A Passage to Bangkok (and Pattaya)

Setelah tujuh tahun berlalu, akhirnya Penulis punya kesempatan lagi untuk “kesasar” ke luar negeri.Setelah episode Jerman yang Bukan Jejer Kauman, kali ini kota Bangkok dan Pattaya di negara Thailand yang jadi tujuan. Acara outing kantor kali ini memang lain daripada yang biasa. Dengan sedikit bantuan dari sponsor, akhirnya sampailah kami di Thailand untuk bertualang selama lima hari. Penerbangan ke Bangkok selama tiga jam berakhir di bandara Svarnabhumi pada pukul 22.30 malam. Proses imigrasi yang sedikit terhambat membuat kami baru keluar bandara pukul 23.30. Alhasil, perjalanan ke hotel menjadi terasa sangat panjang dan melelahkan. Setiba di hotel sekitar pukul 00.30, perjalanan esok harinya akan dimulai pukul 08.00.

Exif_JPEG_420

Taksi Air di Bangkok

Hari kedua dihabiskan dengan mengunjungi dua vihara terkenal di Bangkok, Wat Pho, alias vihara Budha Tidur, dan Wat Arun. Perjalanan ke Wat Pho mengenalkan kami pada kemacetan kota Bangkok yang tidak kalah dengan Jakarta. Untuk menuju ke Wat Arun, dari Wat Pho kami harus menyeberangi sungai Chao Praya dengan perahu. Sayangnya, saat ini Wat Arun masih dalam proses renovasi sehingga kami tidak bisa menjelajah dengan leluasa. Namun demikian, tempat belanja di belakang Wat Arun menjadi pengobat yang tepat. Pedagang-pedagang di sini nampaknya sudah mengenali turis asal Indonesia. Bukan hanya mereka mampu berbicara dalam Bahasa Indonesia, mereka juga menerima Rupiah sebagai sarana pembayaran! Setelah makan siang, kami langsung bertolak ke Pattaya. Perjalanan Bangkok – Pattaya memakan waktu sekitar dua jam. Setelah menghabiskan sore menyusuri tepian pantai Pattaya (yang menurut Penulis tak jauh berbeda dengan Ancol), malamnya dihabiskan dengan mengunjungi museum Art in Paradise yang menampilkan lukisan tiga dimensi. Tak terasa waktu bergulir untuk berpose di antara lukisan-lukisan dalam museum tersebut. Setelah itu, masih ada sedikit waktu untuk menikmati suasana malam di Pattaya yang jauh lebih meriah dibandingkan siangnya.

Exif_JPEG_420

Duhai Pantai Pattaya…

Hari ketiga, kami mengunjungi beberapa tempat di sekitar Pattaya: galeri batu perhiasan, pasar terapung, dan peternakan lebah. Di galeri batu perhiasan, kami dipertunjukkan proses penambangan dan pengolahan batu perhiasan menggunakan kereta mini, bak istana boneka di Dunia Fantasi. Pasar terapung  Pattaya dibangun di atas danau, dengan beberapa pedagang berjualan di atas perahu. Di peternakan lebah, kami dipandu oleh karyawan setempat dengan bahasa Indonesia dialek Thailand, tentang keunggulan produk madu Thailand yang dihasilkan dari ekstrak bunga Opium (!) yang ditanam di kawasan segitiga emas (bukan di Pasar Senen tentunya). Untuk makan siang, kami menuju kompleks agrowisata Noongnooch untuk menonton pertunjukan seni budaya Thailand dilanjutkan atraksi gajah Thailand. Lumayan puas menonton gajah beraksi: main sepakbola, basket, melukis, menari, dan melangkah melewati penonton-penonton yang berbaring di tengah arena. Perjalanan ke Bangkok diselingi kunjungan ke toko makanan dan suvenir khas Thailand. Namun pertunjukan terbesar belum lagi dimulai, kemacetan yang kembali kami alami saat kembali ke Bangkok membuat perjalanan molor 3 jam! Setidaknya ada penjelasan bahwa kami terjebak arus perjalanan menjelang “long weekend” karena hari Jumat tanggal 12 Agustus adalah hari libur nasional di Thailand bertepatan Ulang Tahun Ratu Sirikit. Alhasil, makan malam baru terlaksana sekitar pukul 22.00.

Exif_JPEG_420

Sentuhan Gajah

Hari keempat dihabiskan sepenuhnya di tempat belanja. Dimulai pagi hari di Platinum Mall yang diselingi salat Jumat di masjid Darul Aman. Untuk mencapai masjid ini kami harus berjalan melalui kedutaan besar Indonesia untuk Thailand. Menariknya, khotbah Jumat disampaikan dalam multibahasa, diakhiri dalam Bahasa Indonesia. Suasana pusat perbelanjaan di Tahiland mengingatkan kami pada Indonesia, khususnya Mangga Dua. Selepas dari Platinum Mall, dilanjutkan ke MBK (Mahboonkrong) Center. Selepas makan malam, wisata belanja diakhiri di Asiatique. Hari kelima dan terakhir dihabiskan dengan persiapan untuk penerbangan pulang ke Jakarta. Hujan deras pun menyambut kepulangan kami ke Jakarta malam Minggu itu. (…Hujan di malam minggu…Aku tak datang padamu…)

Exif_JPEG_420

Asiatique Giant Wheel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s