Yahoo Groups Tutup? Tidak Juga

Pertanyaannya mungkin, masihkah ada yang ingat Yahoo Groups, atau milis (mailing list) secara umum? Yahoo Groups bisa dibilang bentuk awal dari media sosial, khususnya messaging group (BBM/WA Group). Setelah hampir sepuluh tahun Penulis sendiri tidak lagi aktif menggunakan layanan ini, tiba-tiba muncul kabar Yahoo Groups akan ditutup dan para pengguna diharap untuk mengunduh data-data (file) mereka. Menilik sejarah layanan Yahoo!, ini tidaklah mengejutkan, satu per satu layanan mereka berguguran: GeoCities, Messenger, Delicious, Flickr, dan baru-baru ini, Tumblr. Pengguna Delicious, Flickr, dan Tumblr masih lebih beruntung karena layanan tersebut masih ada, hanya berpindah tangan. Pengguna GeoCities tidak seberuntung itu, tidak ada yang mengambil alih layanan ini dan tidak ada mekanisme untuk menyelamatkan data (konten) yang ada. Untungnya, ada beberapa inisiatif untuk menyelamatkan data-data pengguna GeoCities, meski tidak 100% berhasil. Salah satu inisiatif itu bahkan memungkinkan Anda kembali mengedit situs GeoCities seperti semula (jika situs Anda termasuk dalam hasil backup mereka).

Bye Bye Yahoo Groups (?)

Untunglah, nasib Yahoo Groups sedikit lebih beruntung dibandingkan saudara-saudaranya. Layanan milis gratis ini tidak akan ditutup total, hanya akan dibatasi fitur-fiturnya, utamanya untuk mengunggah file (mulai 28 Oktober 2019). Sebagaimana yang diuraikan dalam laman Yahoo! Help Central ini, fitur-fitur yang akan dihapus (mulai 14 Desember 2019) adalah: Files, Polls, Links, Photos, Folders, Calendar, Database, Attachments, Conversations, Email Updates, Message Digest, Message History (Singkat kata, semua fitur kecuali milis). Semua grup akan berubah menjadi private atau restricted dan membutuhkan undangan dari admin grup untuk bisa bergabung. Setting grup oleh admin juga akan dibatasi. Untungnya lagi, kali ini data-data yang sudah diunggah ke grup bisa diunduh dari laman grup masing-masing atau dari Verizonmedia Privacy Dashboard.

Bye Bye, BBM!

(sumber: blog.bbm.com)

Masih memakai BBM (Blackberry Messenger)? Mungkin kini saatnya untuk berganti aplikasi. Terhitung tanggal 31 Mei 2019 nanti layanan BBM akan dihentikan.  Layanan yang diluncurkan pada tanggal 1 Agustus 2005 dengan nama BlackBerry Messenger ini pada awalnya hanya mendukung perangkat/platform BlackBerry saja. Ketika BlackBerry menjadi smartphone terpopuler di dunia, layanan ini pun demikian. Para penggunanya tidak malu-malu bertukar BlackBerry ID dengan pengguna lain atau memajangnya di CV dan kartu nama. Seiring munculnya platform smartphone lain seperti iOS dan Android serta aplikasi messaging lintasplatform seperti WhatsApp, LINE, atau WeChat, BlackBerry dan BBM pun semakin berkurang peminatnya. Hingga akhirnya pada tahun 2013 BBM dirilis untuk platform iOS dan Android. Namun demikian, popularitas BBM tidak kunjung membaik hingga akhirnya terhitung sejak 27 Juni 2016 BBM diambil alih oleh perusahaan asal Indonesia, Emtek. BBM kemudian dikembangkan dengan fitur baru seperti sticker, BBMoji, bahkan platform pembayaran yang disebut Dana. Tapi nampaknya itu semua tidak menolong, dan akhirnya BBM pun harus ditutup. Pengguna platform pembayaran Dana harus mengunduh app standalone Dana untuk tetap menggunakannya.

KaiOS, Kuda Hitam di Antara Android dan iOS

Saat kita membicarakan soal handphone, atau tepatnya smartphone saat ini, maka pilihan platform yang tersedia saat ini hanyalah dua: Android dan iOS (iPhone). Sejumlah platform lain sudah tidak lagi dikembangkan seperti Symbian (termasuk Nokia Platform, S30/S40), BlackBerry, atau Windows (Mobile). Begitu juga berbagai platform lain seperti MeeGo, Sailfish/Jolla, Bada, Tizen, Ubuntu Touch,  webOS, atau FirefoxOS. Namun, siapa yang menyangka dalam dua tahun belakangan ini diam-diam sudah muncul platform lain untuk menantang duopoli Android/iOS. KaiOS, yang dikembangkan mulai tahun 2017, kini telah mencapai 80 juta pengguna dan menjadi sistem operasi smartphone kedua  di India menggeser iOS. Bukan pencapaian sepele untuk sebuah platform yang baru berusia kurang dari dua tahun dan dikembangkan oleh perusahaan “UMKM” di bidang teknologi.

(source: kaiostech.com)

KaiOS sendiri sebenarnya berbasis dari FirefoxOS, sistem operasi smartphone yang dikembangkan oleh Mozilla  dan dihentikan pengembangannya di tahun 2016. Lebih tepatnya, KaiOS merupakan fork dari B2G (Boot to Gecko), proyek open source yang merupakan fork dari FirefoxOS. Berbeda dari FirefoxOS, KaiOS dioptimasi untuk produk handphone berspesifikasi rendah dan masih menggunakan keypad dan tombol navigasi alih-alih layar sentuh (touchscreen). Konsep yang mirip dengan Android Go, hanya KaiOS memungkinkan hadirnya smartphone seharga feature phone. Pada bulan Juni 2018, Google bahkan telah menanamkan USS$ 22 juta untuk mendukung pengembangan KaiOS. Google juga memastikan kehadiran aplikasi sepertiYouTube, Maps, dan Assistant untuk KaiOS. KaiOS Technologies, pengembang KaiOS, berbasis di San Diego California dan bekerja sama dengan sejumlah vendor (Alcatel/TCL, Nokia/HMD, Doro, Maxcom) dan operator telco seperti Reliance (India), MTN (Afrika Selatan), dan Ooredoo (Qatar). Di Indonesia, KaiOS Tech bekerja sama dengan WizPhone meluncurkan WizPhone WP006 pada akhir tahun 2018 melalui gerai Alfamart mulai awal tahun 2019. Handphone seharga Rp 99.000 ini dilengkapi teknologi 4G, WiFi, GPS, Bluetooth dan aplikasi populer seperti Facebook, Twitter, YouTube, Google Assistant, dan Google Maps.

WizPhone WP006 (source: kaiostech.com)

Pengguna Windows 7, Bersiap-siaplah…

Sistem operasi Microsoft Windows 7 dirilis pada tahun 2009, artinya sudah berusia 10 tahun. Dalam jangka waktu tersebut, Microsoft sudah tiga kali merilis sistem operasi baru: Windows 8 (2013), Windows 8.1 (2014), dan Windows 10 (2016). Artinya, memang para pengguna diharapkan sudah beralih ke sistem operasi versi selanjutnya. Namun demikian, nampaknya Windows 7 ini mempunyai penggemar yang setia, hingga saat ini masih menjadi versi terpopuler di bawah Windows 10, mengalahkan Windows versi 8/8.1. Terlepas dari popularitasnya, siklus hidup Windows 7 akan segera berakhir (seperti halnya Windows XP) dengan dihentikannya support dari Microsoft terhitung tanggal 14 Januari 2020. Sebenarnya, support mainstream (mencakup security dan feature update) telah berakhir pada tanggal 13 Januari 2015, sementara ini yang masuh berlaku adalah extended support (security update).

Baru-baru ini Microsoft merilis update KB4493132 yang akan memunculkan window peringatan seperti gambar di atas. Jika Anda rajin melakukan pembaruan Windows 7 Anda, maka update ini akan terpasang secara otomatis. Anda bisa menonaktifkan peringatan ini dengan menandai opsi “Do Not Remind Me Again” di sudut kiri bawah. Anda juga bisa mengabaikan instalasi update KB4493132 dengan membuka Control Panel, Windows Update lalu klik kanan pada update dan memilih opsi Hide update. Yang pasti, ada peringatan atau tidak, para pengguna Windows 7 tetap harus bersiap-siap menentukan pilihan setelah tanggal 14 Januari 2020, apakah tetap menggunakan Windows 7 tanpa pembaruan, upgrade ke Windows 10, atau beralih ke sistem operasi lain seperti Linux atau macOS. Oh ya, update ini tidak tersedia untuk pengguna Windows 7 versi Professional atau Enterprise, karena bagi mereka masih tersedia opsi support berbayar hingga 10 Januari 2023.

Cara menyembunyikan peringatan berakhirnya support untuk Windows 7

Bolt Ditutup, Pelanggan Dialihkan ke Smartfren

(Sumber: bolt.id)

Setelah ramai berpolemik melawan Kementrian Kominfo, akhirnya layanan Bolt ditutup terhitung 28 Desember 2018. Penyebabnya adalah tunggakan pembayaran pemakaian frekuensi 2300 MHz selama tiga tahun oleh operator Internux dan First Media. Sempat menimbulkan kebingungan  bagi pengguna layanan internet kabel First Media, yang dioperasikan oleh perusahaan yang berbeda (LinkNet) dan tentu saja tidak memerlukan frekuensi, apalagi bayar lisensi.

Sementara itu, para pelanggan setia Bolt harus menghadapi kenyataan pahit dengan penghentian layanan ini. Untungnya, mereka diberikan pilihan, antara pengembalian pulsa/kuota (refund) atau pengalihan layanan ke Smartfren atau internet kabel First Media. Pelanggan yang memilih beralih ke Smartfren bisa melakukan verifikasi di Bolt Zone untuk mendapatkan kartu perdana Smartfren, sementara pelanggan Bolt Home yang berada dalam cakupan layanan internet kabel First Media bisa beralih ke layanan tersebut dengan penawaran khusus. Pengalihan ke Smartfren dilakukan karena keduanya sama-sama menggunakan frekuensi 2300 MHz.

Microsoft Edge Akan Berbasis Chromium?

Pada awal kelahiran World Wide Web (WWW) yang kemudian menjadi identik dengan “internet” bagi masyarakat luas, browser web yang populer saat itu adalah Mosaic dari NCSA. Kode sumber Mosaic kemudian dimodifikasi dan dirilis sebagai produk komersial bernama Netscape, yang kemudian menggantikan posisi Mosaic sebagai browser web paling dominan. Microsoft kemudian melisensi kode sumber Mosaic dari SpyGlass, memodifikasinya dan merilisnya sebagai Internet Explorer. Persaingan antara Netscape dan Internet Explorer dikenal sebagai “browser war” yang berakhir dengan “kemenangan” Internet Explorer saat Netscape diakuisisi oleh AOL dan menghentikan rilis browsernya di tahun 2000. Namun demikian, proyek Mozilla melanjutkan pengembangan browser Netscape sampai rilis browser Mozilla Firefox di tahun 2004. Posisi Internet Explorer sebagai browser web paling dominan kini pun telah tergeser oleh Google Chrome. Pengembangan Internet Explorer pun telah dihentikan sejak dirilisnya Windows 10 di tahun 2015, yang menggunakan browser web baru bernama Edge sebagai aplikasi browser standarnya.

(Sumber: TechCrunch)

Dulu, aplikasi browser web dikembangkan sebagai satu paket lengkap, secara sederhana bisa dipisahkan menjadi tampilan dan engine (backend). Engine dari Internet Explorer disebut Trident, untuk Firefox disebut Gecko, untuk Opera disebut Presto, dan untuk Safari/Chrome disebut WebKit. Dalam perkembangannya, aplikasi browser web dikembangkan secara terbuka (open source), dengan komponen-komponennya dapat digunakan secara terpisah. WebKit, sebagai contoh, mula-mula dikembangkan oleh Apple dari fork engine KHTML yang digunakan proyek KDE untuk browser Konqueror. Google kemudian mengadopsi WebKit untuk browser Chromium (open source) yang kemudian dikemas dengan sejumlah komponen closed source sebagai Chrome. Pada akhirnya, Google melakukan fork pada WebKit dan mengembangkannya sebagai Blink. Untuk Edge, Microsoft menggunakan engine baru yang disebut EdgeHTML. Opera pun telah beralih menggunakan Blink, sedangkan Mozilla mengembangkan engine baru yang disebut Quantum untuk versi terbaru Firefox.

Baru-baru ini, Microsoft mengumumkan perubahan pada pengembangan browser Microsoft Edge. Perubahan terbesar adalah penggunaan Chromium sebagai basis, menggantikan tampilan UWP (Metro) plus engine EdgeHTML. Nampaknya, popularitas Edge yang tak kunjung membaik menjadi penyebabnya. Edge versi baru juga akan mendukung Windows selain versi 10 (Windows 7 dan 8), macOS, dan juga mendukung ekstensi Chrome.

Flickr Dibeli SmugMug, Dibatasi Hanya 1000 File

Sebelum Instagram, kita mengenal Flickr sebagai situs untuk berbagi foto (digital). Didirikan oleh Ludicorp di tahun 2004, Flickr menjadi salah satu situs internet terpopuler saat itu. Popularitas Flickr menarik perhatian Yahoo! yang kemudian mengakuisisinya di tahun 2005, yang berdampak pada ditutupnya layanan Yahoo! Photos di tahun 2007. Di tahun yang sama, Flickr mewajibkan penggunaan Yahoo! Mail untuk login, langkah yang banyak dikritik oleh pengguna setianya. Pada tahun 2013, Flickr menaikkan kapasitas penyimpanan untuk semua pengguna menjadi 1 Terabyte. Dalam perkembangannya, Flickr mulai kehilangan posisinya sebagai situs berbagi foto, terutama setelah semakin populernya situs seperti Facebook dan Instagram. Akhirnya saat Yahoo! dijual ke Verizon pada tahun 2017,  masa depan Flickr mulai dipertanyakan.

(Sumber: theverge.com)

Pada bulan April 2018, SmugMug membeli Flickr dari Oath (holding dari perusahaan digital di bawah Verizon seperti AOL dan Yahoo!). SmugMug sendiri adalah situs yang menawarkan layanan yang identik dengan Flickr (berbagi foto), namun ditujukan untuk kalangan profesional dan berbayar. Baru-baru ini, Flickr mengumumkan perubahan besar bagi pengguna layanan gratisnya. Jika sebelumnya semua pengguna Flickr mendapatkan kapasitas penyimpanan sebesar 1 Terabyte, terhitung awal Januari 2019 pengguna layanan gratis akan dibatasi sebanyak 1000 file/foto saja. Para pengguna layanan gratis yang saat ini menyimpan file/foto di atas 1000 disarankan untuk beralih ke layanan berbayar (Flickr Pro) dengan membayar US$ 50/tahun atau mengurangi jumlah file/foto yang disimpan di Flickr menjadi maksimal 1000 saja. Jika ini tidak dilakukan, maka terhitung Februari 2019 Flickr akan menghapus file/foto pada akun pengguna layanan gratis hingga tersisa 1000 file/foto, dimulai dari yang paling awal diunggah. Kebijakan ini pun tak ayal menuai kontroversi di kalangan pengguna Flickr. Di satu sisi, SmugMug sebagai pemilik baru Flickr nampaknya mulai kewalahan menangani kebutuhan media penyimpanan dan sumber daya jaringan, terutama biaya yang harus dibayar. Di sisi lain, tidak semua pengguna layanan gratis Flickr mau dan mampu beralih ke layanan berbayar. (Catatan: Akun milik Penulis sendiri, yang sudah berusia sekitar 11 tahunan, saat ini memiliki 4000-an foto, setengahnya bisa diakses publik). Belum lagi di antara akun gratisan Flickr ini terdapat pustaka foto/gambar dengan lisensi Common Creative yang banyal digunakan untuk kepentingan nonprofit.

IBM Segera Mengakuisisi Red Hat

Sebuah kabar besar dari dunia teknologi informasi, IBM akan mengakuisisi Red Hat senilai US$ 34 Miliar. Ini disebut-sebut sebagai akuisisi perusahaan perangkat lunak terbesar, mengalahkan akuisisi LinkedIn oleh Microsoft senilai US$ 26 Miliar. Dalam rilis pers resminya disebutkan bahwa IBM lebih menekankan pada bisnis cloud, tepatnya hybrid/multi cloud dari Red Hat. Meskipun demikian, reputasi Red Hat sebagai perusahaan berbasis open source (Linux) tetaplah tidak terbantahkan. Sementara di sisi lain, IBM juga banyak berperan dalam pengembangan open source dan juga Linux. Tentu saja, berita ini ditanggapi secara hati-hati di kalangan pegiat open source, terutama setelah pengalaman akuisisi SUSE oleh Novell dan Sun oleh Oracle. Belum lagi anekdot yang menyebutkan tentang tidak cocoknya identitas korporat IBM yang dikenal sebagai “The Big Blue” (biru) dengan Red Hat yang tentunya identik dengan warna merah!

(sumber: thurrott.com)

Java 11 Dirilis, Benarkah Tidak Gratis Lagi?

Oracle baru-baru ini merilis Java versi 11, sebagai kelanjutan versi 9 dan 10. Rilis kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya karena versi 11 ini dinyatakan sebagai LTS (Long Term Support). Sebagaimana diketahui, mulai versi 9, Java versi baru akan dirilis setiap enam bulan sekali, alih-alih tiga tahun seperti versi-versi sebelumnya (1 – 8). Perubahan juga terjadi pada dukungan. Jika Java (JDK/JRE) versi 1 – 8 didukung oleh Oracle (dan sebelumnya Sun) untuk semua penggunaan (pribadi/komersial) gratis dan jangka panjang (LTS). Mulai versi 11, Java yang diunduh dari situs Oracle (java.sun.com) hanya didukung (gratis) untuk penggunaan pribadi (development). Untuk penggunaan komersial (production) Oracle akan mengenakan biaya, mirip dengan skema lisensi untuk produk Oracle lainnya seperti database, middleware, dan analytics (business intelligence).

(sumber: proglib.io)

Kabar baiknya, bagi yang belum mengetahui, bahwa Java (JDK) mulai versi 7 sebenarnya sudah dirilis secara open source dengan lisensi GPL dengan nama OpenJDK. Artinya, kode sumber Java bisa diakses oleh publik dan siapapun bisa merilis JDK dari kode tersebut. Oracle menggunakan kode OpenJDK untuk membuat Oracle JDK yang menjadi standar implementasi Java. Bagi pengguna Linux pun selama ini sudah bisa memanfaatkan OpenJDK yang dipaketkan oleh distro-distro seperti RedHat, Ubuntu, Debian, atau SUSE. Dukungan untuk OpenJDK di Linux pun langsung diterima dari vendor distro masing-masing. Selama ini pun, sudah ada beberapa vendor yang merilis JDK versinya sendiri, seperti IBM, Red Hat (membutuhkan akun Red Hat), dan Azul yang bersumber dari kode OpenJDK. Nah, mulai versi 11 Oracle juga merilis versi OpenJDK-nya sendiri. Versi ini bisa digunakan untuk semua penggunaan (pribadi/komersial) tanpa membayar lisensi. Jangan lupa, AdoptOpenJDK juga menyediakan unduhan OpenJDK dengan dua versi, menggunakan JVM Oracle Hotspot atau Eclipse OpenJ9.

Kesimpulannya, Oracle JDK versi 11 tidak sepenuhnya gratis seperti versi-versi sebelumnya. Oracle sendiri merilis versi “sepenuhnya gratis” JDK yang dinamakan Oracle OpenJDK 11 (nama resminya OpenJDK Builds from Oracle). Sebagai alternatifnya (Java 11) ada AdoptOpenJDK dan Zulu dari Azul. Red Hat dan IBM sejauh ini belum merilis JDK versi 11.

Linus Torvalds Mengundurkan Diri dari Linux?

Dalam sebuah e-mail yang dikirimkan ke milis projek kernel Linux, Linus Torvalds yang merupakan pencipta Linux mengumumkan keputusannya untuk rehat sejenak dari kesibukannya mengembangkan kernel Linux. Pada saat hampir bersamaan, ia mencetuskan Linux Code of Conduct yang baru yang diadopsi dari Contributor Covenant menggantikan Linux Code of Conflict yangs selama ini dipakai.  Perubahan ini dilakukan karena Code of Conflict dirasa tidak mencapai sasarannya untuk mejadikan lingkungan pengembang Linux lebih “beradab”. Selama ini, Linus Torvalds dikenal sangat blak-blakan dalam mengomentari kontribusi para pengembang Linux, dengan menggunakan bahasa yang “kasar” (dan pecah-pecah). Hal ini dikhawatirkan akan membuat kontributor, terutama perempuan, menjadi kurang nyaman dan akhirnya menghentikan kontribusi lebih lanjut. Linus selanjutnya akan menggunakan waktu rehatnya untuk “mendapatkan bantuan tentang cara memahami emosi orang dan merespons dengan tepat”. Ia akan digantikan sementara oleh Gregory Kroah-Hartman dan akan kembali lagi pada saatnya nanti.

(sumber: Wikipedia)