Flickr Dibeli SmugMug, Dibatasi Hanya 1000 File

Sebelum Instagram, kita mengenal Flickr sebagai situs untuk berbagi foto (digital). Didirikan oleh Ludicorp di tahun 2004, Flickr menjadi salah satu situs internet terpopuler saat itu. Popularitas Flickr menarik perhatian Yahoo! yang kemudian mengakuisisinya di tahun 2005, yang berdampak pada ditutupnya layanan Yahoo! Photos di tahun 2007. Di tahun yang sama, Flickr mewajibkan penggunaan Yahoo! Mail untuk login, langkah yang banyak dikritik oleh pengguna setianya. Pada tahun 2013, Flickr menaikkan kapasitas penyimpanan untuk semua pengguna menjadi 1 Terabyte. Dalam perkembangannya, Flickr mulai kehilangan posisinya sebagai situs berbagi foto, terutama setelah semakin populernya situs seperti Facebook dan Instagram. Akhirnya saat Yahoo! dijual ke Verizon pada tahun 2017,  masa depan Flickr mulai dipertanyakan.

(Sumber: theverge.com)

Pada bulan April 2018, SmugMug membeli Flickr dari Oath (holding dari perusahaan digital di bawah Verizon seperti AOL dan Yahoo!). SmugMug sendiri adalah situs yang menawarkan layanan yang identik dengan Flickr (berbagi foto), namun ditujukan untuk kalangan profesional dan berbayar. Baru-baru ini, Flickr mengumumkan perubahan besar bagi pengguna layanan gratisnya. Jika sebelumnya semua pengguna Flickr mendapatkan kapasitas penyimpanan sebesar 1 Terabyte, terhitung awal Januari 2019 pengguna layanan gratis akan dibatasi sebanyak 1000 file/foto saja. Para pengguna layanan gratis yang saat ini menyimpan file/foto di atas 1000 disarankan untuk beralih ke layanan berbayar (Flickr Pro) dengan membayar US$ 50/tahun atau mengurangi jumlah file/foto yang disimpan di Flickr menjadi maksimal 1000 saja. Jika ini tidak dilakukan, maka terhitung Februari 2019 Flickr akan menghapus file/foto pada akun pengguna layanan gratis hingga tersisa 1000 file/foto, dimulai dari yang paling awal diunggah. Kebijakan ini pun tak ayal menuai kontroversi di kalangan pengguna Flickr. Di satu sisi, SmugMug sebagai pemilik baru Flickr nampaknya mulai kewalahan menangani kebutuhan media penyimpanan dan sumber daya jaringan, terutama biaya yang harus dibayar. Di sisi lain, tidak semua pengguna layanan gratis Flickr mau dan mampu beralih ke layanan berbayar. (Catatan: Akun milik Penulis sendiri, yang sudah berusia sekitar 11 tahunan, saat ini memiliki 4000-an foto, setengahnya bisa diakses publik). Belum lagi di antara akun gratisan Flickr ini terdapat pustaka foto/gambar dengan lisensi Common Creative yang banyal digunakan untuk kepentingan nonprofit.

Iklan

IBM Segera Mengakuisisi Red Hat

Sebuah kabar besar dari dunia teknologi informasi, IBM akan mengakuisisi Red Hat senilai US$ 34 Miliar. Ini disebut-sebut sebagai akuisisi perusahaan perangkat lunak terbesar, mengalahkan akuisisi LinkedIn oleh Microsoft senilai US$ 26 Miliar. Dalam rilis pers resminya disebutkan bahwa IBM lebih menekankan pada bisnis cloud, tepatnya hybrid/multi cloud dari Red Hat. Meskipun demikian, reputasi Red Hat sebagai perusahaan berbasis open source (Linux) tetaplah tidak terbantahkan. Sementara di sisi lain, IBM juga banyak berperan dalam pengembangan open source dan juga Linux. Tentu saja, berita ini ditanggapi secara hati-hati di kalangan pegiat open source, terutama setelah pengalaman akuisisi SUSE oleh Novell dan Sun oleh Oracle. Belum lagi anekdot yang menyebutkan tentang tidak cocoknya identitas korporat IBM yang dikenal sebagai “The Big Blue” (biru) dengan Red Hat yang tentunya identik dengan warna merah!

(sumber: thurrott.com)

Java 11 Dirilis, Benarkah Tidak Gratis Lagi?

Oracle baru-baru ini merilis Java versi 11, sebagai kelanjutan versi 9 dan 10. Rilis kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya karena versi 11 ini dinyatakan sebagai LTS (Long Term Support). Sebagaimana diketahui, mulai versi 9, Java versi baru akan dirilis setiap enam bulan sekali, alih-alih tiga tahun seperti versi-versi sebelumnya (1 – 8). Perubahan juga terjadi pada dukungan. Jika Java (JDK/JRE) versi 1 – 8 didukung oleh Oracle (dan sebelumnya Sun) untuk semua penggunaan (pribadi/komersial) gratis dan jangka panjang (LTS). Mulai versi 11, Java yang diunduh dari situs Oracle (java.sun.com) hanya didukung (gratis) untuk penggunaan pribadi (development). Untuk penggunaan komersial (production) Oracle akan mengenakan biaya, mirip dengan skema lisensi untuk produk Oracle lainnya seperti database, middleware, dan analytics (business intelligence).

(sumber: proglib.io)

Kabar baiknya, bagi yang belum mengetahui, bahwa Java (JDK) mulai versi 7 sebenarnya sudah dirilis secara open source dengan lisensi GPL dengan nama OpenJDK. Artinya, kode sumber Java bisa diakses oleh publik dan siapapun bisa merilis JDK dari kode tersebut. Oracle menggunakan kode OpenJDK untuk membuat Oracle JDK yang menjadi standar implementasi Java. Bagi pengguna Linux pun selama ini sudah bisa memanfaatkan OpenJDK yang dipaketkan oleh distro-distro seperti RedHat, Ubuntu, Debian, atau SUSE. Dukungan untuk OpenJDK di Linux pun langsung diterima dari vendor distro masing-masing. Selama ini pun, sudah ada beberapa vendor yang merilis JDK versinya sendiri, seperti IBM, Red Hat (membutuhkan akun Red Hat), dan Azul yang bersumber dari kode OpenJDK. Nah, mulai versi 11 Oracle juga merilis versi OpenJDK-nya sendiri. Versi ini bisa digunakan untuk semua penggunaan (pribadi/komersial) tanpa membayar lisensi. Jangan lupa, AdoptOpenJDK juga menyediakan unduhan OpenJDK dengan dua versi, menggunakan JVM Oracle Hotspot atau Eclipse OpenJ9.

Kesimpulannya, Oracle JDK versi 11 tidak sepenuhnya gratis seperti versi-versi sebelumnya. Oracle sendiri merilis versi “sepenuhnya gratis” JDK yang dinamakan Oracle OpenJDK 11 (nama resminya OpenJDK Builds from Oracle). Sebagai alternatifnya (Java 11) ada AdoptOpenJDK dan Zulu dari Azul. Red Hat dan IBM sejauh ini belum merilis JDK versi 11.

Linus Torvalds Mengundurkan Diri dari Linux?

Dalam sebuah e-mail yang dikirimkan ke milis projek kernel Linux, Linus Torvalds yang merupakan pencipta Linux mengumumkan keputusannya untuk rehat sejenak dari kesibukannya mengembangkan kernel Linux. Pada saat hampir bersamaan, ia mencetuskan Linux Code of Conduct yang baru yang diadopsi dari Contributor Covenant menggantikan Linux Code of Conflict yangs selama ini dipakai.  Perubahan ini dilakukan karena Code of Conflict dirasa tidak mencapai sasarannya untuk mejadikan lingkungan pengembang Linux lebih “beradab”. Selama ini, Linus Torvalds dikenal sangat blak-blakan dalam mengomentari kontribusi para pengembang Linux, dengan menggunakan bahasa yang “kasar” (dan pecah-pecah). Hal ini dikhawatirkan akan membuat kontributor, terutama perempuan, menjadi kurang nyaman dan akhirnya menghentikan kontribusi lebih lanjut. Linus selanjutnya akan menggunakan waktu rehatnya untuk “mendapatkan bantuan tentang cara memahami emosi orang dan merespons dengan tepat”. Ia akan digantikan sementara oleh Gregory Kroah-Hartman dan akan kembali lagi pada saatnya nanti.

(sumber: Wikipedia)

Ubuntu Kini Tersedia di Microsoft Hyper-V Gallery

Microsoft nampaknya memang serius dalam usahanya PDKT ke Linux. Setelah meluncurkan Windows Subsystem for Linux (WSL), Microsoft bekerja sama dengan para vendor distro Linux untuk menyediakan installer distro Linux di Microsoft Store. Ini memungkinkan untuk menjalankan distro Linux berdampingan dengan Windows 10. Baru-baru ini, Microsoft bekerja sama dengan Canonical untuk menghadirkan image distro Ubuntu 18.0.4.1 LTS di Hyper-V Gallery. Bagi yang belum tahu, Hyper-V adalah produk Microsoft untuk manajemen Virtual Machine, seperti halnya VMware Workstation atau Oracle VM VirtualBox, yang tersedia untuk versi Pro dari Windows 8, 8.1, dan 10 menggantikan Virtual PC. Pengguna Hyper-V tidak perlu mengunduh ISO image Ubuntu terlebih dahulu, cukup menggunakan Hyper-V Quick Create (tersedia  mulai Windows 10 versi 1709) lalu memilih opsi yang tersedia, lalu image Ubuntu akan diunduh langsung dari Microsoft.

Hyper-V Gallery (sumber: blogs.windows.com)

 

Mengunduh Ubuntu 18.0.4.1 LTS Hyper-V image

Bye, Bye Yahoo Messenger!

Akhirnya terjadi juga, layanan Yahoo Messenger akan resmi dihentikan pada tanggal 17 Juli 2018. Bagi Penulis dan banyak netter yang mulai aktif ber-internet sejak akhir 90-an dan awal abad ke -21 pasti mengenal aplikasi “wajib” ini. Kebutuhan untuk memiliki Yahoo! ID untuk alamat e-mail dan messenger id adalah langkah awal seseorang resmi menjadi seorang netter waktu itu. Jika nickname IRC menjadi identitas “anak gaul” di internet pada dekade 90-an, maka Yahoo (Messenger) ID menjadi penggantinya di dekade 2000-an, khususnya di Indonesia. Di belahan dunia lainnya, aplikasi kompetitor seperti AIM, ICQ, dan MSN Messenger mungkin lebih populer, tapi di sini Yahoo Messenger seolah tidak terkalahkan, sampai akhirnya era mobile internet memunculkan aplikasi messaging seperti BBM, Facebook Messenger, WhatsApp, LINE, WeChat, dan KakaoTalk yang sekarang menjadi dominan, menggantikan aplikasi-aplikasi di atas (AIM, MSN Messenger, dan juga Google Talk telah berhenti beroperasi). Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, Yahoo Messenger menjadi layanan kesekian yang dihentikan/dijual oleh Yahoo! setelah GeoCities, Koprol, Delicious, dan Flickr.Bagi pengguna Yahoo Messenger akan diberikan kesempatan untuk mengunduh arsip percakapannya paling lambat bulan November 2018.

Setelah Minecraft dan LinkedIn, Microsoft Akuisisi GitHub

Lagi-lagi mengenai microsoft. Namun, kali ini memang satu kabar yang tidak bisa dilewatkan. Jika Anda melewatkan akuisisi Minecraft dan LinkedIn (dan juga Skype) oleh Microsoft, maka akuisisi GitHub senilai US$ 7,5 miliar ini tidak boleh dilewatkan. Skype dan Minecraft adalah end-user product (software) dan LinkedIn adalah situs media sosial, GitHub adalah situs repositori pengembangan perangkat lunak terpopuler saat ini. Jika dulu Anda mengenal situs seperti SourceForge, maka GitHub bisa dikatakan sebagai penggantinya. GitHub menggunakan software open source git, yang diinisiasi oleh Linus Torvalds (inisiator Linux), sebagai basisnya. Dengan sendirinya, sebagian besar projek perangkat lunak di GitHub adalah open source. Diakuisisinya GitHub oleh Microsoft membuat sebagian dari mereka mulai mengalihkan pengembangannya ke provider lain (GitLab, BitBucket), salah satunya adalah BitCoin.

(Sumber: blog.github.com)

Sementara itu, Microsoft berjanji untuk tetap menjalankan GitHub seperti kondisi saat ini. Meskipun masih ditunggu untuk ke depannya, mengingat Microsoft saat ini mengandalkan bisnis cloudnya, Azure, yang menjadikan kemungkinan integrasinya dengan GitHub sebuah opsi yang menarik bagi para pengembang dibandingkan layanan seperti AWS dan Google Cloud. Di sisi lain, Langkah akuisisi GitHub menjadi babak baru dari jargon “Microsoft Loves Linux” yang dicanangkan CEO Satya Nadella.

Java 10 Dirilis, Kini Enam Bulan Sekali

Oracle baru saja merilis Java 10 Standard Edition (Java SE 10) pada tanggal 20 Maret 2018, hanya enam bulan setelah rilis Java SE 9 pada bulan September 2017. Pada keterangan persnya, Oracle menyebutkan bahwa rilis Java kini akan semakin cepat, dengan rilis versi baru tiap enam bulan sekali. Di samping itu, Oracle juga akan merilis versi LTS (Long-Term Support) yang akan menerima pembaruan/dukungan lebih dari enam bulan, dimulai pada Java SE 11. Namun, seperti yang telah dijelaskan saat rilis Java SE 9 dan pada Java Support Roadmap (perhatikan gambar di bawah), Oracle akan “membatasi” rilis Oracle JDK untuk pengguna bisnis, yang harus membayar untuk dukungan jangka panjang. Hal ini juga telah dilakukan pada versi-versi Java sebelumnya, namun kita tahu bahwa versi Java sebelum Java SE 9 (1 – 8) tersedia untuk umum lengkap dengan dukungan/pembaruan selama (sedikitnya) lima tahun. Bagi pengguna umum/non-komersial, Oracle akan merilis versi OpenJDK dengan lisensi GPL mulai versi 9.

Java Release Map (source: medium.com)

Bagi para pengguna/pengembang Java, tentu ini akan menjadi hal baru, apalagi selama ini terbiasa dengan siklus rilis (Oracle) Java yang relatif panjang. Belum lagi, persepsi tentang kompatibilitas aplikasi Java dengan nomor versi yang berbeda, bukan sekadar patch level. Apalagi jika menggunakan OpenJDK yang berbeda vendor (distributor). Bagi pengguna Linux, openJDK biasanya disediakan oleh masing-masing vendor distro (Ubuntu, Fedora, SUSE, Debian), sedangkan pengguna Windows bisa mencoba AdoptOpenJDK atau Red Hat Open JDK (Anda harus mempunyai akun Red Hat untuk mengunduh).

Microsoft Windows 10 S Kini Menjadi Windows 10 S Mode

Masih ingatkah Anda dengan Windows 10 S? Sistem operasi ini bersama Surface Laptop diharapkan akan dapat menandingi ChromeBook dengan ChromeOS-nya. Windows 10 S hanya akan dapat menjalankan aplikasi dari Microsoft Store, tepatnya lagi hanya aplikasi berbasis Universal Windows Platform (UWP). Setahun berlalu, sambutan terhadap Windows 10 S ternyata tidak terlalu menggembirakan. Hingga akhirnya baru-baru ini Microsoft melakukan “reposisi” Windows 10 S, bukan lagi sebagai satu edisi Windows 10, namun sebagai sebuah opsi (mode) untuk edisi Windows 10 yang umum dipakai (Home, Pro, Enterprise). Istilahnya, Microsoft Windows 10 Pro in S Mode, alias Windows 10 Pro yang hanya menjalankan aplikasi UWP dari Microsoft Store. Windows 10 S Mode ini rencananya akan diterapkan pada update Windows 10 berikutnya. Berbeda dengan “edisi” Windows 10 S yang mengenakan biaya untuk berpindah ke edisi Pro, Windows 10 S mode dapat berpindah ke edisi “penuh” tanpa dikenakan biaya.

(Sumber: PCWorld/Mark Hachman)

Java EE Berpindah ke Eclipse, Kini Menjadi Jakarta EE

Perubahan di dunia teknologi informasi memang sangat cepat. Suatu teknologi yang hari ini menjadi trend mungkin akan segera berganti dengan teknologi lain. Begitu juga dengan pengembangan teknologi yang berpindah-pindah dari satu entitas/perusahaan ke entitas lain. Java, misalnya, dilahirkan dan dikembangkan oleh perusahaan Sun Microsystems sejak tahun 1996. Saat Sun Microsystems diakuisisi oleh Oracle di tahun 2009, Java pun berpindah kepemilikan. Seperti pernah dibahas sebelumnya, warisan teknologi Sun Microsystems sejak diakuisisi oleh Oracle banyak yang telah berpindah tangan, di antaranya OpenOffice dan NetBeans yang kini di bawah Apache Foundation. Java, sebagai teknologi andalan Sun dan telah menjadi platform yang populer di kalangan enterprise selama ini bisa dikatakan “aman” dan pengembangannya masih aktif di bawah kendali Oracle. Namun ternyata, pada bulan November 2017 Oracle menyerahkan pengembangan Java Platform Enterprise Edition (Java EE) kepada Eclipse Foundation. Eclipse Foundation sendiri selama ini dikenal dengan produk Eclipse IDE untuk pengembangan aplikasi. Pada bulan Februari 2018, branding baru untuk Java EE telah ditetapkan, yaitu Jakarta EE. Sementara, nama project top-level untuk Jakarta EE adalah Eclipse Enterprise for Java (EE4J). Keputusan ini diambil untuk mengakselerasi pengembangan Java EE yang sebelumnya dinilai terlalu lambat dan memakan waktu hingga 3-4 tahun untuk merilis versi baru. Java EE sendiri sebelumnya disebut Java 2 Platform, Enterprise Edition (J2EE) hingga versi 1.4 (2003).

(sumber: eclipse foundation@twitter)