Se-Ikhlas-nya

Apakah kita benar-benar bisa ikhlas dalam berbuat? Benarkah kita tidak mengharapkan apapun dari setiap tindakan kita? Tak terbersitkah sedikitpun dalam hati kita suatu pamrih atau keinginan untuk memperoleh balasan, atau sekadar ucapan terima kasih? Apakah setiap perbuatan baik kita benar-benar dilakukan tanpa mengharapkan apapun, baik itu pahala, surga, atau bahkan sekadar ridha Allah Swt? Jadi apakah yang dinamakan ikhlas itu? Mungkin akan sangat berbeda saat seorang peminta-minta merengek, “Seikhlasnya, (masukkan nama panggilan di sini)”. Atau saat seorang dai berorasi, “Lebih baik sedekah besar tapi ikhlas daripada kecil tapi tidak ikhlas”. (Itu semua orang juga tahu!). Atau saat kita menjalankan suatu ritual ibadah, karena memang diperintahkan, karena mengharap pahala/surga, atau karena memang akan bermanfaat bagi kita? Atau bukan karena apa-apa? Yang manakah yang namanya ikhlas? Benarkah manusia bisa ikhlas sepenuhnya? Karena konon suatu tindakan akan terjadi saat ada niat dan kesempatan. Nah, seberapa dekatkah niat dengan pamrih? Ataukah kita harus melakukan semua hal dengan spontan? (tanpa uhuy).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s