2001: A Space Odyssey

Tahukah Anda (bukan iklan SpongeBob/Dora dkk pindah), sebelum Star Trek dan Star Wars menjadi legenda film sci-fi, khususnya tentang luar angkasa, adalah film 2001: A Space Odyssey (1968) karya sutradara Stanley Kubrick-lah yang pertama kali mencetak trend itu?.

Cerita film ini sangat sederhana, terbagi atas tiga bagian: bagian pertama tentang manusia kera (?) yang menemukan benda aneh (monolith) yang konon berasal dari mahluk luar angkasa (alien), yang mengajari mereka cara menggunakan tulang sebagai alat (dan senjata). Bagian kedua bercerita tentang misi ke bulan, yang waktu itu sudah dibangun pangkalan (kolonisasi). Misi ini juga menemukan benda yang sama (monolith alien) yang memancarkan transmisi radio ke planet Jupiter. Bagian ketiga, yang paling seru, bercerita tentang pesawat USS Discovery yang melakukan misi ke Jupiter. Misi ini beranggotakan dua orang astronot dan tiga peneliti, yang berangkat dalam keadaan hibernate (beku). Sebagai pemegang kendali pesawat adalah komputer supercanggih, HAL 9000. Komputer ini bisa ngomong, menganalisis, dan konon bisa merasakan (punya emosi). Di tengah perjalanan, HAL melakukan kesalahan analisis kerusakan modul pesawat, sehingga kedua pilot memutuskan untuk menonaktifkannya. HAL, yang mengetahui hal ini, menjadi marah dan membunuh salah seorang pilot dan ketiga peneliti yang sedang dalam kondisi hibernate. Astronot terakhir yag masih hidup akhirnya berhasil menonaktifkan HAL secara manual. Di akhir film, saat pesawat mendekati Jupiter, astronot terakhir yang bernama Dave, mengalami sebuah pengalaman menakjubkan. Dia mendapati dirinya menjadi tua, berada di sebuah kamar hotel, makan, dan kemudian tidur, sampai akhirnya terlahir kembali sebagai bayi angkasa *star child).

Film ini menakjubkan karena efek visualnya yang luar biasa untuk zaman itu, dan masih terasa realistis di masa kini. Secara keseluruhan film ini memang mengandalkan tampilan visual, minim dialog (untuk film sepanjang 2 jam 15 menit), bagian pertama film ini tidak ada dialog (manusia kera mana bisa bicara?), setengah jam terakhir setelah HAL dinonaktifkan pun tidak ada dialog sama sekali. Sepanjang film terdengar lagu latar berupa komposisi musik klasik, yang menonjol adalah Also Sprach Zarathustra dan Blue Danube. Film ini menitikberatkan pada ‘pengalaman batin’ saat menyaksikan adegan demi adegan. Sang sutradara, sampai meninggalnya di tahun 1999, enggan menjelaskan makna filosofis film ini dan menyerahkannya kepada tiap-tiap penonton.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s