Ubuntu for Windows 10

Dulu mungkin tak terbayangkan bahwa Microsoft akan “bergandeng tangan” dengan Linux. Bahkan kerja sama Microsoft dan Suse ditanggapi dengan penuh kecurigaan oleh komunitas open source. Namun semuanya berubah setelah pergantian pucuk pimpinan Microsoft dari Steve Ballmer ke Satya Nadella. Microsoft tidak malu-malu lagi untuk merangkul komunitas Linux dengan gerakan Microsoft ♥ Linux. Microsoft juga mulai merilis aplikasi untuk Linux, seperti Visual Studio Code, SQL Server, juga platform .NET Core untuk Linux. Bisnis cloud Microsoft, Azure, menuntut dukungan untuk semua platform termasuk Linux. Untuk itu Microsoft merilis Azure Cloud Switch yang berbasis Linux.

(sumber: blogs.msdn.microdoft.com)

Terakhir, Microsoft merilis Windows Subsystem for Linux yang hakikatnya menjalankan tools Linux seperti bash di Windows 10. Dan akhirnya, distro Linux Ubuntu kini bisa diinstal dari Microsoft Store. Sejatinya, Ubuntu for Windows 10 ini akan menginstalasi distro Ubuntu 16.04 LTS berbasis command-line, tanpa GUI. Di masa depan distro lain seperti Suse dan Fedora juga akan tersedia di Microsoft Store. Saat ini pun, Ubuntu baru dapat diinstal pada rilis terakhir Windows 10  (Fall Creators Update) yang belum dirilis untuk umum, terbatas pada peserta Windows 10 Insider (tester).

Iklan

Selamat Tinggal Ceria, Selamat Datang Net1

Selama ini kita mengenal layanan telekomunikasi seluler dari sejumlah operator, yang semakin lama semakin terkonsolidasi. Mulai dari merger Smart Telecom dan Mobile-8 menjadi Smartfren, Akuisisi Axis oleh XL Axiata, Penghentian operasional TelkomFlexi dan Indosat StarOne, Terhentinya operasional Bakrie Telecom (Esia/AHA), dan munculnya operator baru Internux (Bolt!). Satu operator yang luput dari perhatian adalah Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) yang mengusung merek Ceria. STI memiliki lisensi untuk frekuensi 450 MHz menggunakan teknologi CDMA2000 1x, berbeda dari operator lain yang beroperasi di frekuensi 800/850/900/1800/2100/2300 MHz. STI luput dari perhatian karena mereka selama ini belum beroperasi di ibukota (Jakarta), kebanyakan di luar Jawa. Jumlah pelangan mereka pun tertinggal jauh dari yang lain, 70 ribu pelanggan mereka dibandingkan jutaan pelanggan operator lain.

(sumber: facebook.com/net1id)

Seiring perkembangan terakhir dengan mulai beralihnya operator seluler ke teknologi 4G LTE, STI pun tidak ketinggalan dengan menyiapkan migrasi ke teknologi 4G LTE. Menggandeng kelompok usaha AINMT yang mengoperasikan 4G di frekuensi 450 MHz di negara-negara Swedia, Denmark, Norwegia, dan Philipina. STI dan AINMT akan menggunakan merek Net1 Indonesia dan diharapkan akan beroperasi penuh pada tahun 2018. Saat ini mereka sedang menyelesaikan migrasi jaringan dan pelanggan mereka. Hadirnya Net1 Indonesia akan meramaikan persaingan operator telekomunikasi seluler Indonesia di teknologi 4G.

A Farewell to Frans

Spechless. Hanya itu reaksi saya saat mendengar kabar duka itu. Frans Thamura, mantan rekan kerja/atasan di Meruvian, meninggal dunia pada 20 Juni 2017 pukul 10.50 WIB. Sedikit menyesal karena tidak sempat menjenguk saat mendengar kabar ybs sakit (stroke). Bagi Penulis, Frans (seisi kantor biasa memanggilnya tanpa embel-embel) lebih daripada sekadar atasan dan rekan kerja, namun juga mentor yang mengenalkan dunia IT lebih mendalam. Penggiat IT di Indonesia mengenalnya sebagai sosok aktivis yang identik dengan Java (lewat Java User Group Indonesia), juga open source dan Linux. Lewat Meruvian, ia mencetak kader-kader baru IT melalui program seperti JENI dan jTechnopreneur. Project BlueOxygen menjadi payung dari aplikasi-aplikasi open source yang dihasilkan para programer Meruvian. Penulis termasuk salah satu yang mengikuti perkembangan Meruvian sejak pertama didirikan pada 28 Maret 2006. Selama 20 bulan di Meruvian, Penulis mengalami secara langsung saat-saat Meruvian mulai berkiprah di dunia IT Indonesia. Semoga saja sepeninggal mendiang Meruvian akan tetap eksis dan menjalankan misinya ke depan.

(sumber: ardhian.wordpress.com)

(sumber: ardhian.wordpress.com)

Sebagaimana halnya manusia, mendiang tak lepas dari pro dan kontra seputar karakternya. Ceplas-ceplos adalah ciri utamanya, seringkali menimbulkan kontroversi saat kicauannya menjadi konsumsi publik. Bagi Penulis pribadi yang pernah merasakan interaksi rutin di tempat kerja, hal ini mungkin sudah biasa, namun bagi kebanyakan orang yang hanya mengenalnya lewat media sosial dan derivatifnya, memang cukup sulit diterima. Tentu saja, setelah ini Penulis mengharapkan semua kontroversi itu dihentikan demi kemaslahatan bersama.

(Sumber: netyherawaty.com)

Sejak mengundurkan diri dari Meruvian untuk melanjutkan S2, Penulis mulai jarang kontak dengan mendiang, juga setelah DO dan kembali bekerja. Terakhir berinteraksi via Facebook tentang kenangan saat bersama-sama di Meruvian entah berapa tahun yang lalu (akun ybs sudah dihapus). Keinginan untuk bertemu untuk sekadar basa-basi pun tak kesampaian. Selamat jalan Frans, terima kasih atas dukungan dan bimbingannya, semoga diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

WhatsApp untuk Blackberry, Nokia S40/S60 Diperpanjang Lagi (?)

Seperti telah diketahui, dukungan WhatsApp untuk beberapa sistem operasi legacy akan segera berakhir. Sistem operasi yang dihentikan dukungannya adalah: Blackberry  OS (termasuk versi 10), Nokia S40/Symbian S60, Windows Phone 7, iOS 6 (iPhone 3GS), dan Android 2.1/2.2. Penghentian dukungan ini mula-mula diberitakan per 31 Desember 2016, kemudian diperpanjang hingga 30 Juni 2017 (untuk sistem operasi Blackberry OS , Blackberry 10, dan Nokia S40/Symbian S60).  Namun ternyata, baru-baru ini WhatsApp mengeluarkan update terbaru (2.16.12) yang kembali memperpanjang dukungan untuk sistem operasi Nokia S40 hingga 31 Desember 2018. Untuk sistem operasi selain S40 Penulis tidak bisa mengonfirmasikan karena tidak memiliki handset dengan sistem operasi selain S40. Sementara, di laman resminya juga tidak ditemukan pernyataan resmi soal perpanjangan dukungan ini.

Update Terakhir WhatsApp for S40

Surface Laptop+Windows 10 S, Jawaban Microsoft untuk Chromebook

Dalam ajang  Microsoft Education event baru-baru ini, diumumkan beberapa inovasi baru. Salah satunya adalah perangkat baru Surface Laptop, yang ditujukan bagi segmen pendidikan. Seperti kita ketahui, Apple selama ini mendominasi segmen ini dengan produk Macintoshnya. Namun, akhir-akhir ini Google berusaha menembus dominasi Apple dengan produk Chromebook. Apalagi Apple belakangan terlihat lebih berkonsentrasi di segmen mobile. Yang lebih menarik lagi, Surface Laptop inimenjalankan sistem operasi “baru” yang disebut Windows 10 S. Perbedaan utama Windows 10 S dengan edisi lain (termasuk Windows 10 Education) adalah Windows 10 S hanya diizinkan memasang aplikasi dari Windows Store (seperti halnya Windows RT), dan berseberangan dengan Windows 10 LTSB.

(sumber: blogs.microsoft.com)

Windows 10 S juga akan tersedia untuk vendor lain, seperti halnya ChromeOS. Perbedaannya mungkin pada ketersediaan aplikasi seperti Microsoft Office dan dapat ditingkatkan menjadi versi Pro. Fitur Windows 10 S sebenarnya lebih mendekati Windows 10 Pro dibandingkan Windows 10 Home dengan harga yang bersaing, namun memang bagi pengguna setia Windows, versi S ini akan terasa membatasi (mengingatkan pada Windows Starter Edition). Anda tidak diizinkan menginstal aplikasi selain dari Windows Store, walaupun aplikasi itu sebenarnya kompatibel dengan Windows 10 (versi Home/Pro). Surface Laptop dibandrol mulai US$ 999 dan akan tersedia awal Juni 2017.

(Sumber: thewindowsclub.com)

Q4OS, Linux Rasa Windows (XP)

Dominasi sistem operasi Microsoft Windows di platform PC (desktop) memang belum tertandingi.  Seperti halnya dominasi Android di smartphone dan Linux di server, pengguna (awam) tahunya komputer itu kalau dinyalakan akan menampilkan desktop Windows, bukan Mac apalagi tampilan desktop Linux yang beragam itu, mulai KDE, Gnome, Xfce, Unity, atau LXDE. Tak heran, jika tampilan desktop Windows menjadi acuan untuk merancang tampilan desktop Linux agar dapat menarik pengguna baru. Dulu kita mengenal distro bernama Lindows, yang kemudian diubah menjadi Linspire yang bukan hanya menyesuaikan tampilan, tapi juga memelesetkan namanya. Lalu juga ada distro yang sengaja dibuat tampilannya semirip mungkin dengan Windows, seperti ZorinOS.

(sumber: q4os.org)

Kali ini Penulis ingin membahas salah satu distro yang tidak tanggung-tanggung usahanya dalam meniru Windows, yaitu Q4OS. Pada pandangan pertama, kita bisa mengenali nuansa Windows XP pada desktop Q4OS. Kalau bukan karena tampilan iconnya, bisa dikatakan distro ini cukup sempurna menduplikasi tampilan Windows XP. Tentu saja bukan sekadar tampilan saja yang mirip, namun juga kemasannya. Jika distro-distro Linux mainstream memaket file unduhannya dalam ukuran gigabyte, distro Q4OS menawarkan unduhan file berkisar hanya 300 – 500 MB, yang muat dalam satu keping CD. Tentu saja itu berarti distro ini tidak banyak membundel aplikasi di luar sistem operasi inti. Satu lagi kemiripannya dengan Windows (XP).

(Sumber: distrowatch.com)

Distro ini berbasis Debian GNU/Linux dan desktop environment Trinity, yang merupakan fork dari kode sumber KDE 3. Distro ini juga menyertakan berbagai fitur menarik, seperti Desktop Profiler, yang memberikan pilihan konfigurasi aplikasi yang bisa diinstalasikan pada sistem. Aplikasi pilihan ini antara lain: Google Chrome, LibreOffice, Mozilla Firefox, Synaptic Package Manager, VLC Media Player, dan Wine (compatibillity layer untuk menjalankan aplikasi Windows di Linux). Kekuatan distro ini terletak pada automation script yang beragam untuk menjalankan berbagai tugas, seperti mengganti tampilan desktop menjadi KDE4 Plasma, LXDE, Xfce4, atau Lxqt. Tentunya kita harus terhubung ke internet untuk bisa menyelesaikan proses instalasi paket aplikasi.

Windows 10 LTSB, Windows Minimalis

Microsoft Windows sampai saat ini tetap menjadi sistem operasi yang dominan dalam penggunaannya di platform komputer pribadi (PC). Dengan pangsa pasar sekitar 90%, Windows telah mempertahankan posisi dominannya selama sekitar 20 tahun. Namun demikian, posisi dominannya belakangan mulai terusik. Pertama, semakin populernya platform mobile (smartphone dan tablet) di kalangan pengguna, yang kebanyakan menggunakan sistem operasi Google Android dan Apple iOS, membuat dominasi Microsoft secara keseluruhan menjadi terdistorsi. Apalagi, tawaran Microsoft di platfrom mobile, Windows Phone dan RT tidak mendapat sambutan yang menggembirakan. Kedua, versi terbaru dari Microsoft Windows, mulai versi 8 banyak mendapatkan kritikan karena upaya Microsoft untuk “menyatukan” platform mobile dan desktop di dalamnya. Masuknya aplikasi “Metro”, Windows Store, Cortana, dan meningkatnya aktivitas “spying” di dalamnya membuat sebagian pengguna menjadi ragu-ragu untuk memperbarui sistem mereka. Apalagi, Windows 10 pada awalnya ditawarkan, bahkan dipaksakan untuk otomatis memperbarui sistem operasi versi lama (Windows 7/8.x) di perangkat penggunanya. Sistem update di Windows 10 juga jauh lebih disederhanakan, yang berarti pengguna tidak lagi mengetahui detail tiap file update dan tidak bisa mengganti setelan update otomatis yang standar.

Namun sebenarnya Microsoft juga sadar bahwa segmen pengguna mereka juga meliputi kalangan korporat yang menginginkan keleluasaan dalam mengatur pembaruan sistem Windows. Oleh karena itu, Microsoft juga merilis versi Windows 10 Enterprise, selain versi Konsumer (Home/Pro) dan Pendidikan (Education). Ada tiga cabang menurut kecepatan pembaruannya: Current Branch (CB), Current Branch for Business (CBB), dan Long Term Servicing Branch (LTSB). Pembaruan akan langsung tersedia untuk CB, baru kemudian untuk CBB dan LTSB. Pengguna yang mengaktifkan opsi Defer Updates and Upgrades dianggap masuk ke jalur CBB. Sementara jalur LTSB hanya diperbarui dalam jangka waktu yang panjang, setahun atau lebih.

(Sumber: urtech.ca)

Menariknya, versi LTSB dari Windows 10 Enterprise ini bisa dibilang versi minimalis, dengan menghilangkan sejumlah fitur seperti Microsoft Edge, Windows Store client, Cortana (kemampuan search terbatas masih tersedia), Microsoft Mail, Calendar, OneNote, Weather, News, Sports, Money, Photos, Camera, Music, dan Clock. Anda harus menggunakan aplikasi “klasik” seperti Internet Explorer, Photo Viewer , dan Media Player untuk menggantikan fungsi aplikasi yang tidak disertakan. Bahkan Calculator yang disediakan adalah versi yang sama dengan Windows 7. Coba perhatikan tampilan desktop Microsoft Windows 10 Enterprise LTSB di bawah ini.

(sumber: HowToGeek)

Microsoft menyatakan bahwa Windows 10 Enterprise LTSB ini hanya digunakan untuk sistem khusus seperti peralatan medik, ATM, dan Point of Sales, bukan untuk pengguna umum. Namun bagi Anda yang ingin mencobanya silakan mengunjungi TechNet Evaluation Center. Anda harus memiliki akun Microsoft untuk bisa mengunduh. Ada pilihan Enterprise (CBB) dan LTSB, 32 dan 64-bit.

CloudReady, ChromiumOS for Everyone

Google Chromebook adalah produk yang bikin penasaran Penulis (selain Microsoft Surface), karena memang tidak dirilis resmi di Indonesia. Terlebih lagi sistem operasinya, ChromeOS, yang tidak dirilis secara bebas, meskipu berbasis distro Gentoo Linux. Memang kode sumbernya yang dinamakan ChromiumOS dapat diunduh bebas dari repositorinya, namun tentu saja masih dibutuhkan kemampuan untuk menjadikannya sistem operasi yang siap pakai. Selama ini ada beberapa “distro” ChromiumOS yang ada: Hexxeh, ArnoldTheBats, dan Dell. Dari ketiganya, hanya ArnoldTheBats yang masih aktif. Bahkan CubLinux (d.h. Chromixium) yang menawarkan tampilan ChromeOS di atas Ubuntu juga telah lama tidak diperbarui. Namun demikian, belakangan muncul dua proyek baru yang mengoprek ChromiumOS, yaitu: CloudReady dan NayuOS. Jika NayuOS ditujukan sebagai sistem operasi alternatif bagi Chromebook, maka CloudReady bisa mengubah hardware Anda menjadi Chromebook hanya dengan menggunakan satu USB flashdrive. Anda bisa memulai dengan mengunduh versi terbarunya kemudian menggunakan Chrome Recovery Utility untuk menulis image hasil unduhan ke USB flashdrive. Setelah selesai, boot ulang menggunakan USB flashdrive itu. Anda langsung bisa menggunakan CloudReady alias ChromiumOS.

(Sumber: chrome.google.com)

Jika hardware Anda mendukung, CloudReady juga bisa dikonfigurasikan dual-boot bersama Windows. Anda bisa terus menggunakan CloudReady dari flashdrive atau menginstalasikannya ke dalam hard drive. CloudReady dapat digunakan gratis, namun untuk mendapatkan dukungan Anda bisa menghubungi Neverware untuk paket dukungan berbayar.

(Sumber: arstechnica.com)

Memperbaiki Windows 7 Update yang “Stuck”

Pernahkah Anda mengalami instalasi Windows 7 Anda tidak bisa di-update akhir-akhir ini? Tampilan Windows Update Anda terus-menerus melakukan check update selama berjam-jam tanpa henti tentu mengesalkan. Ternyata hal ini ada hubungannya dengan dirilisnya sistem operasi terbaru Microsoft yaitu Windows 10 yang menyebabkan server Windows Update mengalami perubahan konfigurasi yang memrioritaskan pengguna Windows 10 dibandingkan Windows 7. Untuk memperbaikinya, ada beberapa patch yang harus dipasang pada instalasi Windows 7, tepatnya tiga file update (KB3020369, KB3172605, KB3102810), Windows Update Agent/Client, dan tool Microsoft Fix it 50202 . Windows 7 Service Pack 1 harus sudah terinstalasi sebelumnya, sesuaikan juga versi Windows 7 Anda, 32 atau 64 bit. Kelimanya harus diinstalasikan dengan berurutan sebagai berikut: Microsoft Fixit (gunakan opsi agresif), Windows Update Agent, KB3020369, KB 3172605, KB3102810. Lakukan restart jika diminta. Seorang user di Microsoft Community dalam artikelnya menyediakan unduhan lengkap dari file-file di atas beserta batch file untuk mengotomasi instalasi patch tersebut.

NetBeans Diserahkan ke Apache Foundation

Setelah akuisisi Sun Microsystems di tahun 2007, Oracle nampaknya “kewalahan” menangani proyek-proyek open source warisan dari Sun. Java adalah satu-satunya warisan berharga, yang nampaknya pun mulai terabaikan dengan tak kunjung rilisnya versi Java EE terbaru. Satu per satu proyek open source milik Sun “berguguran”, mulai Open Solaris, OpenOffice, hingga akhirnya NetBeans yang baru-baru ini telah memasuki Apache Incubator. Pada even JavaOne 2016 di bulan September lalu, Oracle telah mengumumkan hal ini, sambil menekankan bahwa mereka akan tetap berkontribusi aktif di dalamnya. Sementara itu, Apache OpenOffice yang pengembangannya semakin tersendat setelah IBM menarik para pengembangnya baru-baru ini merilis versi terbarunya baru-baru ini diusulkan untuk ditutup. NetBeans sebagai salah satu IDE terpopuler untuk platform Java selain Eclipse, IntelliJ Idea, dan Oracle JDeveloper, dikhawatirkan akan mengalami nasib serupa.

(sumber: voxxed.com)

(sumber: voxxed.com)