Google Workspace Essentials, Pengganti Versi Legacy?

Seperti kita ketahui, layanan Google Workspace (alias G Suite) Legacy yang gratis akan berakhir per tanggal 1 Mei 2022. Para penggunanya “dipaksa” untuk beralih ke versi berbayar. Jika Anda baru-baru ini login ke konsol admin atau ke Gmail, akan muncul “surat cinta” berupa ajakan untuk beralih ke Google Workspace (yang berbayar). Jika Anda mengklik tautan Learn More/Selangkapnya, Anda akan mendapatkan penawaran khusus berupa 4 bulan gratis dilanjutkan diskon 50% selama setahun(?). Semua pengguna Google Workspace Legacy akan dialihkan ke versi berbayar terhitung 1 Juni 2022. Tentu saja, jika Anda tidak mengisi informasi pembayaran maka akses ke layanan Google Workspace akan ditangguhkan (suspend).

“Surat Cinta” bagi Pengguna Google Workspace Legacy

Namun perhatikan pada kalimat bahwa akan ada daftar tunggu (waitlist) untuk opsi tanpa biaya (no-cost option). Satu klausul yang membangkitkan harapan bagi para Pengguna berkantong cekak (seperti Penulis). Timbul pertanyaan, opsi yang manakah yang dimaksud itu mengingat batas akhir semakin mendekat, hanya tersisa 1-2 bulan lagi. Nah, baru-baru ini Google memperkenalkan produk terbaru dari Google Workspace yang disebut Google Workspace Essentials. Secara singkat, layanan ini memberikan kesempatan untuk menggunakan layanan seperti Google Drive, Meet, Chat, Docs, Sheets, Slides, Calendar, Forms, Sites, dan Keep (tapi bukan Gmail) secara gratis (untuk versi Starter) hingga 25 pengguna per akun. Anda hanya membutuhkan akun e-mail bisnis (bukan akun e-mail gratis seperti Gmail, Outlook.com atau Yahoo! Mail) untuk mendaftar. Google Workspace Essentials Starter dijamin gratis tanpa kartu kredit dan bukan versi Trial. Tersedia juga opsi untuk meningkatkan layanan ke versi berbayar yang disebut Google Workspace Enterprise Essentials. Nah, apakah ini yang dimaksud dengan opsi tanpa biaya (no-cost) dalam “surat cinta” di atas?

Tampilan Situs Google Workspace Essentials

Oracle JDK Sekarang Gratis (Lagi?)

Bagi komunitas Java, situasi seputar perubahan lisensi Oracle Java (JDK) mungkin adalah “kegaduhan” terbesar sepanjang sejarah. Setelah terbiasa sejak awal menggunakan Java (JDK/JRE) dari Sun Microsystems (yang kemudian diakuisisi Oracle) secara bebas, tanpa mengkhawatirkan lisensi, tiba-tiba Oracle mengubah lisensi menjadi pelarangan penggunaan Oracle JDK dalam lingkungan produksi secara bebas. Artinya, (Oracle) Java kini sama dengan produk Oracle lainnya seperti Database Server alias komersial. Setelah komunitas Java berbahagia menyambut perubahan Java menjadi perangkat lunak terbuka (open source), mereka harus dihadapkan pada kenyataan yang kurang menggembirakan. Namun tentu saja, karena Java kini sudah open source maka muncullah versi-versi Java selain Oracle yang membebaskan penggunaannya seperti dulu, seperti: Red Hat OpenJDK, SapMachine, Azul Zulu, BellSoft Liberica, AdoptOpenJDK, dan Amazon Corretto.

(Sumber: whichjdk.com)

Tiga tahun sejak keputusan Oracle menunjukkan bahwa pengguna Java nampaknya telah “move on” dari penggunaan Oracle Java ke lain hati. Saat ini AdoptOpenJDK menjadi versi Java terpopuler. Namun perubahan terus terjadi, AdoptOpenJDK kini terpecah menjadi dua: Eclipse Temurin (Adoptium) untuk versi JVM Hotspot dan IBM Semeru Runtimes untuk versi JVM OpenJ9. Microsoft bahkan sudah merilis versi JDK-nya sendiri, mengingatkan kembali di tahun 1997 saat mereka merilis versi Java untuk Windows. Dan akhirnya, Oracle merilis versi terbaru Java (LTS), 17, dengan lisensi baru yang mereka sebut No-Fee Terms and Condition (NTFC) yang membebaskan penggunaan di lingkungan produksi dan komersial. Lisensi ini menggantikan lisensi Oracle Technology Network (OTN) yang digunakan untuk Oracle Java versi 8u211 ke atas (termasuk versi 9 sampai 16) yang melarang penggunaan di lingkungan produksi dan komersial secara bebas (alias harus bayar). Jadi, singkat kata Java 17 umumnya gratis (termasuk Oracle JDK), kecuali untuk beberapa versi seperti Azul Zing (Platform). Sedangkan untuk versi sebelumnya seperti 8 dan 11 (Oracle JDK) tidak gratis 100%. Oh ya, Oracle sebenarnya juga merilis versi OpenJDK yang 100% gratis, termasuk versi 11, namun dukungan untuk ini sangat terbatas yaitu satu tahun, atau dua kali update, sehingga tidak direkomendasikan untuk penggunaan di lingkungan produksi atau komersial.

Siap-siap! TV Analog Akan Dimatikan Mulai April 2022

Seperti sudah pernah dibahas sebelumnya, peralihan dari siaran TV analog ke TV digital akan dilaksanakan tahun ini. Menurut jadwal yang telah dirilis Kemkominfo, ada tiga tahap penghentian siaran TV analog (Analog Switch Off), yaitu:

  1. Tahap pertama, berakhir pada tanggal 30 April 2022, akan dilaksanakan di 56 wilayah layanan di 166 kabupaten/kota
  2. Tahap kedua, berakhir pada tanggal 25 Agustus 2022, akan dilaksanakan di 31 wilayah layanan di 110 kabupaten/kota (termasuk Jabodetabek, Semarang Raya, Bandung Raya, Surabaya, DIY)
  3. Tahap ketiga, berakhir pada tanggal 2 November 2022, akan dilaksanakan di 25 wilayah layanan di 65 kabupaten/kota

Untuk mengantisipasi kesiapan masyarakat beralih ke perangkat televisi digital, mulai bulan Maret 2022 akan dibagikan set top box (STB) gratis untuk masyarakat miskin. Berikut ini persiapan menyambut pengalihan siaran TV dari analog ke digital:

(Sumber: siarandigital.kominfo.go.id)
  • Bagi yang sudah memiliki TV digital, ditandai dengan logo DVB-T2 pada pesawat televisinya, silakan mencoba menala (scan) kanal siaran digital Beberapa pesawat televisi memisahkan setting penalaan analog dan digital, ada juga yang menala siaran analog dan digital secara bersamaan. Cara membedakannya adalah siaran/kanal digital mempunyai label berupa LCN (dua atau tiga digit angka unik) dan nama stasiun (TVRI, RCTI, SCTV, atau yang lainnya), sedangkan kanal analog tidak mempunyai label dan nomor kanalnya berurutan dimulai dari yang pertama tertangkap oleh antena penerima/tuner.
  • Bagi yang belum memiliki TV digital, alias masih TV analog, Anda punya dua alternatif. Pertama, membeli perangkat televisi baru yang sudah digital, kemudian lakukan langkah di atas. Kedua, membeli Set Top Box (STB) yang mendukung DVB-T2. Di pasaran sudah banyak dijual STB dengan berbagai merek, spesifikasi dan harga (berkisar mulai 200 ribuan). Yang perlu diperhatikan tentu saja spesifikasinya, karena STB di pasaran bukan hanya untuk TV digital, namun juga untuk TV satelit (parabola), Internet Streaming (Android Box), dan ada juga perangkat hybrid, yang mendukung dua atau lebih teknologi (TV digital+satelit atau TV digital+streaming). Ciri-ciri fisik STB yang mendukung TV digital (DVB-T2) selain label adalah koneksi antena di bagian belakangnya.
    Setelah mendapatkan STB yang tepat, Anda perlu menyiapkan koneksi ke pesawat TV analog. Biasanya ada dua jenis koneksi yang tersedia: HDMI dan Composite (RCA). Koneksi HDMI menggunakan satu kabel dengan konektor berbentuk segienam berisi 19 pin, sedangkan composite menggunakan kabel bercabang tiga (merah, putih dan kuning). Pastikan koneksi yang tersedia di STB ada di pesawat TV Anda. Hubungkan kabel antena ke STB dan koneksi HDMI/Composite dari STB ke pesawat TV. Nyalakan STB dan TV, kemudian pindahkan masukan (input) TV dari antena/TV ke HDMI/Video sesuai jenis koneksi, kemudian lakukan penalaan (scan) kanal TV digital.
  • Apabila penalaan otomatis tidak berjalan dengan lancar, Anda bisa coba memasukkan/memilih sendiri parameter berupa nomor mux (multiplekser), yang bisa Anda dapatkan/cek dari internet atau menggunakan app sinyalTVdigital.
  • Apakah Anda harus mengganti antena TV/UHF Anda? Siaran TV digital masih menggunakan gelombang UHF sehingga antena yang kini digunakan masih bisa menangkap siaran TV digital. Kebanyakan “antena digital” yang ada di pasaran sekarang ini sebenarnya hanya antena UHF biasa + penguat sinyal (booster), teknologi yang sudah lama ada. Namun jika saat ini penerimaan siaran TV analog Anda kurang baik, alias “penuh dengan semut”, maka penggantian antena bisa jadi pertimbangan.
  • Apa yang akan terjadi setelah melewati tahap-tahap di atas? Jika Anda belum mempersiapkan perangkat yang diperlukan tentu saja televisi Anda tidak akan bisa ditonton, dengan catatan Anda tidak menggunakan perangkat selain antena TV/UHF.

Pada tahap persiapan ini, ada kemungkinan sinyal TV digital belum optimal, sehingga jangan terlalu khawatir apabila belum semua kanal televisi bisa ditangkap. Untuk mengecek kekuatan sinyal dan ketersediaan kanal TV digital di daerah Anda silakan memasang app sinyalTVdigital pada ponsel Android/iOS. Sedangkan untuk mengecek perangkat (TV, STB) yang mendukung TV digital (DVB-T2), terutama yang sudah tersertifikasi, bisa mencoba mengecek laman e-Sertifikasi Ditjen SDPPI dengan kata kunci “DVB-T2” untuk Nama Perangkat.

Chrome OS Flex, Chrome OS untuk Semua

Meskipun tidak terlalu populer di Indonesia, produk Chromebook dengan sistem operasi Chrome OS cukup populer di Amerika Serikat sebagai pesaing komputer bersistem operasi Windows dan macOS. Saat pertama kali muncul di tahun 2011 banyak yang meremehkan prospeknya karena desainnya membutuhkan koneksi internet yang “permanen” agar bisa berfungsi dengan baik. Kenyataannya, penjualan Chromebook terus melesat dan bahkan telah mengalahkan penjualan komputer buatan Apple, Mac(intosh), pada tahun 2020. Seperti halnya macOS yang hanya bisa didapatkan (secara resmi) pada komputer Apple Mac, sistem operasi Chrome OS juga hanya terdapat di Chromebook. Kedua sistem operasi tersebut sebenarnya berbasis open source, namun dengan komponen tambahan yang bersifat tertutup (proprietary). Dalam kasus macOS, komponen open source-nya yang disebut Darwin hanya mencakup inti (core) sistem operasi berupa kernel dan userland tanpa GUI atau tampilan grafisnya. Sementara Chromium OS yang merupakan komponen open source dari Chrome OS bisa dibilang identik, hanya kehilangan beberapa fitur. Selama ini ada beberapa versi Chromium OS yang bisa dicoba oleh pengguna selain Chromebook seperti Hexxeh (diskontinyu seak 2013), Arnoldthebat, NayuOS dari Nexedi, dan CloudReady dari Neverware.

(Sumber: cloud.google.com/blog/)

Di tahun 2020 Neverware diakuisisi oleh Google, yang menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan CloudReady. Selama ini, CloudReady Home Edition adalah versi terbaik Chromium OS yang bisa digunakan secara bebas. Ternyata Google punya rencana sendiri, baru-baru ini mereka mengumumkan rilis Chrome OS Flex, sebagai kelanjutan dari CloudReady. Artinya, Chrome OS Flex akan menjadi versi ChromeOS yang bisa digunakan oleh semua pengguna komputer. Untuk saat ini, Chrome OS Flex baru memasuki versi Beta dan untuk bisa mencobanya Anda harus mendaftarkan diri Anda di situs resminya.

G Suite (Google Apps for Domain) Free Akan Berakhir

Google akan mengakhiri layanan G Suite Legacy Free Edition (d.h. Google Apps for Domain) pada 1 Juli 2022. Layanan ini pertama kali ditawarkan pada tahun 2006 sebagai Google Apps for your domain, yang memungkinkan pengguna mendaftarkan domainnya sendiri untuk menggunakan layanan Google (Gmail, Drive, Contact, Calendar, Photos), alih-alih menggunakan domain default Gmail. Awalnya, layanan ini diberikan gratis, dan tiap akun (domain) bisa mendaftarkan hingga 100 user. Jumlah user ini kemudian dikurangi menjadi 50, 25, hingga 10 user saja. Pada tahun 2007, Google merilis versi berbayar yang disebut Google App Premier. Pada akhir tahun 2012 Google menutup pendaftaran akun baru untuk Google Apps for Domain versi gratis. Pada tahun 2016, Google Apps for Domain berganti nama menjadi G Suite, sebelum kembali berganti nama menjadi Google Workspace di tahun 2020. Pada awal tahun 2020, para pengguna G Suite Legacy Free Edition menerima e-mail peringatan untuk tetap aktif menggunakan akunnya dalam jangka waktu 6 bulan, atau akunnya akan dinonaktifkan.

Sumber: zedaan.com

Selambat-lambatnya tanggal 1 Mei 2022, para pengguna G Suite Legacy Free Edition harus sudah memutuskan untuk meningkatkan akunnya menjadi berbayar (dengan memilih salah satu paket yang tersedia) atau secara otomatis akan ditingkatkan statusnya menjadi berbayar sesuai fitur yang digunakan. Kemudian, semua pengguna yang telah ditingkatkan statusnya ini bisa menggunakan layanan Google Workspace secara gratis sampai tanggal 1 Juli 2022 sebelum Anda diwajibkan membayar. Mereka yang tidak bersedia membayar maka akunnya akan di-suspend hingga 60 hari sebelum akses ke sejumlah aplikasi inti (Gmail, Calendar, Meet) diblokir. Akses ke sejumlah layanan seperti YouTube dan Google Photos masih akan diberikan. Tentu saja, Anda bisa berhenti menggunakan Google Workspace kapan saja.

Samsung Tizen Store Ditutup

Setelah menghentikan layanan Tizen Store untuk pengguna baru sejak bulan Juni 2021, Samsung akhirnya menutup total Tizen Store untuk pengguna smartphone (dan smartwatch) terhitung 31 Desember 2021 kemarin. Seperti diketahui, Tizen adalah sistem operasi yang dikembangkan oleh Linux Foundation dengan dukungan utama dari Intel dan Samsung yang diturunkan dari kode sumber sistem operasi MeeGo dari Nokia. Sistem operasi ini digunakan oleh Samsung untuk berbagai produknya seperti smartphone (Galaxy seri Z), smartwatch (Galaxy Watch), dan smart TV. Namun, tahun lalu Samsung menyatakan akan beralih ke sistem operasi Wear OS dari Google, atau lebih tepatnya menggabungkan pengembangan sistem operasi smartwatch ke dalam Wear OS 3. Smartphone berbasis Tizen juga tidak lagi diproduksi sejak tahun 2017. Dengan penghentian akses Tizen Store, maka pengguna smartphone berbasis Tizen dipaksa beralih ke smartphone berbasis Android atau iOS. Sementara pengguna Samsung smartwatch untuk sementara ini masih akan mendapatkan dukungan teknis untuk Tizen. Pertanyaan terbesar kini adalah untuk smart TV, akankah Tizen terus dikembangkan di masa depan atau mengalami nasib yang sama dengan perangkat lain? Mengingat Samsung adalah produsen smart TV terbesar di dunia, kepastian seperti ini harusnya menjadi perhatian karena bisa memengaruhi persepsi konsumen terhadap produk smart TV dari Samsung di masa datang. Untuk sementara, nampaknya Samsung masih akan mempertahankan Tizen untuk Smart TV dengan perbaikan antarmuka.

Bye Bye Blackberry (OS/BB10)

Akhir dari sebuah era. Terhitung tanggal 4 Januari 2022, dukungan untuk Blackberry 10 dan Blackberry OS resmi dihentikan. Ini berarti layanan Blackberry Internet Service (BIS) sudah tidak dapat digunakan. Seperti diketahui, BIS adalah layanan khusus bagi pengguna perangkat Blackberry dengan sistem operasi BB OS hingga versi 7 dan BB 10 untuk mengakses internet, layanan push e-mail, dan BBM (Blackberry Messenger). Perangkat Blackberry sempat menjadi smartphone terpopuler di Indonesia dan seluruh dunia hingga akhir dekade lalu sebelum digeser oleh iPhone dan perangkat berbasis Android. Saking populernya, produsen handphone ramai-ramai merilis smartphone yang mirip dengan Blackberry (dilengkapi QWERTY keyboard). Menurunnya popularitas perangkat berbasis Blackberry OS memaksa Blackberry banting setir membuat perangkat berbasis Android dan merilis aplikasi BBM untuk platform Android dan iPhone, namun semua itu tidak banyak membantu. Akhirnya, Blackberry menghentikan produksi perangkat smartphone dan mengalihkan pengembangan BBM ke grup usaha asal Indonesia, Emtek, sebelum akhirnya dihentikan pada tahun 2019. Blackberry pun banting setir ke bidang keamanan siber (cybersecurity) dan pengembangan sistem operasi QNX.

Net1 Indonesia (dan IM2/GIG) Pamit!

Akhirnya, setelah melalui proses penghentian operasional (sementara) akibat menunggak BHP frekuensi 450 MHz, Net1 Indonesia (Sampoerna Telecom) berhenti beroperasi per 1 Desember 2021. Jika Anda membuka laman resminya, akan muncul tampilan di bawah ini, yang menyatakan penghentian operasi sepenuhnya, dan para Pelanggan diharapkan memulai proses refund hingga tanggal 15 Januari 2022.

Tampilan laman situs Net1 Indonesia per 1 Desember 2021

Sebelumnya, kabar lain juga datang dari layanan internet broadband rumahan GIG, yang menghentikan operasionalnya per 25 November 2021. Penutupan ini berkaitan dengan masalah legal yang dihadapi Indosat M2 (IM2) sebagai penyedia layanannya. Seperti diketahui IM2 divonis bersalah dalam kasus korupsi frekuensi 3G pada tahun 2014 lalu dan harus membayar denda sebesar Rp 1,35 Triliun. Keputusan tersebut baru dieksekusi pada tahun ini, yang berujung pada ditutupnya Indosat M2 (per 10 Desember 2021) dan penghentian seluruh layanan, termasuk GIG. Menariknya, laman web Indosat M2 dan GIG saat ini masih bisa diakses tanpa ada informasi terkait penutupan layanan atau nasib pelanggannya. Begitupun akun media sosialnya, tidak nampak adanya informasi resmi mengenai hal ini. Sementara di laman Indosat Ooredoo sebagai pemilik IM2 nampaknya lebih ramai seputar rencana merger dengan PT Hutchinson Indonesia (3/Tri).

Windows 11 Resmi Dirilis

Seperti sudah diantisipasi sebelumnya, sistem operasi terbaru Microsoft, Windows 11 akhirnya resmi dirilis pada tanggal 5 Oktober 2021. Windows 11 akan tersedia untuk perangkat baru dan perangkat lama yang memenuhi syarat untuk menerima pembaruan secara gratis. Pihak Microsoft memperkirakan paling lambat pada pertengahan tahun 2022 semua perangkat yang memenuhi syarat akan mendapatkan tawaran pembaruan Windows 11 secara gratis. Bagi yang tidak sabar menanti, silakan membuka laman resmi Windows 11 dan mengunduh perangkat lunak PC Health Check untuk menguji kesesuaian perangkat keras Anda dengan persyaratan minimum Windows 11. Jika dulu PC Health Check hanya menampilkan hasil uji secara umum, maka pada versi terbarunya, Anda bisa menampilkan secara rinci poin-poin mana saja yang harus dipenuhi jika perangkat Anda dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan pembaruan Windows 11.

Tampilan PC Health Check untuk Perangkat yang Tidak Memenuhi Syarat Windows 11

Sementara jika perangkat Anda memenuhi syarat, Anda tidak perlu menggunakan PC Health Check untuk menguji, namun akan muncul notifikasi pada Windows Update.

Notifikasi Windows Update pada Perangkat yang Memenuhi Syarat Windows 11
Notifikasi untuk Pembaruan ke Windows 11

Ada beberapa persyaratan krusial yang harus dipenuhi sebelum bisa memperbarui sistem operasi ke Windows 11:

  • Prosesor: Intel (Atom x6/Celeron seri G,J,N4xxx/Core 8xxx) atau AMD (Athlon 3xxx/EPYC 7xxx/Ryzen 3) atau Qualcomm (Snapdragon 7/Microsoft SQ)
  • Firmware: UEFI yang mendukung Secure Boot
  • TPM (Trusted Platform Module) 2.0 diaktifkan
  • RAM 4 GB dan storage 64 GB
  • Display beresolusi 720p dan adapter mendukung DirectX 12
  • Akun Microsoft (OneDrive/Office 365/Outlook.com) diperlukan untuk instalasi Windows 11 Home edition

Berdasarkan pengalaman para pengguna awal Windows 11, masih banyak yang perlu disempurnakan, terutama dukungan untuk aplikasi Android di Microsoft Store. Beberapa bug juga masih ditemukan, seperti penggunaan RAM yang sangat tinggi dan borosnya penggunaan baterai laptop yang berprosesor AMD. Bagi mereka yang perangkatnya tidak memenuhi syarat untuk memperbarui ke Windows 11 pun kabarnya bisa melakukan pembaruan secara manual menggunakan file ISO Windows 11, meskipun tanpa didukung oleh Microsoft, termasuk pembaruan keamanan. Sedikit hack pada registry Windows juga bisa digunakan untuk mengakali persyaratan dukungan TPM 2.0. Jika perangkat Anda tidak mendukung TPM, ada trik khusus untuk dapat melakukan instalasi Windows 11.

Indosat dan 3 Akan Segera Merger

Setelah melalui serangkaian proses, akhirnya rumor itu pun terbukti. Dua operator seluler (opsel) Indonesia, Indosat Ooredoo dan Hutchinson 3 akan segera bergabung (merger) menjadi Indosat Ooredoo Hutchinson. Bergabungnya kedua opsel ini akan menyusul serangkaian aksi konsolidasi yang terjadi sejak beberapa tahun ke belakang, seperti: akuisisi Axis (Natrindo) oleh XL Axiata, merger Smart Telecom dengan Mobile-8 (Fren) menjadi Smartfren, dan peleburan opsel CDMA seperti Telkom Flexi (ke Telkomsel) dan StarOne (ke Indosat). Tentu saja masih akan ditunggu implikasinya bagi pelanggan kedua operator tersebut. Dalam kasus Fren, Flexi, dan StarOne, layanan operator lama diganti total menjadi layanan Smartfren, Telkomsel, dan Indosat. Sedangkan Pengguna Axis sampai sekarang masih menggunakan paket layanan tersendiri yang terpisah dari pengguna XL, hanya pengisian pulsa saja yang terintegrasi. Paling tidak, nasib pengguna opsel tersebut masih lebih baik dibandingkan pengguna opsel yang gulung tikar seperti Bakrie Telecom (Esia/AHA) atau Bolt! yang tidak punya pilihan selain merelakan. Yang pasti, konsolidasi operator seluler ini diharapkan akan menyehatkan iklim usaha bidang telekomunikasi di Indonesia. Kalau sebagian kalangan berspekulasi bahwa merger kedua opsel ini akan menjadi penantang serius opsel terbesar di Indonesia, Telkomsel, maka Penulis beranggapan itu tidak akan terjadi. Secara kasat mata, pangsa pasar Telkomsel masih lebih besar dibandingkan gabungan semua operator seluler lainnya (Indosat, XL/Axis, 3, Smartfren, Net1), jadi untuk bisa menyaingi Telkomsel, semua opsel harus bergabung menjadi satu. Oya, bagaimana pendapat Anda mengenai nama perusahaan hasil merger Indosat dan 3? apakah terlalu panjang dan ribet? Ada usul untuk nama perusahaan/brand gabungan yang lebih singkat? Penulis sendiri mengusulkan nama yang selama ini sudah punya brand awareness cukup tinggi, yaitu IM3 😉

(Sumber: selular.id)