Lisensi FWA Dicabut, Smartfren-Esia Merger?

Akhirnya peraturan Menkominfo mengenai Penataan Frekuensi 800 MHz pun dikeluarkan, yang isinya antara lain mencabut lisensi Fixed Wireless Access (FWA) yang sekarang dimiliki operator Telkom/Flexi, Indosat/StarOne, Bakrie Telekom/Esia, dan Mobile-8/Hepi. Seperti telah ramai diberitakan sebelumnya, dua operator FWA/CDMA, Telkom dan Indosat akan menutup layanan mereka yaitu Flexi dan StarOne. Hanya, selama ini yang terdengar adalah kedua operator ini yang berinisiatif menutup layanan CDMA/FWA mereka karena kalah bersaing dengan operator lain.

Seperti diketahui, layanan FWA adalah layanan telepon bergerak (seluler) dengan cakupan dan tarif layaknya telepon kabel/fixed ala Telkom. Penomoran FWA pun mengikuti penomoran telepon fixed, lengkap dengan kode daerah (SLJJ). Untuk menggunakan layanan FWA di daerah yang berlainan kodenya, misalnya handset bernomor Jakarta (021) akan digunakan di Bandung (022), tidak bisa otomatis roaming seperti layanan seluler, pengguna harus mendaftarkan nomornya terlebih dahulu via SMS.

Jika kabar tutupnya Flexi dan StarOne sudah menjadi rahasia umum sejak setahun lalu, dicabutnya lisensi Bakrie Telekom cukup mengejutkan karena meskipun selalu dikabarkan merugi, kabar Esia akan ditutup tidak terlalu gencar diberitakan. Setelah pengumuman ini tersiar kabar bahwa Esia akan bergabung dengan Smartfren sebagai satu-satunya pemegang lisensi (seluler) di frekuensi 800 MHz. Jika layanan CDMA Flexi dan StarOne akan berubah menjadi E-GSM, digabungkan dengan Telkkomsel dan Indosat, maka gabungan Esia dan Smartfren ditengarai akan menggunakan teknologi LTE.

Tren konsolidasi operator telekomunikasi seluler di Indonesia masih terus berlanjut. Pasca penataan frekuensi 800 MHz akan tersisa enam operator: Telkomsel, Indosat, XL/Axis, Three, Gabungan Esia/Smartfren, dan Sampoerna Telekom (Ceria). Masih ditunggu bagaimana nasib para pelanggan operator-operator yang dicabut lisensinya tersebut. Semoga saja ada penyelesaian yang adil bagi semua pihak.