Era Baru “Browser War”

Istilah browser war (perang peramban web) pertama dikenal di tahun 1995-1999, saat Microsoft dan Netscape memperebutkan penguasaan pangsa pasar peramban web. Di awal perkembangan World Wide Web (WWW), peramban web yang dominan adalah Mosaic yang dikembangkan NCSA. Salah satu pengembang Mosaic, Marc Andreessen mendirikan Netscape dan merilis peramban web Netscape Navigator berbasis kode Mosaic, yang kemudian mendominasi pasaran. Microsoft yang semula meremehkan potensi internet (WWW) bahkan tidak memasukkan stack TCP/IP dalam MS Windows 95, akhirnya banting stir total dan mulai mengembangkan peramban webnya, MS Internet Explorer yang berbasis kode Spyglass Mosaic. Pertarungan ini akhirnya dimenangkan Microsoft setelah Netscape diakuisisi AOL di tahun 1998. Internet Explorer pun terus mendominasi hingga 96% pangsa pasar peramban web di tahun 2002.

Namun, Netscape tidak tinggal diam. “Kekalahan” mereka membuat mereka mengubah strategi, dengan melepas kode peramban web mereka dengan lisensi terbuka (open source) dan membentuk Mozilla Foundation untuk mengembangkan peramban web baru. Pada mulanya, pengembangan Mozilla tidak berjalan mulus, kode Netscape harus dibuang dan ditulis ulang dari nol. Akibatnya, Mozilla tak kunjung stabil dan saat versi 1.0 dirilis, tidak banyak yang memperhatikan. Namun, momentum tiba-tiba berbalik, saat Microsoft memutuskan untuk menghentikan pengembangan peramban web mereka di versi 6.0, Mozilla merilis versi peramban web saja (Mozilla adalah aplikasi gabungan peramban web, e-mail, dan editor HTML) dengan nama Firefox di tahun 2004. Saat itu, Internet Explorer 6.0 banyak ditimpa masalah seputar kontrol ActiveX dan berbagai masalah yang membuatnya tidak nyaman digunakan. Firefox berhasil mencuri perhatian pengguna internet, dan mulai menandingi dominasi Internet Explorer. Setahun kemudian, Microsoft meneruskan pengembangan Internet Explorer.

Namun, perang browser tidak berhenti sampai di sini. Pengembang perangkat lunak asal Norwegia merilis peramban web Opera sejak tahun 1994. Opera tidak terlalu populer karena lisensinya komersial, namun sangat populer di platform mobile lewat versi Opera Mini. Sementara, Apple yang sebelumnya mengandalkan Internet Explorer sebagai peramban web standar di MacOS akhirnya mengembangkan peramban web sendri bernama Safari pad atahun 2003, dengan basis engine bernama Webkit, yang merupakan modifikasi cabang (fork) dari KHTML milik projek KDE (digunakan antara lain untuk peramban web Konqueror). Engine webkit inilah yang digunakan Google dalam peramban web buatannya, Chrome, yang dirilis tahun 2008.

Apple dan Google kemudian mulai mendominasi sistem operasi untuk smartphone, masing-masing dengan iOS dan Android, lengkap dengan peramban web yang berbasis Webkit. Seiring semakin populernya perangkat (gadget) berbasis iOS dan Android, yang semakin melampaui perangkat berbasis platform PC (desktop, laptop) untuk mengakses internet, dominasi Internet Explorer dan Firefox semakin tersaingi oleh Chrome dan Safari. Secara tidak langsung, Webkit menjadi engine peramban web terpopuler saat ini, jika dibandingkan dengan engine lain seperti: Trident (Internet Explorer), Gecko (Mozilla), dan Presto (Opera). Awal tahun 2013, Opera dikabarkan akan beralih menggunakan engine Webkit menggantikan Presto. Ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan dominasi Webkit yang terlalu besar mengancam terjadinya dominasi ala Internet Explorer di masa lalu.

Terlepas dari posisinya yang dominan, pengembangan Webkit yang dimulai oleh Apple mengalami banyak friksi sejak ikut sertanya Google. Banyak usulan dari Google yang ditolak oleh pengembang inti Webkit membuat perkembangan Chrome sedikit terhambat. Hingga akhirnya, Google memutuskan untuk membuat engine baru bernama Blink yang merupakan modifikasi cabang (fork) dari Webkit. Engine baru ini juga akan digunakan oleh Opera, alih-alih Webkit. Sementara itu, Samsung dan Mozilla juga mengumumkan pengembangan engine baru untuk platform mobile yang dinamakan Servo. Kehadiran dua engine baru ini secara tidak langsung akan mengurangi dominasi Webkit, terutama di platform mobile, dan kemungkinan akan menyulut perang browser era baru, hanya kali ini lebih dominan di platform mobile dibandingkan desktop, dan menitikberatkan pada engine dibandingkan aplikasi peramban webnya sendiri. Jika dulu perang browser melibatkan Netscape, MS Internet Explorer, Opera, Mozilla (Firefox), Apple Safari, dan Google Chrome, maka perang browser yang akan datang akan melibatkan Trident, Webkit, Gecko, Blink, dan Servo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s