Jerman yang Bukan Jejer Kauman (6)

Rencananya, akhir pekan ini akan dihabiskan di Stuttgart, sekalian menghadiri acara pengajian warga (?) Indonesia se-Jerman. Namun, karena satu alasan, dibatalkan. Backup plan pun segera disusun, dan akhirnya jalan-jalan kali ini dibelokkan ke Metzingen, sebuah kota kecil 30 km di selatan Stuttgart. Apa yang menarik dari kota kecil berpenduduk hanya 22.000 jiwa ini? Well, jika di Indonesia kita mengenal Bandung sebagai kota Factory Outlet (FO), maka di Jerman, Metzingenlah tempatnya. Dipelopori oleh fashion house terkemuka Hugo Boss, yang didirikan dan bermarkas besar di Metzingen, kota ini banyak dikunjungi oleh wisatawan dari seantro Jerman, bahkan Eropa.

Rombongan Besar ke Metzingen

Rombongan Besar ke Metzingen

Kali ini Penulis tidak lagi ditemani rekan-rekan lain karena berbagai alasan. DUa rekan lebih memilih mengunjungi Wina (Vienna) di Austria menggunakan jasa biro perjalanan. Satu rekan yang lain, yang sudah sangat bersemangat pergi ke Metzingen dan dengan sama bersemangatnya mengajak Penulis, dengan sangat spektakulernya ketinggalan kereta yang berangkat pukul 10.05. Konon karena trem satu-satunya yang melewati tempat tinggalnya pagi itu sangat terlambat, tidak seperti biasanya. Penulis, yang tiba di Stasiun pukul 09.30 (janjian jam 09.50) sempat celingak-celinguk sendirian karena dua rekan yang lain belum juga datang (satu rekan lagi juga hampir ketinggalan kereta ke Berlin minggu kemarin). Sambil mengamat-amati orang yang lewat, Penulis mengamati serombongan orang Indonesia, satu keluarga bapak, ibu, dan anak, yang nampaknya juga tengah menunggu seseorang dan sedang berbicara di telepon. Pukul 09.50 rombongan itu tak terlihat lagi. Penulis mulai gelisah sambil mengamati jadwal kereta, lalu mencoba mencetak jadwal tercepat ke Metzingen, yang ternyata harus naik kereta ke Stuttgart dulu pukul 10.05 di jalur 10. Pukul 10.00, Penulis betul-betul gelisah karena dua rekan belum kelihatan batang hidungya. Harapan terakhir, Penulis naik ke jalur 10 dan melihat kereta ke Stuttgart sudah siap berangkat. Tiba-tiba seseorang menghampiri Penulis dan menanyakan apakah Penulis kenal dengan rekan yang belum datang. Ternyata, rombongan tadi juga akan ke Metzingen dan kami bertiga seharusnya ikut dalam rombongan itu (10 orang, memanfaatkan tiket Baden-Wurttemberg seharga €28 untuk 5 orang). Penulis diajak masuk kereta yang sudah siap berangkat, dan anggota rombongan lain masih mencoba menghubungi rekan Penulis yang lain. Akhirnya, pukul 10.05 kami melihat rekan itu berlari-lari mengejar kereta dan akhirnya bisa ikut berangkat. Satu rekan lain, seperti sudah diceritakan di atas, baru tiba di stasiun pukul 10.15 dan naik ke jalur yang salah (8).

Stasiun Kota Metzingen

Stasiun Kota Metzingen

Perjalanan ke Metzingen memakan waktu 2 jam, 1 jam ke Stuttgart, dan 1 jam ke Metzingen. Rombongan kami total ada 13 orang dewasa, ditambah 3 orang keluarga Indonesia lain, ditambah 4 anak-anak. Bak sebuah tour tanpa biro. Baru menginjakkan kaki di stasiun Metzingen yang kecil itu, ternyata bus ke pusat perbelanjaan sudah berangkat, dan kami terpaksa jalan kaki sekitar 10 menit. Sepanjang jalan tidak ada yang istimewa dari Metzingen, hanya pemukiman dan pertokoan kecil. Baru setelah sampai di pusat perbelanjaannya, suasana berubah total. Banyaknya orang berlalu lalang, mobil-mobil mewah, dan bangunan yang menjulang dengan merek-merek fashion terkenal tertempel di atasnya, mulai Versace, Armani, Dolce-Gabbana, Hugo Boss, Escada, Tommy Hilfiger, Polo Ralph Lauren, Levi’s, Oakley, Lacoste, Swatch, sampai Adidas, Nike, Reebok, dan Puma. Ada juga merek sepatu terkenal seperti Bally dan Timberland. Dan tanpa dikomando, rombongan pun menyebar ke segala penjuru, memburu barang-barang yang umumnya sudah ditempel label Sale itu.

Penulis dan rekan pun mulai menjelajah satu persatu toko FO di kompleks itu, mengurutkan satu demi satu merek yang terkenal itu. Tentu saja, untuk soal membeli kami harus banyak berhitung. Meski harga di sana umumnya memang sudah didiskon, kalau memang aslinya sangat mahal tetap saja akan menjadi mahal atau cukup mahal, bukan lumayan murah. Apalagi kalau melihat harga tiga digit, kepala langsung pusing jadinya. Toh, Penulis masih berani membeli beberapa item yang harganya lumayan masuk akal (dan kantong): sebuah jaket, kaos bola berlogo PSSI-nya Tunisia, dan topi berlogo Arsenal. Lumayan banyak untuk seorang yang nggak terlalu tertarik soal fashion. Di tengah-tengah kompleks, di depan toko Escada sejumlah aktivis antibulu binatang memprotes Escada yang menjual mantel bulu (asli). Pukul 17.15 kami sudah harus menuju stasiun kereta, karena kereta ke Stuttgart akan lewat pukul 17.55.

Pusat Factory Outlet di Metzingen

Pusat Factory Outlet di Metzingen

Tidak banyak yang bisa diceritakan saat perjalanan, karena Alhamdulillah semuanya lancar-lancar saja. Tidak terasa membosankan, karena kehadiran anak-anak dalam rombongan yang lucu-lucu, terutama karena mereka sudah cukup lancar (dan berani) berbahasa Jerman, termasuk saat bertengkar satu sama lain. Rombongan tiba di Stasiun Karlsruhe pukul 20.00 dan bagi Penulis, satu lagi weekend yang menyenangkan.

Demo Anti Bulu Binatang

Demo Anti Bulu Binatang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s