Jerman yang Bukan Jejer Kauman (8)

Akhir pekan kali ini mungkin yang paling datar daripada sebelumnya. Hari Sabtu kembali dihabiskan di Flohmarkt Berufsakademie. Bedanya, kalau minggu lalu berakhir tanpa hasil, kali ini kami harus berjuang menahan diri untuk tidak menghabiskan seluruh uang di kantong. Hari Minggu akhirnya dihabiskan untuk beristirahat di rumah sekaligus menunda rencana menunjungi Strasbourg. Hari Senin sore kami membantu instalasi mesin cuci di tempat tinggal kami sekaligus menikmati uji coba perdananya.

Pekerjaan di sekitar Kronnenplatz

Pekerjaan di sekitar Kronnenplatz

Hari Selasa, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kota Stuttgart. Tujuan utamanya, tentu saja adalah Museum Mercedes-Benz, dan bila masih ada waktu kami akan mampir di stadion sepak bola homebase klub Vfb Stuttgart. Sempat was-was saat berangkat karena perubahan jalur tram akibat ada pekerjaan berat di Kronenplatz mulai tanggal 10-28 Agustus, ternyata masih sempat mengejar kereta jam 09.19 ke Stuttgart. Sesampai di Stuttgart, sempat kebingungan karena belum tahu mesti ke arah mana dan naik kereta nomor berapa. Setelah melakukan penyelidikan seperlunya, kami menemukan bahwa untuk ke Museum Mercedes-Benz kami harus naik kereta S1 ke arah Plochingen dan turun di halte Neckarpark. Dari halte, kami harus berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai museum. Di tengah jalan, kami bisa menyaksikan kompleks Mercedes yang mencakup pabrik, perkantoran, museum, dan kompleks olahraga. Kami cukup beruntung karena pada saat itu klub Vfb Stuttgart tengah berlatih di lapangan dan bisa disaksikan oleh siapapun. Beberapa pemain bahkan sempat terlihat berjalan menuju lapangan. Sayangnya, kami tidak tahu banyak tentang nama-nama pemain klub ini, kecuali penjaga gawang Jens Lehmann dan winger ‘baru’ mereka Aliaksandr Hleb.

Jens Lehmann lagi Latihan

Jens Lehmann lagi Latihan

Sampai di museum, kami sempat mengambil gambar patung mobil balap Mercedes era 50-an lengkap dengan pengemudinya, juara dunia lima kali Formula 1, Juan Manuel Fangio. Masuk ke bangunan museum, kami harus membeli tiket masuk seharga €8 per orang. Namun dengan mengandalkan bibliothek card (atau student card bagi yang punya) kami bisa mendapatkan diskon 50 persen menjadi hanya €4. Setiap pengunjung akan mendapatkan audio guide berupa sebuah modul yang mirip PDA lengkap dengan earphone dan kalung untuk menggantungkan modul. Asyiknya, kalung ini bisa dibwa pulang sebagai souvenir. Pengunjung bisa memilih modul berbahasa Jerman atau Inggris. Pada obyek tertentu, modul akan otomatis memutarkan rekaman suara yang berhubungan dengan obyek yang sedang kita lihat. Pada obyek-obyek tertentu juga terdapat rekaman suara yang bisa diakses menggunakan tombol-tombol yang tersedia pada modul sambil mengarahkannya ke posisi icon tertentu pada keterangan obyek. Petualangan menjelajahi museum pun dimulai dari tingkat 5.

The Mercedes-Benz Museum

The Mercedes-Benz Museum

Pertama kali, pengunjung akan disajikan mengenai riwayat pengembangan mobil dan kendaraan bermotor oleh dua pionir, Gottlieb Daimler dan Carl Benz, yang mengembangkan secara terpisah. Selanjutnya dikisahkan juga tentang perkembangan perusahaan yang diberi nama dari anak perempuan distributor utamanya, Mercedes Jellinek. Tahun 1926, Daimler dan Benz bergabung menjadi Daimler-Benz AG. Kemudian, pengunjung akan diajak menelusuri sejarah dunia dan Mercedes-Benz sambil menuruni lantai demi lantai museum. Di setiap tingkat, disajikan mobil-mobil produksi Mercedes-Benz dari setiap era. Mulai kendaraan penumpang, truk, bus, sampai mobil balap. Di tingkat terakhir kita akan disajikan deretan mobil balap Mercedes dari setiap era, sampai mobil Formula 1 McLaren Mercedes yang mengantarkan Lewis Hamiton menjadi juara dunia 2008.  Sayangnya, baterai di kamera Penulis tidak bisa diajak kompromi sehingga kehilangan momen di bagian ini. Sebelum keluar dari museum kita bisa mengunjungi toko suvenir dan laboratorium penelitian Mercedes-Benz di lantai dasar.

Inside the Museum

Inside the Museum

Tidak jauh dari kompleks museum adalah stadion Mercedes-Arena yang menjadi markas klub Vfb Stuttgart. Lagi-lagi karena masalah kamera, tidak satupun foto yang bisa diambil dari sini. Alhasil, kami hanya menghabiskan waktu di fan center sambil menatap barang-barang menarik dengan harga yang lumayan menguras kantong. Kami mengakhiri petualangan di Stuttgart pukul 15.00. Rencana semula untuk mengunjungi Heidelberg gagal, karena ketinggalan kereta langsung jam 14.19, dan jalur ke Heidelberg selanjutnya adalah melalui Karlsruhe, yang berarti sama saja dengan pulang. Kami memutuskan untuk pulang namun kali ini dengan menggunakan bus linie 31 dari Durlach Banhof sampai di Waldstadt Zentrum.

The First Car

The Museum Highlight

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s