Jerman yang Bukan Jejer Kauman (5)

Okay, mencoba mengulang ‘kesuksesan’ petualangan minggu lalu, kali ini dengan modal yang sama (wochendende ticket), kali ini Penulis dan kawan-kawan kembali bertualang ke Berlin sepanjang akhir pekan ini. Tantangan kali ini lebih berat. Pertama, perjalanan yang memakan waktu 11-12 jam membuat total sehari semalam dihabisakan di atas kereta api. Selanjutnya, salah seorang rekan sudah mendahului pulang ke tanah air, sehingga tersisa empat orang anggota tim. Saat mengajak salah satu anggota 5 besar, ternyata yang bersangkutan telah punya rencana ke Roma. Namun akhirnya menjelang berangkat, kami berhasil mendapatkan satu orang lagi untuk melengkapi tim (dan menghemat €4 sekali jalan).

Jadwal Perjalanan Karlsruhe-Berlin PP

Jadwal Perjalanan Karlsruhe-Berlin PP

Toh, perjalanan memang tak semulus minggu lalu. Saat menjelang berangkat, kami dicemaskan dengan kedatangan anggota kelima yang baru tiba di detik-detik terakhir menjelang kereta pertama berangkat pukul 04.25. Keberangkatan kali ini berganti kereta api di Heidelberg, Frankfurt, Kassel, Sangerhausen, dan Magdeburg sebelum sampai di Berlin. Hambatan muncul di Kassel Hbf saat kereta yang menuju ke Sangerhausen terlambat sampai 15 menit, padahal jarak pergantian ke kereta berikutnya (ke Magdeburg) dari Sangerhausen hanya 8 menit. Akhirnya, mudah ditebak kami (dan sebgaian besar penumpang lain) ketinggalan kereta tersebut. Celakanya, kereta berikutnya ke Magdeburg baru tiba hampir dua jam kemudian. Alhasil, kami pun terdampar di stasiun Sangerhausen selama dua jam. Debat panjang antara  seorang penumpang dengan petugas stasiun tidak membantu sedkitpun. Menunggu adalah pekerjaan paling membosankan di dunia, apalagi stasiun Sangerhausen hanya stasiun kecil dengan fasilitas terbatas. Letaknya pun tidak di tengah kota sehingga tidak ada alternatif lain untuk berjalan-jalan sambil menunggu. Akhirnya kami pun hanya nongkrong di depan loket stasiun yang tertutup rapat (padahal petugasnya masih ada sampai pukul 14.00) sambil makan siang, karena udara di luar sangat dingin. Akhirnya, kami pun tiba di Berlin pukul 17.50, terlambat dua jam dari rencana semula.

Welcome to Berlin

Welcome to Berlin

Sempat menunggu agak lama sebelum dijemput oleh rekan yang selama ini standby di Berlin (terganggu oleh delay 2 jam kami, beliau akhirnya harus bolak-balik ke stasiun), kami pun menuju masjid yang dikelola IWKZ (indonesische Weisheits und Kulturzentrum) kota Berlin untuk konfirmasi soal tempat untuk bermalam. Kami disambut dengan ramah oleh para pengurus masjid yang merupakan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Berlin. Setelah berisitirahat sejenak, kami pun keluar untuk mengukur jalan di Berlin, tepatnya di Kurfürstendamm, yang terkenal sebagai lokasi dari Kaiser Wilhelm Memorial Church, atau yang lebih terkenal dengan julukan “Gereja Buntung”, karena gereja tersebut rusak terkena bom saat Perang Dunia II sehingga rusak parah dan puncak bangunannya runtuh. Sebagai memorial, kondisinya dibiarkan seperti adanya dan di sebelahnya didirikan banugna gereja (kapel) yang baru dan bangunan aslinya dipakai sebagai museum. Sayangnya, karena kami tiba di sana terlalu malam (pukul 20.30), museumnya sudah tutup. Akhirnya, kami hanya berfoto dan menjelajahi pertokoan di kawasan itu. Kemudian dilanjutkan dengan menonoton festival yang berlangsung di pelataran Europa Center. Di antaranya ada pertunjukan akrobat, komedi, dan di sekitarnya banyak stand souvenir dan makanan. Pukul 22.00 kami beranjak ke Alexanderplatz. Suasana sangat sepi mengingat sudah malam dan tidak ada acara (festival) yang berlangsung di sana. Kami menghabiskan waktu dengan mengambil foto Jam Dunia (Weltzeituhr) dan Menara TV (Fernsehtum). Jam Dunia ini berupa sebuah menara yang terdiri atas dua bagian yang melingkar, satu bertuliskan angka 1 sampai 24 yang menunjukkan waktu, dan yang satunya bertuliskan nama-nama daerah waktu di seluruh dunia. Dengan demikian, kita bisa mengetahui jam berapakah di suatu daerah waktu di seluruh dunia. Jam 23.00 kami memutuskan kembali ke masjid untuk tidur.

Weltzeituhr dan Fernsehtum di Alexanderplatz

Weltzeituhr dan Fernsehtum di Alexanderplatz

Keesokan harinya, kami meninggalkan mesjid pukul 07.00 dan bersiap menjelajahi Flohmarkt di pelataran Museum Bode dan Altes. Dari stasiun KA, kami berjalan kaki sambil menikmati pemandangan Berlin yang penuh dengan bangunan bersejarah itu. Sampai di lokasi, ternyata Flohmarkt baru dibuka pada pukul 11.00, sehingga kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di Unter den Linden dan Brandenburger Tor, menikmati pemandangan dan lebih banyak bangunan bersejarah. Sayangnya (lagi), waktu di Reichstag (gedung parlemen), kami tidak sempat masuk ke dalam, karena antrian pengunjung yang sangat panjang, di lain pihak kami tidak punya banyak waktu lagi. Kami pun memutuskan berjalan kembali ke Hauptbanhof untuk kembali ke Flohmarkt yang sudah mulai ramai. Flohmarkt di Berlin ini sangat mengasyikkan dengan banyak item yang dijual mulai barang antik, souvenir, kerajinan, karya seni, juga buku dan rekaman musik. Penulis menghabiskan cukup banyak waktu untuk memilih dari sekian banyak CD musik seharga €4 per judul. Sekitar satu jam setengah kami habiskan untuk berbelanja di Flohmarkt sebelum kembali ke Karlsruhe pukul 12.11.

Branderburger Tor

Branderburger Tor

Perjalanan pulang kali ini mengambil jalur yang agak berbeda dari keberangkatan. Setelah Magdeburg, kami tidak mengambil jalur Sangerhausen-Kassel-Frankfurt-Heidelberg-Karlsruhe, melainkan Erfurt-Wurzburg-Bietigheim-Bissingen-Karlsruhe. Perjalanan pulang berjalan lebih lancar daripada saat berangkat, hanya terjadi delay (kembali) sekitar sepuluh menit di Wurzburg. Beruntung saat di Bietigheim-Bissingen, kami masih ‘ditunggu’ oleh kereta ke Karlsruhe, tidak seperti saat kami ditinggal kereta di Sangerhausen, dan akhirnya kami bisa tiba kembali di Karlsruhe Hbf pukul 23.40. Dan perjalanan panjang Karlsruhe-Berlin pun berakhir.

Bersiap Meninggalkan Berlin

Bersiap Meninggalkan Berlin

Dalam perjalanan kali ini, kami menjumpai beberapa hal unik di kereta-kereta yang kami naiki. Saat naik kereta ke Magdeburg, ada seorang pemuda yang berjualan makanan kecil dan minuman menggunakan sebuah kereta khusus yang mengingatkan pada penjual minuman di kereta api ekonomi/bisnis di Indonesia. Semula kami mengira ia adalah pedagang asongan ala Jerman, sampai saat kami pulang dari Magdeburg ke Erfurt, seorang wanita juga melakukan hal yang sama, dan kami pun menyadari bahwa mereka mungkin merupakan layanan resmi dari dinas kereta api setempat, semacam restorasi di PT KAI. Mereka berdua mengenakan seragam yang sama dengan tulisan “Catering ….(nggak ingat lagi)”. Kemudian di kereta dari Wurzburg, saat mencari tempat duduk, kondektur kereta yang sudah berumur sedang lewat di gerbong yang sama, menemukan koran yang ditinggal oleh pembacanya, mengambilnya, kemudian menatap ke arah kami dan berkata dengan gaya yang kocak, “Meine…” (milik saya), kemudian berlalu. Sesaat kemudian, ia kembali dan dengan gaya yang masih kocak menyodorkan koran itu kepada kami dan berkata,” Das ist alt…” (?) (ini [koran] lama), dan berlalu. Koran itu (Bild) memang edisi lama (8 Juli) dan penuh berisi gosip dan gambar-gambar ‘aduhai’. Dalam perjalanan, beliau memeriksa karcis dan kami sempat bercakap-cakap, diwakili rekan kami yang sudah cukup lancar berbahsa Jerman, mengenai tujuan kami dan keterlambatan kereta. Dengan gaya meyakinkan (dan tetap kocak), beliau meyakinkan kami bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan kami tidak akan ketinggalan kereta ke Karlsruhe, mengingat sebenarnya kami hanya punya waktu Umsteigen (ganti kereta) 5 menit, sedangkan kereta terlambat 10 menit. Dan nyatanya, memang kami masih ditunggu kereta ke Karlsruhe tersebut! Entah apakah beliau punya andil dalam hal ini, kami tetap berterima kasih banyak. Juga kepada para pengurus masjid IWKZ di Berlin, yang kami tidak sempat berpamitan secara langsung, melalui tulisan ini kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas sambutan dan bantuan yang diberikan selamam kami di Berlin. Semoga Allah yang akan membalasnya.

Masjid IWKZ Berlin

Masjid IWKZ Berlin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s