Chromixium: Ubuntu Rasa ChromeOS

Chromebook adalah satu produk Google yang cukup membuat penasaran. Produk ini berupa notebook dengan sistem operasi yang disebut ChromeOS yang berbasis browser Google Chrome di atas userland Gentoo Linux. Aplikasi-aplikasi yang dijalankan berbasis web di atas browser Chrome. Google mengklaim Chromebook ini bebas maintenance karena ChromeOS diperbarui secara otomatis dan data-data pengguna akan otomatis dicadangkan lewat layanan cloud Google. Saat pertama diluncurkan, banyak yang pesimis dengan Chromebook karena menuntut koneksi internet agar bisa berfungsi dengan optimal, sehingga mengurangi mobilitasnya. Saat ini, banyak aplikasi Chrome bisa berfungsi tanpa harus terkoneksi internet (offline), dan rilis terakhir ChromeOS bahkan bisa menjalankan sejumlah aplikasi Android.

Chromixium_desktop

Tampilan Desktop Chromixium 1.0

Sayangnya, Chromebook tidak tersedia di Indonesia sampai saat ini. Sistem operasi ChromeOS pun tidak bisa diunduh secara bebas. Basis dari ChromeOS  yang disebut ChromiumOS memang berlisensi open source, namun tidak ada rilis resmi ChromiumOS dalam format yang siap digunakan. Selain itu, banyak bagian ChromeOS yang tidak ada di ChromiumOS karena masalah lisensi. Untunglah di dunia open source banyak inovasi yang terjadi dan akhirnya baru-baru ini telah dirilis versi 1.0 dari distro yang disebut Chromixium.  Distro ini berbasis Ubuntu LTS (14.0.4) dengan tampilan OpenBox yang dipermak agar mirip tampilan ChromeOS.

Tampilan Login

Tampilan Login

Chromixium bisa digunakan sebagai live CD/DVD/USB Flashdrive ataupun diinstalasi ke HDD/SSD. Untuk itu Anda tinggal mengunduh ISO hybrid image Chromixium (ukuran 800+ MB) dan menggunakan Unetbootin untuk membuat live USB Flashdrive. Anda juga bisa mencobanya terlebih dulu menggunakan aplikasi virtual machine seperti VirtualBox atau VMware. Kebutuhan sistem untuk Chromixium tidaklah tinggi, RAM 512 MB dan ruang disk 4 GB sudah cukup untuk menjalankannya.

Chromixium_menu_cropped

Tampilan Chromium App Launcher

Setelah terpasang, kita bisa menggunakannya sebagai ChromeOS/ChromiumOS dengan menggunakan shortcut aplikasi Google di taskbar atau menggunakan launcher. Menariknya, aplikasi non-Google bisa diakses dengan klik kanan pada desktop. DIstro ini menggunakan mekanisme yang sama dengan Ubuntu dalam segala hal. Perbedaannya jelas pada mekanisme login di ChromeOS yang menggunakan akun Google, sedangkan Chromixium masih seperti distro Linux pada umumnya.

Chromixium_openbox_menu_cropped

Tampilan Menu Utama Chromixium

UPDATE (10-03-2016):
Terhitung tanggal 17 Januari 2016 Chromixium resmi berubah nama menjadi Cub Linux setelah “diprotes” oleh Google.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s