Multiply Ditutup per 6 Mei 2013

Setelah menutup layanan social network (blog)nya pada tanggal 1 Desember 2012, Multiply secara mengejutkan menutup seluruh operasinya (termasuk e-commerce) dengan pernyataan resmi di situsnya:

Multiply akan ditutup per tanggal 6 Mei 2013

Dengan sangat menyesal, kami umumkan bahwa situs Multiply.co.id (dan Multiply.com) akan kami tutup per tanggal 6 Mei 2013 dan kami akan menghentikan semua kegiatan usaha kami per tanggal 31 Mei 2013.

Multiply.co.id akan menjalankan kegiatan seperti normal sampai tanggal 6 Mei 2013. Kami akan mempergunakan sisa waktu selama bulan Mei 2013 untuk memastikan bahwa semua hal dalam proses jual beli sudah terselesaikan dan seluruh penjual dan pembeli mendapat haknya. Juga untuk memberikan kesempatan kepada para penjual untuk memindahkan produknya ke situs e-commerce lain, menyelesaikan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan penjualan, pembayaran dan pengiriman barang, dan untuk meminimalisir gangguan terhadap operasional para penjualnya.

Kami akan menjamin seluruh hak penjual dari hasil penjualan yang sudah rampung dan sudah dikirim ke pembeli. Kami akan terus melakukan pelunasan transaksi sepenuhnya dengan batas waktu terakhir 31 Mei 2013. Kami akan menutup kegiatan jual-beli lebih awal dari tanggal tersebut, yaitu tanggal 6 Mei 2013, untuk memastikan semua pemesanan mendapatkan waktu yang cukup untuk diproses oleh para penjual.

Para penjual yang juga mungkin memiliki akun Premium, kami persilakan menghubungi Customer Service dan kami pastikan akan menerima kembali nilai nominal akun Premium yang belum habis masa berlakunya, apabila masih tersisa.

Pernyataan ini sekaligus mengakhiri riwayat Multiply yang mulai beroperasi pada bulan Desember 2003 dan sempat menjadi layanan blogging populer di Indonesia. Investor terbesar di Multiply akan mengalihkan sumber dayanya untuk dua situs e-commerce lain (TokoBagus di Indonesia dan Sulit di Philipina).

Era Baru “Browser War”

Istilah browser war (perang peramban web) pertama dikenal di tahun 1995-1999, saat Microsoft dan Netscape memperebutkan penguasaan pangsa pasar peramban web. Di awal perkembangan World Wide Web (WWW), peramban web yang dominan adalah Mosaic yang dikembangkan NCSA. Salah satu pengembang Mosaic, Marc Andreessen mendirikan Netscape dan merilis peramban web Netscape Navigator berbasis kode Mosaic, yang kemudian mendominasi pasaran. Microsoft yang semula meremehkan potensi internet (WWW) bahkan tidak memasukkan stack TCP/IP dalam MS Windows 95, akhirnya banting stir total dan mulai mengembangkan peramban webnya, MS Internet Explorer yang berbasis kode Spyglass Mosaic. Pertarungan ini akhirnya dimenangkan Microsoft setelah Netscape diakuisisi AOL di tahun 1998. Internet Explorer pun terus mendominasi hingga 96% pangsa pasar peramban web di tahun 2002.

Namun, Netscape tidak tinggal diam. “Kekalahan” mereka membuat mereka mengubah strategi, dengan melepas kode peramban web mereka dengan lisensi terbuka (open source) dan membentuk Mozilla Foundation untuk mengembangkan peramban web baru. Pada mulanya, pengembangan Mozilla tidak berjalan mulus, kode Netscape harus dibuang dan ditulis ulang dari nol. Akibatnya, Mozilla tak kunjung stabil dan saat versi 1.0 dirilis, tidak banyak yang memperhatikan. Namun, momentum tiba-tiba berbalik, saat Microsoft memutuskan untuk menghentikan pengembangan peramban web mereka di versi 6.0, Mozilla merilis versi peramban web saja (Mozilla adalah aplikasi gabungan peramban web, e-mail, dan editor HTML) dengan nama Firefox di tahun 2004. Saat itu, Internet Explorer 6.0 banyak ditimpa masalah seputar kontrol ActiveX dan berbagai masalah yang membuatnya tidak nyaman digunakan. Firefox berhasil mencuri perhatian pengguna internet, dan mulai menandingi dominasi Internet Explorer. Setahun kemudian, Microsoft meneruskan pengembangan Internet Explorer.

Namun, perang browser tidak berhenti sampai di sini. Pengembang perangkat lunak asal Norwegia merilis peramban web Opera sejak tahun 1994. Opera tidak terlalu populer karena lisensinya komersial, namun sangat populer di platform mobile lewat versi Opera Mini. Sementara, Apple yang sebelumnya mengandalkan Internet Explorer sebagai peramban web standar di MacOS akhirnya mengembangkan peramban web sendri bernama Safari pad atahun 2003, dengan basis engine bernama Webkit, yang merupakan modifikasi cabang (fork) dari KHTML milik projek KDE (digunakan antara lain untuk peramban web Konqueror). Engine webkit inilah yang digunakan Google dalam peramban web buatannya, Chrome, yang dirilis tahun 2008.

Apple dan Google kemudian mulai mendominasi sistem operasi untuk smartphone, masing-masing dengan iOS dan Android, lengkap dengan peramban web yang berbasis Webkit. Seiring semakin populernya perangkat (gadget) berbasis iOS dan Android, yang semakin melampaui perangkat berbasis platform PC (desktop, laptop) untuk mengakses internet, dominasi Internet Explorer dan Firefox semakin tersaingi oleh Chrome dan Safari. Secara tidak langsung, Webkit menjadi engine peramban web terpopuler saat ini, jika dibandingkan dengan engine lain seperti: Trident (Internet Explorer), Gecko (Mozilla), dan Presto (Opera). Awal tahun 2013, Opera dikabarkan akan beralih menggunakan engine Webkit menggantikan Presto. Ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan dominasi Webkit yang terlalu besar mengancam terjadinya dominasi ala Internet Explorer di masa lalu.

Terlepas dari posisinya yang dominan, pengembangan Webkit yang dimulai oleh Apple mengalami banyak friksi sejak ikut sertanya Google. Banyak usulan dari Google yang ditolak oleh pengembang inti Webkit membuat perkembangan Chrome sedikit terhambat. Hingga akhirnya, Google memutuskan untuk membuat engine baru bernama Blink yang merupakan modifikasi cabang (fork) dari Webkit. Engine baru ini juga akan digunakan oleh Opera, alih-alih Webkit. Sementara itu, Samsung dan Mozilla juga mengumumkan pengembangan engine baru untuk platform mobile yang dinamakan Servo. Kehadiran dua engine baru ini secara tidak langsung akan mengurangi dominasi Webkit, terutama di platform mobile, dan kemungkinan akan menyulut perang browser era baru, hanya kali ini lebih dominan di platform mobile dibandingkan desktop, dan menitikberatkan pada engine dibandingkan aplikasi peramban webnya sendiri. Jika dulu perang browser melibatkan Netscape, MS Internet Explorer, Opera, Mozilla (Firefox), Apple Safari, dan Google Chrome, maka perang browser yang akan datang akan melibatkan Trident, Webkit, Gecko, Blink, dan Servo.