Para Ibu dan Pendidikan Tinggi

Mungkin ini hanya sedikit kasus di sekitar kita: seorang ibu (muda) yang gagal melanjutkan studi di luar negeri dengan alasan keluarga (anaknya masih kecil dan tidak mungkin dibawa bersama-sama, juga suaminya). Dalam kasus yang agak mirip, seorang mahasiswi terpaksa DO untuk menikah. Jika mahasiswi terakhir ini akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan tingginya hampir 40 tahun sejak menikah, mungkinkah ibu muda di atas mendapatkan kesempatan yang sama (studi lanjut ke luar negeri) di masa yang akan datang? Kasus di atas bukanlah kasus tunggal, sebenarnya ada dua kasus yang identik. Pada kasus pertama, sang ibu tak pernah lagi mendapat kesempatan yang sama. Sedangkan pada kasus yang kedua, keputusan baru saja dibuat, dan kita harus menunggu 40 tahun lagi untuk memastikannya.

OK, saatnya untuk merenung. Bagi Penulis dan rekan-rekan lain yang ditakdirkan menjadi Suami dan Bapak (mungkin belum, khususnya bagi Penulis sendiri), ini bisa dijadikan renungan. Keputusan sudah diambil, konsekuensi harus dihadapi. Namun, apakah memang itu satu-satunya jawaban? Apakah memang itu yang terbaik? Atau memang kasus-kasus di atas hanya pengecualian dari sekian kasus lain? Benarkah sistem yang ada sekarang ini tidak bisa mengakomodasi keluarga dan kesempatan belajar di pendidikan tinggi, khususnya di luar negeri?

Jawabnya bisa jadi simpel, “Tidak sesederhana itu, Dik!” Di sisi lain, jika yang menghadapi dilema itu seorang suami/bapak, jawabannya hampir pasti lain lagi. Pada akhirnya, perlu juga dipahami bahwa setiap kasus pasti spesifik, tidak persis sama dengan kasus lainnya, walaupun kesimpulannya boleh jadi mirip. Dan, tidak ada rumus yang pasti dalam memecahkan dilema seperti ini. Selalu akan ada yang dikorbankan. Tentu saja, pertanyaannya adalah, “Setimpalkah?” Semoga saja semuanya menjawab ‘Ya’ tanpa ragu.

UPDATE (17-09-2008):
Baru kemarin Penulis berbincang dengan seorang Bapak yang pernah menghadapi persoalan yang sama. Namun, pendekatan yang diambil berbeda. Sang Bapak dengan ikhlas melepas istrinya untuk menempuh pendidikan (lebih) tinggi di luar kota (S2 dan S3). Solusinya datang secara (hampir) kebetulan, saat sang Bapak beberapa saat kemudian dipindahtugaskan ke kota tempat istrinya menempuh pendidikan (lebih) tinggi. Yah, tentu saja itu hanya sebuah kasus di antara sekian banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s