Music on the Road

Yang dimaksud di atas bukannya musik yang kita dengar dari tape/CD player/MP3 player di mobil. Musik jalanan di sini berasal dari para pengamen dan anak-anak jalanan. Dulu, pengamen hanya dijumpai di bus-bus besar, baik bus kota maupun antarkota. Belakangan, pengamen juga mengincar kendaraan pribadi, mobil maupun motor, juga bus kecil (3/4) dan angkutan kota (mikrolet). Pada satu episode Bajaj Bajuri dikisahkan seorang pengamen yang menyambangi semua moda angkutan, mulai bajaj, becak, sampai ojek. Mungkin karena semakin banyaknya jumlah pengamen, baik yang profesional, semiprofesional, maupun amatir (macam sepakbola saja).

Kalau dulu pengamen identik dengan gitar (dan harmonika), sekarang alat musik yang digunakan semakin beragam. Mulai dari drum, seruling, biola, ‘kecimpring’ (entah bagaimana mendefinisikan alat musik dari tutup botol yang dipaku ke sebatang kayu atau botol yang diisi pasir/kerikil), sampai yang hanya bermodalkan mulut (acapella, menirukan alat musik, atau cukup berorasi bak tukang obat) atau tepuk tangan (bak pramuka). Satu genre lain pengamen membawa portable tape lengkap dengan mikrofon siap berkaraoke.

Kualitas performance-nya pun beragam, mulai para ‘profesional’ yang mengingatkan awal karier Iwan Fals atau Didi Kempot dulu sampai yang ‘asal bunyi’ (kebanyakan anak-anak), dari yang membuat kita ingin berteriak, “more, more!” sampai yang ingin kita tendang keluar bus seketika suaranya terdengar. Kadang-kadang kita jumpai pengamen yang bukan hanya tidak bisa menyanyi, suaranya pun tidak jelas menyanyikan apa, mungkin karena cacat fisik.

Untuk mendapatkan pengalaman mendengarkan musik jalanan yang komplit, coba saja naik bus antarkota (ekonomi) atau bus kota yang trayeknya panjang dan tidak terlalu ramai penumpangnya (atau di luar jam sibuk). Ada kemungkinan Anda akan menjumpai pengamen-pengamen dari berbagai genre di atas. Jika beruntung, Anda akan menemui satu-dua pengamen dengan kualitas tertinggi. Waktu Penulis masih setia bolak-balik Yogya-Semarang tiap weekend masa kuliah dulu, hampir semua genre pengamen bisa dijumpai. Sekarang, sebagai komuter Jakarta-Bekasi tiap hari, pengalaman yang sama kembali dialami.

Yang agak mengherankan, mungkin khusus pengamen ibu kota, adalah pembagian amplop (umumnya pengamen anak-anak) sebelum menyanyi. Kadang-kadang amplop itu ditulisi sedikit kata pengantar. Mungkin mereka terinspirasi para penarik sumbangan untuk masjid/pesantren yang beroperasi di bus kota. Ya, kalau diberikan uang kertas sih masuk akal, namun umumnya uang logam yang dialokasikan untuk mereka, sehingga penggunaan amplop menjadi sia-sia. Atau itukah cara mereka untuk ‘memaksa’ penumpang memberi uang kertas pada mereka? Wah, memberi kan nggak boleh dipaksa, kalau maksa namanya malak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s