Multimedia di Linux

Menggunakan linux sekarang ini bukanlah sesuatu yang menjadi dominasi para "geek’" atau hacker saja, namun sudah menjangkau pengguna umum. Bagi segmen pengguna PC kebanyakan, yang menjadi titik berat penggunaan adalah kemudahan serta kemampuan untuk menjalankan aplikasi perkantoran, internet, dan multimedia. Untuk aplikasi perkantoran dan internet, umumnya sudah tersedia di Linux (OpenOffice, Mozilla Firefox, Evolution, dll). Di sisi lain aplikasi multimedia juga banyak tersedia (Xmms, amaroK, xine, MPlayer, VLC), namun seringkali kemampuannya dipertanyakan. Instalasi default distro-distro mainstream (RedHat, Fedora, Mandriva, SUSE, Ubuntu) tidak menyertakan kemampuan memutar format-format multimedia tertentu, seperti mp3, DVD, Windows Media, QuickTime, DivX, atau Real Media.
Sebenarnya, aplikasi-aplikasi tersebut mampu memutar format-format multimedia di atas, namun terbentur dengan legalitas (paten) dan tertutupnya format media tertentu. Di bawah ini isu-isu tersebut dibahas satu per satu :

  1. Mp3 : format audio digital yang paling populer saat ini mengalami masalah dengan paten yang dipegang oleh Thomson Consumer Electronics. Paten ini mengharuskan lisensi untuk mendistribusikan dan/atau menjual dekoder/enkoder mp3. Untungnya, tidak semua negara di dunia mengakui paten software, sehingga implementasi bebas dekoder/enkoder mp3 bisa digunakan di negara-negara tersebut.
  2. VCD/DVD : media player di linux sebenarnya bisa langsung memainkan VCD, dan juga DVD. Permasalahannya terletak pada enkripsi pada DVD (original) yaitu CSS (Content Scrambling System). Algortima enkripsi ini membutuhkan lisensi, sehingga tidak bisa didistribusikan secara bebas. Seorang hacker dari Finlandia berhasil memecahkan enkripsi ini di tahun 1999. Tentu saja, hasil hack ini (DeCSS) dianggap ilegal di banyak negara. Untungnya, tidak semua negara melarangnya.
  3. RealMedia : RealNetworks mengeluarkan versi Linux dari RealPlayer, yang harus diinstalasikan secara terpisah. Program ini juga dipaketkan ulang untuk distro-distro tertentu (rpm, deb).
  4. Windows Media dan QuickTime : kedua teknologi ini dimiliki oleh Microsoft dan Apple, yang tidak mengeluarkan spesifikasi codec-nya. Kedua perusahaan ini juga tidak mengeluarkan versi playernya untuk Linux. Solusi yang ditawarkan adalah membangun interface player dengan codec yang tersedia untuk Windows. Koleksi codec ini dikenal dengan paket w32codecs, dan dapat digunakan untuk media player seperti xine, MPlayer, dan VLC. Namun ini tidak berlaku untuk file yang diproteksi dengan DRM (Digital Rights Management).
  5. MPEG-4/DivX : tersedia implementasi bebas untuk DivX yang disebut XviD, yang harus diinstalasikan secara terpisah. Untuk memainkan format ini tersedia librari FFmpeg yang merupakan implementasi bebas dan reverse-engineering dari beberapa codec (QuickTime, Windows Media).
  6. Flash : Macromedia mengeluarkan plugin Flash untuk Linux, yang harus diinstalasi secara terpisah. Paket untuk tiap distro juga biasanya tersedia.
  7. AAC : format musik yang dipakai iTunes ini bisa dimainkan dengan menginstal plugin tertentu, kecuali untuk yang diproteksi (enkripsi).

Singkat kata, dukungan multimedia untuk Linux, khususnya untuk memainkan, telah mengalami banyak kemajuan. Untuk format-format ‘tertutup’ sudah tersedia solusinya, meski harus melakukan sedikit ‘oprekan’. Perlu diperhatikan bahwa paten atau lisensi tidak menjangkau penggunaan pribadi dan sejauh ini Indonesia tidak mengakui paten software sehingga kita seharusnya bersyukur🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s