Chromium OS

Pengguna internet pasti sudah mengenal browser buatan Google, yaitu Chrome. Browser yang dirilis pertama kali pada tahun 2008 ini terus menanjak popularitasnya, dalam waktu yang relatif singkat telah mencapai 25% dari pengguna di seluruh dunia. Di tahun 2009, Google memperkenalkan ChromeOS yang merupakan pengembangan dari Chrome browser, yang digabungkan dengan sistem operasi Linux. ChromeOS menjanjikan sistem operasi yang cepat dan sesuai untuk pengguna aplikasi berbasis internet/web. ChromeOS baru dirilis secara resmi pada tahun 2011 bersama dengan dirilisnya Chromebooks, yaitu laptop yang dibundel dengan ChromeOS secara default.

Tampilan ChromiumOS dengan AppDrawer dan Browser Web

Chromebooks diedarkan secara terbatas, sehingga tidak banyak yang bisa mencoba ChromeOS. Untungnya, sebagai aplikasi open source, Google merilis kode ChromeOS secara terbuka dengan nama ChromiumOS pada akhir tahun 2009. Sayangnya, sampai saat ini ChromiumOS tidak dirilis dalam format siap dipakai secara resmi (terkompilasi), hanya kode sumbernya saja. Namun demikian, sejumlah versi ChromiumOS telah beredar secara luas. Yang paling populer adalah yang dikembangkan oleh seorang mahasiswa dari Manchester, Inggris yang dikenal dengan nama Hexxeh. Selain itu tersedia juga versi yang dikembangkan untuk netbook Acer dan Dell.

Untuk mencoba ChromiumOS, hanya sebuah USB Flash Disk berkapasitas 4 GB atau lebih. Unduh paket instalasi ChromiumOS dari salah satu situs di atas, lalu ekstrak file hasil unduhan berupa file .IMG. Hubungkan USB Flash Disk berkapasitas 4 GB atau lebih ke port komputer. Pengguna Windows bisa mengunakan aplikasi Windows Image Writer yang bisa diunduh gratis. Sedangkan pengguna linux bisa langsung menggunakan perintah dd (dd if=<path file .IMG> of=/dev/sdxx ). Tunggu hingga proses transfer file .IMG ke USB Flash Disk selesai, lalu boot ulang komputer/laptop dan atur device boot agar menggunakan USB Flash Disk. Pastikan juga komputer/laptop yang digunakan tersedia jaringan wi-fi atau ethernet yang terhubung ke internet. Tanpa koneksi internet, Chromium OS tidak akan dapat digunakan. Setelah proses boot selesai, user akan dihadapkan pada layar konfigurasi.

User akan dihadapkan pada pilihan bahasa, layout keyboard, dan jaringan yang akan dipakai. Saat pertama kali digunakan biasanya harus menunggu beberapa saat sampai jaringan bisa terdeteksi. Jika jaringan wi-fi membutuhkan password, maka harus diisikan lebih dahulu. Setelah sukses terhubung ke jaringan internet, maka akan berlanjut ke konfigurasi user, yang harus memasukkan nama akun dan password layanan Google (Gmail, YouTube, Blogger, Google+, Google Apps). Setelah sukses login, user bisa memilih avatar/gambar tampilan user sebelum masuk ke ChromiumOS.

Tampilan ChromiumOS adalah seperti gambar di atas, berupa satu window browser Chromium, dan pada bagian bawah layar sebelah kiri akan tampil beberapa shortcut/icon aplikasi web, sedangkan di sebelah kanan bawah ada tampilan waktu, indikator jaringan, daya, dan avatar pengguna. Jika window browser dimaksimalkan, maka seluruh layar akan dipakai, menutupi icon dan indikator di bawah layar. Semua aplikasi Chromium OS berjalan di dalam tab browser, termasuk terminal/command prompt dan explorer. Secara umum, menggunakan ChromiumOS mirip dengan menggunakan browser Chrome. ChromiumOS mendukung ekstensi, namun sayangnya belum mendukung Flash Plugin dan mp3 yang kemungkinan disebabkan oleh sifat ChromiumOS sebagai proyek open source, tidak seperti ChromeOS yang dipakai di Chromebooks yang didukung secara resmi oleh Google. Pada laptop HP Pavillion dv6 yang digunakan Penulis, ChromiumOS berjalan lancar dan mendukung semua periferal seperti touchpad, wi-fi, dan suara. Sebelumnya, saat dicoba di netbook Dell Inspiron Mini 10, adapter wi-fi yang ada tidak dapat digunakan/tidak terdeteksi. Tulisan ini juga dibuat dari ChromiumOS.

Akhir kata, Chromium OS ini cukup memadai bagi yang hanya menggunakan komputer/laptop untuk menjelajah internet dan hanya menggunakan aplikasi-aplikasi berbasis web, seperti webmail, social networking, online storage, dan online application (Google Docs, Office 365, Zoho). ChromiumOS ini juga akan diperbarui secara otomatis seperti browser Chrome. Kelemahan terbesar ChromiumOS adalah penggunaannya mutlak harus terhubung ke internet, sehingga kurang fleksibel, dan dukungan perangkat kerasnya masih perlu ditingkatkan lagi agar bisa digunakan pada semua produk komputer/laptop yang ada di pasaran.

2 pemikiran pada “Chromium OS

  1. Sebenarnya yang sedang hangat jadi pembicaraan di Internet saat ini bukanlah browser internet besutan Google yang bernama Google Chrome, namun sebuah Sistem operasi komputer baru dari Google bernama Google Chrome OS yang rencananya akan di launching secara resmi tahun 2010 nanti. Yang menyedot perhatian banyak orang adalah Google Chrome OS bisa di pakai secara gratis, ditenggarai bahwa Google Chrome OS dibuat untuk menggeser dominasi dari Sistem Operasi Windows dari Microsoft.

  2. Ping balik: Chromixium: Ubuntu Rasa ChromeOS | ad-12 Labs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s