Jerman yang Bukan Jejer Kauman (3)

Seminggu sudah Penulis hidup di Jerman (Karlsruhe), banyak sudah suka duka pengalaman yang dialami Penulis dan rekan-rekan. Banyak adaptasi yang harus dilakukan, mulai soal cuaca, bahasa, cara hidup, dan lingkungan sekitar yang sangat berbeda dengan Indonesia. Banyak dari hal itu bisa dipelajari terlebih dahulu, namun tentu saja kenyataan yang dihadapi akan berbeda dari apa yang dipelajari sebelumnya, kadang sangat berbeda.

Wohnung

Wohnung

Pertama, soal pemukiman. Kami di Karlsruhe tinggal di semacam rumah susun, yang tiap bangunannya terbagi atas beberapa bagian (jadi, rumah nomor 1 akan terbagi menjadi nomor 1A, 1B, dst). Tiap bagian terbagi lagi atas beberapa lantai (empat di tempat Penulis), dan tiap lantai terbagi menjadi dua bagian (suite). Tiap suite dapat diibaratkan sebuah rumah kontrakan, yang terdiri atas beberapa kamar tidur, kamar mandi, dan dapur (merangkap kamar cuci). Jika kita menyewa satu kamar, maka kita akan berbagi kamar mandi dan dapur dengan para penghuni lainnya. Fasilitas hunian biasanya lengkap, semua perabotan disediakan: tempat tidur, lemari, meja tulis, rak, kemudian di dapur pun sudah lengkap dengan kompor gas, oven, microwave, lemari es, alat makan, dan biasanya juga mesin cuci. Kamar tidur dilengkapi pemanas dan dibangun dengan konstruksi yang memungkinkan isolasi panas (wallpaper, pelapis dinding dan lantai, lantai kayu). Sistem kunci hanya digunakan untuk membuka pintu dari luar (pintu akan mengunci otomatis saat menutup), sedangkan siapapun bisa keluar rumah tanpa menggunakan kunci. Pada beberapa flat, penghuni hanya membutuhkan satu kunci untuk membuka pintu flat, suite, dan kamar tidurnya. Saat bertamu, kita mengebel nomor suite yang tepat, dan penghuni tinggal menekan tombol kunci pada interkom untuk membukakan pintu. Kebutuhan bersama akan diatur oleh sesama penghuni, termasuk tanggung jawab kebersihan. Rekening listrik (unlimited) dan internet (high speed!) biasanya termasuk dalam biaya sewa.

Kedua, masalah cuaca. Kebetulan saat ini musim panas, sehingga tidak memerlukan banyak penyesuaian karena suhu rata-rata mirip dengan kota pegunungan di Indonesia. Hujan yang turun pun tidak sederas di Indonesia, yang kadang-kadang menyebabkan banjir. Mungkin perbedaan waktu yang lebih menantang. Karlsruhe (dan Jerman umumnya) berselisih waktu 6 jam dengan Indonesia. Untuk musim panas diberlakukan Daylight Saving Time dengan memajukan waktu satu jam, sehingga selisihnya tinggal 5 jam. Itu saja cukup menimbulkan masalah jetlag, belum lagi kenyataan bahwa di musim panas, matahari baru terbenam pukul 10 malam!

Cuaca di Karlsruhe

Cuaca di Karlsruhe

Konsekuensinya, waktu salat pun menjadi agak aneh bagi yang terbiasa di Indonesia. Waktu duhur adalah jam 01.30, Asar 05.30, Magrib 09.30, Isya 11.45, dan Subuh 03.00. Belum lagi kenyataan bahwa susah menemukan tempat salat di tempat-tempat umum. Sampai saat ini Penulis belum berhasil menemukan masjid. Salat Jumat pun dilaksanakan di kampus Universität Karlsruhe. Bisa dibayangkan saat bulan Ramadan tiba nanti.

Ketiga, soal makanan. Sebenarnya tidak terlalu susah menemukan makanan dengan selera Indonesia. Dengan catatan, pertama Anda punya dana tak terbatas, tersedia banyak rumah makan Asia atau Turki, juga Fast Food. Kedua, bagi yang suka memasak sendiri, tersedia toko yang menjual bahan-bahan masakan khas Asia: beras, bumbu, mi instan, tempe, sambal botol, cabe kering semuanya tersedia. Bagi Anda yang mempunyai dana terbatas disarankan mengombinasikan menu nasi dengan menu lain yang lebih mudah didapat, seperti roti, sereal, pasta, atau kentang. Selain itu bahan makanan yang ‘umum’ seperti telur, susu, sayur, dan buah juga cukup terjangkau. Yang agak susah mungkin daging dan menu yang mengandung daging, karena didominasi oleh menu daging babi, terutama produk kebanggaan Jerman: sosis (wurz). Solusinya, Anda bisa membeli makanan berdaging di kedai Turki yang menjual kebap, ayam, pizza, atau hot dog yang halal.

Makan Ayam di Kedai Turki

Makan Ayam di Kedai Turki

Keempat, masalah bahasa. Ada baiknya mempelajari bahasa Jerman sebelum pergi ke Jerman. Kalaupun dianggap sulit, gunakan jalan pintas dengan menggunakan buku-buku yang berisi ungkapan, pertanyaan, dan jawaban dalam bahasa Jerman, atau minimal kuasai beberapa kata penting dalam bahasa Jerman seperti selamat pagi, terima kasih, kata-kata tanya, angka, dan ekspresi seperti menanyakan kemampuan bahasa Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s