WhatsApp for BlackBerry dan Symbian Diperpanjang Hingga Juni 2017

Sebagaimana diketahui, WhatsApp akan mengakhiri dukungan untuk sejumlah platform di antaranya BlackBerry dan Symbian pada akhir tahun 2016.  Namun, baru-baru ini WhatsApp mengumumkan penundaan untuk beberapa platform sampai 30 Juni 2017. Platform yang ditunda “eksekusinya” adalah BlackBerry (BBOS 6,7, dan 10) dan Symbian (Nokia S40 dan S60), sedangkan platform yang tidak ditunda (berakhir dukungannya di akhir 2016) adalah Android 2.1/2.2, Windows Phone 7, dan iOS 6 (iPhone 3GS). Bagi pengguna platform-platform tersebut tidak tersedia cara untuk memindahkan chat history ke platform lain, namun chat history bisa dikirimkan via e-mail attachment.

(Sumber: morenews.pk)

(Sumber: morenews.pk)

Bagi pengguna platform-platform yang tidak didukung disarankan untuk menggunakan perangkat berbasis Android 2.3 ke atas, Windows Phone 8 ke atas, atau iOS 7 ke atas untuk tetap menggunakan WhatsApp.  Selain itu, sekarang sudah tersedia aplikasi WhatsApp versi web dan desktop, meskipun Anda harus tetap menjalankan aplikasi WhatsApp di smartphone.

Surface Studio,=iMac+iPad Pro

Baru-baru ini Microsoft mengumumkan peluncuran produk terbarunya dalam jajaran lini produk Surface, yaitu Surface Studio. Kalau Surface/Surface Pro dikenal sebagai produk Tablet, kemudian ada juga Surface Book yang merupakan hybrid tablet/laptop, maka Surface Studio bisa disebut desktop, meskipun lebih tepat disebut sebagai digital canvas. Banyak yang membandingkan Surface Studio dengan produk Apple yaitu iPad Pro, namun dengan ukuran display 28 inci produk ini lebih tepat  bersaing dengan Wacom Cintiq, yang disebut sebagai Pen Display. Di sisi lain, penggunaan touch screen dan digital pen, membuat ketiga produk itu bisa dikatakan sejenis, meskipun iPad Pro saat ini hanya menawarkan display 9.7 dan 12,9 inci.

(Sumber: microsoft.com)

(Sumber: microsoft.com)

Produk ini lebih menyasar kaum profesional, terutama desainer grafis yang mengutamakan ergonomi dalam bekerja. Agak berbeda dengan pesaingnya, Surface Studio dirancang sebagai perangkat hybrid tablet/desktop yang tampilan fisiknya mengingatkan pada Apple iMac. Bisa dikatakan Surface Studio ini hybrid iMac/iPad Pro.  Surface Studio yang akan mulai dijual awal 2017 ini menawarkan sejumlah asesoris tambahan seperti mouse, ergonomic keyboard, dan peranti masukan yang unik, yaitu surface dial, yag berbentuk tabung, dan digunakan untuk navigasi radial layaknya tombol volume pada radio.

(Sumber: PC World)

(Sumber: PC World)

Andromeda: Sistem Operasi Baru Pengganti ChromeOS?

Belum lagi mencerna tentang sistem operasi terbaru dari Google, yaitu Fuchsia,  sudah muncul lagi kabar (burung) terbaru mengenai sistem operasi baru dari Google, yang dinamakan Andromeda. Jika Fuchsia adalah sistem operasi yang benar-benar baru, menggunakan microkernel Magenta yang merupakan turunan dari Little Kernel serta dirancang untuk sistem embedded, khususnya IoT (Internet of Things), Andromeda disebut-sebut sebagai pengembangan sistem operasi Android untuk platform PC. Seperti kita ketahui, Google saat ini mempunyai dua sistem operasi: Android untuk smartphone dan tablet, serta ChromeOS untuk PC (chromebook). Sejak setahun terakhir, kabar mengenai integrasi antara kedua sistem operasi ini terus bergulir, mulai dari konsolidasi divisi Android dan ChromeOS sampai ditambahkannya kemampuan menjalankan aplikasi Android pada ChromeOS (chromebook).

(sumber: thehackernews.com)

(sumber: thehackernews.com)

Sistem operasi baru ini kabarnya akan diluncurkan pada even Google pada tanggal 4 Oktober 2016. Pada even tersebut, Google akan memperkenalkan laptop baru dengan codename “Bison” dan secara resmi disebut “Pixel 3”, yang akan menggunakan sistem operasi baru ini. Selain itu, Huawei Nexus yang akan diluncurkan tahun 2017 nanti juga disebut-sebut akan menggunakan Andromeda.

A Passage to Bangkok (and Pattaya)

Setelah tujuh tahun berlalu, akhirnya Penulis punya kesempatan lagi untuk “kesasar” ke luar negeri.Setelah episode Jerman yang Bukan Jejer Kauman, kali ini kota Bangkok dan Pattaya di negara Thailand yang jadi tujuan. Acara outing kantor kali ini memang lain daripada yang biasa. Dengan sedikit bantuan dari sponsor, akhirnya sampailah kami di Thailand untuk bertualang selama lima hari. Penerbangan ke Bangkok selama tiga jam berakhir di bandara Svarnabhumi pada pukul 22.30 malam. Proses imigrasi yang sedikit terhambat membuat kami baru keluar bandara pukul 23.30. Alhasil, perjalanan ke hotel menjadi terasa sangat panjang dan melelahkan. Setiba di hotel sekitar pukul 00.30, perjalanan esok harinya akan dimulai pukul 08.00.

Exif_JPEG_420

Taksi Air di Bangkok

Hari kedua dihabiskan dengan mengunjungi dua vihara terkenal di Bangkok, Wat Pho, alias vihara Budha Tidur, dan Wat Arun. Perjalanan ke Wat Pho mengenalkan kami pada kemacetan kota Bangkok yang tidak kalah dengan Jakarta. Untuk menuju ke Wat Arun, dari Wat Pho kami harus menyeberangi sungai Chao Praya dengan perahu. Sayangnya, saat ini Wat Arun masih dalam proses renovasi sehingga kami tidak bisa menjelajah dengan leluasa. Namun demikian, tempat belanja di belakang Wat Arun menjadi pengobat yang tepat. Pedagang-pedagang di sini nampaknya sudah mengenali turis asal Indonesia. Bukan hanya mereka mampu berbicara dalam Bahasa Indonesia, mereka juga menerima Rupiah sebagai sarana pembayaran! Setelah makan siang, kami langsung bertolak ke Pattaya. Perjalanan Bangkok – Pattaya memakan waktu sekitar dua jam. Setelah menghabiskan sore menyusuri tepian pantai Pattaya (yang menurut Penulis tak jauh berbeda dengan Ancol), malamnya dihabiskan dengan mengunjungi museum Art in Paradise yang menampilkan lukisan tiga dimensi. Tak terasa waktu bergulir untuk berpose di antara lukisan-lukisan dalam museum tersebut. Setelah itu, masih ada sedikit waktu untuk menikmati suasana malam di Pattaya yang jauh lebih meriah dibandingkan siangnya.

Exif_JPEG_420

Duhai Pantai Pattaya…

Hari ketiga, kami mengunjungi beberapa tempat di sekitar Pattaya: galeri batu perhiasan, pasar terapung, dan peternakan lebah. Di galeri batu perhiasan, kami dipertunjukkan proses penambangan dan pengolahan batu perhiasan menggunakan kereta mini, bak istana boneka di Dunia Fantasi. Pasar terapung  Pattaya dibangun di atas danau, dengan beberapa pedagang berjualan di atas perahu. Di peternakan lebah, kami dipandu oleh karyawan setempat dengan bahasa Indonesia dialek Thailand, tentang keunggulan produk madu Thailand yang dihasilkan dari ekstrak bunga Opium (!) yang ditanam di kawasan segitiga emas (bukan di Pasar Senen tentunya). Untuk makan siang, kami menuju kompleks agrowisata Noongnooch untuk menonton pertunjukan seni budaya Thailand dilanjutkan atraksi gajah Thailand. Lumayan puas menonton gajah beraksi: main sepakbola, basket, melukis, menari, dan melangkah melewati penonton-penonton yang berbaring di tengah arena. Perjalanan ke Bangkok diselingi kunjungan ke toko makanan dan suvenir khas Thailand. Namun pertunjukan terbesar belum lagi dimulai, kemacetan yang kembali kami alami saat kembali ke Bangkok membuat perjalanan molor 3 jam! Setidaknya ada penjelasan bahwa kami terjebak arus perjalanan menjelang “long weekend” karena hari Jumat tanggal 12 Agustus adalah hari libur nasional di Thailand bertepatan Ulang Tahun Ratu Sirikit. Alhasil, makan malam baru terlaksana sekitar pukul 22.00.

Exif_JPEG_420

Sentuhan Gajah

Hari keempat dihabiskan sepenuhnya di tempat belanja. Dimulai pagi hari di Platinum Mall yang diselingi salat Jumat di masjid Darul Aman. Untuk mencapai masjid ini kami harus berjalan melalui kedutaan besar Indonesia untuk Thailand. Menariknya, khotbah Jumat disampaikan dalam multibahasa, diakhiri dalam Bahasa Indonesia. Suasana pusat perbelanjaan di Tahiland mengingatkan kami pada Indonesia, khususnya Mangga Dua. Selepas dari Platinum Mall, dilanjutkan ke MBK (Mahboonkrong) Center. Selepas makan malam, wisata belanja diakhiri di Asiatique. Hari kelima dan terakhir dihabiskan dengan persiapan untuk penerbangan pulang ke Jakarta. Hujan deras pun menyambut kepulangan kami ke Jakarta malam Minggu itu. (…Hujan di malam minggu…Aku tak datang padamu…)

Exif_JPEG_420

Asiatique Giant Wheel

Yahoo! Dijual ke Verizon, Windows 10 Tak Lagi Gratis

Setelah 21 tahun, Yahoo! akhirnya diambil alih oleh perusahaan telekomunikasi Verizon senilai US$ 4,4 miliar. Didirikan oleh David Filo dan Jerry Yang sebagai direktori situs internet, Yahoo! berkembang sebagai portal web terpopuler hingga bernilai US$ 125 miliar sebelum dotcom bubble di tahun 2000. Yahoo! adalah situs web terpopuler, dengan layanan seperti e-mail, messaging, news, games, dan berbagai content lain. Memasuki dekade 2000-an, Yahoo! mengalami banyak kesulitan dengan meningkatnya persaingan, akuisisi yang gagal (GeoCities, Del.icio.us, Briadcast.com, Flickr, Koprol, Tumblr), dan semakin populernya mobile platform. Di tahun 2008, Microsoft pernah menawar US$ 44,6 miliar untuk membeli Yahoo! dan ditolak. Setelah pembelian Verizon, Yahoo! menyisakan dua investasi mereka yang paling berharga: 20% saham di AliBaba (vendoe-commerce terbesar di Tiongkok) dan 34,75 % saham di Yahoo! Japan, yang bernilai total sekitar US$ 40 miliar, sepuluh kali lipat nilai akuisisi Yahoo!.

(sumber: Yahoo! Finance)

Di sisi lain, penawaran Windows 10 upgrade gratis akan berakhir tanggal 29 Juli 2016. Setelah tanggal 29 Juli, Windows 10 akan tetap tersedia sebagai produk berbayar. Microsoft juga mengumumkan pembaruan untuk Windows 10, “Anniversary Update” yang akan tersedia mulai tanggal 2 Agustus 2016. Jadi, bagi pengguna Windows 7/8/8.1 yang ingin merasakan Windows 10 harus segera melakukan pembaruan sebelum 29 Juli.

(sumber: winsupersite.com)

.NET Core 1.0 Dirilis

Microsoft baru-baru ini merilis .NET Core 1.0 untuk platform Windows, Linux, dan Mac. Setelah menjalani pengembangan selama dua tahun, akhirnya .NET Core dinyatakan stabil dan siap digunakan. Yang membedakannya dengan .NET Framework yang selama ini kita kenal adalah .NET Core ini berlisensi open source (MIT dan Apache 2) serta tersedia untuk beberapa platform. Microsoft sebelumnya juga telah merilis Visual Studio Code, yang juga open source dan tersedia untuk platform Windows, Linux, dan Mac. Fitur-fitur .NET Framework lebih lengkap namun hanya tersedia untuk platform Windows, lisensinya juga proprietary.

(sumber: MSDN Blogs)

Dengan rilis .NET Core  ini, Microsoft semakin menampakkan komitmennya di dunia open source. Pengembangan aplikasi dewasa ini yang cenderung mengarah ke cloud, yang didominasi open source mau tidak mau menuntut vendor-vendor teknologi untuk menyesuaikan diri. Para pengembang sekarang bisa menggunakan bahasa pemrograman C# untuk mengembangkan aplikasi multiplatform, selain menggunakan Mono.

Yahoo Messenger Akan Disetop?

Baru-baru ini beredar kabar seputar penghentian layanan Yahoo! Messenger, yang ternyata akan berlaku per 5 Agustus 2016 untuk client versi Windows/Mac. Namun demikian, Yahoo! masih menjanjikan versi baru untuk aplikasi ini di halaman dukungannya. Layanannya sendiri masih bisa diakses via web, Yahoo! Mail, atau aplikasi mobile untuk Android/iOS. Tanda-tanda “kematian” Yahoo! Messenger for Windows/Mac sebenarnya sudah terbaca ketika update besar-besaran Yahoo! Messenger di bulan Desember 2015 tidak memunculkan versi terbaru client untuk Windows/Mac, yang sudah tidak diperbarui sejak tahun 2012. Belakangan, tautan untuk mengunduh aplikasi Yahoo! Messenger untuk Windows/Mac pun sudah dihapus. Sejak diperkenalkan pada tahun 1998 dengan nama Yahoo! Pager, layanan ini menjadi populer, terutama di Indonesia di awal 2000-an. Penulis masih mengenang saat-saat Yahoo! Messenger menjadi aplikasi wajib untuk internetan, sampai menjamurnya SMS, Facebook, dan mobile messaging seperti WhatsApp dan LINE.

(Sumber: softonic.com)

Di lain kisah, Microsoft mengakuisisi situs jaringan sosial LinkedIn senilai US$ 26, 2 miliar. Setelah kisah akuisisi Microsoft terhadap Nokia, Skype, membuat banyak pihak pesimis akan masa depan LinkedIn di tangan Microsoft. Sebagai salah satu pengguna LinkedIn, Penulis hanya bisa berharap yang terbaik. Sementara, di sudut lain Apple mengganti skema penamaan sistem operasi desktopnya sekali lagi, setelah tahun 2012 (Mac OS X menjadi OS X), kali ini dari OS X ke macOS (tanpa spasi, penulisan mac dengan huruf kecil). Penamaan ini akan dimulai dari versi 10.12 (Sierra).

 

Telkom vs MNC, Persaingan Media Masa Depan?

Internet sudah bukan lagi kemewahan bagi masyarakat, namun perlahan telah menjadi kebutuhan sebagaimana telepon. Sebagai sarana telekomunikasi, bahkan bisa dikatakan internet adalah masa depan semua bentuk komunikasi, bukan hanya browsing atau messaging, namun juga mendengarkan musik, menonton televisi/film, juga menelepon dan berbelanja. Sehingga, layanan internet akan ditawarkan bukan hanya oleh operator telekomunikasi, tapi juga oleh para broadcaster media, khususnya TV kabel. Konvergensi antara telekomunikasi dan media pun tak terhindarkan lagi. Apalagi, pengguna atau konsumen tidak lagi harus menguasai PC untuk bisa mengakses internet, cukup menggunakan smartphone yang tentunya lebih memasyarakat. Ke depannya, pesawat televisi juga akan bisa digunakan untuk mengakses internet.

(sumber: likeupdate.com)

Lima tahun lalu mungkin hanya ada FirstMedia (d.h. KabelVision) yang menawarkan layanan broadband internet dan TV kabel. Sekarang ini, paling tidak ada lima perusahaan yang menawarkan layanan serupa: Telkom dengan IndiHome, MNC dengan PlayMedia, Sinarmas dengan MyRepublic, BizNet dengan Biznet Home, dan IndosatOoredoo dengan GIG. Dengan meluasya layanan internet fixed broadband ke rumah-rumah, maka layanan berbasis internet terutama multimedia akan semakin menarik. Persaingan antar operator tentu bisa berdampak baik atau buruk bagi konsumen, seperti halnya pada mobile broadband. Seperti yang baru-baru ini diberitakan, aksi pembersihan tiang milik Telkom dari “penghuni liar”, apakah itu kabel dari operator lain atau sekadar tali pengikat spanduk, Ternyata, salah satu operator internet kabel, MNC PlayMedia bereaksi lewat media-media miliknya, memrotes pemutusan kabel milik MNC PlayMedia oleh operator lain.

Media pun mulai mengaitkan dengan “pertikaian” antara Telkom dan MNC group seputar penayangan channel televisi milik MNC grup (RCTI, MNCTV, GlobalTV, i-NewsTV) di layanan UseeTV milik Telkom. Akhirnya, Telkom pun menghapus channel-channel tersebut dari UseeTV per April 2016. Channel-channel televisi milik MNC group juga tidak ada di layanan FirstMedia. Mau ditarik lebih jauh lagi, di tahun 2013 Telkom akan menjual TelkomVision, layanan TV berbayarnya, yang akhirnya dibeli CTCorp menjadi TransVision. Waktu itu ada kabar bahwa Hari Tanoe (MNC group) “dilarang” membeli TelkomVision.  Telkom IndiHome sendiri tak lepas dari masalah, mulai blokir NetFlixpenerapan FUP, penghapusan beberapa channel UseeTV, bundling layanan telepon rumah, sampai injeksi script iklan pada layanan internetnya. Di sisi lain, masyarakat juga dihadapkan pada kenyataan belum meratanya jaringan internet broadband ini karena investasinya cukup tinggi. Pada akhirnya, persaingan antara penyedia layanan internet ini haruslah berjalan pada koridor aturan yang tegas, agar tidak merugikan masyarakat dan juga operator itu sendiri.

 

Intel Keluar dari Bisnis Mobile?

Baru-baru ini muncul dua kabar kurang menggembirakan dari raksasa mikroprosesor Intel, yaitu: PHK 12.000 karyawan dan penghentian pengembangan dua prosesor Intel Atom (Cherry Trail). Sebelumnya, Asus yang selama ini setia menggunakan prosesor Intel untuk produk Zenfone-nya telah mengumumkan pengalihan ke prosesor berbasis ARM untuk produk Zenfone generasi terbarunya. Intel akan berkonsentrasi mengembangkan lini prosesor Atom Lake berbasis Pentium dan Celeron untuk perangkat hybrid (Tablet-PC).

(sumber: wccf tech)

Di era mobile yang makin lama menggerus pasar komputer pribadi, dominasi Intel dan Microsoft memang telah digeser oleh ARM dan Android/iOS. Intel dan Microsoft mencoba bersaing dengan melakukan “downsizing” untuk produk mereka di platform x86. Intel mengembangkan Atom dan Microsoft mengembangkan Windows Phone. Belakangan, keduanya lebih mengembangkan lini produk “hybrid” dengan produk-produk seperti Surface dan Windows 10. Apalagi usaha Microsoft untuk mengembangkan Windows Phone dengan mengakuisisi Nokia berakhir mengecewakan, dan Nokia pun akan kembali memproduksi ponsel berbasis Android. Di sisi lain, Apple, Google, dan ARM juga menyasar segmen ini dengan melakukan “upsizing” produk-produk mereka. Apple merilis iPad Pro, Google merilis Chromebook Pixel dan memungkinkan aplikasi Android dijalankan dalam Chromebook. Dominasi Intel dan Microsoft di PC serta dominasi ARM dan Google/Apple di Mobile akan bertemu di tengah-tengah (perangkat hybrid), siapakah yang akan berjaya?

Bash dan Ubuntu akan Jalan di Windows?

Dalam even developer Microsoft baru-baru ini, Build 2016, banyak perkembangan menarik yang terjadi di dalam Microsoft, terutama untuk para pengembang aplikasi. Masih melanjutkan tema besar “Microsoft ♥ Linux” atau “Microsoft Goes Open Source”, beberapa kabar menarik dari Build 2016 antara lain:

(source: Ubuntu Insights)

Meski demikian, isu paling menarik adalah bahwa Microsoft dan Canonical bekerja sama untuk menjalankan Ubuntu di atas Microsoft Windows 10. Dalam Build 2016, salah satu bahasannya adalah tentang menjalankan bash (Bourne Again Shell) di atas Ubuntu di atas Windows. Selama ini, untuk menjalankan bash di Windows biasanya digunakan Cygwin atau menjalankan Linux dalam Virtual Machine seperti VirtualBox atau VMware. Namun solusi terbaru ini dijanjikan seperti menjalankan bash secara native di atas Windows, mirip dengan wine menjalankan aplikasi Windows di Linux. Solusi Microsoft dinamakan Windows Subsystems for Linux (WSL).

(

(source: MSDN)

(UPDATE)
Sekadar tambahan informasi, Wim Coekaerts, eksekutif Oracle, bergabung dengan Microsoft sebagai VP Open Source. Coekaerts di Oracle menjabat sebagai senior vice president of Linux and virtualization engineering dan dikenal sebagai orang yang memimpin inisiatif open source di Oracle, termasuk Oracle Database for Linux dan distro Oracle Enterprise Linux.