Puasa, Tarawih, dan Anak-Anak Itu…

Malam tadi Penulis berjalan pulang, sekitar pukul 08.30-an. Dalam perjalanan pulang, Penulis melewati masjid di lingkungan perumahan. Karena bulan ini bulan puasa, maka di masjid itu masih berlangsung ibadah salat tarawih. Jangan tanyakan apa itu salat tarawih dan kenapa Penulis tidak mengikutinya, yang jadi perhatian adalah sekumpulan anak-anak (laki-laki) di sekitar masjid, mereka tidak mengikuti salat tarawih, namun mengenakan sarung dan perlengkapan ibadah. Mereka bermain dan membuat suara gaduh (di antaranya menggoyang-goyang papan nama masjid!), mungkin juga (sempat) membakar petasan.

Penulis memperhatikan profil anak-anak itu satu per satu. Rata-rata anak SD, mungkin juga SMP. Menilik perawakannya yang rata-rata seimbang (kontras dengan Penulis), seharusnya mereka sudah berpuasa, minimum latihan puasa. Entah kenapa mereka tidak mau ikut tarawih atau mengapa mereka berangkat kalau niatnya bukan ikut tarawih. Jawabnya mungkin karena oleh sekolahnya mereka diminta mengisi lembar kegiatan puasa (ramadan), semacam ceklist yang berisi kegiatan ibadah yang dilakukan setiap hari di bulan puasa (puasa, salat lima waktu, tadarus, ceramah, buka/sahur) yang harus ditandatangani oleh penanggung jawab kegiatan. Kalau salat, ya imamnya, kalau ceramah, ya ustadznya, selain itu mungkin oleh pengawasnya (biasanya orang tua).  Alasan lain mungkin karena semata-mata ingin main keluar di waktu malam yang mungkin tidak diizinkan tanpa alasan kuat, dan alasan terakhir mungkin diajak orang tuanya sekalian salat tarawih di masjid itu.

Penulis sempat terkenang masa-masa kecil dulu, saat mulai belajar puasa sampai akhirnya sanggup berpuasa penuh, saat-saat menunggu berbuka, tarawih keliling (mencari tempat yang paling singkat dan menyediakan snack), sahur, dan perlombaan tadarus dengan seluruh keluarga. Dari dulu juga para penggembira tarawih ini sudah ada, dengan aksi-aksi yang kurang lebih sama. Di tengah-tengah salat tarawih yang menguras konsentrasi (maklum 23 rakaat dengan bacaan 1 juz), tiba-tiba terdengar ledakan petasan susul-menyusul. Sayang sekali, Penulis tidak punya kenangan soal yang satu itu.

Akhirnya, Penulis hanya bisa berharap semoga saja pada waktunya nanti anak-anak itu akan menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik, dan dapat memberi teladan bagi generasi di bawahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s