Pro dan Kontra Windows 10: Mata-mata Microsoft?

Sudah hampir empat bulan sejak Microsoft Windows 10 dirilis. Bulan November ini bahkan sudah dirilis update yang “signifikan”, dikenal dengan istilah “Threshold 2” atau “Build 10586”. Berbeda dengan rilis-rilis sebelumnya, Windows 10 mendapat banyak perhatian karena selama setahun sejak tanggal rilisnya akan tersedia sebagai upgrade gratis bagi pengguna Windows 7 dan 8.x. Selain itu, proses pengembangan Windows 10 juga lebih terbuka, dengan program Windows Insider.

windows-10-is-spying-on-every-user-but-theres-a-way-out

(Sumber: hackread.com)

Namun, selain antusiasme dan komentar positif dari para penggunanya, Windows 10 juga banyak dikritik karena fitur Windows Telemetry, Iklan di Start Menu, dan pengiriman data ke Microsoft secara otomatis. Begitu pun bagi pengguna Windows 7 dan 8.x yang tidak ingin melakukan upgrade ke Windows 10 pun merasa terganggu dengan tampilan GetWindows10 app dan bahwa file-file upgrade Windows 10 diam-diam diunduh ke hard drive tanpa seizin pengguna, walaupun mereka tidak menginginkan upgrade/melakukan reserve di GetWindows10 app. Sementara itu, fitur-fitur Windows Telemetry dan Tracking diam-diam sudah disisipkan ke dalam Windows 7 dan 8.x lewat Windows Update.

Untungnya, ada cara untuk mengatasi masalah-masalah di atas, sebagian di antaranya masih manual, namun sebagian lagi sudah menggunakan tool/aplikasi khusus yang mudah digunakan:

  1. Bagi yang ingin menghindari tampilan GetWindows10 app bisa menggunakan GWX Control Panel, yang juga akan menghapus file-file installer Windows 10 yang diam-diam diunduh ke hard drive Anda.

    GWX Control Panel
  2. Untuk menghapus fitur Windows Telemetry dan Tracking di Windows 7 dan 8.x, ada beberapa prosedur (manual) yang harus dilalui, seperti menghapus beberapa update Windows, menghapus beberapa service, memodifikasi registry, menghapus task di scheduler, dan mengeblok host dan IP address tertentu. Selengkapnya bisa dibaca di blog Alaya.
  3. Bagi yang sudah menginstalasi Windows 10 dan ingin menghapus/menonaktifkan fitur Windows Telemetry dan Tracking bisa menggunakan dua tool gratis dari O&O dan Ashampoo. Kedua tool ini akan secara otomatis mengeset/menonaktifkan fitur-fitur Windows Telemetry dan Tracking dalam beberapa level. Sebuah tool open source, Disable Windows 10 Tracking, bahkan memodifikasi file HOSTS dan setting firewall anda untuk mengeblok domain dan alamat IP tertentu.
    O&O ShutUp10

    Ashampoo AntiSpy for Windows 10

    Disable Windows 10 Tracking
Iklan

Bekerja dengan MS Office dan Google Drive (Docs)

Microsoft Office adalah aplikasi “wajib” bagi pengguna sistem operasi MS Windows. Bundel aplikasi ini digunakan untuk mengolah dokumen, lembar kerja, presentasi, yang banyak dibutuhkan di perkantoran, juga di dunia pendidikan. Para mahasiswa mulai dekade 90-an pasti mau tidak mau harus mengakrabi aplikasi ini untuk mengerjakan tugas kuliah dan skripsi. Dominasi Microsoft Office belum tergoyahkan sampai saat ini dan masih menjadi “cash cow” bagi Microsoft selain Windows. Kompetitor MS Office cukup banyak, mulai dari Lotus SmartSuite (dibeli IBM, sekarang diskontinyu), WordPerfect Office (berganti-ganti pemilik, mulai Novell sampai Corel), StarOffice (diakuisisi Sun, yang kemudian diakuisisi Oracle, sekarang diskontinyu). OpenOffice (versi open source dari StarOffice, sekarang di bawah Apache Project), LibreOffice (fork dari OpenOffice) dan beberapa nama lain seperti SoftMaker dan Kingsoft.

Memasuki era online dan mobile, muncullah Google sebagai pemain besar. Bukan hanya sebagai penyedia layanan web, Google juga meluncurkan sejumlah aplikasi untuk menyaingi hegemoni Microsoft, seperti Chrome OS, Android, dan Google Docs/Google Drive. Google Docs adalah bundel aplikasi web untuk perkantoran yang diintegrasikan dengan layanan penyimpanan file Google Drive. Pada awal kemunculannya di tahun 2007, Google Docs sempat dikritik karena dianggap sebagai “mainan” yang jauh dari fungsionalitas aplikasi perkantoran seperti Microsoft Office. Baru setelah popularitas mobile platform seperti Android membuat aplikasi berbasis web mulai dipandang serius. Microsoft pun akhirnya meluncurkan Office Online sebagai versi web dari Microsoft Office. Google Docs menggunakan format file yang berbeda dari aplikasi perkantoran lainnya.  (sumber: szlifestyle.com)

Meskipun Microsoft Office dan Google Docs/Drive saling bersaing, keduanya bisa “bekerja sama”. Hal ini dibutuhkan untuk mereka yang menggunakan Microsoft Office di desktop dan Google Docs dan Google Drive untuk berkolaborasi secara online. Ada tiga cara agar keduanya bisa digunakan bersama-sama:

  1. Instalasi Google Drive for PC/Mac
    Cara pertama yang umum digunakan adalah melakukan instalasi Google Drive for PC/Mac. Instalasi aplikasi ini akan mengeset sebuah “shared folder” dalam sistem yang akan tersinkronisasi dengan Google Drive. Perubahan yang dilakukan dalam folder lokal akan mengubah folder online, dan sebaliknya. (sumber: CNet)
  2. Instalasi Ekstensi Chrome Office Editing for Docs
    Cara kedua adalah melakukan instalasi ekstensi Office Editing for Docs untuk browser Google Chrome. Instalasi ekstensi ini menyebabkan file-file Microsoft Office yang disimpan di Google Drive dapat dibuka/diedit menggunakan Google Docs. (sumber: chrome.google.com)
  3. Instalasi Google Drive plug-in for Microsoft Office
    Cara ketiga (dan terbaru) adalah dengan melakukan instalasi Google Drive plugin for MS Office. Instalasi plugin ini akan menambahkan fungsi-fungsi Google Drive ke dalam aplikasi Microsoft Office (Word, Excel, PowerPoint), seperti open, save, share, rename, dan move. (sumber: googledrive.blogspot.com)

Google Akan Melebur Chrome OS ke Android?

Dirilisnya Pixel C (berbasis Android) oleh Google baru-baru ini menimbulkan spekulasi bahwa Chrome OS, yang selama ini hanya didapatkan preinstalled dalam Chromebook akan segera dihentikan, dan digabungkan dengan Android (tautan berbayar). Spekulasi ini sudah lama beredar, saat Sundar Pichai menggantikan Andy Rubin untuk mengepalai divisi Android di tahun 2013 , Pichai bahkan sekarang menjabat CEO Google setelah reorganisasi yang ditandai pembentukan holding company Alphabet. Aplikasi Android pun sebagian di antaranya sudah bisa dijalankan di Chrome OS menggunakan teknologi Native Client (NaCl).

(sumber: TechGadgetCentral.com)

Integrasi ini ditengarai karena popularitas Android di platform mobile, embedded, dan wearables. Beberapa vendor telah mencoba menawarkan Android di platform desktop dalam bentuk hybrid device seperti Asus Transformer Pad. Selain itu, adopsi Chromebook (dan Chrome OS) dinilai terlalu lambat. Kabar ini pun langsung dibantah oleh Google. Selain terus mengembangkan Chromebook, Google akan menggunakan Chrome OS dalam perangkat seperti Chromecast dan Chromebit.

 Pixel C (Sumber: pixel.google.com)

Terlepas dari kabar (burung) tersebut, strategi Google dengan kedua sistem operasi ini memang patut ditunggu, apakah tetap seperti sekarang, seperti Apple dengan OS X dan iOS (dan WatchOS), atau mencoba strategi Microsoft dengan Universal Windows Platform (UWP) a.k.a Universal Apps. Android yang berjalan di semua platform otomatis membuat aplikasinya tersedia di semua platform (secara teori). Tentu saja dalam praktiknya tidak sesederhana itu. Tiap platform mempunyai batasan-batasan tersendiri, bukan hanya ukuran display.

Microsoft Berpartner dengan Red Hat

Melanjutkan “pendekatan” dengan Linux, Microsoft baru-baru ini mengumumkan kerja sama dengan Red Hat untuk menghadirkan solusi bagi perusahaan yang ingin menggunakan solusi Red Hat di cloud. Bentuk kerja sama Microsoft dan Red Hat ini antara lain:

  • Solusi Red Hat tersedia secara native bagi pengguna Microsoft Azure
  • Dukungan resmi bagi produk Red Hat di Microsoft Azure
  • Akses ke teknologi .NET bagi produk-produk Red Hat
  • Manajemen workload terpadu untuk hybrid cloud deployment

(sumber: NetworkWorld)

Sebelumnya, secara resmi Microsoft Azure hanya mendukung distro Ubuntu dan SUSE. Kita tahu bahwa SUSE dulu dimiliki oleh Novell, yang menandatangani kesepakatan kontroversial soal paten dengan Microsoft, Red Hat dan Canonical (yang mengembangkan Ubuntu) terang-terangan menolak.

Sementara itu, layanan OneDrive dari Microsoft mengumumkan perubahan besar-besaran seputar kapasitas penyimpanannya, berlaku mulai awal 2016:

  • Penyimpanan gratis unlimited untuk pengguna Office 365 dihapuskan, diturunkan ke 1 TB. Bagi pengguna saat ini yang telah menggunakan di atas 1 TB , file-file masih bisa diakses selama 12 bulan.
  • Paket 100 GB dan 200 GB (berbayar) dihapuskan, digantikan paket 50 GB seharga US$ 1,99 /bulan. Penggunan paket 100 GB dan 200 GB saat ini masih bisa menggunakan layanan ini untuk seterusnya.
  • Kapasitas penyimpanan gratis bagi semua pengguna diturunkan dari 15 GB ke 5 GB, bonus camera rolling 15 GB dihapuskan. Pengguna saat ini yang telah menggunakan kapasitas di atas 5 GB masih akan bisa mengakses file-filenya selama 12 bulan.

Konon, perubahan ini dilakukan karena para pengguna Office 365 menyalahgunakan kapasitas unlimited yang didapatkan dengan menyimpan file-file berukuran besar, bahkan salah satu pengguna menggunakan kapasitas penyimpanan total mencapai 75 TB! Keputusan Microsoft ini pun menuai banyak protes dari para penggunanya.