Pressure and Ignorance :An Anniversary Babbling

Bayangkan fase kehidupan kita sejak pertama kali kita lahir: penamaan yang mencerminkan doa, harapan, dan ekspektasi keluarga (oarng tua) kita, pemilihan lingkungan dan sekolah tempat kita bergaul dan menuntut ilmu, saat kita dikejar ‘target’ bukan cuma lulus (lolos) ujian kenaikan kelas, namun juga mengejar ranking, bukan hanya di sekolah, di luar sekolah saat semua kontes (lomba) menantang keabsahan kita sebagai anak yang unggul, setelah kita lulus SMA/SMU dan harus memilih (atau harus) perguruan tinggi, setelah lulus harus segera kerja, itupun tidak bisa di sembarang tempat, belum lagi memilih jodoh dan berkeluarga, dan siklus itu pun mulai lagi di level yang berbeda.

Dalam tulisannya di majaah Gatra terbaru, Kafi Kurnia memperkenalkan ‘the art of ignorance’, yang intinya kebahagiaan kadang-kadang dicapai karena kita mengetahui terlalu sedikit, atau pura-pura (atau sengaja) mengabaikan hal-hal kecil (detail). Itu menjelaskan mengapa orang-orang tetap miskin dan bahagia, karena mereka mengabaikan banyak hal dalam kehidupan mereka dan memilih berkonsentrasi pada hal-hal yang membahagiakan saja. Banyak orang kaya yang tidak bahagia karena memikirkan harta yang (terlalu) banyak dan cara mengurusnya (memperbanyaknya).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s