan dengan berurutan sebagai berikut: Microsoft Fixit (gunakan opsi agresif), Windows Update Agent, KB3020369, KB 3172605, KB3102810. Lakukan restart jika diminta. Seorang user di Microsoft Community dalam artikelnya menyediakan unduhan lengkap dari file-file di atas beserta batch file untuk mengotomasi instalasi patch tersebut.