Ubuntu vs Vista vs Vaio

Dua minggu lalu, adik Penulis membeli laptop Sony Vaio VGN-NR285E yang sudah terinstal Windows Vista Home Premium. Penampilannya memang meyakinkan, sayang kelengkapannya sangat minimalis, tanpa user guide dan installer. Yang tersedia hanya recovery tool yang ditempatkan dalam partisi tersembunyi sebesar kira-kira 20 GB. Yah, lumayan untuk harga 8 jutaan.

Semuanya berjalan lancar sampai ketika Penulis mengusulkan untuk memasang Ubuntu (lebih tepatnya UbuntuME, Muslim Edition) di laptop tersebut. Dengan kapasitas hard drive 200 GB, tentu resource tidak menjadi masalah. Masalahnya, Penulis belum pernah menginstal Linux dual-boot dengan Vista sebelumnya, maklum agak ketinggalan kereta soal generasi terakhir Windows ini.

Akhirnya, dengan semangat opreker, misi pun dijalankan. Pertama, boot menggunakan DVD Live-Install UbuntuME 8.04.1 LTS, lancar sampai tampilan desktop Gnome. Lalu, menjalankan Gparted untuk memartisi ulang hard drive, mengambil 20 GB untuk partisi Linux. Setelah memakan waktu hampir 6 jam (mulai membaca, memindahkan partisi, sampai membuat partisi baru), akhirnya instalasi Ubuntu ME bisa dijalankan. Semuanya lancar sampai boot ulang.

Setelah boot, GRUB pun tampil, saat memilih Ubuntu, semuanya lancar dan bisa login. Boot ulang dan memilih Windows, masalah pun muncul. Dengan semangat, Recovery Tool dari Sony pun muncul sebelum Vista sempat loading. Ada empat opsi: Windows System Restore, Hardware Tools, Recovery Disc Tool, dan Data Rescue Tool.  Seingat Penulis, di Windows XP, hanya utility Chkdsk muncul karena harus memvalidasi ukuran drive yang berubah setelah partisi ulang. Opsi yang dicoba pertama, Hardware Tools memberi opsi untuk mengecek CPU dan hard drive. OK, semua dijalankan tanpa masalah. Langsung keluar dari Recovery Tool, komputer pun boot ulang. Masalah kedua muncul, GRUB error! menu pilihan OS tidak muncul. Senjata pun dihunus: Super GRUB Disk untuk memulihkan GRUB ke kondisi semula. OK, boot ulang, menu GRUB keluar, pilih WIndows lagi, dan… Recovery Tool kembali keluar.

Tiga opsi selain Hardware Diagnostic tidak dicoba karena pertimbangan: ketiga-tiganya cuma menyelamatkan data yang sebenarnya tidak rusak/hilang. Masalah hanya pada recovery tool yang menganggap perubahan partisi adalah kerusakan sistem. Setelah berunding dengan adik Penulis, diputuskan untuk kembali ke selera awal…Windows, karena keburu ingin dipakai ngenet. OK, gunakan lagi Super GRUB Disk untuk menimpa MBR (kira-kira sebanding dengan perintah: fdisk /MBR). Selesai, boot ulang, dan muncullah pesan error bahwa file WindowsSystem32WinLoad.exe tidak bisa ditemukan sehingga Windows tidak bisa loading. Weleh…

Opsi yang ditawarkan dalam pesan error adalah menggunakan DVD installer Windows Vista untuk me-repair instalasi. Mengingat laptop ini minimalis sejati, jangankan DVD Vista, CD/DVD driver pun tidak tersedia.

Di Windows XP dan sebelumnya, perintah fdisk /MBR cukup untuk memulihkan boot Windows. Percobaan dengan Super GRUB Disk untuk langsung boot ke Windows berakhir dengan tampilan Recovery Tool Sony untuk kesekian kalinya. Akhirnya, dengan berat hati Penulis pun memusnahkan partisi LInux seisinya dengan menggunakan Gparted dari SystemRescueCD (senjata kedua). Lalu, untuk menyelesaikan masalah bootloader Windows pun dilakukan dengan browsing di internet.

Alhasil, ada solusi untuk menjawab masalah dual-boot menggunakan aplikasi VistaBootPro dan EasyBCD. Tapi keduanya harus dijalankan dari Windows Vista, lha ini masuk Windows saja nggak bisa… Kemudian di situs Microsoft ditemukan soal utiliti baris perintah bcdedit untuk memodifikasi bootloader Windows Vista. Ini nampaknya yang jadi jawaban. Namun, masalah kembali muncul, bagaimana memunculkan command prompt?

Senjata ketiga pun dikeluarkan, Vista BootCD yang dulu iseng-iseng dibuat dari kreasi majalah CHIP. Vista BootCD adalah Vista LiveCD untuk keperluan administrasi sistem. Dengan menggunakan ini, kita bisa masuk ke lingkungan Vista dan menjalankan command prompt untuk menggunakan bcdedit. Ternyata ada dua parameter yang kosong (unknown) pada bootloader, yaitu device dan osdevice yang seharusnya menunjukkan partisi untuk boot dan mencari file WinLoad.exe. Setelah mengisi kedua parameter itu dengan nilai partition=C: dan boot ulang, Windows Vista pun kembali hadir dengan manisnya. Tentu saja sebelumnya melalui proses cek ulang hard drive dengan chkdsk.

Jelaslah bahwa problemnya terletak pada Sony Recovery Tool yang sangat peka, dengan menganggap perubahan partisi adalah kerusakan sistem. Pertanyaannya, apakah ini berarti laptop semacam ini tidak bisa dipasangi Linux, atau sekadar dipartisi ulang untuk memisahkan data? Ada ide?

Satu pemikiran pada “Ubuntu vs Vista vs Vaio

  1. napa koq produsen2 gede produknya biasanya susah dioprek ya…sering kejadian PC branded gak begitu saja mau diupgrade pake RAM biasa…strategi dagang biar kalo mau upgrade harus balik ke produsennya lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s