Jerman yang Bukan Jejer Kauman (9): a.k.a. Prancis yang Bukan Prapatan Ciamis

Kali ini, jalan-jalan terakhir sebelum bulan puasa dilakukan ke Strasbourg, sebuah kota di dekat perbatasan Jerman-Prancis. Karena Strasbourg termasuk dalam wilayah negara Prancis, maka judul tulisan ini menjadi agak spesial (panjang dan maksa). Untuk mencapai Strasbourg dari Karlsruhe dibutuhkan waktu sekitar 64 menit (sekali ganti kereta di Appenweir) dan tiket khusus €2/orang sekali jalan, untuk bolak-balik berarti tambahan €4, di samping tiket Baden-Wutemberg yang bisa dipakai maksimum 5 orang. Karena tiket khusus ini harus dibeli di loket KVV, maka kita akan dikenai pajak 10%. Karena tiket Baden-Wutemberg baru berlaku mulai pukul 09.00, maka perjalanan baru bisa diiawali pukul 09.04. Saat melihat time table pada tiket, barulah disadari bahwa perjalanan memang hanya memakan waktu 64 menit, namun waktu tunggu antarkereta ternyata memakan waktu hampir satu jam (56 menit) karena kereta ke Strasbourg yang dinaiki dari Appenweir pukul 10.10 hanya beroperasi hari Sabtu-Minggu, sehingga harus naik kereta reguler pukul 10.44.

Inilah Appenweir

Inilah Appenweir

Perjalanan awal cukup lancar, meskipun kereta IRE yang digunakan kali ini begitu penuhnya sehingga terasa naik kereta bisnis (saat penuh-penuhnya) atau kereta ekonomi di Indonesia. Pada saat akan turun di Appenweir kami sempat mengalami sedikit insiden dengan seorang ibu-ibu yang berdiri di lorong sehingga menghalangi jalan keluar. Appenweir ternyata begitu kecil dan sepinya sehingga cukup membuat bete selama 1 jam menunggu kereta. Kami sempat teringat saat menunggu kereta di Sangerhausen, yang paling tidak masih ada gedung stasiunnya. Saat kereta ke Strasbourg tiba, kami sedikit kaget karena rangkaiannya hanya dua gerbong, mirip dengan tram. Dan tentu saja, penuh luar biasa. Untunglah perjalanan cukup singkat (24 menit) sampai di stasiun KA Strasbourg. Dari luar, stasiun Strasbourg ini sangat besar, dan bentuk uniknya mengingatkan pada stadion Allianz-Arena di Munchen.

Stasiun Kereta Api Strasbourg

Stasiun Kereta Api Strasbourg

Sesuai petunjuk dari Bapak Presiden, maksudnya rekan-rekan yang sebelumnya pernah ke Strasbourg, kami berjalan lurus searah pintu keluar stasiun menuju sungai. Kemudian, lurus lagi menuju katedral. Perjalanan lumayan panjang, cuaca lumayan panas, kami menghibur diri dengan nyelonong keluar masuk pertokoan di kiri kanan jalan. Tentu saja, kami disapa dalam bahasa Prancis, yang sempat membuat keder, kemudian saat melihat topi bertuliskan Deutschland yang Penulis pakai, mereka akan melanjutkan dalam bahasa Jerman! Untunglah, hampir setiap penjaga toko yang ditanyai bisa berbahsa Inggris walau hanya, “little-little” (yah, samalah dengan Penulis!).

Jualan Buku Murah (Sayangnya Berbahasa Prancis Semua!)

Jualan Buku Murah (Sayangnya Berbahasa Prancis Semua!)

Sampai di gedung katedral, kesan pertama yang didapat adalah,” Wah gede banget ya?”. Mungkin karena cuaca panas dan jauhnya jarak yang sudah ditempuh dari stasiun kereta membuat kami tidak bersemangat untuk sekadar menjelajah masuk bangunan katedral. Setelah makan siang ala kadarnya, kami pun menguatkan langkah untuk… kembali menjelajahi toko-toko souvenir di sekitar bangunan katedral. Benar-benar khas wisatawan asal Indonesia. Setelah memuaskan diri dengan wisata belanja, terutama rekan Penulis yang menemukan kalung hati dibelah dua lengkap dengan gravir namanya dan nama seseorang yang lain, kami pun berjalan kembali ke stasiun. Sempat mampir ke dua toko CD/DVD sebelum kembali ke jalan yang benar, kami tiba di stasiun pukul 16.10.

Gedung Katedral Strasbourg dari Jauh (Maklum gede banget)

Gedung Katedral Strasbourg dari Jauh (Maklum gede banget)

Menyadari ada kereta ke Appenweir pukul 16.22, kami memutuskan pulang lebih cepat dari rencana semula, pukul 17.22. Perjalanan pulang kali ini lebih cepat, karena waktu tunggu kereta ke Karlsruhe di Appenweir hanya sekitar 25 menit. Namun demikian, kejutan terakhir menunggu di atas kereta, saat Penulis dengan setengah sadar memutuskan duduk di sebelah seorang bapak-bapak yang sedang mengelus-elus seekor singa…mainan yang dipangkunya, gara-gara kereta IRE ke Karlsruhe yang lumayan penuh. Setelah beberapa saat diajak ngobrol ngalor-ngidul (dalam bahasa Jerman tentunya), Penulis baru menyadari dua hal: satu, bapak tersebut mabuk, tercium dari nafasnya yang membikin kepala Penulis pening, dan dua, bahasa Jerman Penulis memang payah, sehingga percakapan kami sama sekali nggak nyambung. Untungnya, perjalanan ke Karlsruhe dari Appenweir hanya 40 menit, dan Penulis dengan senang hati mengakhiri percakapan dengan bapak tersebut. Kami tiba di Karlsuhe Hbf pukul 17.54 dengan kaki pegal, kepala pusing, dan kantong menyusut.

Ada Orang Motret Orang Sedang Nyuting Orang Naik Kapal

Ada Orang Motret Orang Sedang Nyuting Orang Naik Kapal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s