Memperkenalkan: Windows 11

Setelah menjadi topik hangat selama bulan ini, akhirnya Microsoft secara resmi memperkenalkan versi terbaru sistem operasi andalannya, Windows 11. Setelah Mirosoft sibuk meyakinkan para pengguna Windows 7 (dan 8) untuk migrasi ke Windows 10 karena versi ini disebut-sebut sebagai versi ‘paripurna’, kenyataan berbicara lain. Selama lima tahun keberadaannya, Windows 10 telah mengalami sepuluh kali pembaruan “versi” sejak versi pertama (1511) hingga versi terkini (21H1). Bisa dikatakan bahwa Microsoft benar-benar menganggap Windows 11 ini jauh berbeda daripada Windows 10 sehingga membutuhkan brand baru yang bukan sekadar perbaikan dari Windows 10.

Tampilan Desktop Windows 11 (Sumber: blogs.windows.com)

Banyak perubahan yang diumumkan mulai dari tampilan hingga aplikasi. Dari gambar di atas, terlihat bahwa taskbar dan start menu mengalami perubahan yang cukup mendasar. Posisi tombol Start bergeser ke tengah (a la macOS) dan Start Menu juga mengalami perubahan tata letak dan tampilan dengan menghilangkan Live Tiles yang menjadi ciri khas sejak Windows 8, Search diletakkan di atas, Pinned Apps di bawahnya dan Recommended di bawahnya. Windows 11 juga menandai kembalinya Widgets, yang pertama (dan terakhir) kali hadir di Windows Vista. Perubahan lain termasuk “menghilangnya” sejumlah aplikasi yang biasa Anda temui pada instalasi default Windows 10 di antaranya: Paint 3D, 3D Viewer, Internet Explorer, OneNote, dan Skype. Khusus untuk Skype, Microsoft menggantikannya dengan Teams, yang akan terpasang pada setiap instalasi default Windows 11.

Aplikasi Android di Windows 11 via Amazon Appstore

Namun sebenarnya hal paling menarik dari kehadiran Windows 11 adalah perubahan pada distribusi aplikasi seiring perbaikan pada Microsoft Store. Ditambah lagi, kerja sama Microsoft dengan Intel (Bridge) dan Amazon (Appstore) akan menghadirkan aplikasi Android di Windows 11!

Windows 11 akan tersedia sebagai pembaruan gratis untuk setiap instalasi Windows 10 yang memenuhi syarat. Syarat utama yang harus dipenuhi adalah spesifikasi sistem yang jauh berbeda dari versi-versi Windows sebelumnya, yaitu:

  • Prosesor 64-bit berkecepatan 1 GHz ke atas dengan dua core atau lebih (Windows 11 hanya tersedia dalam versi 64-bit). Intel Core generasi ke-8 atau AMD Ryzen generasi ke-3 atau di atasnya.
  • Memory (RAM) 4 GB atau lebih
  • Kapasitas penyimpanan (storage) 64 GB atau lebih
  • Display card yang mendukung DirectX 12/WDDM 2
  • Layar tampilan 9 inci ke atas dengan resolusi HD (720p)
  • UEFI/secure boot
  • TPM versi 2.0

Persyaratan terakhir ini mungkin menjadi yang mengganjal banyak sistem yang sebelumnya mampu menjalankan Windows 10, namun dinyatakan tidak mendukung Windows 11. Anda bisa mengecek kesiapan sistem Anda menjalankan Windows 11 dengan mengunduh aplikasi PC Health Check dari situs Windows 11. Setelah mengunduh dan memasangnya, Anda tinggal menjalankan pengujian sistem dengan menekan tombol Check Now pada bagian Introducing Windows 11. Jika sukses, akan muncul tampilan seperti di bawah ini:

Tampilan PC Health Check

Jika muncul tampilan yang menyatakan sistem (PC) Anda tidak bisa menjalankan Windows 11 meskipun spesifikasinya lumayan bagus, cobalah mengecek versi TPM anda dengan menjalankan tpm.msc pada Run (tekan tombol Windows+R) atau ketikkan tpm pada field Search dan pilih Security Processor. Pastikan Specification Versionnya adalah 2.0. Jika versi yang tercantum adalah di bawah 2.0, maka itulah penyebab sistem Anda dinyatakan tidak bisa menjalalankan Windows 11.

Tampilan tpm.msc (TPM Management Console)
Tampilan Security Processor

Jadi, apakah Anda tengah menantikan kehadiran Windows 11 yang dijanjikan akan mulai dirilis akhir tahun ini? Microsoft menjanjikan Windows 10 masih akan didukung hingga tahun 2025, namun bagaimana selanjutnya untuk sistem yang tidak memenuhi syarat?

UPDATE: Microsoft sempat memperbarui aplikasi PC Health Check untuk menampilkan info yang lebih spesifik soal kompatibilitas dengan Windows 11 sebelum menghapus tautan unduhannya.

Mengenal Macam-macam Set-top Box

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini Penulis ingin membahas mengenai Set-top Box (STB). Menjelang migrasi ke TV digital, STB menjadi barang “panas” karena menjadi syarat utama bagi pemilik TV analog (tanpa built-in DVB-T2 tuner) untuk bisa menyaksikan siaran TV digital pasca Analog Switch-off bulan November 2022. Di sisi lain, istilah Set-top box bukan hanya diperuntukkan perangkat tuner DVB-T2, namun secara umum mencakup berbagai perangkat yang dihubungkan ke televisi untuk menerima siaran, baik itu dari antena biasa (terestrial), antena parabola (satellite dish), cable, atau bahkan jaringan internet (IPTV/OTT/Streaming). Di pasaran tersedia bermacam-macam set-to box, kadang-kadang tanpa mencantumkan spesifikasi yang jelas. Harga yang ditawarkan berkisar antara 200 hingga di atas 500 ribu rupiah. Jika itu belum cukup membingungkan, silakan menelusuri spesifikasi televisi LCD/LED saat ini. Ada istilah TV digital/analog, kualitas gambar mulai HD, FHD, UHD, 4K, istilah Smart TV dengan berbagai system, dan juga ketersediaan konektor (AV, RCA, USB, atau HDMI). Sebagai patokan umum, koneksi set-top box ke televisi umumnya bisa menggunakan salah satu jenis koneksi, RCA (tiga konektor) atau HDMI (satu konektor). Berikut ini akan Penulis jelaskan tiga jenis set-top box yang umum ada di pasaran.

  1. STB DVB-T2 (TV Terrestrial/UHF)
    Set-top box jenis inilah yang akhir-akhir ini banyak dibahas sehubungan dengan transisi dari TV analog ke TV digital. STB ini berfungsi untuk menangkap sinyal TV digital agar bisa ditampilkan di pesawat televisi yang belum memiliki tuner digital. STB ini (harus) mendukung teknologi DVB-T2 (Digital Video Broadcasting – Terrestrial version 2), pastikan ada tulisan di bodi STB jenis ini. STB ini dikoneksikan ke antena televisi biasa (UHF) yang sudah Anda miliki, kemudian dikoneksikan ke pesawat televisi menggunakan kabel RCA (tiga konektor, merah, putih, kuning) atau HDMI (satu konektor berbentuk segienam), disesuaikan dengan ketersediaan kabel dan konektor. Jadi, selain logo DVB-T2, jenis konektor input pada STB ini adalah konektor antena UHF di belakangnya.
  2. STB DVB-S2 (TV Satelit/Parabola)
    Set-top box jenis ini digunakan untuk menerima siaran dari TV satelit, baik gratis maupun berbayar. STB jenis ini mungkin bisa tertular dengan STB jenis di atas karena tampilannya yang kadang-kadang mirip satu sama lain. Perbedaannya adalah tampilan logo DVB-S2 (Digital Video Broadcasting – Satellite version 2) dan konektor antena di belakangnya yang identik dengan koneksi pada TV kabel (menggunakan ulir).
  3. STB Android Box (SmartTV)
    Set-top box jenis ini pada dasarnya adalah sebuah device serupa komputer dengan sistem operasi yang terhubung ke internet. Di atas sistem operasi ini bisa dipasang aplikasi untuk mengakses layanan OTT atau streaming layaknya smartphone/tablet/smart TV. Sistem operasi yang dipakai umumnya adalah Android, dengan akses ke Google Play Store kita bisa memasang aplikasi seperti Netflix, Disney+, Vidio, YouTube, Spotify, VIU, dan banyak lagi. Tentu saja masing-masing aplikasi itu punya ketentuan masing-masing, ada konten yang bisa diakses langsung, membutuhkan registrasi, atau membutuhkan biaya tambahan berupa berlangganan (subscribe) dan biaya lainnya (rental fee). STB jenis ini biasanya sudah ditanamkan penerima sinyal wi-fi ditambah koneksi RJ-45 (ethernet) untuk koneksi ke router internet via kabel UTP.

Selain ketiga jenis STB di atas, ada juga jenis STB untuk TV kabel, dengan teknologi DVB-C2 (Digital Video Broadcasting – Cable version 2), namun jenis ini biasanya tidak diperjualbelikan secara bebas karena TV kabel umumnya berbayar, sehingga STB jenis ini di-bundle dengan layanan TV kabel seperti First Media, IndiHome, atau MNC Play. Kemudian, ada juga STB Hybrid, yaitu yang mempunyai kemampuan untuk menerima sinyal dari dua sumber, terestrial dan satelit (atau juga dari internet). Jenis ini tidak banyak pilihannya, berguna jika kita memiliki dua jenis antena penerima (UHF/parabola) untuk menghemat koneksi ke pesawat televisi. Perhatikan juga bahwa STB jenis 1 dan 2 biasanya memiliki port USB untuk koneksi ke media penyimpanan (HDD/flashdisk) atau ke dongle wi-fi. Jika dihubungkan ke dongle wi-fi, maka STB bisa berfungsi layaknya smartTV box, tergantung aplikasi yang tersedia di firmwarenya. Kuncinya adalah pada jenis konektor yang tersedia pada STB tersebut.

LINE Merger dengan Yahoo?

Selama ini kita mengenal Yahoo! sebagai layanan internet yang pernah berjaya di era 90-an hingga awal 2000-an. Saat itu, Yahoo! merajai layanan directory, search, news, e-mail, messaging, groups (mailing list), games, hingga free hosting (GeoCities), online bookmarks (delicious) dan photo sharing (Flickr). Namun, perlahan-lahan kejayaan itu surut hingga nyaris tak berbekas. Hari ini layanan Yahoo! yang tersisa hanyalah news dan e-mail. Sejak 2017, Yahoo! telah dijual ke Verizon, di bawah payung baru, Oath, bersama-sama brand seperti Aol., engadget, dan TechCrunch. Sementara, beberapa aset yang menguntungkan di-spinoff seperti Yahoo! Japan dan saham di Alibaba.com, dalam perusahaan yang disebut Altaba. LINE, berawal dari bencana alam gempa bumi dan tsunami di Jepang pada tahun 2011. Saat itu, hancurnya infrastruktur telekomunikasi memaksa teknisi NHN menggunakan internet untuk berkomunikasi. LINE kemudian tumbuh menjadi aplikasi messaging terpopuler di Jepang, juga di Taiwan dan Thailand dengan lebih dari 700 juta pengguna di seluruh dunia.

(Sumber: asia.nikkei.com)

Baru-baru ini beredar kabar bahwa Yahoo mengakuisisi LINE, sebenarnya apa yang terjadi? Jadi begini, Altaba sebagai pemilik Yahoo! Japan menjualnya kepada SoftBank, partner bisnisnya, di akhir tahun 2018. Altaba akhirnya menutup usahanya di tahun 2019 setelah menjual semua asetnya yang tersisa, termasuk sahamnya di Alibaba.com. SoftBank kemudian membentuk perusahaan baru bersama Naver corporation sebagai pemilik LINE, yang kemudian membawahi Yahoo! Japan dan LINE. Sampai hari ini Yahoo! Japan masih beroperasi dengan tampilan ala Yahoo! tahun 2000-an, dengan layanan yang sangat beragam.

Selamat Datang (Kembali?) TV Digital

Salah satu isu yang sering muncul (dan tenggelam lagi) adalah migrasi penyiaran TV dari analog ke digital. Menariknya, isu ini jarang muncul di pemberitaan TV! Akibatnya, persepsi masyarakat umum menjadi simpang siur, apakah TV digital ini, bagaimana cara menyaksikan siaran TV digital, channel TV mana saja yang tersedia, berbayarkah siaran TV digital, perbandingannya dengan TV analog/TV satelit (parabola)/TV kabel/IPTV (OTT/Video on Demand/Streaming), dan kapan tepatnya peralihan ini dilakukan. Di bawah ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan coba dibahas satu per satu.

(source: https://says.com/my)
  1. Apakah TV Digital itu?
    • TV digital adalah sistem penyiaran televisi menggunakan sistem digital encoding. Siaran televisi tidak lagi menggunakan sinyal analog pada frekuensi tertentu, namun dengan mengirimkan bit-bit terkompresi (menggunakan teknologi MPEG-2/MPEG-4) sehingga satu frekuensi bisa digunakan lebih dari satu channel. Sistem penyiaran TV digital yang digunakan adalah DVB-T2 (Digital Video Broadcasting Terrestrial 2)
  2. Bagaimana cara menyaksikan siaran TV digital?
    • Perangkat yang dibutuhkan adalah tuner yang mendukung teknologi DVB-T2. Jika kita memiliki/membeli TV keluaran terbaru, kemungkinan perangkat itu sudah memiliki tuner DVB-T2 built-in. Jika Anda memiliki TV keluaran lama, Anda membutuhkan perangkat tambahan berupa set-top box (STB) yang mendukung teknologi DVB-T2. Siaran TV digital menggunakan frekuensi UHF, sama dengan TV analog, sehingga Anda tidak perlu mengganti antena TV yang sudah ada.
  3. Apakah keunggulannya dibandingkan dengan TV analog?
    • Selain penggunaan frekuensi yang lebih efisien, channel yang tersedia lebih banyak, siaran TV digital ini lebih bagus kualitas gambar dan suaranya dibandingkan dengan siaran TV analog. Sebagai perbandingan. kualitas TV analog setara dengan VCD, maka siaran TV digital (Standard Definition) minimal setara dengan DVD, sementara siaran TV digital HD (High definition) setara dengan Blu-Ray. Perbedaan yang paling jelas terlihat, siaran TV analog akan menampilkan pola moire (semut) saat (penerimaan) sinyal kurang kuat, siaran digital akan pause, tampak pola kotak-kotak (mosaik), atau bahkan langsung menghilang saat penerimaan sinyal kurang kuat.
  4. Channel mana saja yang tersedia?
    • Meskipun belum resmi, sejumlah stasiun TV selama ini sudah melakukan siaran digital, meskipun terbatas di area tertentu. Sejumlah stasiun TV juga sempat menghentikan siarannya atau berpindah ke mux/frekuensi lain. Di bawah ini adalah daftar siaran TV digital untuk area Jabodetabek per April 2021, harap diingat bahwa penambahan atau pengurangan channel bisa terjadi sewaktu-waktu.
      1. mux 24 (498 Mhz): SCTV HD, Indosiar HD, O-Channel HD, Mentari TV HD
      2. mux 32 (562 MHz): MetroTV, MetroTV HD, MagnaTV, BNTV, BBSTV, UGTV, JawaPosTV, MyTV
      3. mux 34 (578 MHz): antv, tvOne, SportOne, JAKTV
      4. mux 36 (594 MHz): Berita Satu HD, Berita Satu World, Berita Satu English
      5. mux 40 (626 MHz): TransTV HD, Trans7 HD, CNN Indonesia HD, CNBC Indonesia HD, KompasTV, GramediaTV, KTV
      6. mux 42 (642 MHz): TVRI Nasional, TVRI DKI, TVRI 3, TVRI Sports HD, TVMu, NusantaraTV, DAAITV, NET. , TempoTV, InspiraTV, BadarTV
      7. mux 44 (658 MHz): RCTI, MNCTV, GTV, iNews
      8. mux 48 (690 MHz): rtv-1 HD, rtv-2 HD
  5. Apakah TV digital ini berbayar?
    • Tidak, siaran ini bisa disaksikan scara gratis (FTA/Free to Air) seperti halnya TV analog, asalkan Anda memiliki perangkat DVB-T2 dan siaran tersedia untuk area sekitar.
  6. Bagaimana perbandingan TV digital dengan TV analog/TV satelit (parabola)/TV kabel/IPTV (OTT/Video on Demand/Streaming)?
    • TV Analog: sama-sama gratis (FTA), hanya sistem penyiaran berbeda
    • TV satelit/parabola: tersedia siaran gratis dan berbayar serta membutuhkan perangkat antena (parabola/satellite dish) dan receiver (DVB-S2)
    • TV kabel: umumnya berbayar dan membutuhkan koneksi kabel (coaxial/fiber) dan dekoder
    • IPTV/OTT/Video Streaming:tersedia layanan gratis dan berbayar serta membutuhkan koneksi internet dan bisa diakses menggunakan smartphone, PC/laptop, SmartTV, atau STB
  7. Kapan migrasi ke TV digital ini dilakukan?

It’s the End of CentOS as We Know It

(And I Feel Fine…?). Mungkin memang sudah bisa diperkirakan sebelumnya. Distro linux populer, CentOS, alias Red Hat Enterprise Linux Clone ini akhirnya tidak lagi dikembangkan oleh Red Hat. Yup, mungkin tanda-tandanya mulai terlihat sejak pengambilalihan CentOS oleh Red Hat di tahun 2014. Red Hat memperkenalkan CentOS Stream di bulan September 2019 sebagai “jembatan” antara Fedora dan Red Hat Enterprise Linux, yang diperbarui secara terus-menerus, mungkin bisa disamakan dengan Debian Testing Branch, jika Fedora adalah Debian Unstable Branch. Nah, ke depannya CentOS Stream akan tetap dipertahankan, secara efektif menggantikan CentOS dalam pengertian sekarang. Reaksi dari komunitas pengguna CentOS/Red Hat Enterprise Linux sebagian besar negatif, apalagi sebelumnya CentOS 8 (versi terakhir) dijanjikan akan didukung hingga 2029 (seperti halnya Red Hat Enterprise Linux 8), namun sekarang akan dihentikan pengembangan dan dukungannya pada Desember 2021. Ironis mengingat dukungan untuk CentOS 7 baru akan berakhir pada tahun 2024.

(sumber: openlogic.com)

CentOS (Community Enterprise Operating System) adalah hasil rebuild dari kode sumber Red Hat Enterprise Linux (RHEL). Meskipun Red Hat merilis RHEL sebagai produk berbayar, kode sumbernya dirilis untuk publik untuk memenuhi ketentuan lisensi GPL. Beberapa pihak dalam komunitas menggunakannya untuk membuat distro yang kompatibel dengan RHEL, di antaranya Springdale Linux, Scientific Linux, dan Oracle Linux (sebelumnya Oracle Unbreakable Linux dan Oracle Enterprise Linux). CentOS dimulai pada tahun 2004 dan menjadi yang terpopuler di antara distro RHEL clone lainnya. Scientific Linux bahkan telah menghentikan pengembangannya dan menyarankan penggunanya untuk beralih ke CentOS. Pada tahun 2010, CentOS sempat menggeser Debian sebagai sistem operasi server web terpopuler berbasis linux. Para penggunanya menyukai stabilitas, kompatibilitas dengan RHEL, dan tentu saja, kebebasan untuk menggunakan CentOS di lingkungan pengembangan maupun produksi. Tentu saja, itu akan segera berakhir.

Tampilan Situs Parodi CentOS (sumber: http://centos.rip)

Tentu saja, berakhirnya CentOS membuka peluang untuk memunculkan alternatifnya, Selain Springdale Linux dan Oracle Linux, dua proyek baru dimunculkan setelah kabar ini dirilis, Project Lenix AlmaLinux (dari CloudLinux) dan Rocky Linux, yang diinisiasi oleh Gregory Kurtzer, salah satu pendiri CentOS. Anda juga bisa mempertimbangkan untuk mendapatkan lisensi developer untuk RHEL, atau berpindah sepenuhnya ke distro linux lain seperti Debian, Ubuntu, atau SUSE. Sebagai pembanding silakan menyimak artikel oleh seorang karyawan Red Hat seputar hal ini atau artikel oleh karyawan Red Hat lainnya (dan satu lagi, baca juga komentar pertama artikel ini oleh admin grup Facebook CentOS) . Intinya, Red Hat, sengaja atau tidak, merangkul CentOS untuk menarik komunitasnya, untuk mengubahnya (CentOS dan komunitasnya) menjadi penguji RHEL dengan merilis CentOS Stream (dan kemudian menghentikan pengembangan dan dukungan CentOS). Well, bagi Penulis CentOS adalah salah satu episode dalam karier profesional (berawal dari sini).

Bye Bye Flash!

Tentu saja bukan Telkomsel Flash yang dimaksud, namun Adobe Flash (player/plugin) yang dulu dikenal dengan nama Macromedia Flash. Bagi generasi pengakses internet akhir 90-an hingga awal dekade 2000-an, Flash adalah lambang “keunggulan” sebuah situs. Situs web berbasis Flash jauh lebih menarik dan interaktif dibandingkan situs web berbasis HTML statis saat itu. Bagi pengakses internet pertengahan dekade 2000-an, Flash adalah syarat utama menonton video (streaming) di internet karena YouTube waktu itu mewajibkan penggunanya memasang Flash Player/Plugin untuk dapat menyaksikan video dari situsnya. Sementara penggunaan Flash untuk situs web waktu itu mulai berkurang seiring populernya CMS (Content Management System) berbasis server-side dengan menggunakan PHP (PHP: Hypertext Processor, duh). Akhirnya, HTML5 memperkenalkan WebCanvas dengan kemampuan animasi yang native tanpa memerlukan plugin tambahan membuat Flash menjadi tidak esensial lagi. Ditambah lagi, HTML5 menambahkan kemampuan untuk memainkan video lewat tag <video> yang semakin “menyingkirkan” peranan Flash player/plugin. Tentu saja, keputusan untuk menghapus dukungan plugin pada browser web modernlah yang menjatuhkan vonis mati bagi Flash player/plugin.

Adobe, yang menjadi pengembang Flash setelah mengakuisisi Macromedia, telah memutuskan untuk menghentikan pengembangan Flash player/plugin sejak tahun 2017. Dalam waktu tiga tahun semua dukungan untuk Flash player/plugin akan dihentikan, yang berarti akhir tahun 2020. Para pengguna setianya akan melihat tampilan seperti gambar di atas. Bagi yang tidak menyadari, selama ini dukungan pembaruan untuk Flash player dilakukan secara otomatis oleh Microsoft untuk browser Internet Explorer/Edge (versi ActiveX), oleh Mozilla untuk Firefox (versi NPAPI), dan oleh Google untuk browser Chrome (untuk versi PPAPI). Pembaruan terakhir untuk Flash player adalah versi 32.0.0.453 yang dirilis bulan November 2020. Tentu saja, semua dukungan tersebut akan berakhir terhitung 31 Desember 2020. Jadi, sudah siapkan Anda berpisah dengan Flash?

Bye Bye Yahoo Groups!

Akhirnya terjadi juga, setelah akhir tahun lalu Yahoo Groups menghapus konten dari user di situs webnya, akhir tahun ini, tepatnya 15 Desember 2020, Yahoo Groups akan ditutup untuk selamanya. Yahoo Groups didirikan pada tahun 1998 dengan nama Yahoo Clubs. Pada tahun 2001 Yahoo! mengakuisisi layanan milis eGroups dan mengintegrasikannya dengan Yahoo Clubs menjadi Yahoo Groups.

Bye Bye (sumber: Yahoo Groups website)

Pada era sebelum situs media sosial seperti Friendster, MySpace, dan Facebook merajai, Yahoo Groups sangat populer sebagai ajang komunitas online. Setelah situs media sosial, berkembangnya mobile internet membuat fitur serupa Yahoo Groups muncul seperti Facebook Groups, BBM Group, dan WhatsApp Group. Seiring merosotnya reputasi Yahoo! sebagai penyedia layanan online terdepan, satu per satu layanannya ditutup atau dijual, seperti GeoCities, Messenger, Delicious, Flickr, Tumblr, dan akhirnya Yahoo Groups.

Yahoo Groups Closure Announcement

Bagi para admin grup, silakan menulis ucapan perpisahan untuk para anggotanya. Oya, layanan Yahoo Mail masih akan ada (untuk saat ini). Bagi yang mencari pengganti Yahoo Groups, selain Facebook Groups bisa juga mencoba beberapa alternatif di bawah ini:

Fenomena Digital Provider di Indonesia

Setahun terakhir ini pengguna mobile internet di Indonesia mulai dikenalkan dengan penyedia layanan “baru” yang disebut juga digital provider. Provider baru ini tidak sepenuhnya baru, karena sejatinya sebagai service provider, mereka harus mengandalkan network provider di belakangnya yang tidak lain adalah operator seluler yang selama ini sudah beroperasi di Indonesia. Pelopor digital provider ini adalah by.U (dari Telkomsel) yang memperkenalkan HUP di bulan Oktober 2019. Kemudian, opsel Smartfren juga mengenalkan layanan Switch disusul oleh XL Axiata yang mengenalkan layanan Live.On. Indosat Ooredoo menjadi opsel terakhir yang mengenalkan layanan digital provider, yang disebut MPWR. Smartfren juga meluncurkan Power Up, dengan fitur mirip dengan digital provider pada umumnya, namun masih menggunakan aplikasi MySmartfren dan Galeri Smartfren.

Digital Provider di Indonesia

Digital provider ini berbeda dengan layanan operator seluler yang biasa. Pertama, layanan berbasis digital yang diawali dengan mengunduh apps provider yang bersangkutan. Dalam apps, Pengguna bisa melakukan registrasi layanan dan pembayaran secara digital. Pengguna bisa memilih nomor dan paket layanan sendiri (custom), sebelum kartu SIM (fisik) dikirimkan kepada pengguna. Singkat kata, interaksi Pengguna dan provider dilakukan secara digital via apps tanpa melibatkan pihak ketiga seperti counter/gerai atau toko/kios HP.

Paket data yang ditawarkan biasanya lebih kompetitif dibandingkan paket dari operator seluler. Bahkan, ada provider yang mengizinkan Pengguna membuat paket sendiri, kuota dan masa berlaku yang bisa disesuaikan. Digital provider juga memberikan banyak promo atau penawaran yang bisa diakses via apps masing-masing. Apakah Anda juga berminat mencoba layanan digital provider ini?

UPDATE:
Operator digital Switch menghentikan operasionalnya terhitung tanggal 27 Januari 2021 dan para pelanggannya disarankan migrasi ke Smartfren.

Mulai Juni 2021, Penyimpanan Google Photos Tidak Lagi Unlimited

Selama ini kita ketahui bahwa kapasitas penyimpanan gratis untuk layanan Google Gmail, Drive, dan Photos (foto dan video kualitas asli) adalah 15 GB secara total. Namun ada beberapa pengecualian:

  • File-file berformat Google Docs, Sheet, Slide, Drawings, Forms, dan Jamboard tidak dihitung (unimited)
  • File-file foto dan video, jika memilih opsi penyimpanan dengan kualitas tinggi (16 MP foto atau 1080p video) tidak dihitung (unlimited)
  • File-file foto dan video yang diunggah lewat perangkat Google Pixel tidak dihitung (unlimited)
  • Backup WhatsApp juga tidak dihitung (unlimited)

Namun, terhitung tanggal 1 Juni 2021, semua pengecualian itu tidak lagi berlaku. Artinya, semua file yang disimpan di Gmail, Google Drive, dan Google Photos, apapun format dan kualitasnya, sejak tanggal 1 Juni 2021 akan dihitung sebagai bagian dari kapasitas total penyimpanan akun Google Anda, yaitu maksimum 15 GB. Pengecualian masih berlaku untuk pengguna Google Pixel (foto dan video kualitas tinggi) dan backup WhatsApp (?). Tentu saja ini tidak berlaku untuk file-file yang disimpan sebelum tanggal 1 Juni 2021, kecuali jika file tersebut diubah (diedit) setelah tanggal 1 Juni 2021. Akun-akun yang nonaktif (tidak ada kegiatan) selama dua tahun juga akan menerima peringatan tentang penghapusan file yang disimpan di dalamnya.

(Sumber: blog.google/products/photos)

Tentunya ini sedikit mengejutkan, walaupun bagi yang memperhatikan perkembangan, bahwa Microsoft telah menghapus opsi penyimpanan unlimited di OneDrive, begitupun Yahoo!. Google akan menambahkan tool untuk mengelola penyimpanan dan menambahkan pesan/peringatan mengenai kapasitas penyimpanan yang tersisa, dalam satuan waktu, misal: penyimpanan Anda saat ini akan penuh dalam 3 tahun lagi. Tentu saja, masih ada opsi lain untuk menambah kapasitas penyimpanan, apakah itu dengan berlangganan (via GoogleOne) atau mendaftarkan akun Google tambahan. Anda juga dapat menggunakan layanan lain untuk mencadangkan foto dan video Anda.

HOOQ dan Airy Tutup, Ketularan COVID-19?

Di dunia bisnis, jatuh bangunnya suatu usaha, berikut produknya, menjadi hal biasa. Terlebih di era online, saat produk  yang ditawarkan semakin abstrak dan cepat berubah. Seperti counterpart-nya di dunia “nyata”, aplikasi atau layanan berbasis web bisa berubah wajah, berganti kepemilikan, hingga akhirnya menghilang tanpa jejak. Bahkan, nama besar di balik sebuah aplikasi/layanan tidak menjamin, contoh: Yahoo! GeoCities, Google Reader, Yahoo Messenger, hingga BBM. Dalam situasi krisis atau resesi, bisnis online pastilah akan terpengaruh.

Di tengah situasi krisis akibat pandemi COVID-19, alias virus Corona ini efeknya terasa pada semua sektor kehidupan. Tutupnya fasilitas umum, pembatasan event, penutupan akses, berdampak pada dunia usaha mulai pemotongan gaji, PHK, hingga penutupan usaha. Meskipun ada juga sektor usaha yang justru berkembang di tengah situasi ini. Kali ini ada dua aplikasi/layanan online yang menutup usahanya di tengah pandemi COVID-19 yaitu HOOQ (layanan video streaming) dan Airy (layanan booking hotel dan tiket pesawat). Layanan HOOQ sebenarnya cukup populer karena banyak ditawarkan dalam paket-paket internet dari operator-operator telekomunikasi di Indonesia. Namun, pemegang saham mayoritasnya, Singtel, telah memutuskan untuk melikuidasi HOOQ pada akhir bulan April 2020. Sementara itu, Airy akan berhenti beroperasi pada akhir bulan Mei 2020. Industri pariwisata secara umum memang sangat terpukul akibat situasi pandemi COVID-19 ini.